Takdir Cinta Raina (S1&S2)

Takdir Cinta Raina (S1&S2)
82


__ADS_3

Sepanjang perjalanan Rachel terus saja diam tanpa mengucapkan sepatah katapun. Perkataan Alvin terus saja terngiang-ngilang di benaknya, kediaman Rachel membuat Raina jenuh. Namun melihat wajah Rachel yang seperti sedang di landa masalah, Raina memutuskan untuk diam. Tapi yang nama nya Raina ya orang nya gak bisa diam, gadis itu mulai berbicara namun diabaikan Rachel.


"Stop kak, Raina mau bicara!" ucap Raina pada Rachel, gadis itu bahkan menginjak rem tanpa persetujuan Rachel hingga mobil berhenti secara mendadak. Untung saja mereka sedang berada di jalanan yang sepi, jika tidak mungkin saja sudah terjadi kecelakaan.


"Lo itu mau mati ya?! Kalo mau mati, mati aja gak usah ngajak-ngajak gue!" omel Rachel, namun bukan Raina namanya jika meladeni perkataan lawan bicaranya.


Rachel terlihat sangat frustasi sekarang, dan Raina menyadari itu. Raina memang belum tau, bagaimana sosok Alvin. Karena saat pria itu dan keluarganya datang, Raina selalu ngumpet di kamar atau mencari alasan yang lain.


"Raina tau, kak Rachel lagi ada masalah. Kak Rachel ndak mau cerita ke Raina? Kalo mau nangis, nangis aja. Nahan tangis itu ndak enak kak, Raina kalo mau nangis ya nangis aja kalo perlu teriak sekencang-kencangnya. Setelah itu, pasti akan sedikit merasa tenang."


"Gue gak cengeng kayak lo, tapi gue juga gak bisa bohong. Gue cemburu lihat dia sama perempuan lain, bahkan dengan egoisnya dia tetap akan mempertahankan perjodohan tapi dia juga mau tetap berhubungan dengan perempuan lain. Coba lo pikir, gimana kalo yang ada di posisi gue." ucap Rachel dengan mata yang memerah, tanpa aba-aba Raina memeluk kembarannya itu dan memberikannya ketenangan.


"Apa, kak Rachel sudah mulai menyukainya? Kalo Raina jadi kak Rachel, untuk apa mempertahankan seseorang yang bukan milik kita. Tohh, suatu saat nanti kita pasti akan bertemu dengan seseorang yang tulus. Tapi, ndak ada salahnya juga kan kalo kak Rachel mau berjuang."


"Lo sama sekali gak kasih pencerahan apa-apa buat gue. Tapi, gue lebih milih mundur aja. Gue gak mau lanjutin perjodohan ini,"


Rachel kembali menjalankan mobilnya, lima belas menit kemudian mereka pun sampai di kediaman Aryasetya.


"Sepertinya sedang ada tamu di rumah, lo ambilin ya tuh boneka lo di jok belakang gue mau masuk duluan." ucap Rachel yang di angguki Raina.


"Ahhh, itu dia yang kita tunggu akhirnya datang juga. Rachel sayang, duduk sini dulu nak." ucap Dewi, Rachel pun menurut dan duduk di antara kedua orang tuanya.


Rachel terus saja menunduk, apalagi saat mengetahui bahwa tamu orang tuanya adalah kedua orang tua Alvin.


"Nak Rachel, kami berencana ingin mempercepat rencana pertunangan kamu dan anak kami. Kedua orang tua kamu sudah setuju kok, gimana dengan kamu nak?" ucap Laras, ibu Alvin.


"Maaf semuanya, Mama, Papa, Om, Tante, saya gak bisa terusin perjodohan ini. Saya ingin membatalkan perjodohan ini, saya dan mas Alvin tidak ada kecocokan. Mas Alvin juga sudah memiliki kekasih, dan saya sudah memutuskan untuk tetap fokus ke pendidikan. Sekali lagi saya minta maaf, keputusan saya sudah membuat kalian semua kecewa." ucap Rachel dengan mantap, gadis itu sudah yakin dengan keputusannya.


"Apa kamu serius, nak? Kami sangat ingin kamu menjadi menantu kami, masalah Alvin itu bisa di bicarakan lagi nak." ucap Laras, namun keputusan Rachel sudah bulat. Gadis itu tidak ingin melanjutkan hubungan dengan Alvin lagi.


"Kak Rachel, bantuin Raina!" teriak Raina yang wujudnya sudah terlihat sedang menggendong sebuah boneka beruang besar. Entah apa yang ada di pikiran Raina, sebelum pergi tadi gadis itu ngotot membawa boneka itu bersama mereka.


"Lo bisa bawa sendiri Raina, boneka lo gak ada berat-beratnya!" balas Rachel melirik kembarannya dengan kesal.


"Mama, kak Rachel jahat. Kan Raina jadi ndak bisa lihat jalan." adu Raina pada Dewi.


"Sudah-sudah, kalian dari mana sih? Kamu ngapain bawa-bawa boneka sayang, itu juga pakaian kamu kok malah pake baju tidur." tanya Dewi

__ADS_1


"Aku habis nganterin dia ketemu Devano Ma, ya itu dia gak mau ganti baju dan malah ngotot bawa boneka besar itu." jawab Rachel


Raina menghempaskan pantatnya di sofa dengan nafas tersengal-sengal. "Mbak Mayang, tolong ambilin Raina minum!"


"Raina, kita lagi ada tamu loh nak. Gak boleh teriak-teriak gitu," tegur Bima.


"Heheh, halo Tante, halo Om, maafin Raina yaa."


"Lohh, jadi Rachel ini punya kembaran? Tapi kami sudah berkali-kali datang kok gak pernah ketemu?" Laras menatap Rachel dan Raina bergantian, tak ada yang berbeda dari keduanya.


"Iya Laras, Rachel dan Raina itu kembar. Tapi kepribadian dan sikap mereka itu saling bertolak belakang, Raina si ceria dan Rachel cenderung cuek. Selama ini kalo kalian datang, Raina selalu ngumpet. Dia orangnya paling males menjamu tamu, dia lebih banyakan di kamar atau bermain bersama kedua kucing peliharaannya." Dewi menjelaskan semuanya, Laras dan Dion pun mengangguk mengerti.


"Baiklah, kita kembali ke persoalan pertama." Bima menatap Rachel yang terus saja menundukkan kepalanya.


"Apa kamu benar-benar ingin membatalkan perjodohan ini, nak? Apa kamu tidak mau melanjutkan nya lagi?" tanya Bima pada Rachel.


"Iya Pa, aku perjodohan ini di batalkan. Aku mau fokus ke pendidikan aku Pa, dan aku harap kalian bisa menerima keputusan ku ini." jawab Rachel tanpa berani mengangkat kepalanya.


"Begini saja, bagaimana jika perjodohan nya kita tukar?" usul Laras, membuat semuanya bingung.


"Di tukar? Maksudnya bagaimana?" tanya Dewi.


"Apa?! Raina ndak mau di jodohin, enak aja mau jodoh-jodohin Raina! Raina ini mau nikah 2 bulan lagi, kalo kak Rachel gak mau di jodohin ya udah dong. Kok Tante malah maksa? Raina juga ndak setuju kalo kembaran Raina berjodoh dengan laki-laki playboy seperti anak Tante, Raina sudah lihat sendiri tadi bagaimana anak Tante memperlakukan Kak Rachel. Dengan bangganya dia memuji wanita lain di depan Kak Rachel, untung aja Raina masih sabar, kalo kesabaran Raina udah habis lihat aja anak Tante pasti udah sakit perut sekarang." jawab Raina, gadis itu tidak terima dirinya di jadikan kambing hitam.


Mendengar perkataan Raina, Dewi dan Bima menjadi tidak enak pada tamu mereka. Apalagi secara terang-terangan Raina menceritakan keburukan Alvin di depan mereka.


"Raina, kamu tidak boleh bicara seperti itu sayang."


"Yang Raina omongin itu bener kok, kalo mau perjodohan berlanjut ya benerin dulu otak anaknya. Kalo udah bener, langsung datang melamar juga langsung Raina terima lamarannya untuk Kak Rachel." ucap Raina seenak jidad, membuat Rachel melotot seketika.


"Baiklah nak Raina, kami akan bicara pada Alvin. Semoga saja setelah ini, otaknya bisa lebih bener lagi." ucap Laras menanggapi perkataan Raina.


"Lohh, kamu tidak perlu khawatir Laras. Raina hanya asal bicara saja." ucap Dewi yang tak enak pada Laras dan Dion.


Akhirnya karena kekerasan kepala Raina, Laras dan Dion pun pulang dengan penuh rasa kecewa. Impian mereka agar hubungan persahabatan terus terjalin erat malah kandas di tengah jalan. Jangan kan Rachel, meluluhkan hati Raina saja mereka tidak mampu. Sudah begitu, Raina yang puas mengeluarkan uneg-uneg nya malah pergi begitu saja masuk ke kamarnya. Dewi dan Bima hanya bisa meminta maaf atas kelakuan Raina pada mereka.


Sedangkan Rachel, gadis itu tetap keukeh ingin membatalkan perjodohan antara dirinya dan Alvin. Dan yang lebih kacaunya lagi, Laras dan Dion justru malah mengiyakan perkataan Raina yang ceplas ceplos.

__ADS_1


Keesokan harinya,


Saat ini Rachel sedang bersiap-siap untuk ke kampus. Sedangkan Raina, gadis nakal itu terus saja mengikuti kemanapun Rachel pergi. Rachel yang terus diikutipun kini merasa jengah.


"Lo gak ada kerjaan? Kalo emang gak ada, mending lo bersih-bersih kebun gihh. Mang Tarjo kan lagi libur, lo gantiin aja kerjaannya untuk sementara waktu. Dari pada lo ngintilin gue mulu, bikin mata gue sepet aja." ucap Rachel, namun sama sekali tidak berpengaruh untuk Raina.


"Ada mang Paijo kok yang gantiin mang Tarjo. Raina hari ini cuma mau ngikutin kemana Kak Rachel pergi." jawab Raina.


Mendengar jawaban yang diberikan Raina, Rachel pun semakin kesal. Sulit sekali untuk menang berdebat dengan Raina. Selalu aja, kembarannya itu memiliki seribu jawaban dari setiap perkataannya. Kadang Rachel bingung sendiri, kok bisa dia punya kembaran yang modelannya seperti Raina itu.


"Terserah lo deh ya, tapi gue gak ngijinin lo ikut gue ke kampus!"


"Ya elah, kak. Raina kan mau jadi kembaran yang baik, Raina yakin kalo mas Alvin mu itu akan datang dan memaksa kak Rachel biar ndak batalin perjodohannya."


Rachel yang hendak pergi pun berbalik, menatap Raina yang juga kini sedang menatapnya. Sejujurnya Rachel juga sepemikiran dengan Raina, namun gadis itu tidak mau melibatkan adik nakalnya itu dalam masalahnya. Cukup dirinya saja yang mengalami, Rachel tidak ingin Raina juga mendapat masalah karena dirinya.


"Gue gak mau lo ada masalah karena nolongin gue Raina, jadi gue tegasin sekali lagi sama lo. Lo gak boleh ikut, lagi pula gue bisa jaga diri gue sendiri. Lo cukup duduk manis aja di rumah. Jangan buat masalah, lo harus ingat kalo sebentar lagi lo bakalan nikah. Dan masalah ini, gue bisa kok ngatasinnya sendiri."


Rachel benar-benar pergi tanpa mengijinkan Raina untuk ikut dengannya. Namun, bukan Raina namanya kalo akan nurut dan duduk diam.


Setelah memastikan semuanya aman, Raina segera menarik Fana yang sedari tadi sedang asik memakan roti bakar sebagai sarapan paginya. Namun naas, baru saja roti itu akan masuk ke mulutnya Raina lebih dulu menarik tangan Fana hingga roti itu jatuh ke lantai.


"Oh sayang, maafkan kanda mu ini. Kanda akan mencari kepuasan lain di luar sana," ucap Fana, sembari menatap sepotong roti bakarnya yang mulai menjadi santapan Tommy.


"Ndak usah drama pagi-pagi, ayo cepat kita harus ngikutin kak Rachel!"


"Bawel banget sih, iya ini juga udah jalan."


Fana harus fokus menyetir mobil dengan perut keroncongan, sedangkan Raina asik mengoceh sambil memakan sepotong roti yang sempat di ambil nya tadi.


"Kakak ipar, Fana lapar loh ini. Kalo Fana mati kelaparan gimana, kamu mau tanggung jawab?" ucap Fana sedikit merajuk.


Raina tampak berpikir, sembari melirik sepotong roti yang masih tersisa banyak di tangannya. Menghela nafas pelan, gadis itu pun membaginya menjadi dua bagian. Raina memasukkan potongan roti yang cukup besar kedalam mulut Fana yang sedang merajuk tanpa aba-aba, lalu kembali memakan sisa roti yang lainnya.


Fana yang mendapatkan suapan roti yang tiba-tiba nyaris tersedak, untung saja rasa lapar membuat mulutnya semakin luas.


"Kau mau membunuhku ya?! Kalo Fana tadi mati keselek roti gimana? Masa ganteng-ganteng matinya gara-gara gak bisa nelen roti!" protes Fana, saat roti yang berada di mulutnya sudah habis.

__ADS_1


"Banyak bacot kamu, setir aja yang bener. Lebay banget, tuh buktinya Fana ndak mati kan. Ndak usah ngomong mulu, mending fokus. Awas aja kalo kita kehilangan jejak, Fana gak Raina kasih jatah makan selama seminggu." ucap Raina membuat Fana mengatupkan mulutnya rapat-rapat.


Hai, maaf ya baru up lagi. Soalnya aku kehabisan paket dan ide😂 Untuk part selanjutnya adalah kelakuan Raina dan Fana dalam memata-matai Rachel, yang penasaran sampai ketemu di part selanjutnya yaa😊


__ADS_2