Takdir Cinta Raina (S1&S2)

Takdir Cinta Raina (S1&S2)
Takdir Cinta Raina 4


__ADS_3

"Ngerujak enak nih," gumam Raina, membuat Fana yang sedari tadi duduk di sebelah gadis itu bangun seketika.


"Iya, halo? Oh iya-iya, saya kesana sekarang." dengan secepat kilat Fana berlalu dari hadapan Raina membuat gadis itu mengernyit bingung.


"Apa sih? Kan Raina mau ngajakin makan rujak, kok malah kabur." ucap Raina, gadis itu meraih mangkuk yang berisi berbagai macam buah. Sebelum bersantai tadi, Saras dan Mayang sudah menyiapkan buah-buah itu untuk nona mereka.


"Mbak Mayang, sambel nya mana? Kacangnya jangan banyak-banyak yah,"


"Iya Nona, ini juga sebentar lagi jadi" sahut Mayang, sembari terus menguleg bumbu-bumbu rujak. Sedangkan Saras baru saja datang dengan membawa nampan berisi jus jeruk pesanan Raina dan Fana.


"Nona, kenapa Tuan Fana malah duduk di ruang tengah? Minumannya bagaimana?" tanya Saras, pertanyaan gadis itu membuat Raina dengan cepat menoleh padanya.


"Tadi dia dapat telpon sepertinya dari kantor, apa dia lari karena takut Raina suruh panjat pohon mangga ya? Mbak Saras, tolong panggilin Fana nya ke sini ya." Saras mengangguk patuh, lalu melaksanakan perintah dari Raina.


Sementara itu, di ruang tengah Fana mengatur nafasnya perlahan. Pria tampan itu tersenyum lebar karena berhasil kabur dari Raina.


"Lo ngapain disini? Kan Mama minta lo buat ngawasin Raina, lo mau lari dari tanggung jawab?!" tanya Rachel, gadis itu baru saja kembali usai melakukan fitting baju pengantin bersama Alvin.


"G-gue cuma mau ngatur tekad, nyali, biar kuat gitu. Tau sendiri kan gimana bar-bar nya kembaran lo itu. Hii, bayangin aja kalo gue di suruh manjat pohon mangga Pak Ujang yang ada di ujung jalan sana. Udah pohonnya tinggi, banyak semutnya, serem lagi muka pemiliknya. Gue mending ngehajar para musuh deh dari pada ngehadapin kakak ipar, gak sanggup gue." jawab Fana, dengan wajah yang memelas. Rachel hanya menggelengkan kepala, tidak ingin ikut campur dengan masalah yang di hadapi Fana.


"Tuan Fana, di cariin Nona Raina tuh. Lagian ngapain kabur, kan Nona cuma mau ngajakin ngerujak bukan nyiapin bahan-bahan nya." tiba-tiba saja Saras datang, membuat Rachel tertawa terbahak-bahak.


"Makanya Fan, jadi orang tuh jangan suka suudzon. Udah sana, temuin adek gue! Awas aja kalo adek gue kabur ya,"


.....


"Ini sih gila, kenapa gue mau-mau aja sih di kasih tugas kek gini. Kalo aja gue gak lagi butuh duit ogah banget deh ahh, astaga ini berkas atau gunung? Fana emangnya kerjain apa aja sih selama di kantor? Raina, demi lo gue mau kerjain semua berkas-berkas yang menggunung ini. Ayo Siska, semangat!"


Siska berulang kali menghela nafas melihat berkas-berkas yang menggunung di atas mejanya. Selama beberapa hari, gadis itu menggantikan posisi Raina maupun Fana di kantor dengan bantuan asisten Rayn dan sekretaris baru Fana, Zaskya.


"Mbak Kya udah lama kerja disini? Gak ngerasa jenuh gitu kerja sama Fana yang modelan begitu? Dia kan males orangnya, emang dia betah ada di kantor?" tanya Siska pada Zaskya, saat ini mereka sedang berada di kantin pada jam makan siang.


Zaskya hanya tersenyum mendengar pertanyaan Siska, jujur saja gadis itu membenarkan semua perkataan Siska tentang atasannya itu. Bahkan, selama memimpin perusahaan pria itu selalu beralasan jika harus menandatangi berkas maupun bertemu klien.


"Jangan senyum aja, gue bener kan?"


"Iya, lo bener. Pak Fana emang gitu orangnya, jangankan mimpin perusahaan. Tanda tanganin berkas aja dia ogah-ogahan, untung aja ada asisten Rayn yang selalu bantuin." jawab Zaskya, sembari membayangkan perlakuan konyol yang selalu Fana lakukan saat berada di kantor.


"Eh buruan gih, bentar lagi kita ada meeting sama dua perwakilan perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan kita."


"Eh iya, ayo deh. Gue juga udah selesai kok,"


....

__ADS_1


Seorang pria tampan tengah memandangi wajahnya di depan cermin. Luka goresan panjang di wajah tak melunturkan ketampanan nya sedikitpun.


"Sudah 1 tahun, apa kamu akan terus bersembunyi? Kamu lihat sendiri kan, dia bisa bertahan sampai sekarang. Sudah waktunya kamu kembali dan membalaskan semua dendammu."


"Belum saat nya, saya akan keluar saat dia mulai bertindak. Untuk sekarang, biarlah aku memandang nya dari jauh."


"Papa! Gimana penampilan Gisel? Gaun ini cantik kan?"


"Iya, Sayang. Gaun ini sangat cantik, apalagi saat kamu mengenakannya."


"Gimana Kak? Gisel udah cocok belum jadi istri Kakak?" gadis cantik itu menatap pria di hadapannya dengan penuh harap, namun yang di tatap justru bersikap acuh dan mengabaikan gadis itu.


Melihat sikap pria itu yang acuh pada putrinya, Hans ayah dari Gisel pun merasa sedih. Sejak pria itu ada di sekitar mereka, Gisel yang murung menjadi sedikit ceria. Melihat wajah murung gadis itu karena penolakan pria tampan di hadapannya juga membuat Hans sedih.


"Devano,"


"Saya sudah punya istri, sebaiknya beri putrimu pengertian. Dan tolong buat dia menjaga jarak dari saya mulai sekarang. Karena jika istri saya tau, saya tidak dapat membantu kalian." setelah mengatakan itu, Devano pun berlalu meninggalkan ayah dan anak itu.


"Gisel, Papa harap kamu bisa terima ya Nak. Papa gak mau terjadi sesuatu yang buruk sama kamu, Nak Devano sudah cukup baik mau membantu kita bangkit dari kemiskinan hingga menjadi sekarang. Sudah saatnya kita membalas kebaikannya, lupakanlah rasa suka mu dari nya Nak. Nak Devano sudah mempunyai istri, dan sebentar lagi mereka akan bertemu." ucap Hans, berusaha memberikan pengertian pada Gisel. Namun ekspresi Gisel berubah murung, Hans sangat takut jika putrinya itu akan melakukan hal-hal yang tidak sepatutnya dirinya lakukan.


"Gisel mau ke kamar," Gisel berlalu begitu saja meninggalkan sang ayah.


.....


"Gimana? Gaun nya bagus gak? Gue sih kurang care sama gaunnya, lo berasa gak sih gaun itu hampir mirip sama gaun pengantin lo dulu? Ya, bedanya gaun lo lebih wah dari pada gaun gue."


"Bagus kok, Kak Rachel cantik pakai gaun itu. Emang kenapa kalo gaun kita agak samaan? Kan kita kembar,"


"Eh, adik-adik Kakak yang cantik lagi ngapain? Kakak nya gak di ajak nih?" Revan datang dan duduk di antara Raina dan Rachel.


"Kak Revan kapan pulang? Kok gak ngabarin Raina sih, kan Raina mau jemput di teras biar Kak Revan gendong nanti." sahut Raina, gadis itu kini memeluk sang kakak dengan erat hingga Revan merasa sedikit sesak akibat pelukan Raina.


Rachel hanya tertawa melihat wajah Revan yang mulai memerah, sedangkan Raina sama sekali belum berniat untuk melepaskan pelukannya. "Udah, kasihan tuh Kak Revan udah gak bisa nafas. Gak kasihan apa lo, dia masih jomblo masa udah mau mati aja." celetuk Rachel, membuat Raina cengengesan.


"Huhh hahh, gila lo dek! Kamu mau bunuh Kakak?! ukhukk," ucap Revan sesaat Raina melepas pelukannya.


"Heheh, abisnya Raina udah lama ndak peluk cowok ganteng, kan Dev udah lama ndak pulang." ucap Raina spontan, membuat Revan dan Rachel terdiam.


"Kenapa muka kalian jadi tegang begitu? Santai aja, Raina yakin kok kalo Dev pasti kembali." lanjut Raina lagi, Revan dan Rachel spontan menganggukkan kepala mereka.


"Kalian ngapain aja? Ayo loh, keluarga Alvin bentar lagi datang. Itu juga Rachel kenapa belum siap-siap? Raina tolong bantuin Rachel bersiap ya, acara lamaran nya bentar lagi di mulai loh."


"Iya Ma, ini Kak Rachel tinggal di rias sedikit kok. Mama tenang aja, semuanya ada di bawah kendali Raina yang serba bisa ini." sahut Raina dengan tersenyum bangga. Dewi hanya menggelengkan kepalanya, lalu berlalu meninggalkan kamar Rachel. Sedangkan Rachel dan Revan, menatap Raina dengan tatapan yang sulit untuk di mengerti.

__ADS_1


"Raina, mending lo juga siap-siap deh. Soal rias merias gue bisa sendiri kok, iya kan Kak Revan?"


"Hah? Eh, i-iya Dek. Sini, biar Kakak yang bantuin atur rambut kamu." Revan berjalan ke arah Raina, mengambil sebuah sisir dan mulai merapikan rambut gadis itu yang sedikit berantakan.


"Tapi kan Raina mau bantuin Kak Rachel make up,"


"Gak, gak usah! Gue bisa make up sendiri!" Rachel beringsut menjauh dari jangkauan Raina, membuat sang adik cemberut.


Sedangkan itu, di lantai bawah para tamu mulai berdatangan. Alvin dan rombongan keluarganya pun juga sampai, sebentar lagi prosesi lamaran akan segera di lakukan.


.....


"Kak Devano, ini ada nasi goreng buatan Gisel. Dimakan yaa, itu Gisel sendiri loh yang masak."


"Makasih, tapi lo gak perlu repot-repot." lagi-lagi Gisel hanya menunduk kaku saat Devano kembali menolaknya.


"Terbuat dari apa sih hatimu Kak? Gisel jadi penasaran, pasti perempuan yang berhasil mencuri hatinya begitu sangat spesial. Kira-kira, Gisel bisa gak yah ketemu sama perempuan yang beruntung itu?" gumam Gisel, menatap sedih kotak makan berisi nasi goreng yang di tolak Devano.


Gisel menatap punggung Devano yang semakin menjauh dari pandangannya. "Sudahlah Gisel, berhenti menatap Devano dengan tatapan seperti itu. Sadarlah Nak, sampai kapan pun dia tidak akan berpaling sama kamu. Ingat Sayang, dia lelaki beristri dan sangat menyayangi istrinya." ucap Hans, memberi pengertian pada Gisel.


"Gisel pengen ada di posisi perempuan itu Pa, dia begitu sangat beruntung."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Waktu begitu cepat berlalu, acara lamaran Rachel dan Alvin akhirnya berjalan dengan lancar. 2 minggu lagi, pasangan itu akan melangsungkan pernikahan mereka. Raina tersenyum bahagia saat cincin berlian kini sudah tersemat di jari manis kembarannya. Gadis lalu beralih menatap jari-jari tangannya, nyaris tak ada jari yang kosong tanpa cincin.


"Kakak ipar kenapa? Itu cincin banyak amat, seperti toko emas berjalan aja Kakak ipar ini." cibir Fana saat menyadari cincin-cincin yang tersemat di jari-jari Raina.


Sebenarnya Raina sangat tidak suka memakai banyak perhiasan, namun karena hari ini adalah hari spesial kembarannya gadis itu pun memakai semua cincin yang pernah Devano berikan padanya. (Author lupa cincinnya ada berapa? Ada yang ingat berapa?) Raina takut jika sewaktu-waktu keluarganya akan mencoba mengenalkannya dengan pria lain lagi di acara ini. Jika itu terjadi, Raina hanya perlu menunjukkan cincin pernikahan dan semua pemberian Devano, maka para pria itu akan mundur seketika.


"Ini semua dari Dev, cantik kan? Ini semua berlian loh, ehh jangan iri ya." jawab Raina, membuat Fana menggeleng tak percaya.


"Untung aja bang Dev itu tajir, kalo nggak gak tau lagi deh." ucap Fana sambil menggelengkan kepalanya.


"Raina, gue mau ngomong sama lo. Ayo ikut gue," tiba-tiba saja Siska datang dan menarik pergelangan tangan Raina ke suatu tempat yang lebih sepi.


"Ada apa? Apa ada masalah di kantor?" tanya Raina, Menatap Siska dengan tatapan bingung.


"Ini tuh lebih parah, pokoknya mulai besok gue gak mau gantiin posisi lo atau Fana lagi. Mending gue ke toko kue lo aja dari pada di sana," jawab Siska yang terlihat begitu sangat kesal.


Menyadari wajah sahabatnya yang berubah murung membuat Raina semakin tidak mengerti. Apalagi saat Siska tiba-tiba saja menunduk sedih, hal itu membuat Raina semakin bingung.


"Gue gak mau ketemu dia lagi, dia jahat Raina. Dia udah hancurin keluarga gue, gue benci dia," lirih Siska.

__ADS_1


Ini pertama kalinya Raina melihat Siska sedih, apa yang sebenarnya terjadi pada gadis itu?


__ADS_2