Takdir Cinta Raina (S1&S2)

Takdir Cinta Raina (S1&S2)
72


__ADS_3

Keesokan harinya,


Raina sedang duduk santai sambil memakan camilan di ruang keluarga. Gadis itu begitu menikmati cemilannya, hingga melupakan Devano yang sedari tadi berada di sampingnya.


"Sayang, aku jangan di cuekin dong." ucap Devano yang kembali merajuk.


"Raina ndak cuekin, Dev aja yang lebay." balas Raina kemudian melanjutkan makan nya.


Devano menghela nafas pelan, sulit memang menghadapi gadisnya yang tidak peka ini. Bahkan, keripik singkong lebih berharga dari pada dirinya.


Pernah suatu waktu, Raina dan Devano sedang pergi ke salah satu supermarket terdekat. Raina banyak sekali memilih jajanan kesukaannya, bahkan troli nya saja di penuhi belanjaan Raina. Devano di buat melongo melihat isi troli yang didominasi dengan bungkusan keripik singkong.


Flashback


"Sayang, apa ini tidak berlebihan? Ini sangat banyak, nanti giginya sakit sayang." ucap Devano yang kaget melihat banyak nya keripik singkong yang di pilih Raina.


"Ini sedikit, banyak dari mananya? Dev pelit, ini ndak akan menghabiskan uang Dev kan?!" Raina memberikan Devano tatapan mengintimidasi, Devano kalah lagi. Sulit untuk menolak keinginan Raina, apalagi masalah keripik kesukaan gadis itu.


"Baiklah, kamu boleh membeli apapun yang kamu mau. Sekarang, ayo kita ke kasir untuk membayar semuanya." ucap Devano mengalah, mereka pun pergi menuju kasir dan bersiap untuk membayar. Namun, Devano melupakan dompetnya yang tertinggal di mobil.


"Sayang, aku lupa membawa dompet. Kita tinggal disini dulu yaa belanjaan nya, aku mau ambil dompet dulu di mobil." ucap Devano saat semua belanjaan mereka sudah di total harganya, Raina menatap keripik-keripik singkong nya, lalu beralih pada antrian panjang di belakangnya.


Tidak, Raina tidak mau meninggalkan keripik-keripik nya bersama para antrian. Raina menatap Devano yang juga sedang menatapnya, lalu beralih pada kasir yang menatap Devano dengan tatapan terpesona. Raina tersenyum lebar, ada jalan keluar.


"Ndak mau, nanti kalo keripik-keripik singkong Raina di ambil orang gimana?" ucap Raina dengan polosnya, Devano mengusap wajahnya dengan gusar.


"Dev tunggu sini, biar Raina yang ambil dompetnya."


Devano melirik sekitar dan melihat gadis-gadis, bahkan ibu-ibu pun menatapnya dengan lapar layaknya hidangan makan siang mereka. Devano bergidik melihatnya, mana mau dia menjadi santapan mereka.


"Gak, kamu yang tunggu sini. Biar aku yang ambil dompetnya,"


Raina pun turut melirik sekitar, sangat banyak orang. Belum lagi beberapa pria yang terus menatapnya sedari tadi. Raina yang sangat tidak suka menjadi pusat perhatian mana mau untuk menunggu.


"Ndak, Raina ndak mau."


Devano menghela nafas, sulit sekali mengambil keputusan. Pria itu sekali lagi melirik Raina yang malah anteng duduk lesehan di lantai.


"Mbak, titip gadis nakal saya sebentar yaa. Saya mau ngambil dompet dulu, kalo dia nakal jewer aja telinganya gak ppa kok." pesan Devano pada mbak-mbak penjaga kasir.


Raina mendelik kesal saat mendengar perkataan Devano, namun tetap stay cool.


15 menit kemudian, Devano kembali dan menuju kasir. Namun, di sana justru terjadi keributan. Dengan langkah cepat Devano menuju asal keributan itu terjadi, Devano sangat khawatir jika salah satu pelaku keributan adalah Raina.


Dan benar saja, sebelum sampai di sana suara Raina sudah terdengar tengah memarahi seseorang.


"Ndak, ini keripik Raina!! Kamu jangan ambil!!"


"Ada apa ini?!"


"Hiks, hiks, Dev hiks badut itu mau ambil keripik-keripik singkong milik Raina hiks," adu Raina saat Devano sudah berada di hadapannya.


Saat itu, Raina sedang bertengkar dengan seorang gadis remaja seumuran nya. Gadis remaja itu mengambil keripik-keripik singkong milik Raina secara paksa. Raina tentu saja tidak tinggal diam, gadis itu bersikeras mempertahankan miliknya.


Keributan yang mereka lakukan membuat semua perhatian tertuju pada Raina dan gadis itu. Saat melihat keberadaan Devano, gadis remaja itu langsung saja jatuh hati. Bahkan, gadis itu melupakan keributan apa yang baru saja dirinya buat.

__ADS_1


"Dev, Raina mau keripik nya hiks, tapi dia ambil paksa semuanya hiks, hiks," adu Raina.


"Bohong!! Semua stock keripik singkong disini habis dan di borong sama dia! Pelanggan yang lain juga mau beli, toh dia juga gak mampu bayar!" bantah gadis yang bertengkar dengan Raina.


"Sayang, setelah aku pikir matang-matang lebih baik kita pergi dari sini."


"Ndak, Raina ndak mau pergi tanpa keripik!"


"Barang-barang jualan disini gak ada yang berkualitas, lihat pengunjungnya pun gak punya sopan santun. Kita akan beli di toko yang lain saja." Bujuk Devano, tapi Raina tetap keukeh ingin membawa keripik-keripik nya pulang.


"Hehh, gue tau lo pasti gak punya duit kan?! Tenang aja, gue akan kasih keripik-keripik ini buat nih cewek kampung, tapi dengan syarat lo harus mau jadi pacar gue. Gimana?" ucap gadis itu, Devano hanya tersenyum sinis menanggapinya.


"Lo gk usah banyak berfikir deh, super market ini milik gue. Apapun itu, gue akan ikhlasin nih cewek kampung bawa pulang semuanya. Tapi, lo harus jadi pacar gue." lanjutnya lagi.


"Humm, kenapa tidak begitu saja dari tadi?" gumam Raina, gadis itu sedang merencanakan sesuatu.


"Dev, disini aja biar Raina pulang dengan keripik-keripik ini!" ucap Raina dengan begitu penuh semangat. Devano melongo mendengar perkataan Raina, apa gadis itu menukarnya dengan keripik singkong? Apa dirinya masih kurang berharga dari keripik singkong nya?


"Sayang, kamu ngomong apa sih?! Nggak, gak ada tukar-tukaran emang saya ini barang apa!! Ini, saya bayar semua apa yang tunangan saya pilih. Tapi ingat, kamu sudah berani menghina tunangan saya oleh karena itu bersiaplah mendapat ganjarannya." Devano menyerahkan 10 lembar uang merah ke arah kasir lalu menarik pergelangan tangan Raina dengan lembut keluar dari super market.


"Halo, bereskan. Saya tidak mau kalo sampai masih ada yang tersisa." ucap Devano, di sela jalannya menelpon seseorang untuk menjalankan perintahnya.


"Heheh, maaf ya Dev. Raina tadi cuma bercanda, hihihi." ucap Raina saat mereka sudah berada di parkiran. Devano hanya tersenyum sembari menjawil hidung mungil Raina. Mana mungkin pria itu bisa marah pada gadis nakalnya itu, di diemin sedikit saja Devano sudah kalang kabut.


...----------------...


Tanpa sepengetahuan Raina, hari ini kedua orang tuanya akan pulang. Semua itu berkat bujukan dari Devano. Bima dan Dewi tidak mungkin menolak permintaan calon menantu mereka, apalagi niat dari kepulangan mereka untuk turut dalam kebahagiaan putri kesayangan mereka.


Sebuah mobil mewah memasuki pekarangan rumah, bersamaan dengan Ziva dan keluarganya yang baru saja datang untuk memenuhi tantangan dari Raina.


Bima hanya tersenyum menanggapi pertanyaan dari Arif, pria itu sedang tidak ingin ribut. Namun Arif justru semakin membuat masalah hingga terjadi keributan.


Sementara itu, Raina yang sedang asik duduk santai sambil memakan keripik singkong nya dan Devano yang baring dengan kaki Raina sebagai bantalan nya, sama sekali tidak memperdulikan keributan yang terjadi di luar sana. Hingga Mayang datang dengan tergesa-gesa dan memberitahukan mereka apa yang sedang terjadi.


Raina malah bersikap santai, gadis itu justru asik memakan keripik nya. Melihat sikap santai yang di tunjukkan Raina, Devano pun melakukan hal yang sama. Pria itu bahkan mulai memejamkan kedua matanya, Mayang yang melihat tingkah sepasang kekasih itu pun di buat kesal.


"Ayo lah nona, ayah dari nona Ziva itu sudah keterlaluan. Dia malah menghina tuan besar, apa nona akan diam saja?" ucap Mayang, pelayan itu seperti nya mulai kesal dengan Raina yang mengabaikan perkataan nya.


"Baiklah, tapi Raina ndak mau jalan. Dev, bangun. Ayo, kita harus menonton keributan diluar." Devano pun bangun dan menggendong Raina secara bridal style menuju teras rumah.


Setibanya di teras rumah, Arif hendak saja memukul wajah Bima namun terhenti karena mendengar perkataan Raina.


"Berani menyentuhnya sedikit saja, maka lihat apa yang akan terjadi pada keluargamu." ucap Raina, membuat Arif menghentikan gerakan tangannya.


"Kau?! Kau hanya gadis manja yang sudah membuat putriku sakit, berani nya kau mengancamku?!!" Arif menunjuk Raina dengan wajah yang memerah karena amarah.


"Ohh benarkah? Dev, ayo manja Raina. Paman jelek itu bilang, Raina ini gadis manja. Kalo begitu, ayo manja Raina sayang." ucap Raina pada Devano dengan mengedip-ngedipkan kedua matanya dengan genit.


Devano tertawa melihat tingkah gadis nakalnya, ada-ada saja tingkah Raina yang selalu membuatnya tertawa.


"Kau tidak pantas bertingkah seperti itu sayang, aku akan memanjakan mu setelah kita resmi menikah nanti."


"Humm, baiklah."


Melihat kedekatan Raina dan Devano, Ziva pun terbakar oleh api cemburu. Begitupun juga Shakira yang sedari tadi melihatnya dari jauh, Raina menyadari itu namun tetap bersikap biasa saja seolah tidak mengetahui keberadaan mereka.

__ADS_1


"Apa Paman datang kesini untuk bertengkar dengan Papa Raina? Hah, Raina pikir untuk membawa bukti-bukti kejahatan Raina." Raina menatap Arif dengan tatapan datar, gadis itu memang bersikap santai. Tapi lihatlah nanti, apa yang akan gadis itu lakukan untuk membalas nya.


"Shakira senang Om Bima dan Tante Dewi udah pulang, jadi gak ada yang perlu di rahasiain nantinya. Sekarang, kita mulai aja."


Raina tersenyum sinis mendengar perkataan Shakira. Sepupu nya itu begitu terlalu percaya diri, hingga Raina ingin merusak rasa percaya dirinya.


"Baiklah, mari kita mulai. Silahkan, tunjukkan bukti yang kalian temukan. Tapi, semua gak akan mudah kalo Raina memang terbukti ndak bersalah. Kalian tau kan, apa konsekuensi nya?"


"Jangan banyak omong kamu gadis nakal!! Lihat saja, setelah ini kamu pasti akan masuk penjara!" bentak Rosa, mama Ziva. Tak lama kemudian, 2 orang berseragam polisi datang mengawasi apa yang mereka lakukan.


Raina tersenyum mengejek saat melihat kedua polisi itu, sepertinya mereka sudah menggali kuburan mereka sendiri. Dan dengan percaya dirinya, Shakira dan Ziva memutar sebuah video yang mereka yakini sebagai bukti.


"Hahahah, video apa itu? Apa kalian begitu menyukai video ini?? Hahaha, luhatlah kalian bahkan mengambil video saat Raina sedang berjoged ria" wajah Shakira dan Ziva memerah saat melihat isi rekaman yang mereka jadikan sebagai bukti.


Video itu memang berisi Raina yang baru saja selesai memerintahkan Mayang memberi camilan serta minuman pada Ziva dan Shakira.


"Apa ini?!! Kalian memanggil kami hanya untuk menyuruh kami menonton video seperti ini?! Lelucon macam apa ini?!" ucap salah satu dari polisi itu yang kesal karena merasa di permainkan oleh mereka.


"Tidak pak polisi, video ini bertepatan saat kami memakan camilan dan meminum jus itu! Kami yakin, pasti ada video yang bisa meyakinkan bahwa mereka bersalah." ucap Shakira, gadis itu sibuk memutar mundurkan rekaman CCTV itu.


Bima yang mengetahui bahwa Shakira berusaha untuk menjebak Raina sangat marah. Bagaimana mungkin ada orang yang ingin menjebak putrinya di depan mata kepalanya sendiri?


"Cukup!! Apa-apaan ini?! Kau?!! Saya sudah berbaik hati dengan menampung mu dan ibumu di rumahku, dan beraninya kalian mau memfitnah putriku?!!" marah Bima, bahkan kuku-kuku pria itu sudah memutih karena menahan amarahnya.


"Papa, ini urusan Raina. Papa ndak perlu khawatir, Raina sendiri yang akan membuat mereka sadar."


Shakira dan Yuna terlihat gemetar, begitupun dengan Ziva dan keluarganya.


"Pak polisi, kalian bisa pergi. Mohon maaf karena sudah mengganggu waktu kalian. Kalian ndak perlu khawatir, karena Raina sendiri yang akan membawa mereka ke kantor polisi dan memidana mereka atas kasus pencemaran nama baik. Ini, Raina punya salinan bukti bahwa mereka sudah berani memfitnah Raina kemarin." Raina memberikan sebuah flash dish pada polisi itu, setelah berpamitan kedua polisi itu pun pergi dari kediaman Aryasetya.


Setelah kepergian dua polisi itu, Raina kembali fokus pada 5 tersangka yang kini sedang mati kutu.


"Jadi bagaimana? Apa masih mau bermain?"


"Dewi hiks, tolong kami hiks, kami hiks hanya ingin mendapat keadilan Dew hiks, hiks, kami yakin Raina yang sudah mencelakai Shakira dan Ziva!" dengan tidak tahu malunya, Yuna memohon pada Dewi, namun tetap saja menyalahkan Raina.


"Cukup Yuna!! Apa aku terlalu pada kalian hah?!! Kalian seharusnya bersyukur, karena setelah kalian berhasil menculik putriku, dia masih berbaik hati untuk menampung kalian kembali dengan alasan kemanusiaan!! Tapi apa yang kalian lakukan hah?!! Kalian dengan tega memfitnah putriku!! Bahkan, kalian sudah memanggil polisi?!! Kali ini, hadapi saja apa yang putriku akan lakukan pada kalian!" ucap Dewi, wajah wanita itu juga sudah memerah. Dewi merasa sangat bersalah, karena keegoisannya membuat Raina dalam masalah.


"Mama sama Papa mau istirahat, atau ingin terus menonton pertunjukan nya?"


"Kami akan tetap disini nak, kami tidak mau mereka menyakiti anak kesayangan mama ini."


Arif semakin menatap Bima dengan tatapan penuh kebencian. "Apa ini?! Jadi kamu ayah dari gadis nakal ini?! Apa kau tau, gara-gara anakmu itu putriku menjadi seperti ini!!" Arif kembali menunjuk-nunjuk wajah Bima, membuat Raina memutar kedua bola matanya malas.


"Shuttt, diam paman!! Ini adalah giliran Raina yang berbicara, paman hanya perlu diam dan menerima apa hukuman yang pantas untuk kalian!!"


"Karena kalian sudah berani menghina dan memfitnah Raina, maka dari itu hukuman kalian adalah penjara. Dan untuk kalian berdua, " Raina menatap Yuna dan Shakira dengan senyum penuh kemenangan.


"Mulai saat ini, angkat kaki dari rumah ini. Dan, jangan ada satu pun barang yang kalian bawa, karena kalian sama sekali tidak memiliki hak atau pun harta yang bisa kalian bawa!! Kalian sudah menantang Raina bukan? Dan sekrang, tantangan kalian Raina terima. Tentu saja dengan imbalan, kalian pergi dari sini!! Humm, dan hukuman yang sebenarnya tentang kalian berlima adalah PENJARA."


Raina memerintahkan para bodyguard Bima untuk menyeret mereka berlima ke kantor polisi dan mengabaikan teriakan-teriakan mereka."


Jangan lupa like, vote, komen dan share yaa😘


See u next time🤗

__ADS_1


__ADS_2