Takdir Cinta Raina (S1&S2)

Takdir Cinta Raina (S1&S2)
60


__ADS_3

"Kita akan kemana sayang?" Devano melirik kearah Raina yang malah tertidur pulas, pria itu


Saat ini Raina dan Devano dalam perjalanan, namun Devano sendiri bingung kemana gadis nya itu ingin pergi. Dan lihatlah sekarang, gadis nakal nya malah tertidur dengan begitu pulas.


"Sayang, ayo bangun." Devano menepuk pelan wajah Raina agar gadis itu bangun, dan berhasil Raina mulai membuka matanya.


"Dev kenapa bangunin Raina sih?! Raina ngantuk tau, banguninnya kalo udah sampai aja." Raina menatap Devano dengan tatapan kesal.


"Iya maaf sayang, aku gak akan bangunin kamu kalo Aku tau tujuan kita sekarang kemana. Kamu maunya kemana sayang?"


Devano merapikan rambut Raina yang sedikit berantakan dengan begitu lembut, membuat Raina semakin merasakan kantuk.


"Hehehe, maaf Dev. Kita ke markas aja, Raina mau mengunjungi Tante dan Om Raina yang begitu menyayangi Raina. Raina mau lanjut bobo ya, kalo udah nyampe Dev bangunin Raina."


Menggelengkan kepalanya melihat tingkah gadis di depannya, Devano kembali melajukan mobilnya.


Perjalanan yang cukup jauh dari pusat kota menuju markas, hingga memakan waktu berjam-jam, apa kabar dengan Sandy?


Hatchii


Hatchii


"Tuan kenapa? Apa anda sakit? Mayang, sebaiknya panggil dokter kesini." Saras begitu panik saat Sandy mulai bersin-bersin saat Kitty terus saja ingin mendekat padanya.


"Tidak perlu, hatchii hatchii, gue akan baik-baik aja hatchii kalo kucing ini menjauh dari gue, hatchii "


"Tapi tuan, sepertinya Kitty menyukaimu. Lihat, dia selalu ingin dekat dengan Anda dan membuat Tommy cemburu." Sandy menoleh pada Mayang yang sedang menyiapkan makan siang untuk kedua hewan berbulu itu.


"Maksud Lo apa? Mana ada kucing yang menyukai manusia? Dan kucing itu, kenapa dia lihatin gue seperti itu?! Apa dia punya dendam pribadi sama gue heh?!!" Sandy menjadi merinding saat Tommy terus saja menatapnya dengan tatapan tajam.


Saras tertawa mendengar perkataan Sandy, sedangkan Mayang kembali di sibuk kan dengan pekerjaannya.


"Hahaha, anda ini sangat lucu. Meskipun hanya hewan, mereka juga punya perasaan. Sepertinya Kitty menyukai keberadaan anda, dan lihatlah Tommy menatapmu seperti itu karena cemburu. Tommy cemburu padamu, sepertinya dia tidak rela jika Kitty mendekati anda."


"Jika begitu, jauhkan kucing ini dari gue! Jika terus begini, gue bakalan bersin-bersin terus sepanjang hari!" Ucap Sandy dengan wajah yang frustasi.


"Hush hush hush, pergi sana, pergi!" Sandy terus saja menghindari Kitty, namun kucing itu justru semakin mendekat.


Meaow meaow meaow


"Baiklah, ayo Kitty waktunya makan siang."


Kedua hewan berbulu yang menggemaskan itu pun asik memakan makan siang mereka, membuat Sandy bisa bernafas lega.


♡♡♡♡♡


Devano menghentikan laju mobilnya di depan sebuah restoran cepat saji.


"Kok berhenti? Emang markasnya ini?" Tanya Raina, gadis itu terbangun saat merasakan mobil yang mereka kendarai tidak lagi melaju.

__ADS_1


"Belum sampai sayang, ini sudah waktunya makan siang, ayo kita makan dulu. Kamu pasti sudah lapar." Jawab Devano.


"Tapi Raina ndak lapar Dev, kan tadi udah makan bareng Siska dan yang lain." Ucap Raina, membuat senyum Devano luntur seketika.


"Oh, benarkah? Kalo begitu, ayo kita lanjutkan saja perjalanannya." Ucap Devano, namun segera di cegah oleh Raina.


"Tapi, tiba-tiba saja Raina merasa lapar. Ayo, kita makan Dev. Raina mau makan lagi." Raina lebih duku keluar dari mobil dan meninggalkan Devano sendiri. Gadis itu masuk sendiri dan meninggalkan Devano dengan alibi ingin memilih meja yang strategis untuk mereka.


Devano menatap punggung Raina dengan tatapan bingung. Ada apa dengan Raina? Tadi katanya sudah makan, kenapa tiba-tiba? Devano menghela nafas pelan, lalu memutuskan untuk menyusul gadis nakal nya itu.


"Katanya mau makan, kok malah pesan cake sama jus aja?"


"Hehehe, Raina tau kalo Dev pasti laper. Mana tega Raina biarin Dev kelaparan, Dev aja yang makan. Raina masih kenyang kok, cake nya juga enak Raina suka."


Devano begitu terharu mendengar perkataan Raina, gadisnya itu memang nakal tapi sangat memperhatikan dirinya.


"Terimakasih sayang," Devano mengecup kening Raina di tengah keramaian restoran, hingga membuat sebagian pengunjung histeris melihat keromantisan keduanya.


"Devv, kalo mau cium itu bilang dulu. Raina kan belum siap!" Kesal Raina dengan bibir yang mengerucut.


Cup


Raina terdiam beberapa saat, wajahnya seketika memerah. Devano benar-benar berhasil membuat Raina shock hari ini. Mana pernah Devano menciumnya tanpa Raina yang memintanya, tapi kali ini pria itu mencium Raian tanpa permintaan Raina.


Raina tentu saja merasa sangat senang, tapi merasa malu di saat yang bersamaan. Banyak pengunjung restoran yang melihat mereka, bahkan beberapa gadis menatap Raina dengan tatapan iri dan sinis. Terlebih, saat Devano mengecup bibir Raina dengan bibir yang sedang mengerucut.


"Kenapa? Kamu kan selalu minta kiss, sekarang aku kasih kamu kiss tanpa kamu minta." Devano tersenyum begitu manis, membuat wajah Raina semakin memerah.


Kini Devano dan Raina telah sampai di depan sebuah bangunan tua, dan terlihat telah lama tidak berpenghuni.


"Sayang, ayo bangun." kali ini tidak sulit membangunkan Raina, gadis itu langsung saja terbangun saat Devano menghentikan laju mobilnya.


"Hoamm, apa kita sudah sampai?" Devano hanya tersenyum melihat tingkah Raina yang masih mengumpulkan nyawanya setelah bangun dari tidurnya.


"Iya, kita sudah sampai. Ayo kita masuk, yang lain pasti sudah menunggu." Ucap Devano, yang di angguki Raina.


Raina menjadi tidak banyak bicara, gadis itu malah lebih banyak diam dan membuat Devano heran. Tidak biasanya gadis itu diam dan terlihat tenang, mengabaikan pemikirannya Devano pun kembali melanjutkan jalannya hingga sampai di sebuah pintu yang di jaga ketat.


"Raina?! Raina sayang, tolongin tante Raina! Devano bukan orang baik nak, lihat dia bahkan menyuruh orang-orang ini untuk menculik tante dan om kamu!"


Raina hanya tersenyum menanggapi perkataan Maria, wanita itu sedang berusaha untuk memprovokasi Raina rupanya.


"Apa tante Maria dan om Hans baik-baik saja? Dev, apa yang kamu lakuin?!" Raina menunduk menghampiri Maria dan Hans yang duduk terikat, menyentuh wajah Maria dengan perlahan.


Menoleh ke arah Devano, Raina tersenyum penuh smirk. Sedangkan Maria tersenyum senang, wanita itu beranggapan bahwa Raina akan membebaskan dirinya dan suaminya.


"Kenapa hanya mengikatnya saja? Apa Dev ingin Raina yang melakukan semuanya? Baiklah, kalau begitu."


Maria terdiam mendengar perkataan Raina, begitu juga dengan Hans yang wajahnya sudah pucat pasih.

__ADS_1


"Jadi tante, om, mari kita bermain. Raina sudah lama ndak bermain, kalian pasti akan menyukainya. Hihihi ... "


"Ra-raina, apa yang akan kamu lakukan? Kami ini adalah keluarga mu nak, kenapa kau melakukan ini pada kami?" Maria terlihat sangat tidak terima mendengar perkataan Raina, perkataan wanita itu membuat Raina tidak senang.


"Ahhh?! Maafkan Raina tante, Raina lupa bahwa tante adalah adik dari papa nya Raina. Baiklah, kalau begitu bagaimana jika memutus hubungan antar keluarga terlebih dahulu?? Jangan lupa tante, hubungan kita hanya sebatas bibi dan keponakan."


"Hahh, tidak ada ikatan darah di antara kita! Jadi, berhenti memprovokasi Raina! Tante, hanya anak pungut!!"


Maria terdiam melihat kemarahan di wajah Raina, gadis itu tidak seperti Raina yang biasanya. Gadis itu lebih terlihat seperti seorang iblis, begitu menakutkan.


"Selama ini, saat kalian berusaha untuk mencelakai Raina, Raina diam. Bahkan, ketika nyawa Raina selalu dalam bahaya karena kalian. Tapi perbuatan kalian kali ini benar-benar tidak bisa di maafkan!! Jika kalian ingin menghancurkan Raina, maka lakukan itu pada Raina! Kenapa harus membuat nyawa orang yang Raina sayangi dalam bahaya?!"


Emosi Raina meluap seketika, membuat Maria dan Hans terpaku. Kedua nya tidak mampu untuk mengelak apa yang di katakan Raina.


"Kalian beraninya membuat Dev, tunangan Raina celaka. Apa salah Raina sama kalian hah?! Sekarang, mari kita bermain."


Raina mulai mendekati Maria, membuka sebuah kotak yang sudah disiapkannya.


Sreetttt


"Ahhhhhh,"


Raina memberikan sebuah goresan panjang di lengan Maria, hingga wanita itu menjerit kesakitan. Raina hanya tersenyum melihat ekspresi kesakitan di wajah Maria. Gadis itu beralih pada Hans, pria itu bahkan enggan untuk menatap Raina.


"Topeng yang om gunakan selama ini sungguh bagus, tapi sayang itu semua tidak bisa membohongi Raina!" Raina menatap Hans dengan tatapan tajam.


Srett, srett, srett


"Ahhh, tolong Raina hentikan! Maafkan saya, akhh sa-saya tidakh akhan mengulangihnya. Akhhh!!"


Raina tidak memperdulikan teriakan pilu Hans, gadis itu terus melakukan kegiatannya. Membuat ukiran indah di wajah pria itu.


Devano yang menyaksikan apa yang di lakukan Raina pun tidak dapat berkata apa-apa, gadis nakalnya berubah menjadi psikopat yang sangat suka menyiksa lawannya.


"Cihhh, lemah!" Ucap Raina mencibir saat Hans sudah tak sadarkan diri lagi.


Belum puas bermain-main dengan wajah Hans, Raina beralih pada Maria yang masih terlihat baik-baik saja dengan goresan di lengannya.


"Tante, Raina belum puas bermain. Jadi, ayo kita lanjutkan permainannya."


*Ctarr ctarr


Srett srett srett*


"Huhh, mereka sangat tidak asik. Dev, ayo kita pulang saja. Raina bosan, Raina juga sudah merindukan Tommy dan Kitty." Ucap Raina setelah sudah puas bermain.


Lagi dan lagi, Devano di buat terkejut dengan sikap Raina yang sangat mudah berubah. Gadis itu memutuskan untuk kembali setelah kedua mainannya sudah tak sadarkan diri.


Jangan lupa vote, like, komen dan rate bintang 5 yaa.

__ADS_1


Oh iya, author mau libur dulu ya di bulan ini, gak bisa up karena tugas dari kampus aku banyak banget, semuanya tuh tulis tangan, bisa keriting tangan authornya, jadi maaf ya yang udah setia nungguin dan baca cerita ini, author bakal up jika ada waktu luang, sekali lagi author minta maaf ya🙏


See u next time🤗


__ADS_2