Takdir Cinta Raina (S1&S2)

Takdir Cinta Raina (S1&S2)
52


__ADS_3

"Dev, Raina minta kiss." Ucap Raina, saat ini Devano sedang bersiap akan menginterogasi Diva dan Sisil perihal kemarahan Diva tadi. Tapi harus tertunda karena gadis nya selalu saja merengek minta kiss, mana mungkin Devano akan memberikan nya di depan semua orang.


" Hiks, Dev pelit ndak mau kasih Raina kiss. Tunangan Rara aja suka kasih Dia kiss, Raina mau coba kiss." Lanjut Raina, membuat Devano melongo dengan kepolosan gadis nya itu.


Sedangkan Rara yang menjadi topik pembicaraan Raina hanya bisa menunduk dengan wajah yang memerah. Raina ini ya, kalo ada keinginan ya harus di turutin. Rara dan Rafly saling berpandangan, Rafly sama sekali tidak mengerti maksud perkataan Raina.


"Raina, Lo minta kiss nya nanti aja. Seperti nya Devano mau ngomong sesuatu yang serius, setelah Devano selesai ngomong Lo bisa deh minta apapun sama Dia tapi Kita semua pergi dulu dari ruangan ini ya." Ucap Rara, gadis itu sangat takut jika sahabat nya itu semakin berbicara ngawur.


Raina tak menjawab apapun, gadis itu hanya diam tanda setuju. Devano pun kini mulai fokus pada Diva dan Sisil.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Kalian berdua bisa bertengkar seperti ini? Apa Kalian tidak tahu bahwa ini adalah rumah sakit? Diva, kakak gak suka Kamu bersikap tidak sopan seperti tadi. Dan Kamu Sisil, Aku gak tau masalah apa yang Kamu lakuin sampai Diva semarah itu. Aku mau, Kalian jelasin ke Aku akar dari permasalahan ini!" Ucap Devano dengan tegas.


"Raina, Dia akar dari masalah ini! Dia yang udah ngadu sama Diva kalo Aku udah larang Dia buat temuin Kamu Devano, padahal Aku sama sekali gak pernah lakuin itu." Jawab Sisil, perkataan nya membuat Raina menatapnya dengan tatapan polos.


Sepertinya Sisil sedang ingin bermain dengan Raina, baiklah mari Kita lihat pertunjukan drama polos Raina ya teman-teman.


"Kenapa Kamu bohong? Emang bener kok, tadi Kamu dorong Raina saat mau masuk kesini sampai Raina jatuh ke lantai. Kamu juga bilang kalo yang pantas untuk Dev itu Kamu, bukan Raina. Raina ndak bohong." Sahut Raina.


"Fitnah, nggak Aku gak pernah ngomong kayak gitu! Raina, Kenapa Kamu fitnah Aku? Aku tau Kamu cemburu, tapi gak seperti ini juga! Devano, please Kamu percaya kan sama Aku?" Ucap Sisil menjalankan sandiwaranya.


"Cihh, sok iya Lo bilang fitnah. Lo gak usah bohong dehh, rumah sakit ini ada CCTV dan Gue udah ngantungin buktinya." Sahut Diva, perkataannya membuat wajah Sisil memucat seketika.


"Lo tinggal jujur sendiri, atau Gue yang harus bongkar?" lanjut Diva


"Kak Vano, apa kakak gak curiga darimana Dia tau kalo kakak dirawat dirumah sakit ini? Kalaupun Dia mau jenguk Devano palsu, Dia gak mungkin bisa salah kamar dan sejauh bahkan sedetail ini. Devano palsu berada di lantai 1 dan kakak di lantai 4, apa itu masuk akal? Aku yakin, Dia salah satu utusan orang-orang yang berusaha buat nyelakain kakak dan Raina!" Ucap Diva lagi, perkataan gadis itu cukup sangat masuk akal dan berhasil membuat wajah Sisil memucat.


"Kamu benar Diva, apa Kamu bisa jelasin Sisil? Bagaimana Kamu bisa tahu Aku dirawat di rumah sakit ini?! Ternyata Kamu selicik ini yaa, bagus banget akting Kamu buat nipu Aku! Kamu bahkan nyaris hancurin hubungan Aku dengan Raina!" Marah Devano.


"E-enggak Devano, Aku gak mungkin lakuin itu. Aku tau Kamu disini, dari tante Sari. Iya, Mama Kamu yang kasih tau Aku." Kilah Sisil, wanita itu masih saja mengelak dan enggan mengakui kesalahannya.


"Oh benarkah? Lo mungkin bisa kelabuin kakak Gue, tapi tidak dengan Gue." Ucap Diva tersenyum sinis, mengutak-atik ponselnya hingga suara seorang wanita terdengar.

__ADS_1


"Halo sayang, ada apa? Kamu dimana sih? Kakak Kamu pulang loh hari ini dari rumah sakit." Ucap wanita itu yang ternyata adalah Sari.


Diva semakin tersenyum sinis saat sambungan teleponnya terhubung, menatap Sisil dengan penuh kemenangan.


"Iya Ma, Diva lagi di luar sama Fana. Nanti Diva pulang ya, Diva mau nanya sama Mama apa boleh?"


"Ya sudah, Kamu mau nanya apa?"


"Apa Mama memberitahu Sisil kalo Kak Vano ada di rumah sakit?" Diva sengaja meloud speaker panggilannya agar dapat di dengar oleh yang lain.


"Sisil? Kita sudah lama tidak bertemu dengan Sisil semenjak Papi nya terlibat kasus korupsi, bagaimana mungkin tiba-tiba Mama memberitahu nya. Kita sudah bertahun-tahun tidak bertemu dengan Sisil, apa Kamu bertemu Dia sayang?"


"Ahh begitu yaa, tidak apa-apa Ma. Sudah dulu ya, telponnya Diva tutup."


Diva mematikan telepon itu secara sepihak, menatap Sisil yang menundukkan kepalanya saat kedoknya terbongkar.


"Jadi bagaimana? Apa masih ada alasan lain lagi? Gue saranin ya, kalo punya niat jahat tuh di pikirin dulu."


"Iya, Gue emang disuruh seseorang buat deketin Devano, bikin Raina cemburu dan hubungan Mereka hancur!! Tapi rencana Gue gagal karena Kalian berdua!"


"Iya, sabar ya."


"Ndak mau, Raina mau sekarang!"


Devano menghela nafas pelan, menatap semua yang berada di dalam ruangan rawat itu satu persatu.


"Fana, lakuin apa yang harus Kamu lakuin. Kalian semua boleh keluar, kecuali Rara." Ucap Devano,


"Kenapa Gue gak boleh keluar?" Tanya Rara, gadis itu menjadi kikuk saat melihat tatapan tajam Devano.


"Jangan bilang kalo Lo suka ya sama tunangan Gue?!" Tuduh Rafly, pria itu juga enggan keluar jika Rara masih belum keluar.

__ADS_1


"Ada apa sih sebenarnya? Kenapa Rara gak di bolehin keluar? Raina, Lo baik-baik aja kan?" Tanya Namira, rupanya kedua sahabat Raina yang lain juga penasaran kenapa Devano mencegah Rara untuk pergi. Tapi bukannya menanyakan keadaan Rara, Namira justru mencemaskan Raina yang terlihat baik-baik saja.


"Dev, ayo kasih Raina kiss. Raina mau kiss, setelah Dev kasih Raina ndak akan minta lagi. Kecuali, kalo Raina ketagihan." Ucap Raina sambil tersenyum membayangkan kiss yang akan di berikan Devano.


Wajah Devano memerah seketika mendengar perkataan Raina, begitupun juga dengan Rara yang tak habis pikir dengan sifat polos Raina.


"Sayang, kiss nya nanti dulu yaa."


"Kenapa harus nanti? Pelit banget sih Lo sama tunangan sendiri, duit Lo banyak tapi pelitnya, kiss murah meriah kali. Lagian Dia juga gak minta yang nekoh-nekoh, gak sampai cepe duit merah juga harganya, cuma sekitaran cepe duit hijau." Bukan Raina, melainkan Rafly yang menjawab perkataan Devano.


"Lo kudet banget sihh, Lo pikir kiss yang dia maksud itu permen kiss? Bukan dodol, Lo tanya aja tuh sama tunangan Lo yang udah racunin pikiran Raina!" Ucap Devano dengan kesal.


Devano tak habis pikir sedari tadi Raina terus saja meminta kiss bahkan tak tanggung-tanggung di depan ketiga sahabatnya seperti ini.


"Raina, emang kiss apaan sih?" Tanya Qinzo, pria ini sedari tadi hanya diam namun juga tak ayal penasaran dengan kiss yang menjadi topik pembicaraan ini.


"Qinzo ndak tau kiss? Rara, ayo jelasin apa itu kiss. Raina lelah jika harus menjelaskan." Qinzo menatap Raina dengan tatapan kesal, sedangkan yang di tatap malah nyengir cantik.


"Sayang, kiss yang dimaksud itu apaan sih?"


Cup


Rara mencium bibir Rafly dalam beberapa detik saja, membuat pria itu terpaku dalam diamnya. Kaget dengan apa yang di lakukan Rara secara tiba-tiba.


"Itu kiss yang yang di maksud Raina Sayang, hehehe." Ucap Rara membuat Rafly melongo.


"Lihat Dev, Raina juga mau kiss seperti Rara." Ucap dengan semangat.


"RARA." Teriak Devano, Namira dan Siska bersamaan pada Rara namun gadis itu malah nyengir dengan polosnya.


"Lo bener-bener yaa, udah tau sahabatnya gitu pake di ajarin lagi!" Omel Siska.

__ADS_1


"Ngeres banget otak Lo Ra, kebanyakan nonton yang uwu-uwu gini nihh jadinya." Ucap Namira menatap sahabatnya yang nyengir dan memeluk Rafly serta membenamkan wajahnya di dada bidang pria itu.


"Udah keluar sana Lo pada, Gue mau kasih gadis nakal Gue ini kiss biar Dia senang!" Usir Devano pada semuanya membuat Mereka semua menatap pria itu dengan tatapan kesal, bilang aja senang dengan pikiran polos Raina yang satu ini. Pikir Mereka semua.


__ADS_2