Takdir Cinta Raina (S1&S2)

Takdir Cinta Raina (S1&S2)
86


__ADS_3

Pagi yang cerah, lagi-lagi Raina bangun lebih awal. Sejak pukul 6 pagi, gadis itu sudah duduk lesehan beralaskan tikar di teras rumah. Mayang dan Saras hanya menurut apa saja yang gadis itu katakan, apalagi nona mereka itu sejak semalam terus saja marah-marah tak jelas.


Melihat tingkah Raina yang tak biasa, meskipun setiap hari juga pun begitu namun mampu membuat kedua pelayan pribadi gadis itu mengerti apa yang sedang terjadi pada nona mereka. Raina sedang kedatangan tamu bulanannya, begitulah Raina tiap kali datang bulan pasti akan bangun lebih awal dan memilih duduk lesehan di teras rumah.


Mata yang masih mengantuk dan merindukan pulau kapuk harus Raina abaikan, ketimbang harus mandi air es di pagi hari.


"Nona, apa keripik dan susunya kami letakkan disini saja?" tanya Mayang sembari membawa dua bungkus besar keripik singkong diikuti Saras yang membawa beberapa kotak susu dengan berbagai rasa.


"Humm, Raina ngantuk banget. Pengen bobo, tapi kalo ketahuan mama pasti Raina di mandiin air es lagi." Raina menangkupkan kedua tangan di wajahnya.


Mayang dan Saras duduk diam menemani nona mereka. Raina memakan keripik singkong nya dengan lahap, meskipun kedua bola mata gadis itu tidak dapat di ajak kompromi saat ini. Rambut yang masih acak-acakan serta wajah yang belum di basuh sama sekali, tidak berpengaruh untuk Raina.


Sebuah mobil mewah memasuki pekarangan rumah. Raina tak memperdulikan siapa tamu yang datang, gadis itu masih asik dengan keripik dan susu kotaknya.


Seorang pria tampan turun dari mobil mewah itu, penampilannya yang casual dengan baju kaos putih berlengan panjang membuatnya terlihat begitu menawan. Menyadari ada seseorang yang berdiri di hadapannya, Raina pun mendongakkan kepalanya.


"Hai,"


"Hai hoi hei, anda siapa?" tanya Raina, nadanya sedikit tak suka karena pria itu yang sok kenal padanya.


"Chel, jangan becanda deh. Aku kesini pagi-pagi mau ngapelin kamu loh, ketus banget sama calon suami." pria itu yang ternyata adalah Alvin, belum menyadari siapa gadis yang sedang di dihadapinya itu.


"Ekhemm, oh Alvin ya? Emang udah ijin sama Raina?"


"Loh, kok ijinnya sama kembaran kamu? Kenapa gak sama orang tua kamu? Kamu jangan becanda deh Chel, aku udah nahan rindu seminggu loh karena ngikutin perkataan nya waktu itu." Alvin terus saja berbicara membuat Mayang dan Saras yang melihat menatap kasihan pada pria tampan itu.


"Ohh, baiklah. Mbak Saras, tolong buatin minuman ya buat Mas Alvin ... ayo Mas Alvin, duduk aja ndak usah malu-malu." Raina tersenyum sangat manis, membuat Alvin juga ikut tersenyum tanpa merasa curiga sedikitpun.


"Raina, di panggil mama tuh. Raina, lo dimana?!" suara teriakan Rachel membuat Alvin menatap Raina yang masih asik memakan keripik singkong.


"Disini rupanya lo, di panggil mama tuh. Sana, masuk."


"Iya, bentar Kak. Raina belum selesai ngomong nih sama tamu Kak Rachel," jawab Raina, membuat Rachel kini menatap Alvin yang juga tengah menatap dirinya.


Mampus, batin Rachel.


"Ayo, ngomong lagi. Raina ini seperti apa? Nyebelin kah?" Raina menatap Alvin dengan tatapan polosnya.

__ADS_1


POV ALVIN


Nama gue Alvin Denandra Abraham, gue ganteng sih tapi bodo amat sama namanya cewek. Menurut gue, mereka itu ribet. Selama ini gue hanya macarin mereka sebatas karena rasa penasaran, namun prasangka gue justru berubah saat perjodohan itu terjadi.


Rachel, satu-satunya gadis yang membuat gue jatuh cinta sejak pertemuan pertama. Keinginan untuk menolak perjodohan itu justru berubah menjadi sebuah ketertarikan. Rachel gadis yang cantik, manis, namun memiliki sifat yang sedikit keras dan ketus. Entah kenapa sejak pertama lihat dia justru buat gue gak berhenti mikirin dia, hingga sebuah kebodohan membuat gue terperangkap dalam penjara ini.


"Ayo, ngomong lagi Raina seperti apa? Nyebelin kah?" lagi-lagi gadis menyebalkan ini bikin gue tensi, pengen banget kabur tapi takut gak dapat restu.


Ini juga Rachel, bukan bantuin gue malah asik jadi penonton. Melihat bagaimana kembaran Rachel memberi hukuman pada salah satu kekasih pelayannya membuat gue merinding. Nih cewek kelihatannya polos, tapi kok sadis amat.


"Mana mungkin calon adik iparku ini nyebelin, kau begitu menggemaskan. Ayolah, jangan natap gue kayak gitu." gue manis-manisin aja dulu, siapa tau aja dia luluh kek mantan-mantan gue.


"Ckck ini baru 1 minggu, tapi udah berani datang kesini. Lupa batas waktu nya sampai kapan?" buset dah, tatapan nya itu tajam banget kan gue jadi ciut.


"Heheh, sebulan kan ya? Kalo rindu kan gak bisa di bendung, emang lo gak pernah denger kata Dylan? Rindu itu berat, kamu gak akan kuat."


"Bodo amat, yang rindu dan nahan beratnya kan situ bukan Raina. Udah, pulang sana awas aja kalo masih bandel datang kesini."


"Tapi .... " buset dah, dia nyelonong gitu aja ninggalin gue.


...----------------...


Raina menatap orang-orang yang duduk di meja makan dengan datar, mood gadis itu sedang buruk. Apalagi sejak semalam Devano tidak kunjung memberi kabar, dan Fana semakin membuatnya kesal. Raina butuh pelampiasan buat di ajak gelud saat ini, tapi dimana Fana? Apa pria itu sedang ngumpet kah? Takut menghadapi Raina?


"Duduk, Dek. Kamu nyariin siapa?" tanya Revan.


"Ndak ada, Raina ndak laper mau ke kamar aja."


"Ehh, jangan bandel ya Sayang. Kamu belum makan loh dari semalam, mau kamu kalo Mama laporin Devano?"


"Mama ndak asik, gitu aja main ngadu!" kesal Raina, gadis itupun duduk bersebelahan dengan Rio. Raina tak memperdulikan wajah Rio yang memerah karena dirinya, gadis itu menyantap makanannya dengan pelan tanpa ada nafsu sedikitpun.


"Raina, kamu kenapa? Masih marah karena Devano belum kabarin kamu? Udah dong, jangan cemberut gitu mukanya. Makanya kamu jangan jahil terus, kan Devanonya jadi kesal. Lain kali gak boleh ya," nasehat Bima, Raina hanya menganggukkan kepalanya tanpa ada niat untuk menjawab.


"Maaf Tuan dan Nyonya, di luar ada tamu." ucap Inem, pembantu baru di kediaman Aryasetya. Wanita berusia 21 tahun itu menggantikan posisi ibunya yang sedang sakit.


"Siapa? Suruh masuk saja," jawab Bima.

__ADS_1


Inem pun berlalu, tak lama kemudian kembali dengan seorang pria tampan di sampingnya. Tampak wajah wanita itu memerah saat berjajar dengan pria itu.


"Selamat pagi, semuanya."


"Dev?!"


Raina terbengong saat melihat Devano yang tiba-tiba saja sudah berada di hadapannya dengan sebuket bunga mawar putih. "Kenapa? Apa aku gak boleh berkunjung di pagi hari?"


"Tau ah, pokoknya Raina masih marah sama Dev!" Raina berlalu begitu saja meninggalkan ruang makan menuju kamarnya.


"Kamu susul gih, calon istri kamu itu kalo ngambek lama buat hilang ngambeknya." ucap Dewi, Devano pun mengangguk dan segera menyusul Raina ke kamar gadis itu.


Inem menatap punggung Devano dengan tatapan kecewa, pria yang di sukainya ternyata milik nona mudanya. Begitupun dengan Andin, gadis itu mengepalkan kedua tangannya. Rasa cemburu dan iri membuat gadis itu gelap mata dan tak ingat diri.


Rachel menyadari tatapan berbeda dari kedua wanita itu pada Devano, gadis itu menggelengkan kepalanya. Pesona Devano terlalu besar, kasihan kembarannya yang manja itu.


Sore harinya, Devano mengajak Raina berjalan-jalan di taman kompleks perumahan. Raina terlihat begitu bahagia, namun entah kebetulan atau tidak Inem juga sedang menuju taman untuk membeli obat di apotek yang jaraknya tak jauh dari situ. Dengan alasan searah, wanita itupun kini semobil dengan Raina dan Devano.


Setibanya di taman, Raina menghabiskan waktu dengan mengejar kupu-kupu, memakan jajanan, hingga bermain bersama anak-anak. Devano duduk tak jauh dari tempat Raina bermain bola dengan anak-anak, pria itu duduk sembari memperhatikan Raina dari kejauhan.


"Tuan, maaf. Bisakah saya meminta tolong?" tiba-tiba saja Inem datang dengan wajah cemasnya, Devano menatap wanita itu dengan kening mengernyit bingung.


"Ibu saya sedang membutuhkan obat ini, dan saya harus segera pulang. Tapi sudah tidak ada taxi maupun ojek yang lewat, apa Tuan bisa mengantarkan saya pulang? Saya mohon Tuan, ibu saya sangat membutuhkan obat ini sekarang." Devano hanya bersikap acuh, pria itu tau jika wanita di hadapannya itu sedang bersandiwara dan berusaha memperoleh perhatiannya.


"Kau lihat disana?" Devano menunjuk arah ujung jalan yang sedikit sepi, tidak seramai kawasan taman.


"Itu pangkalan ojek, silahkan kesana dan minta salah satu ojek mengantarkanmu pulang."


Dengan wajah memerah, Inem berjalan menjauh dari taman dan menuju arah yang ditunjukkan Devano padanya. Entah sengaja atau tidak, tiba-tiba saja sebuah bola datang dan mengenai kepalanya. Melihat hal itu, sontak saja membuat Devano tertawa. Pria itu jelas tau siapa pelakunya, melirik Raina yang sedang tertawa lepas bersama anak-anak.


"Dasar, gadis nakal." ucap Devano, pria itu melambaikan tangannya agar Raina menyudahi permainannya.


"Apa kau sudah puas, heh? Kamu terlihat senang sekali,"


"Heheh, Raina ndak nyangka ada pelakor belum berpengalaman di rumah Raina."


Maaf ya lama baru up, author lagi banyak masalah jadi gak konsen buat nulis. Jadi selow update, makasih buat semuanya yang masih setia membaca cerita ini๐Ÿ™‚

__ADS_1


__ADS_2