Takdir Cinta Raina (S1&S2)

Takdir Cinta Raina (S1&S2)
64


__ADS_3

Raina terus saja mengawasi Sandy yang sedari tadi terus saja menggoda Saras. "Sayang, kenapa kamu terus menatap mereka seperti itu?" tanya Devano yang sudah rapih dengan pakaian kantornya.


Hari ini, Devano memutuskan untuk kembali ke kantor. Susah cukup lama pria itu meliburkan dirinya, dan sudah saatnya dirinya kembali bekerja.


"Raina hanya ingin memastikan Sandy tidak akan berbuat yang macam-macam pada mbak Saras. Apa Dev mau ke kantor?" jawab Raina, gadis itu melirik Devano yang sudah rapih dan bersiap untuk pergi.


"Iya sayang, aku sudah sangat lama mengambil cuti. Bagaimana perusahaan akan jalan jika CEO nya hanya bermalas-malasan, sudah ya sayang aku harus segera pergi. Jaga dirimu baik-baik okay, dan aku sudah menelpon Fana untuk kesini." Devano mengelus kepala Raina dengan penuh kasih sayang, membuat gadis itu enggan melepas pelukannya.


"Tapi, kalo Raina rindu bagaimana?"


"Hahaha, kamu ini sangat menggemaskan sayang. Aku hanya pergi sebentar, tidak lama kok. Petang nanti aku pulang, udah yaa aku berangkat dulu."


"Dev," panggil Raina lagi, membuat Devano kembali menghentikan langkahnya. "Iya, ada apa sayang?" Devano kembali mendekat ke arah Raina yang sedang menunduk.


"Apa Dev akan pergi begitu saja tanpa memberikan Raina kiss? Raina mau kiss sekarang, Dev ndak boleh pergi sebelum kasih Raina kiss." ucap Raina, kali ini membuat Devano frustasi.


Seluruh pelayan di rumah itu melirik melihat interaksi keduanya dengan seksama. Bagaimana mungkin Devano memberi Raina kiss di depan banyak orang. Menghela nafas pelan, Devano pun berkata.


"Kalian boleh pergi dan tinggal kami berdua." perkataan Devano adalah perintah yang mutlak, dan semua pelayan menurutinya. Namun Devano melupakan sesuatu, Sandy masih berada di belakang mereka dan menyaksikan semuanya.


"OMG, mata gue ternodai!!" ucap Sandy dengan suara sedikit keras. Devano terkejut mendengar suara Sandy, mata pria itu menyorot tajam saat mendapati si pelaku yang nyengir tanpa dosa.


"Lo?!! Hahhh, udahlah gue udah telat. Sayang, kiss nya cukup yaa aku harus pergi sekarang dahh." ucap Devano, namun pria itu kembali lagi dan mendekati Raina.


"Kepalang tanggung, dia juga sudah melihatnya!"


Cup


Devano mengecup bibir Raina dengan sekilas, hal itu membuat Sandy yang melihatnya jadi kebakaran jenggot. Setelah mencium Raina, Devano segera pergi untuk ke kantor.


"Parah nihh, gak bisa nihh, gue harus lapor nih kayaknya!" ucap Sandy seakan tidak terima atas apa yang baru saja di saksikannya secara live.


"Mau lapor kemana kamu?!" Sandy menatap Raina yang juga sedang menatapnya dengan tatapan tajam.


"Gue mau lapor sama Saras, kali aja gue di kasih kiss juga." jawab Sandy dengan wajah tanpa dosanya.


"Berani?? Coba aja, tapi besok kamu ndak akan lihat dunia lagi." ancam Raina, dan sukses membuat semangat Sandy surut seketika. Galak bener yaa bos pujaan hatinya ini, ngalahin ibu tiri.


"Waktu apel kamu udah habis, sekarang kamu pulang sana! Rumah Raina sudah terkunci," usir Raina, dan sukses membuat Sandy lunglai tak berdaya.


"Susah banget sih buat dapatin hatinya Saras, ceweknya sih baik tapi ndoro ratu nya ini lohh,,, " Sandy melirik Raina yang sedang menatapnya tajam.


"Galak!!" lanjut Sandy lalu segera pergi meninggalkan kediaman keluarga Aryasetya.


Setelah kepergian Sandy, Raina segera pergi untuk menemui Saras yang sedari tadi terus menguping pembicaraan mereka.


"Mbak Saras ndak usah khawatir, Raina tau kok Sandy itu orang yang baik. Kalo dia memang benar sayang sama mbak Saras, dia ndak akan berhenti berjuang. Anggap aja, ini sebagai ujian buat dia sebelum dapatin mbak Saras." setelah mengucapkan itu, Raina pun berlalu menuju kamarnya.


15 menit kemudian, Fana datang dengan tampilan acak adulnya. Pria itu baru saja tertidur jam 5 subuh tadi setelah menjalankan misi rahasia, tapi istirahat nya harus terganggu dengan telepon dari abang kesayangan nya Devano. Jadilah sekarang, Fana datang dengan muka bantalnya dan langsung saja menerobos lalu tidur di kasur milik Raina.

__ADS_1


Raina yang melihat tingkah Fana hanya bisa geleng kepala, Devano kan mengirim musuh bebuyutannya ini untuk menjaganya tapi apa yang gadis itu lihat membuat situasi berbalik. Sepertinya, Raina yang akan melindungi pria itu bukan sebaliknya.


"Jadi bayi besar, tidur dengan nyenyak dan aku akan menjagamu." Raina duduk dan terus memperhatikan wajah menggemaskan Fana yang sedang tertidur.


"Sudah lama kita tidak bertengkar, semuanya karena mereka."


Karena merasa lelah, Raina pun ikut tertidur. Gadis itu mencari posisi ternyaman nya agar badannya tidak sakit karena tidur di sofa.


Baru saja matanya terpejam, samar-samar Raina mendengar suara yang berasal dari jendela kamarnya. Perlahan, mata gadis itu mulai terbuka kembali. Mengawasi sekitar dengan tatapan jeli, tidak ada yang terlewatkan. Hingga satu objek tertangkap oleh mata nya, seorang pria asing berusaha masuk dari jendela. Sudah Raina pastikan pria itu datang dari tempat biasa diri nya gunakan untuk kabur.


"Baiklah, ayo kita bermain. Kau lihat Fana, ternyata benar bahwa Raina yang akan menjagamu hari ini." Raina kembali menatap Fana yang masih tidur dengan nyenyak tanpa memperdulikan suara-suara bising yang di sebabkan orang asing itu.


Raina meraba tas yang di kenakan Fana, dan menemukan sebuah pistol. Bagus, Raina telah mendapatkan senjatanya. Dan keberuntungan kembali berpihak pada Raina, kamar nya kedap suara sehingga aman untuk bermain dan tidak ada yang bisa mengganggu mainannya.


"Apa paman butuh bantuan?" tanya Raina pada orang asing itu dengan wajah di buat menggemaskan.


"Siapa kau?!" pria asing itu tampak tak menyukai kedatangan Raina, hal itu membuat Raina tidak senang.


"Huhh, ini kamar Raina. Sebaliknya, paman ini siapa dan kenapa mencoba masuk ke kamar Raina heh?!!"


"Diam kau gadis kecil, aku hanya punya urusan dengan pria yang sedang tidur itu! Sebaiknya kau menyingkir jika tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk padamu." ucap pria itu lagi berniat untuk menakut-nakuti Raina.


"Huhh paman ini suka berlebihan dan ndak sadar diri, ini itu kamar Raina. Raina berhak dong larang pamannya masuk, mending paman pulang, cuci kaki, cuci tangan, cuci muka, baca doa terus tidur." balas Raina membuat pria itu marah.


"Hehh, minggir atau pisau ini akan menancap di jantungmu!" pria itu menunjukkan pisaunya pada Raina, namun sama sekali tidak membuat Raina gentar.


"Wajah paman ini sangat tidak asing, Raina seperti pernah melihatnya sebelumnya. Oh ya!! Raina ingat sekarang, paman ini salah satu bawahan paman botak kan?" sekarang Raina ingat, bahwa pria di depannya ini sangat mirip dengan pria yang ikut menculiknya tempo hari.


"Ahh jadi itu saudara kembar paman yaa, aku pikir itu paman. Jadi, apa paman akan tetap melaksanakan rencananya? Mari paman, Raina bantu."


"Kau akan membantuku menghabisi bocah nakal itu??" tanya pria itu sambil menunjuk Fana yang masih tertidur dengan pulas. Raina menoleh ke arah Fana, apa pria itu tidak merasakan kejahatan yang mengintai dirinya? Apa begitu lelahnya kah pria itu sampai tidurnya tidak terusik sedikit pun? Pikir Raina, gadis itu pun kembali menatap pria asing di depannya.


"Paman ini suka bercanda juga ya rupanya, mana mungkin Raina mau membantu penjahat! Raina hanya mau bantuin pamannya naik, emang mau jatuh ke bawah?!" perkataan Raina membuat pria itu menelan salivanya dengan susah payah, kamar Raina terletak di lantai 4, lumayan tinggi dan jatuh bisa saja langsung mati tanpa mendapat kan pertolongan lebih dulu.


Kok bisa Raina bisa kabur dan kembali sesukanya? Raina itu udah hapal jalurnya, bahkan gadis itu sudah menyiapkan semuanya dengan begitu rapih. Tanpa sepengetahuan keluarganya, Raina membuat tangga berjuntai dari tali dan kayu yang di gunakan nya untuk turun.


"Kau tidak perlu membantuku, kau hanya perlu minggir dan biarkan aku melenyapkan pria itu dengan tangan ku sendiri." pria itu berhasil masuk ke dalam kamar Raina dan berusaha menyingkirkan Raina dari jalannya.


"Paman ini sangat keras kepala!! Raina ndak akan biarin paman lukain Fana sedikit aja." Raina mengeluarkan pistol yang sedari tadi di sembunyikannya dan mengarahkan pada pria asing itu.


"K-kau, apa yang akan kau lakukan?! Jika kau menembakku, semua orang akan mendengarnya dan akan memenjarakan dirimu." pria itu berniat ingin mengecoh Raina, namun kecohannya itu sama sekali tidak berpengaruh untuk Raina.


"Paman ini sungguh menyebalkan,"


Dor


Suara tembakan terdengar, Raina menembak kaki kanan pria itu dengan sekali tembak. Dan bravo, tembakan Raina tepat mengenai sasaran.


"Apa yang kau lakukan hah?! Bagaimana jika kakiku benar-benar terkena tembakan mu itu?! " marah pria itu, namun tak menyadari bahwa Raina sengaja hanya menggores pria itu dengan pelurunya.

__ADS_1


"Paman tidak perlu khawatir, Fana cepat bangun! Raina capek, kami jangan pura-pura tidur terus yaa atau Raina akan mengadukan mu pada Dev!" Raina menggoncang tubuh Fana yang sebenarnya sudah bangun dari tidurnya dan berniat untuk menjadi penonton apa yang akan Raina lakukan pada pria asing itu.


"Hoamm, kakak ipar saja yang menyelesaikan nya. Aku sangat mengantuk, semalam aku terus saja membasmi komplotannya, sekarang ku sisakan satu untukmu." jawab Fana, pria itu malah duduk anteng dan siap menonton apa yang akan Raina lakukan.


"Paman, Raina sangat haus. Apa paman mau mengambilkan air yang berada di meja itu?" Raina menatap pria asing itu dengan penuh harap, dan ajaib nya pria itu juga menuruti perkataan Raina.


"Ini, minumlah." pria itu memberikan segelas air pada Raina, dan gadis itu menerimanya dengan senang hati.


"Terima kasih paman, tapi Raina juga merasa lapar. Apa paman juga boleh mengambilkan buah apel itu untuk Raina?" ucap Raina, gadis itu kembali memainkan sandiwara nya.


Fana yang menjadi penonton takjub melihat apa yang di lakukan Raina, gadis itu bahkan tidak perlu menggunakan otot untuk menaklukkan pria asing itu.


"Ini, apa kau akan terus membuatku menjadi bawahan mu gadis kecil? Kapan kau akan mengijinkan aku untuk membunuh bocah itu?!" tampaknya pria itu sudah mulai kesal dengan tingkah Raina.


"Paman, kau ini tampan jangan marah-marah yaa. Raina sebenarnya menyukai paman, tapi sayang Raina sudah punya Dev, Dev ndak akan ijinin Raina punya pria lain. Jadi paman, apa saat ini paman sudah memiliki keluarga sendiri?"


"Tentu saja aku ini tampan, jika aku tidak tampan, isteriku tidak akan mau menikah dan mempunyai anak denganku." saat ini pria itu malah duduk bersila dan asik bercerita dengan Raina, kejadian itu tak luput dari pandangan Fana.


Fana begitu takjub dengan kemampuan memikat calon kakak iparnya itu, bahkan pria yang bisa di katakan kuat dan menyeramkan itu luluh dengan pesona gadis itu. Baru kali ini Fana melihat sendiri seorang penjahat tidak mempunyai harga diri jika berhadapan dengan Raina, Fana pernah melihatnya sekali saat Raina di culik tapi tidak sedetail sekarang ini.


"Ckck, nemu dimana sih bang Dev cewek modelan kakak ipar ini." ucap Fana sambil menggeleng kan kepala nya.


"Apa alasan paman ingin membunuh calon adik ipar Raina yang jelek itu?"


"Kau sudi menjadi iparnya? Dia itu seorang mata-mata, karena dia bos ku tewas dan aku tidak memiliki pekerjaan lagi. Huaaa, aku harus memberi anak dan isteriku makan apa jika tak memiliki pekerjaan lagi, huaaa tolong bantu aku nona." Raina di buat kalang kabut saat pria asing itu tiba-tiba saja menangis dan menjerit, begitupun dengan Fana yang lagi-lagi di buat tercengang.


"Cihh, badan aja gede, muka sangar, ehh hatinya helo kitty." cibir Fana, dan mendapat tatapan tajam dari Raina.


"Cup cup cup, paman tenang saja. Raina akan minta Dev untuk memberikan paman pekerjaan, asalkan paman berhenti memiliki niat untuk membunuh calon adik ipar Raina yang jelek dan bodoh itu, bagaimana?" ucap Raina memberikan penawaran dan tentu saja pria itu menerima nya dengan senang hati.


"Tentu saja aku menerimanya, kapan aku akan mulai bekerja?"


"Paman ini sangat bersemangat sekali, besok datang lah kembali kesini. Raina akan memberitahu apa pekerjaan paman besok setelah menyampaikan nya pada Dev.


Setelah berbincang lama, pria yang ternyata bernama Sam itu pun pergi. Kali ini tatapan Raina menuju pada Fana, gadis itu ingin tau apa yang sudah di lakukan Fana sampai membuat Sam ingin membunuhnya.


"Jangan menatapku seperti itu, aku hanya mengejarnya dengan mobil. Salah bos nya itu yang mengendarai mobil dengan hati-hati sampai jatuh ke jurang dan mati." ucap Fana, Raina menghela nafas pelan.


"Terserah deh, Raina mau cek Tommy dan Kitty dulu."


Raina pun keluar dari kamar dan mendapati Mayang yang sedang bermain dengan Tommy dan Kitty tapi tanpa Saras. Dimana pelayan nya yang satu itu?


"Mbak Mayang sendiri? Mbak Sarannya kemana?" tanya Raina pada Mayang yang sedang memberikan susu pada kedua Kucing kesayangan Raina.


"Saras tadi pergi bersama tuan Sandy, nona. Tuan Sandy tadi kembali lagi dan membawa Saras bersamanya, Saras sudah menolak tapi tuan Sandy memaksa bahkan sampai menangis. Saat akan meminta izin dari nona, kamar nona terkunci." jawab Mayang, Raina cukup kesal mendengar jawaban yang di berikan Mayang. Enak saja Sandy membawa Saras tanpa persetujuannya, lihat saja nanti Raina akan menghukum pria itu untuk tidak menemui Saras selama 1 minggu dan gaji nya akan di potong.


Gaji di potong? 5 bulan saja hanya 5 ribu, akan di potong sampai berapa lagi gaji Sandy?


Jangan lupa vote, like, komen dan rate bintang 5 yaa

__ADS_1


See u next time🤗


__ADS_2