Takdir Cinta Raina (S1&S2)

Takdir Cinta Raina (S1&S2)
Takdir Cinta Raina 1


__ADS_3

Pagi itu, Raina sudah siap dengan pakaian formalnya. Raina menggunakan ijazah pendidikan nya sewaktu di London untuk melamar pekerjaan. Raina akan memulai hidupnya yang baru, dan menjauh dari cercaan orang-orang akan statusnya. Bukan tanpa sebab Raina melakukan ini, gadis itu sudah cukup merasa jengah dengan tingkah keluarganya. Mereka terus saja menjodohkan dirinya dengan pria lain, tidakkah mereka mengerti perasaan nya sedikitpun? Bahkan sampai detik ini gadis itu masih mengharapkan Devano kembali pada nya.


"Oke Raina, ini hari pertamamu bekerja. Semangat Raina, buktikan pada dunia bahwa kamu bisa bangkit tanpa bantuan mereka." ucap Raina menyemangati dirinya.


Usai bersiap dan mengunci pintu rumahnya, Raina segera bergegas mencari angkutan umum yang akan mengantarkannya ke tempat kerja. Dua hari yang lalu, Raina baru saja di terima sebagai sekretaris direktur. Sebuah jabatan yang cukup besar bagi dirinya yang masih baru dalam dunia pekerjaan.


Setibanya di perusahaan, Raina segera menuju ruangannya dan melakukan pekerjaannya. Disini Raina memiliki ruangan pribadi, hanya berbeda sekat dengan ruang direktur. Hal itu akan memudahkan mereka berkomunikasi nantinya.


"Nona Raina, direktur memanggil anda ke ruangannya." ucap seorang OB, Raina menganggukkan kepala dan segera beranjak dari duduknya.


Memasuki ruangan direktur adalah satu hal yang menegangkan untuk gadis itu. Sudah 2 hari dirinya bekerja, namun tak sekalipun memasuki ruangan itu. Sebab, Sang direktur sedang melakukan perjalanan bisnis.


Tok


Tok


Tok


"Masuk,"


Raina menghela nafas pelan, sebelum mulai memutar knop pintu. Gadis itu seperti merasakan sesuatu yang aneh, jantungnya berdebar tak karuan. "Dev," lirih Raina. Namun secepat mungkin membuang perasaan aneh nya itu, dengan segera Raina masuk ke dalam ruangan direktur.


Tatapan Raina kini tertuju pada pria yang duduk di kursi kebesarannya, pria dengan tatapan tajam bagai menghunus jantungnya.


"Selamat pagi Pak, apa Bapak memanggil saya?"


"Jadi kamu, sekretaris saya yang baru?" Raina menganggukkan kepalanya, enggan menatap wajah pria di hadapannya itu.


Pria itu tampak berjalan mendekat ke arah Raina, hingga kini tepat berada di hadapannya.


"Tunda, semua jadwalku hari ini."


"Tapi, Pak."


"Shuttt, tenang saja perusahaan tidak akan bangkrut."


Kini tinggallah Raina sendiri diruangan itu, sedangkan sang direktur sudah pergi entah kemana. Menghela nafas pelan, Raina kembali ke ruangannya dengan langkah lesu.


Tepat jam makan siang, Raina yang membawa makanan dari rumah pun memutuskan untuk makan di ruangannya saja. Raina belum cukup nyali jika harus bergabung dengan karyawan lain.

__ADS_1


Sedangkan itu, menghilangnya Raina membuat seluruh keluarga kalang kabut. Bima mengerahkan seluruh bodyguard nya untuk mencari keberadaan Raina. Namun hingga satu minggu lamanya, Raina tidak juga kunjung di temukan. Sementara Fana, sejak kepergian Raina pun terpaksa menduduki posisi Raina sebagai pimpinan di perusahaan peninggalan Devano.


Banyaknya tumpukan kertas yang sudah menggunung membuat Fana kesal, pria tampan itu pun mulai memeriksa berkas-berkas.


"Permisi Pak, pimpinan dari perusahaan Antony ingin bertemu." Fana menatap sekilas Zaskya, sekretaris nya yang di utus asisten Rayn untuk membantu Raina yang kini menjadi sekretaris Fana.


"Baiklah, persilahkan dia masuk."


"Halo Fana, lama tak bertemu."


"Ravic? Jadi, kamu pimpinan perusahaan Antony yang sekarang?"


"Iya, dan aku gak nyangka ternyata kamu yang nerusin perusahaan ini gantiin Devano."


Fana cukup terkejut saat Ravic, sahabat kecil Devano yang masuk ke ruangannya. Apalagi melihat perubahan pria itu yang cukup drastis, Ravic yang dulu gemuk kini berubah menjadi pria tampan idola para wanita.


"Aku cuma sementara, sampai kakak ipar kembali dan bersedia nerusin perusahaan ini lagi." jawab Fana, hal itu membuat Ravic terkejut. Pasalnya, pria itu tidak mengetahui perihal pernikahan Devano, kesibukannya membuat pria tampan itu lupa akan dunia sekitarnya.


"Devano udah nikah? Dan itu artinya, dia ninggalin istrinya?"


"Iya, Bang Dev udah nikah. Udah setahun setelah kejadian itu, tapi kaka ipar sama sekali gak pernah percaya kalo suaminya udah meninggal. Oke, kita bahas bisnis aja ya."


Pertemuan pun berjalan dengan lancar, kini Fana sudah berada di jalan menuju rumah. Pria itu sangat tidak betah berada di kantor, apalagi kebiasaannya yang suka main dan bersantai, harus rela terbagi dengan kesibukan di kantor. Fana lebih nyaman melakukan pekerjaannya di dunia malam dan bunuh membunuh ketimbang harus duduk diam menghadapi tumpukan berkas yang tak ada habisnya.


Karena merasa lapar, Raina pun segera bebersih diri kemudian bergegas untuk mencari makanan.


"Kamu Raina, kan?" Raina hanya diam, apalagi saat pria di hadapannya itu terus menatap dirinya dan membuat nya risih.


"Saya Evan, BOS di perusahaan kamu bekerja. Apa sebagai seorang sekretaris kau tidak mengingat wajah dari bos mu sendiri?"


"Maaf, tapi ini di luar pekerjaan. Saya permisi," Raina sama sekali tidak memperdulikan teriakan Evan dan terus berjalan sembari melihat-lihat barang yang sekiranya menarik di matanya. Hingga kedua tatapan gadis itu jatuh pada sebuah miniatur berbentuk hello kitty.


"Saya beli ini ya, Pak."


.....


"Jadi bagaimana? Apa sudah ada kabar? Bagaimana mungkin Raina menghilang begitu saja, apa mungkin dia diculik? Oh Tuhan, tolong selamatkan putriku." ucap Bima, sudah sebulan lamanya sejak kepergian Raina. Namun tidak satupun yang berhasil menemukan keberadaan gadis itu. Seluruh keluarga sudah mengerahkan semua kemampuan mereka untuk menemukan Raina. Namun hasilnya nihil, tak satupun petunjuk yang menunjukkan tanda-tanda keberadaan gadis itu.


"Ini semua salah kita, coba aja kita tidak mendesak menjodohkan Raina dengan laki-laki lain. Semua ini pasti tidak akan terjadi, Raina tidak akan pergi dan meninggalkan kita semua." ucap Sari, yang di angguki semuanya. Sari benar, keegoisan mereka telah membuat Raina muak kemudian memutuskan untuk pergi.

__ADS_1


"Pa, Ma, semuanya, aku berangkat dulu yaa. Kalo udah ada kabar tentang kaka ipar tolong kabarin aku," pamit Diva, gadis cantik itu sudah siap dengan setelan kantornya. Ketiadaan Devano membuat gadis itu turut turun mengurus perusahaan bersama Fana.


Setelah mendapat persetujuan, Diva pun berlalu dengan mobil mewahnya. Seluruh keluarga masih saja berunding, hingga suara ketukan pintu mengejutkan mereka semua.


"Kenapa? Kok tegang gitu mukanya? Tenang, Fana yang tampan ini tetap fresh dan tidak bau keringat meskipun belum mandi sejak kemarin."


"Fana, kalo masuk ucap salam dulu Nak. Kamu gak lihat kita semua cemas karena Raina belum juga di temukan? Udah sana masuk ke dalam, terus mandi. Awas aja kalo kamu gak mandi lagi ya," omel Sari, namun Fana hanya tertawa sambil berlalu.


Setelah kepergian Fana, suasana kembali tegang. Terutama Revan, pria itu begitu kalut saat mengetahui adik kesayangannya pergi dari rumah. Begitupun dengan Rachel, gadis itu bahkan sampai menunda pernikahannya yang harusnya di laksanakan bulan ini. Bagaimana mungkin dirinya menikah, sedangkan kembarannya tak tahu ada dimana saat ini.


....


Keesokan harinya, Raina datang lebih awal ke kantor. Gadis itu memasang wajah datarnya dan hanya berbicara ataupun tersenyum seperlunya.


"Raina, jangan lupa kopi buat Pak Evan ya." ucap Abi, asisten Evan. Raina menganggukkan kepalanya, kemudian berjalan menuju pantri. Membuat dua gelas kopi susu untuk bos dan asistennya.


Tok Tok Tok


"Masuk,"


"Permisi Pak, ini kopi Anda." Raina menyerahkan secangkir kopi di atas meja kerja Evan.


Tidak sulit untuk Raina beradaptasi, meskipun begitu gadis itu harus menerima setiap ucapan pedas dan cacian dari karyawan lain yang merasa tersaingi dengan keberadaan Raina di perusahaan. Pesona Raina yang sudah tidak bisa di ragukan lagi membuat para karyawan wanita tak sedikit yang membenci Raina. Apalagi melihat sikap Evan yang begitu lembut dan perhatian saat bersama Raina, membuat para karyawan cemburu dan semakin membenci Raina.


Raina sama sekali tak memperdulikan cibiran maupun perkataan pedas yang di lontarkan teman-teman kerjanya. Gadis itu hanya diam dan menganggap omongan mereka sebagai angin lalu.


"Ohh, jadi ini sekretaris bos yang sok cantik itu? Cantik sih, tapi sayang mimpinya kegedean. Eh, jangan sok caper deh sama Pak Evan. Dia itu udah punya tunangan, emang lo mau jadi pelakor hah?!"


"Maksud lo apa? Gue disini kerja bukan buat godain bos, oh iya sepertinya yang seharusnya gak usah mimpi kegedean itu lo deh. Emang nya lo pikir gue gak tau, kalo lo suka sama bos? Kasihan ya, pelakor nuduh orang jadi pelakor."


"Udah, hajar aja sih Ris. Kurang ajar banget, masih anak baru juga."


Raina berlalu dan mengabaikan teriakan dari Riris dan karyawan wanita lainnya. Gadis itu berjalan ke ruangannya dan mengatur jadwal meeting untuk bosnya.


"Raina, apa jadwal saya hari ini?"


"Sore ini ada temu janji dengan pemilik perusahaan furniture di cafe X. Setelah itu ada undangan pesta ulang tahun dari pak Munandar."


"Lekas lah bersiap, kamu akan menemani saya ke cafe X 15 menit lagi."

__ADS_1


"Baik Pak."


Raina, Evan beserta asisten Abi sudah sampai di di cafe X. Raina dengan profesional melakukan tugasnya. Hingga tiba-tiba sebuah tangan menarik pergelangan tangannya hingga gadis itu jatuh terjerembab ke lantai.


__ADS_2