
"Bagaimana? Apa ada perkembangan?" Tanya seorang Dokter pada salah seorang perawatnya.
"Belum ada Dokter, pasien masih belum sadarkan diri sejak siuman dua hari yang lalu." jawab perawat itu.
"Hahh, baiklah tetap pantau keadaannya." ucap Dokter itu lagi.
♧♧♧♧♧
"Wahhh, Raina pasti akan betah tinggal disini." ucap Raina, sekarang gadis itu sudah berada di pinggiran Kota.
"Nona, jika menginginkan sesuatu Anda bisa meminta nya langsung. Ibu tinggal tepat di seberang jalan." ucap Mira, ibu pemilik kontrakan yang akan di tempati Raina.
"Bibi tidak perlu formal seperti itu, panggil aja Raina. Baiklah, terimakasih Bibi." jawab Raina sambil tersenyum manis.
Tidak terasa, sudah satu minggu lamanya Raina pergi dari rumah. Selama itu juga, Raina hidup sendiri. Raina tentu saja kesepian, namun gadis itu harus membiasakan diri nya.
Raina sengaja tidak pergi begitu jauh, gadis itu dengan sengaja tinggal dekat dengan lokasi tempat terjadinya kecelakaan yang di alami Devano.
Raina yakin, ada yang tidak beres dengan kecelakaan itu.
"Raina, sampai kapan Lo akan terus bersikap bodoh seperti ini? Lo juga udah lihat sendiri kan, gimana perlakuan Devano sama Lo? Pikiran Lo itu gak logis tau gak, udah jelas-jelas Dia mencampakkan Lo tapi masih juga Lo gak percaya?? Lo lupa gimana Dia kenalin Rena sebagai kekasih nya? Dia buang Lo gitu aja, Gue gak terima ya Lo di gituin!!" Marah Rachel, saat ini Raina sedang berada di kamarnya dan melihat pantulan wajahnya di cermin, namun dengan tiba-tiba Rachel muncul karena tidak setuju dengan keputusan yang di ambil Raina.
"Kak, Raina yakin kok Dev ndak mungkin setega itu. Raina yakin, ada alasan kenapa Dev bisa seperti itu." ucap Raina, gadis itu masih percaya bahwa Dev mencintainya.
"Cinta boleh, sayang boleh, tapi jangan bodoh! Lo gak lihat bagaimana Dia begitu membanggakan Rena di depan Lo?!" Marah Rachel, Raina hanya tersenyum menanggapi perkataan Rachel.
"Kak Rachel mungkin lupa, tapi kata dokter Dev sama sekali ndak mengalami gegar otak atau sebagainya. Lalu bagaimana Dev bisa lupa dan bersikap seperti itu pada Raina?" ucap Raina, hal itu memang janggal.
"Baiklah, apapun yang Lo lakuin Gue gak bisa ngapa-ngapain selain dukung Lo." Bayangan Rachel lenyap seketika.
Sedangkan itu, di kediaman Aryasetya terjadi keributan. Revan yang baru saja mengetahui bahwa adik kesayangan nya pergi tersulut emosi. Ingin rasanya pria itu memukul wajah tampan Devano.
Namun sayang, karena pemikiran Revan harus tertunda karena Devano kembali kritis sehari setelah kedatangan Raina hingga saat ini.
__ADS_1
"Brengsek!!! Kenapa Mama dan Papa gak halangin Raina?? Kenapa Kalian biarin Raina pergi?! Apa kalian sama sekali tidak khawatir dengan keadaannya?! Dia sendirian di luar sana, apa Kalian berfikir bagaimana adik Saya melanjutkan hidupnya? Kalian benar-benar tidak berperasaan!" Marah Revan, pria itu bertambah marah saat melihat kedua orang tuanya begitu memanjakan Shakira.
Dewi dan Bima tampak bahagia tanpa Raina, bahkan Mereka begitu memperhatikan Shakira.
"Dan Lo?!! Lo udah rusak kebahagiaan keluarga Gue!! Lo pikir Gue gak tau kalo Lo penyebab Raina kabur dari rumah sebulan yang lalu?? Hebat, Lo dan Mama Lo itu benar-benar gak tau diri, gak tau terima kasih!!" lanjut Revan, menunjuk Shakira dengan tatapan tajam.
"Kak Revan kenapa menyalahkan Shakira? Emang benar kok, Raina sengaja tumpahin air panas ke badan Shakira. Shakira gak pernah nyuruh Raina buat pergi, Dia aja yang kekanakan." jawab Shakira dengan tak tahu malunya.
PLAK
"Beraninya Kamu menuduh putriku?!! Kau pikir Saya memanjakanmu dengan suka rela?? Saya memanjakan mu sebagai wujud rasa rindu Saya pada Raina!!" Dewi menampar wajah Shakira saat gadis itu berbicara dan mengatai Raina.
"Revan, Papa dan Mama sudah berusaha namun adik Kamu pergi saat Kami semua tertidur. Dia hanya menuliskan surat untuk tidak mencarinya." ucap Bima, pria setengah paruh baya ini terlihat sangat khawatir dengan keadaan Raina.
Bima dan keluarga yang lain sudah berusaha untuk mencari Raina namun hasilnya nihil. Raina sangat cerdik, jika sudah memutuskan pergi maka akan sangat sulit untuk menemukannya kembali.
♧♧♧♧♧
"Dokter!! Pasien sudah mulai menggerakkan jari-jarinyaa" ucap seorang suster, pada Dokter Andy.
Fana terus saja berdiri dengan cemas di depan ruang rawat Devano. Tadi suster mengatakan bahwa pria itu mengalami kejang.
"Suster, bagaimana keadaan abang Saya?" tanya Fana.
"Pasien sudah berhasil melewati masa kritisnya dan akan segera kami kembali kan ke ruang rawat inapnya." jawab suster itu.
Fana tak henti-hentinya berucap syukur, pria itu akhirnya bisa bernafas lega sekarang.
"Kak Fana?!!" panggil seorang gadis, Fana membalikkan tubuhnya dan mendapati Diva yang sedang berjalan ke arahnya.
"Diva, Mama Papa Kamu ada dimana?" tanya Fana.
"Mereka bentar lagi nyampe kok, gimana dengan kak Devano? Apa udah ada perubahan?"
__ADS_1
"Ya, Bang Devano udah berhasil melewati masa kritisnya. Ayo, sebaiknya Kita ke ruangannya dan jangan lupa untuk mengabari Mereka."
Fana dan Diva pun menuju ruang rawat Devano, dan sudah ada Rena yang sedang menemani pria itu.
"Kamu ngapain lagi sih ada disini? Muak tau gak lihat muka Kamu, gara-gara Kamu calon kakak ipar Saya pergi, apa Kamu belum puas hah?!" ucap Diva pada Rena, gadis itu juga ikut kecewa atas apa yang terjadi terlebih saat tau Raina lebih memilih pergi dari pada harus berjuang dalam kepahitan.
"Udah Diva, Bang Devano baru aja sadar. Gak baik dengar ribut-ribut." ucap Fana menenangkan Diva. Diva pun terdiam dan menatap Rena dengan tatapan tajam, sedangkan Rena tidak berkata apa-apa namun bersikap bahwa dirinya sangat penting dalam hidup Devano.
Saat ini Raina sedang berada di supermarket yang dekat dengan kontrakannya. Gadis itu sangat telaten memilih bahan-bahan dapur, terlebih gadis nakal itu memutuskan untuk membuka toko kue di depan rumah.
Itu seperti Bibi Dania, dan pria itu Paman Arnold, tapi kenapa Mereka berada disini? Bukan nya tempat Mereka tinggal sangat jauh dari sini? gumam Raina, gadis itu ingin menyapa keduanya namun di urungkan saat melihat seorang pemuda yang datang menghampiri Mereka.
Raina mengenal pemuda itu, Dia adalah Rafly tunangan dari sahabatnya Rara.
"Raina harus tau apa yang Mereka bicarakan." ucap Raina, lalu mendekatkan jaraknya dengan ketiga orang itu.
Raina dapat mendengar dengan jelas bahwa Mereka sedang membahas tentang pasien.
"Jadi Dia sudah siuman? Bagus lah, cepat temui Dia setelah itu minta maaf jangan sampai persahabatan Kalian semakin renggang." ucap Dania, setelah mengucapkan itu ketiganya pun pergi.
Raina yang kesal karena proses mata-mata nya berakhir pun mengerucutkan bibirnya dengan kesal dan memutuskan untuk pulang.
"Devano, maafin Gue yaa. Gue udah salah paham, Gue udah buat persahabatan Kita hancur."
"Gue udah maafin Lo, Gue di mana? Dan apa Raina ada disini?"
"Lo di rumah sakit dekat pinggiran Kota, maaf Van tapi Raina gak ada. Semua orang pada gak tau Dia dimana, Dia begitu frustasi saat tau Lo hilang keesokan harinya Dia kabur dari rumah." ucap Rafly yang tentu saja adalah sebuah kebohongan.
Sebenarnya apa yang membuat Rafly berbohong? Devano merasa sangat bersalah saat mengetahui bahwa Raina pergi karena dirinya, bagaimana jika pria itu tau alasan yang sebenarnya?
Author gak bisa up banyak-banyak dulu yaa, tugas kuliah banyak banget😪
Tapi kalo tugasnya udah mulai berkurang, akan up kok
__ADS_1
Jangan bosan menunggu update nya yaa, jangan lupa buat vote,like,komen dan rate bintang 5 yaa😁
See u next time🤗