Takdir Cinta Raina (S1&S2)

Takdir Cinta Raina (S1&S2)
56


__ADS_3

Devano sangat begitu frustasi dengan permintaan-permintaan Raina yang sanggup membuatnya pusing tujuh keliling.


Bagaimana tidak, seperti perkataan gadis itu sebelum pulang dari rumah Rara, Raina akan mencari 10 brondong saat pulang nanti. Dan lihatlah sekarang, Raina terus merengek agar Devano mengijinkannya untuk mencari brondong dan meminta pria itu untuk mencari daun muda.


Permintaan Raina sungguh membuat Devano lebih ekstra menahan sabar, sepertinya Devano harus mengawasi pergaulan Raina saat bersama ketiga sahabatnya.


"Dev, kenapa Raina ndak boleh punya brondong?" Tanya Raina, saat ini gadis itu tengah duduk senderan di dada bidang Devano sembari memakan keripik singkong nya.


"Kamu dapat brondong emangnya mau di apain Sayang? Kamu emangnya gak puas sama Aku aja?"


"Raina kan penasaran, gimana rasanya punya brondong."


"Raina Sayang, kesayangannya Devano, lupain aja tentang brondong yaa?"


"Ndak mau, Raina mau brondong pokoknya!!" Tolak Raina membuat Devano semakin frustasi.


"Gini deh, Aku tanya sama Kamu. Kalo ada cewek yang deketin Aku, terus Aku juga suka sama Dia, apa Kamu akan baik-baik aja?" Tanya Devano, dan mendapat gelengan keras dari Raina. Bahkan, ekspresi wajah gadis itu sudah berubah menjadi garang.


"Dev ada niat selingkuh dari Raina?!" Tanya Raina dengan tatapan penuh selidik.


"Ehhh?! Kok ngomongnya gitu sih?"


"Habisnya Dev bilang mau suka sama cewek lain, tunangan Dev itu cuma Raina, yang boleh di sukain Dev juga hanya boleh Raina!"


Devano tersenyum melihat ekspresi wajah cemburu Raina yang begitu terlihat sangat menggemaskan


"Sayang, dengerin Aku. Kamu aja bisa marah kalo Aku suka sama cewek lain, gimana dengan Aku? Aku gak pernah mau berbagi, jadi jangan pernah buat ada pikiran untuk mencari brondong, Kamu ngerti?"


Raina menganggukkan kepalanya mengerti. Devano menghela nafas, semoga saja gadisnya itu benar-benar mengerti.


"Tapi,"


"Tapi apa Sayang?"


"Kalo minta kiss boleh kan?"


Devano mengerjabkan matanya, ada apa dengan gadisnya? Sepertinya sudah kecanduan kiss, ini semua gara-gara Rara. Devano harus menjauhkan Raina dari gadis itu jika tidak ingin pikiran polos Raina kembali tercemar seperti ini.


♡♡♡♡♡


Saat ini Raina hanya duduk diam di kamarnya, beberapa saat yang lalu Devano pergi untuk mengurus beberapa masalah. Jadilah gadis itu duduk diam di kamarnya, dengan Mayang dan Saras yang setia menemani nya.


"Mbak Mayang, ndak bosan jomblo? Mbak Saras juga, Kalian cari pacar gihh biar Raina punya abang!" Titah Raina membuat Mayang dan Saras terkejut dengan permintaan gadis itu.

__ADS_1


"Nona ini, Kami kan sudah pernah bilang. Kami tidak mau memiliki pasangan sebelum Nona menikah. Jadi, ayo menikahlah Nona agar Kami segera memiliki pasangan." Jawab Mayang.


Raina memutar kedua bola matanya malas, gadis itu sangat merasa bosan sekarang.


"Raina mau ke Toko, Kalian di rumah aja yaa. Raina bosan berada di rumah."


"Tapi Nona, bagaimana jika ada yang menanyakan Nona nanti?"


"Tinggal jawab aja, Raina lagi ke Toko. Oh iya, jagain kamar Raina dari parasit oke?!"


Setelah mengucapkan itu, Raina segera beranjak dari duduknya.


Sedangkan di tempat lain, saat ini Devano tengah berada di rumah kedua orang tuanya. Setelah mendapat kabar dari Diva bahwa Devano palsu sedang pergi, pria itu segera bergegas untuk menemui orang tuanya. Devano tidak mungkin membiarkan penyamaran Devano palsu terus mengelabui kedua orang tuanya.


"Mama, Papa," ucap Devano saat melihat kedua orang tuanya tengah duduk di ruang keluarga.


"Lohh?? Kamu kok balik lagi Nak? Bukannya tadi katanya ada urusan di luar? Udah kelar urusannya? Baju Kamu juga kok beda sih?" Tanya Sari.


"Ma, Pa, Aku mau ngomong serius sama Kalian. Kalian bisa, ikut Aku sebentar?"


Devano, Diva, Fana dan kedua orang tuanya pun kini berada di ruangan kerja Devano.


Devano memutuskan untuk menceritakan semua kebenaran pada Sari dan Dimas, bahwa selama ini Mereka telah merawat musuh dari anaknya sendiri.


"Bagaimana bisa itu terjadi? Dia begitu mirip denganmu Nak, bahkan Dia selalu memperlakukan Kita semua dengan baik." Ucap Sari yang masih tak percaya dengan apa yang di katakan Devano tentang Devano palsu.


"Aku lalai menjaga Raina Ma, Mereka sengaja merubah wajah anaknya sendiri menjadi Aku dengan niatan untuk menghancurkan Raina. Saat kecelakaan itu, untung saja Bibi Dania dan Paman Arnold berhasil menyelamatkan ku. Jika tidak, mungkin Mereka sudah melenyapkan Aku Ma." Jelas Devano membuat Dimas sangat geram.


"Benar-benar keterlalulan, Papa akan membalas apa yang sudah Mereka lakukan. Terlebih untuk menyakiti Raina? Kenapa sangat begitu banyak orang yang ingin mencelakai calon menantuku!" Ucap Dimas, bahkan wajah pria itu sudah memerah.


"Pa, semuanya udah terjadi. Sekarang yang terpenting adalah, Kita harus menemukan lokasi persembunyian Om Hans dan isterinya. Mereka gak akan pernah berhenti sampai tujuan utama Mereka tercapai." Ucap Diva, menenangkan Dimas yang sedang terbawa emosi.


"Fana, abang serahkan semuanya sama Kamu. Terus pantai Dia, itu adalah kunci yang ampuh untuk menemukan persembunyian Mereka. Aku yakin, Mereka pasti akan berusaha untuk menemui anak Mereka dan melanjutkan rencananya." Ucap Devano pada Fana yang di jawab anggukan oleh pemuda itu.


"Ma, Pa, Aku gak bisa lama jadi Aku harus pergi. Kalian tenang aja, Aku tinggal di rumah Papa Bima sekarang. Aku gak bisa ninggalin Raina sendiri, apalagi Shakira dan Ibunya masih saja terus mengganggunya.


••••••


"Dev? Kok bisa ada disini? Bukannya tadi lagi tidur di apartemen?" Tanya Raina saat melihat keberadaan Devano di Toko kue nya.


"Apa Aku gak boleh temuin tunanganku sendiri humm?" Jawab Devano membelai wajah Raina dengan lembut.


"Bukannya gitu, tadi kan katanya Dev capek, tapi kenapa ada disini? Dev bohongin Raina yaa?!" Ucap Raina penuh selidik.

__ADS_1


"Mana mungkin Aku bohongin Kamu, lagian Aku kan mau kasih kejutan."


"Iya dehh, ayo duduk dulu. Raina mau siapin cake spesial buat Dev!" Raina mempersilahkan Devano untuk duduk dan meninggalkan nya sendiri.


Raina tidak benar-benar pergi, gadis itu sedang mengawasi Devano dari kejauhan.


"Mau main-main sama Raina heh?! Lihat aja, Raina kerjain." Ucap Raina menatap Devano dengan tatapan jahil.


Raina menyiapkan sepiring brownies coklat untuk Devano, gadis itu mengeluarkan sebungkus bubuk putih dan menaburkan nya sedikit pada brownies itu. Raina tersenyum senang dengan hasil karyanya.


"Dev, ini kue nya. Dimakan yaa, Raina mau ngelayanin para pengunjung dulu."


Raina segera pergi setelah memastikan Devano memakan potongan brownies yang bercampur serbuk putih yang di berikannya tadi.


"Hihihi, sakit perut dah tuhh. Emang enak Raina kerjain." Ucap Raina saat melihat reaksi yang di tunjukkan Devano saat efek dari serbuk itu bereaksi.


Tanpa memperdulikan Devano, Raina segera pulang ke rumah dengan menaiki taxi. Sepanjang perjalanan, Raina tak henti-hentinya tertawa, membuat supir taxi itu bingung.


"Pak, Kita mampir ke supermarket bentar yaa. Raina mau beli eskrim." Titah Raina, supir taxi itu hanya menganggukkan kepalanya karena merasa horor saat melihat Raina tertawa sendiri.


Setelah membeli eskrim, Raina pun kembali melanjutkan perjalanan nya untuk pulang ke rumah.


Baru saja gadis itu keluar dari pintu, sudah di hadiahi tatapan tajam penuh selidik oleh Devano.


"Dari mana Kamu? Aku kan pesannya Kamu jangan kemana-mana tanpa izin Aku, Kamu mau bikin tunangan Kamu ini jantungan karena panik Kamu gak ada di rumah? Ngerti gak sih kalo Aku itu khawatir? Telepon gak di angkat, di sms juga gak di balas, Kamu benar-benar buat Aku frustasi Sayang." Marah Devano saat melihat menghampiri nya dengan senyum cerah gadis itu.


"Dev, jangan marah-marah dong ihhh. Raina ndak mau ya Dev tua sebelum waktunya!" Jawab Raina dengan melantunkan bibirnya.


"Siapa lagi yang ajarin Kamu tentang tua-tuaan?" Tanya Devano, pria itu benar-benar tidak akan mengampuni Mereka yang terus meracuni pikiran polos gadisnya.


"Qinzo, Qinzo pernah bilang kalo suka marah-marah nanti cepat tua. Raina juga kesel waktu Qinzo ngomong gitu, trus Raina bilang aja kalo Qinzo pacarnya Raina, udah Raina masukin ke kandang Macan. Ehh, Qinzo nya malah seneng dan ngajakin Raina jadi pacarnya." Jawab Raina dengan polos sepolos jalan tol, jawabannya itu cukup membuat Devano sangat kesal.


Menghela nafas dengan kasar, sekali lagi Devano menatap Raina dengan tatapan serius.


"Jangan pernah cerna omongan yang gak bener yaa, apalagi Rara. Jangan ikutin Dia, otaknya udah hilang separuh karena terkena virus drama korea. Aku gak mau Kamu juga tertular." Ucap Devano dengan ekspresi wajah yang sangat serius dan berhasil membuat Raina menganggukkan kepala nya dengan polos, hal itu membuat Devano tersenyum puas.


"Dev, tadi Raina habis ngerjain orang."


"Siapa?"


"Dev"


"Aku?"

__ADS_1


"Ya, Raina kasih bubuk pencuci perut didalam brownies nya. Pinter kan Raina? Iya dong, habis itu Raina kabur dehh pulang ke rumah hehehe."


Devano melongo mendengar perkataan Raina, sehari saja gadisnya itu sepertinya tidak bisa tidak membuat masalah atau pun mengerjai seseorang. Tapi Devano cukup takjub dengan gadisnya itu, mampu membedakan antara dirinya dengan Devano palsu.


__ADS_2