
Berbagai persiapan telah dilakukan, mulai dari baju pengantin, undangan, gedung, cincin pernikahan, dan sebagai nya. Raina sampai lelah sendiri ketika harus mencoba satu persatu gaun pengantin yang telah disiapkan. Sudah sepuluh gaun buatan desainer terkenal yang Raina coba, namun Raina selalu saja menolak.
"Hmmm, elegan sih tapi ini terlalu wow. Yang lain, Raina ndak suka."
"Tidak imut, Raina mau yang imut."
"Kurang seksi, kata Rara pengantin harus seksi."
"Terlalu berat, Raina ndak suka."
"Apa ini? Seperti pakaian piknik." tampak raut lelah di wajah pegawai butik yang melayani Raina, gadis itu begitu pemilih dan banyak maunya. Raina tampak mengerucut saat melihat pegawai butik itu menyerah melayani dirinya.
"Nona, ini sudah dua jam. Tapi Nona belum juga memilih gaun yang cocok, sebentar lagi tuan Devano datang untuk menjemput."
"Mbak Mayang, tapi Raina ndak suka sama gaunnya. Apa ndak ada gaun pengantin motif hello kitty? Raina mau pakai baju hello kitty aja nanti, ndak usah pakai gaun pengantin." Ingin rasanya Mayang mengubur hidup-hidup Nona nya itu, mana ada pengantin pakai baju hello kitty? Memangnya pentas drama?
Kalian tau kebiasaan Raina? Setelah banyak memilih, gadis itu hanya akan jatuh pada pilihan pertama.
"Mbak, Nona kami memilih gaun yang pertama. Tolong di siapkan ya, kami permisi dulu."
Saat ini Raina sedang berada di sebuah restoran, gadis itu memesan banyak makanan. Nasi goreng, seafood, steak hingga pasta. Gadis itu makan dengan lahap, tak pedulikan tatapan para pengunjung restoran yang sedang menatap dirinya.
Dari kejauhan, seorang pria menatap Raina penuh minat. Pria itu berjalan mendekat, menghampiri Raina yang asik dengan makanannya. Sedangkan Mayang, pelayan pribadi Raina hanya menatap nona nya dengan sesekali memakan pesanan nya sendiri. Mayang takut jika nona nya itu kembali bertingkah aneh, bisa gawat jika Raina berbuat ulah di tempat umum seperti ini.
Pria yang sedari tadi menatap Raina, Kini duduk di hadapan gadis itu dan memandanginya. Raina sama sekali tak peduli, isi perutnya lebih penting saat ini. "Hey, ternyata kita memang berjodoh. Jika dulu lo berhasil lepas, tapi kali ini tidak. Akan gue pastiin lo jatuh dalam pelukan gue," Raina mendelik mendengar penuturan pria itu, namun sesaat kemudian kembali fokus dengan makanannya.
Setelah menghabiskan makanannya, Raina tidak langsung pergi. Gadis itu bukan ingin meladeni pria di hadapannya, melainkan sedang menunggu kedatangan Devano.
"Raina, gue tau lo pasti masih ada rasa kan sama gue?" ucap pria itu lagi, Raina tersenyum sinis mendengarnya.
"Apa, sikap yang aku tunjukkin belum membuktikan betapa gak bergunanya kamu di hidup ku? Aih, aku gak nyangka seorang Gio ternyata tidak mempunyai rasa malu. Apa kau sudah kehilangan harga dirimu? Ohh, begini saja bagaimana jika kau membeli harga diri orang lain? Ya, siapa tau aja setelah itu Kamu jadi punya harga diri." celetuk Raina.
Ya, pria yang kini berada di hadapan Raina adalah Gio. Mantan satu-satunya yang dimiliki Raina, namun hingga kini Raina masih menyesali mengapa bisa memiliki mantan seperti Gio. Pria itu penuh ambisi dan akan melakukan apapun untuk memenuhi keinginannya, termasuk percobaan penculikan yang pernah Raina alami dulu.
Mayang sedang pamit ke toilet, hingga meninggalkan Raina dan Gio berdua di meja itu. Gio tak pernah lepas dari pandangan nya, terus saja menatap Raina dengan penuh minat. Raina jadi merasa dirinya seperti hidangan penutup yang menggugah selera.
"Nona Raina? Saya tidak menyangka Nona tega menduakan tuan Devano. Nona seharusnya bisa menjaga sikap, bukannya pergi dengan pria lain di saat pernikahan Nona dan tuan Devano sudah di tetapkan." tiba-tiba saja, Inem sudah berada di sisi meja yang di tempati Raina. Gadis pembantu itu sengaja mengeraskan suaranya, membuat para pengunjung restoran mulai berbisik.
Raina hanya tersenyum sinis mendengar tuduhan Inem. "Oh, Mbak Inem disini? Apa pekerjaan di kediaman Aryasetya begitu senggang? Ataukah, sudah bosan bekerja? Ohh tenang saja, kau kan hanya PEMBANTU. Tau apa dirimu tentang diriku ini? Ckckck, apa kau pikir aku semurahan itu hingga bermain di belakang calon SUAMIKU? Hahaha, sayang sekali ternyata kau begitu licik dan tak tahu diri. Kau ingin memojokkanku?" kini Raina sudah berdiri di sebelah Inem, gadis itu tersenyum menyeringai.
"Sayang, maaf ya lama. Tadi di jalanan ada sedikit insiden, gimana dengan gaunnya udah dapat yang cocok kan? Ayo, kita harus pilih cincinnya." Devano datang dan merangkul Raina hal itu membuat Gio meradang, sedangkan Inem menatap pemandangan itu tak suka.
__ADS_1
"Tuan, Nona Raina selingkuh. Lihat, pria disampingnya ini. Tadi mereka berdua terlihat cukup dekat, apa Tuan akan tetap menikah dengan nya?" Inem berusaha membuat Devano marah dan memutuskan Raina, namun sayang Devano tidak sebodoh itu.
"Maaf Nona, tadi toilet penuh jadi harus antri."
"Iya, ndak apa Mbak Mayang. Ayo Dev, Mbak kita pergi."
...----------------...
Raina sudah siap dengan gaun pernikahannya, wajahnya pun sudah di rias sedemikian rupa. Raina tampak cantik, gadis itu begitu tampak malu-malu saat Rachel, Dewi dan ketiga sahabatnya menggoda dirinya. Sedari tadi juga, Fana terus berada di dalam kamar Raina. Pria tampan itu dengan setia menunggu Raina hingga gadis nakal itu selesai dirias.
"Kakak ipar sangat cantik, wajar saja kalo bang Dev tergila-gila." decak Fana penuh kagum.
Ceklek
Pintu kamar kembali terbuka, menampakkan seorang gadis cantik yang tersenyum sumringah kearah mereka.
"Kamu cantik banget, Raina. Selamat ya, aku senang banget karena sebentar lagi kamu akan jadi kakak ipar aku."
"Diva, kamu kapan sampainya?"
"Semalam, aku buru-buru izin buat nyaksiin pernikahan kamu dan kak Devano. Aku sama sekali gak nyangka, kamu akhirnya bisa menaklukkan hati dia. Ya, meskipun selama ini kak Devano udah sering gonta ganti cewek, tapi semuanya gak ada yang betah kalo menyangkut temennya yang rese itu. Suka gangguin dan jadi orang ketiga setiap kali kak Devano punya pacar."
Raina hanya tersenyum tipis mendengarnya, gadis itu sekarang sedang grogi. Namun raut kebahagiaan jelas terlihat di wajahnya. Tak lama kemudian, Rachel pun datang untuk menjemput Raina.
Semua tamu bagai tersihir dengan kecantikan Raina, gadis nakal yang bisanya berbuat ulah dan orang kesal itu kini telah bertransformasi menjadi seorang ratu. Gadis itu begitu cantik, Devano pun tak dapat mengalihkan pandangannya dari Raina.
"Mulutnya, Bang. Fana tau Kakak ipar cantik, tapi gak gitu juga natapnya. Tenang, nanti malam puas-puasin deh natapnya." celetuk Fana, membuat wajah Raina dan Devano memerah seketika. Para tamu undangan dan yang lain pun tertawa mendengar celetukan Fana. Devano sangat malu, namun dengan cepat menetralkan perasaannya.
"Ayo, apa bisa kita mulai sekarang?"
"Bisa, Pak."
Raina hanya menunduk, gadis itu tak mendengarkan perkataan pak penghulu. Hingga Devano mengucapkan ijab kabul, barulah mengangkat kepalanya.
"Saya terima nikahnya Raina Vischa Arabella binti Bima Aryasetya dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." Devano mengucapkan nya dalam satu tarikan nafas.
"Bagaimana para saksi? Sah?"
"Sah!"
"Alhamdulillah,"
__ADS_1
Raina tersenyum malu menatap Devano yang juga sedang menatap dirinya. Kini mereka telah resmi menjadi suami istri, dan resepsi pernikahan akan di lakukan malam nanti.
"Selamat ya Dek, sekarang kamu udah jadi seorang istri jadi gak boleh nakal-nakal lagi. Nanti suami kamu kabur loh,"
"Kak Revan! Apa sih, kan Raina jadi malu. Disini banyak orang, tau!" kesal Raina. Semuanya pun menertawakan tingkah Raina, selepas itu mereka pun segera menuju gedung tempat resepsi pernikahan Raina dan Devano dilangsungkan.
Raina terlihat sangat lelah melayani banyaknya tamu yang di undang, sampai-sampai gadis itu melepaskan sepatunya, kakinya terasa sakit.
"Ada apa, Sayang? Apa kau lelah? Kalau begitu, duduk lah lagi pula tamu-tamu sudah agak lenggang." Raina tersenyum senang, gadis itupun duduk di pelaminan dan menyalami beberapa tamu sambil duduk. Katakanlah Raina tidak sopan, namun Devano dengan sigap menjelaskan keadaan istri nakal nya itu.
"Tidak apa-apa, Tuan Devano. Saya paham, karena saat menikah dulu saya juga seperti itu." ucap salah seorang tamu undangan.
Kini tibalah sahabat-sahabat Raina, mereka datang bersamaan dan menemui Raina di pelaminan.
"Selamat ya, Raina. Akhirnya nikah juga kalian, udah bosen sih lihat kalian seperti perangko mulu tapi gak nikah-nikah." celetuk Rara.
""Selamat ya Van, gue jadi gak sabar pengen cepat nyusul. Tiap hari hadepin tingkah mesum Rara bikin gue frustrasi," sahut Rafly, Raina dan Devano tersenyum kecil mendengarnya. Sedangkan Rara, gadis itu sudah berlalu mencari makanan enak.
Sekarang giliran Qinzo dan Namira, Namira memeluk Raina dengan erat. Wanita hamil itu begitu bahagia melihat Raina yang akhirnya menikah, begitupun dengan Qinzo. Pria itu mengucapkan selamat pada Raina dan Devano, mengingat tingkah nya dulu yang berusaha mendapatkan Raina sungguh memalukan.
Setelah Namira dan Qinzo berlalu, kini tibalah giliran Siska. Gadis itu datang sendiri, tanpa pasangan. Melihat itu, Raina jadi menunduk sedih. Pasalnya, Raina sangat tau kenapa Siska hingga kini belum juga memiliki pasangan. Siska terlalu begitu menyayangi dirinya, gadis itu bahkan rela tidak memiliki pasangan demi menjaga Raina. Karena menurutnya, kalau dirinya mempunyai pasangan maka fokusnya akan terbelah.
"Siska, sekarang Raina udah nikah sama Dev. Mulai sekarang, Siska ndak perlu sungkan untuk punya pacar, kan udah ada Dev yang jagain Raina. Raina harap, setelah ini Siska cepet dapat pasangan yaa," ucap Raina.
"Heh, gue juga gak kepikiran buat punya pasangan. Kalo di kasih ya gue manut, kalo gak emang gue bisa apa. Gue turut bahagia atas pernikahan lo, Raina. Gue harap, kurangin sifat kekanakan lo. Dan lo .... " Siska menatap Devano tajam, "Jagain sahabat nakal gue ini, gue percaya lo bisa jagain dia dan buat dia bahagia."
"Tenang aja, selagi Raina bersama Devano maka Raina akan baik-baik saja." sahut Devano, merangkul pinggang ramping sang istri. Siska tersenyum senang mendengar nya, gadis itu pun turun dari pelaminan karena tamu-tamu yang lain juga sudah antri untuk mengucapkan selamat pada pengantin.
Raina terlihat sangat lelah, Devano jadi tak tega. Pria itu memijat pelan kaki Raina, membuat gadis itu tersenyum. Saat ini mereka sudah berada di sebuah kamar hotel, setelah acar resepsi selesai mereka memutuskan untuk menginap di hotel.
"Dev, makasih."
"Makasih untuk apa, Sayang?"
"Semuanya, Dev udah mau nerima Raina apa adanya. Padahal kan Raina banyak kurangnya, belum lagi Raina yang jahil dan suka ngerjain orang. Dev pasti tertekan ya selama ini karena tingkah Raina,"
"Ehh, siapa bilang? Aku gak pernah menyesal memilih kamu sebaagi pendamping hidupku, lantas kenapa aku harus tertekan dengan tingkah kamu. Aku gak pernah masalahin itu, Sayang. Yang terpenting kamu ada di dekat aku saja udah cukup,"
Keduanya saling berpandangan, Raina memeluk erat tubuh Devano. Enggan melepasnya seolah pria itu akan pergi meninggalkan dirinya.
"Oh iya Sayang, besok kan jadwal bulan madu kita. Tapi kalo di undur beberapa hari gak apa-apa kan? Aku baru dapat kabar dari asisten Rayn, perusahaan cabang yang ada di Singapore mengalami masalah serius. Aku harus pergi kesana untuk melihatnya sendiri, aku janji setelah masalahnya selesai kita akan segera pergi berbulan madu."
__ADS_1
Raina terdiam mendengar perkataan Devano, mereka baru saja menikah dan Devano sudah akan meninggalkan dirinya?
"I-iya Dev, ndak apa kok. Lagian, Raina juga masih mau main sama Kitty dan Tommy, nanti kalo Raina rindu sama mereka gimana." jawab Raina, berusaha tersenyum meskipun hatinya berkata lain. Raina merasa tidak senang dengan rencana kepergian Devano, seolah akan terjadi hal yang buruk. Raina jadi terpikirkan kejadian kecelakaan yang di alami Devano, dirinya juga merasakan firasat yang sama.