
Melihat kedatangan Alvin bersama seorang gadis cantik, Raina pun kembali turun dari mobil dan berlari kecil mengikuti kemana Alvin pergi. Devano yang melihat kepergian Raina pun terpaksa harus kembali mengikuti gadis nakalnya itu.
"Sayang, kamu mau kemana?" tanya Devano, namun tidak juga mendapat jawaban dari Raina.
"Sayang, kita kan ada jadwal buat ngabisin waktu seharian. Kok malah lari kesini sih?" tanya Devano lagi, kali ini Raina pun berbalik dan menatap Devano.
"Dev, target nya udah datang. Kita ngabisin waktu jadi mata-mata aja ya seharian ini, Raina khawatir sama kak Rachel."
"Ada apa dengan Rachel sayang?"
"Itu, si Alvin dia udah pacar tapi ngebet pengen di jodohin sama kak Rachel. Kemarin kak Rachel udah batalin perjodohannya, tapi lihat aja sendiri dengan beraninya dia datang sama cewek buat nemuin kak Rachel." jawab Raina dengan kekesalan yang menggebu-gebu.
"Baiklah sayang, aku ikut aja kalo gitu." ucap Devano.
Alvin dan gadis cantik yang bersamanya kini sudah berada di kantin untuk menemui Rachel.
"Fana, ayo kita pulang. Gue udah capek nungguin lo gak kelar-kelar makannya dari tadi." ucap Rachel yang mulai lelah menunggu Fana menyelesaikan makannya.
"Ya ampun Chel, baru juga sepiring Fana makannya. Ini mau nambah dulu, abis itu baru kita pulang. Yayaya?" balas Fana di sela-sela makannya.
Dengan kesal Rachel pun kembali duduk dan memainkan ponselnya sembari menunggu Fana menghabiskan makanannya.
Tak bisa di pungkiri, Rachel juga merasa takut jika prediksi Raina benar-benar terjadi. Saat ini Rachel benar-benar tidak ingin bertemu dengan Alvin, tapi bagaimana jika pria itu benar nekat menemuinya?
"Ternyata lo disini yaa,"
Rachel membalikkan badannya melihat siapa yang sedang berbicara, gadis itu sudah tidak terkejut lagi saat mendapati Alvin yang tengah tersenyum ke arahnya. Tatapan Rachel jatuh pada gadis cantik yang kini tengah bergelayut manja di lengan kekar Alvin.
"Sayang, jadi ini gadis yang akan di jodohin sama kamu?" gadis yang bersama Alvin itu melepas rangkulannya lalu berjalan mendekat kearah Rachel. Rachel masih tidak bergeming, menurutnya semua yang terjadi tidak penting. Rachel kembali membalikkan badannya hingga membelakangi Alvin dan gadis yang bersamanya.
"Hai, kenalin gue Amora. Pacar Alvin, tenang aja gue tau kok kalo lo cewek pilihan orang tua Alvin. Tapi, gue gak masalah sama sekali. Karena gue tau, cinta Alvin cuma buat gue. Gue dan Alvin kesini cuma mau bilang, sebaiknya lo tetap terusin perjodohan kalian. Gue sama sekali gak ada masalah kok," ucap Amora, tapi sama sekali tidak berpengaruh untuk Rachel.
"Fana, ayo kita pulang." ucap Rachel menatap Fana yag baru saja menghabiskan piring ke tiga.
"Oke sayang, ayo aku juga udah kenyang." balas Fana dengan semangat, perkataan Fana membuat raut wajah Alvin berubah.
"Dan untuk lo," Rachel menatap Alvin dengan tatapan datar.
"Gue sama sekali gak tertarik, asal lo tau. Lo, hanya parasit dalam hidup gue. Gak usah temuin gue lagi, sampai bawa cewek lo kek gini. Kekanakan tau gak, lo pikir gue bakalan cemburu terus mohon-mohon sama lo? Sorry, cowok masih banyak di luaran sana!"
"Dan lo," Rachel kini beralih pada Amora.
"Ambil aja cowok lo ini, gue gak minat. Lo pikir gue nyesel batalin perjodohan gue sama dia? Hahaha, mimpi deh lo. Gue justru seneng karena gak jadi berjodoh dengan cowok playboy seperti Dia!"
Fana dan Rachel berlalu begitu saja melewati Alvin dan Amora. Raina dan Devano yang sedari tadi menyaksikan percakapan mereka pun di buat takjub, Rachel terlihat begitu tenang menghadapi kedua manusia itu.
"Apa sudah puas sayang? Kamu lihat sendiri kan, Rachel bisa menghadapinya sendiri. Sekarang ayo, aku punya kejutan buat kamu."
Raina dan Devano pun juga turut pergi meninggalkan area kantin menuju parkiran. Selama perjalanan, Raina hanya diam. Pikirannya saat ini di penuhi kecemasan terhadap Rachel.
__ADS_1
"Halo Fana, kak Rachel dimana?"
"Iya kakak ipar, dia aman kok. Dia tadi udah balik sendiri, soalnya aku lagi ada misi di luar kota. Ada apa emangnya?"
"Ohh, baiklah." Raina pun memutuskan panggilan secara sepihak.
"Ada apa sayang?" tanya Devano.
"Ndak tau Dev, Raina ngerasa terjadi sesuatu sama kak Rachel. Apalagi dia lagi sendiri sekarang," jawab Raina, tampak raut kecemasan di wajahnya.
"Udahlah sayang, jangan berfikiran negatif mulu. Rachel pasti baik-baik aja, kan kita baru lihat dia tadi." ucap Devano, Raina hanya menganggukkan kepalanya.
Sementara itu, di sisi lain seorang pria sedang merencanakan sebuah rencana jahatnya. "Udah lah, ngapain sih lo masih ngarepin dia? Lagian lo juga udah lama putus, ngapain lagi lo masih ngejar-ngejar? Cewek di kota ini banyak kali, bukan cuma tuh cewek doang."
"Gue udah bertekad bakal dapatin dia kembali, dan gue gak peduli apa yang akan terjadi nanti."
"Gio, jangan gegabah deh lo. Lo tau kan keluarga Raina itu sangat berpengaruh, emang lo mau perusahaan lo hancur? Apalagi tunangan nya si Devano, dia CEO muda yang udah memajukan perusahaan keluarganya. Lo yakin mau cari masalah sama mereka?"
"Lo tenang aja Yan, Raina pasti akan jadi milik gue lagi."
Raina dan Devano kali ini sudah berada di sebuah restauran, namun Raina justru lebih banyak melamun ketimbang meladeni Devano yang sedari tadi berbicara.
"Maaf Dev, tapi Raina bener-bener khawatir sama kak Rachel. Bahkan, sampai sekarang nomernya juga ndak bisa dihubungin."
"Sayang, kamu tenang dong. Ya udah, kamu tunggu sebentar aku akan menghubungi Rayn untuk mencari keberadaan Rachel. Kamu sabar yaa,"
Raina pun menganggukkan kepala nya, sedangkan di satu sisi mobil yang dikendarai Rachel justru di hadang seseorang.
"Lo bisa nyetir gak sih?! Minggir lo dari jalan, nih jalan luas yaa." omel Rachel.
Kaca mobil si pengendara sangat gelap, hingga Rachel tidak dapat melihat wajah si pengendara. Saat si pengendara turun dari mobilnya, Rachel perlahan mundur apalagi saat pria yang berada di dalam mobil itu berjalan menghampiri dirinya.
"Kenapa? Apa keberanian lo tadi cuma bualan? Ayo lah Rachel, bahkan Amora aja gak masalah kok kalo lo jadi istri gue."
"Apa sih mau lo sebenarnya hah?! Kalo lo emang cinta sama Amora, ya udah nikah aja sama dia. Ngapain lo ngejar-ngejar gue?! Asal lo tau aja, gue sama sekali gak peduli tentang hubungan kalian. Gue rasa orang tua lo udah cerita tentang pembatalan perjodohan kita, gak berjodoh sama lo pun gue gak rugi." balas Rachel.
Alvin semakin berjalan mendekati Rachel, hingga tubuh gadis itu mentok di mobilnya yang sedang terparkir.
"Apa susahnya lo setuju buat nikah sama gue? Gue juga bisa jamin lo gak akan hidup susah, apa penawaran gue kurang menarik?" Alvin membelai wajah Rachel membuat Rachel di landa ketakutan. Dan sialnya, jalanan sedang sepi kendaraan.
"Lepasin gue Alvin!! Gue gak mau nikah sama cowok brengsek kayak lo, mending lo pergi jauh-jauh dari hidup gue! Gue benci cowok yang gak bisa netapin hatinya di satu perempuan aja, termasuk lo." ucap Rachel, berusaha mengalahkan rasa takutnya.
Alvin hanya tersenyum mendengar perkataan Rachel, pria tampan itu semakin mendekatkan tubuhnya hingga nafasnya sangat jelas di rasakan Rachel.
"Pergi dari hidup gue, Alvin. Gue mohon, jangan pernah muncul di hadapan gue lagi." lanjut Rachel, tapi sayang hanya di anggap angin lalu oleh Alvin.
Tanpa mengucapkan apapun, Alvin menarik pergelangan tangan Rachel dan memaksanya masuk kedalam mobil. Rachel berusaha memberontak namun nihil, Alvin malah mengunci semua pintu hingga Rachel tidak bisa melarikan diri.
"Maaf,"
__ADS_1
Alvin menghapus jejak air mata di wajah Rachel, membuat Rachel terdiam. Apalagi dengan jelas gadis itu mendengar Alvin mengucapkan kata maaf.
"Gue gak ada hubungan spesial sama siapapun, termasuk Amora. Dia sepupu gue," lanjut Alvin, kali ini pria itu menatap Rachel dengan tatapan teduh.
Alvin meraih kedua tangan Rachel dan menggenggamnya dengan lembut. Rachel yang mendapat perlakuan lembut dan perubahan sikap Alvin pun menjadi bingung.
"Udah lah Vin, lepasin gue. Gue gak peduli hubungan lo sama siapapun itu, keputusan gue udah bulat. Gue gak mau lanjutin perjodohan kita, gue harap lo ngerti." ucap Rachel, melepaskan tangannya dari genggaman Alvin.
"Rachel, gue minta maaf. Gue sengaja buat lo cemburu, dan gue juga tau kalo lo lihat gue lagi jalan sama Abel di mall. Tapi lo juga harus tau, gue sama Abel udah gak ada hubungan apapun. Gue udah putus sama dia, dan alasan nya adalah lo. Gue suka sama lo, Rachel."
Rachel terdiam mendengar perkataan Alvin, namun gadis itu tidak ingin mudah percaya. Bisa saja Alvin berbohong dan mencoba membodohi dirinya.
"Maaf Vin, beri gue waktu buat berpikir. Dan, untuk selanjutnya bukan gue yang akan ambil keputusan. Bukan juga kedua orang tua ataupun kakak gue, tapi adik kembar gue. Lo harus lewatin tantangan dari dia," ucap Rachel, gadis itu kini mulai melunak. Namun perkataan nya menjadi boomerang untuk hubungannya dan Alvin.
"Oke, ayo kita ke rumah lo sekarang." Alvin terlihat begitu semangat, mungkin pria itu berfikir sangat mudah untuk menaklukkan gadis nakal tuan Devano.
"Ngapain? Gue bisa pulang sendiri," tolak Rachel
"Ya ketemu adek lo, gue akan lakuin apapun tantangan yang dia berikan."
Rachel teringat jika saat ini Raina sedang bersama Devano, gadis itu pun menghubungi Raina agar segera pulang ke rumah.
Raina yang mendapat kabar bahwa Rachel baik-baik saja akhirnya kini bisa bernafas lega. Gadis itu pun meminta Devano untuk mengantarkannya pulang ke rumah, mana mungkin mereka melanjutkan jalan-jalan dengan Raina yang hanya mengenakan pakaian tidur hello kitty.
Setibanya di rumah, sudah ada Alvin yang sedang berbincang dengan keluarga Raina. Namun mata Raina justru tertuju pada seorang pria yang asik menggoda pelayan pribadinya, Saras. Dengan langkah lebar Raina berjalan melewati keluarga nya dan Alvin begitu saja, bahkan Devano pun di tinggal.
"Ekhemm, enak yaa. Mana laporan penjualan bulan kemarin?" Raina menadahkan tangan kanannya pada Sandy yang asik menggoda Saras.
"Ehh, ndoro ratu baru pulang? Itu, laporannya ada di toko kok aman hehehe." jawab Sandy sedikit cengengesan.
"Siapa yang ngijinin kamu ngapelin Mbak Saras? Udah berani ndak ijin Raina lagi? Kolam renang belakang kebetulan udah 2 bulan gak di bersihin loh," ucap Raina sambil tersenyum manis ke arah Sandy.
Dari kejauhan keluarga yang lain hanya bisa menahan tawa melihat kemalangan Sandy. Selalu saja begitu saat pria itu datang untuk pacaran sama Saras, Raina selalu datang mengganggu dan memberikan kannya pekerjaan berat.
"Nak Devano, lihat tuh calon istri kamu. Papa jadi kasihan sama Sandy, setiap mau ngepel selalu aja dapat hukuman dari Raina." ucap Bima, menepuk sofa di sebelahnya agar calon menantunya itu duduk di sebelahnya.
"Raina kan emang gitu Pa, lihat aja nanti kalo Mayang dapat pacar pasti juga dapat ujian batin dari Raina. Loh, Alvin? Lo kok ada disini?"
"Hai Van, gue kesini cuma buat silahturahmi aja kok." jawab Alvin, pria itu masih menatap Raina yang sedang menghukum Sandy.
"Al, lo lihat sendiri kan gimana ketatnya Raina menyeleksi pasangan orang-orang terdekatnya? Gue kembarannya, otomatis ujian dari Raina juga lebih berat. Gue harap lo bisa tahan banting yaa, soalnya dia juga psikopat cantik." setelah mengucapkan itu, Rachel pun pamit untuk masuk ke kamarnya.
Mendengar perkataan Rachel, nyali Alvin sedikit menciut namun demi mendapatkan Rachel, pria itu berusaha bersikap tenang.
"Ngapain kamu kesini?!" baru saja Rachel pergi, kini Raina datang dan menatap Alvin penuh selidik.
Mendapat tatapan tajam dari Raina, Alvin malah menahan tawa karena gadis itu justru terlihat sangat menggemaskan.
"Lagi nahan ber*k ya? Hahh, udahlah Raina capek. Dev, Raina ke kamar dulu yaa. Dah semuanya," Raina berlalu meninggalkan semuanya tanpa memperdulikan wajah Alvin yang memerah akibat perkataannya.
__ADS_1
"Nak Alvin, kesan kamu sudah buruk di mata Raina kemarin. Meskipun kamu menyukai Rachel, tapi kamu harus berhasil mengambil hati Raina. Kamu lihat sendiri kan bagaimana Sandy tadi di hukum karena menemui pelayan pribadinya tanpa ijin? Raina sangat ketat menyeleksi calon masa depan orang-orang tersayang nya." ucap Dewi, dan cukup membuat nyali Alvin sedikit menciut.
Kira-kira Alvin bisa gak yah mendapatkan restu dari Raina? Berat loh, Sandy aja udah berbulan-bulan masih setengah restu yang di kasih😂 Ayo kita berdoa untuk Sandy dan Alvin ya teman-teman😅