Takdir Cinta Raina (S1&S2)

Takdir Cinta Raina (S1&S2)
51


__ADS_3

Saat ini Raina sedang berada di rumah sakit, gadis itu terus saja menangis saat mengetahui bahwa Devano kembali drop hanya demi menemuinya.


Sandy yang sedari tadi menemani gadis itu di buat bingung karena Raina terus saja menangis dan tidak memberitahukan dimana letak ruangan rawat Devano.


"Heyy, Raina udah dong jangan nangis mulu. Mending Lo bilang ruangan si Dev Dev Lo itu ada dimana? Lo gak risih apa di lihatin banyak orang?!" ucap Sandy yang mulai kesal dengan diamnya Raina.


Tanpa berkata apapun, Raina segera berjalan menuju ruangan Devano. Dapat Raina lihat, semua orang tengah menunggu dengan harap cemas di depan ruangan rawat Devano.


"Dev, hiks, hiks, Dev, maafin Raina hiks,"


"Kakak ipar?! Bangun kak, Bang Dev baik-baik aja kok. Dia cuma kecapean saja, jangan seperti ini." Ucap Fana, menenangkan Raina yang tiba-tiba saja duduk bersimpuh di depan pintu ruangan rawat Devano.


"Ngapain lagi Lo kesini? Kehadiran Lo gak di harapin, mending Lo pergi! Belum puas udah buat Devano kayak gini?!" Ucap Sisil, tampak gadis itu tidak menyukai keberadaan Raina.


Perkataan Sisil membuat Diva menjadi geram, beraninya gadis itu berkata seperti itu pada Raina.


"Lo punya hak apa buat ngomong kek gitu sama Raina? Lo udah ngerasa hebat karena berhasil dekat dengan kak Vano? Sadar diri, penyebab utama kakak Gue drop seperti sekarang ini itu karena Lo! Lo yang buat hubungan Mereka renggang, dan seharusnya Lo gak usah muncul lagi di hadapan kakak Gue!" Ucap Diva dengan nada sedikit keras, hal itu membuat Mereka menjadi pusat perhatian terlebih banyak pengunjung rumah sakit yang datang untuk menjenguk kerabat Mereka.


"Kok Lo ngomong gitu sih sama Gue Div? Gue udah anggap Lo adik Gue sendiri, Devano juga gak ada masalah Gue temuin Dia. Cewek ini aja yang sok jual mahal dan buat Devano terpaksa harus temuin Dia langsung ke kontrakan kumuhnya itu!" Bantah Sisil, gadis itu tidak mau kalah dan di salahkan.


"Udah Diva, ini emang salah Raina kok. Raina terlalu kekanakan, Dev benar dan Raina gak pantas buat Dev." Ucap Raina sedikit menundukkan kepalanya.


"Siapa yang bilang Lo gak pantas buat Devano?! Apa orang itu lebih pantas dari Lo? Ayo jawab, siapa orangnya biar sini adu gulat sama Gue!!" Ucap Siska yang baru saja datang bersama Rara, Namira, Rafly dan Qinzo.


"Raina, Lo gak salah. Wajar kok kalo Lo cemburu lihat tunangan Lo deket sama cewek lain." Sahut Rara.


"Iya Ra, jangan salahin diri Lo kayak gini. Lo harus yakin kalo semua akan baik-baik aja, mending Kita tunggu kabar dari dokternya yaa."


Raina hanya terdiam mendengar perkataan dari ke 3 sahabat nya, gadis itu tidak bisa tenang jika keadaan Devano masih tidak baik-baik saja.


15 menit menunggu, akhirnya Dokter yang menangani Devano keluar dan memberitahu bahwa Devano dalam keadaan baik-baik saja hingga Raina kini bisa bernafas lega.


Setelah mendengar penjelasan Dokter, semuanya pun masuk ke ruangan rawat Devano untuk menemui pria itu yang sudah sadarkan diri. Namun, saat Raina juga ingin masuk dengan cepat Sisil menutup pintu dan menguncinya hingga Raina tertinggal di luar ruangan.


"Jangan harap Gue bakal biarin Lo temuin Devano!" Ucap Sisil sebelum benar-benar menutup pintu itu.


Raina kembali terduduk dengan tangisan pilunya, sedangkan di dalam ruangan Diva di buat bingung dengan ketidakberadaan Raina.


"Fana, dimana Raina? Tadikan Dia sama Kita, kok gak ikut masuk sih?" Tanya Diva namun dijawab gelengan oleh Fana.

__ADS_1


"Gak tau, coba Lo cek di luar kasian Bang Dev nyariin kakak ipar." Jawab Fana dan segera dituruti oleh Diva.


Diva menyadari pintu yang terkunci dan melirik Sisil dengan tatapan tajam, Diva tahu bahwa Sisil lah yang terakhir kali masuk kedalam.


Saat sudah berada di luar, Diva tersenyum senang karena Raina belum beranjak dari tempatnya, namun gadis yang akan menjadi kakak iparnya itu terlihat begitu sangat menyedihkan.


"Raina, kenapa gak masuk kedalam? Kak Vano lagi nungguin Kamu, Dia udah sadar Raina." Ucap Diva.


"Hiks, hiks Diva maafin Raina hiks, Raina ndak bisa temuin Dev, Sisil ndak bolehin Raina buat temuin Dev hiks, hiks," tangis Raina pecah saat melihat keberadaan Diva, dan mendengar perkataan Raina membuat emosi Diva naik seketika.


"Sisil!! Beraninya perempuan gila itu ngusir Kamu, tenang aja yaa. Ada Aku yang akan hadapin Dia, sekarang ayo Kita masuk ke dalam."


Heheh, akting Raina bagus juga hihihi. Batin Raina tertawa senang karena melihat raut wajah Diva yang begitu merah saat mendengar bahwa Sisil yang sengaja melarangnya untuk menemui Devano.


Meskipun apa yang di ucapkan Raina itu benar, namun yang sebenarnya air mata Raina 100% palsu. Mana mungkin Raina akan menangis demi seorang Sisil yang bahkan tidak di kenal nya, meskipun ada rasa kesal karena ulah perempuan itu, namun Raina bukan gadis lemah yang akan menyerah begitu saja bukan.


"Sisil!!"


Semua menatap Diva dengan tatapan bingung, terlebih saat melihat tatapan gadis itu yang terlihat begitu marah pada Sisil yang tengah bercengkrama dengan Devano.


"Ada apa sih Dek? Ini rumah sakit loh." Tanya Devano, pria itu juga terkejut dengan teriakan Diva yang cukup memekakan telinga yang mendengar nya.


"Ah?! Nggak Diva, Gue gak mungkin lakuin itu. Tadi Gue udah nawarin Dia buat masuk tapi Dianya gak mau dan malah marah-marah sama Gue ya udah Gue masuk aja." Ucap Sisil membela dirinya, perempuan itu dengan tenang mengatakan semuanya namun melupakan sesuatu yang sangat begitu penting.


Rumah sakit ini memiliki CCTV dan pintu yang di kunci setelah Sisil masuk juga adalah bukti yang kuat untuk menjatuhkan perempuan itu.


"Raina?? Kamu disini? Ayo, kemarilah." Tatapan Devano berubah sayu saat melihat keberadaan Raina yang cukup berantakan.


"Dev, hiks, maafin Raina. Raina janji ndak marah-marah lagi, Raina ndak mau lihat Dev sakit seperti ini gara-gara Raina hiks, hiks,"


"Heyy, Kamu gak salah Sayang. Aku yang salah, maafin Aku yaa. Gak seharusnya Aku buat Kamu kecewa dan marah, terutama ngomong seperti itu dan buat Kamu begitu sakit hati karena perkataan Aku."


"Humm, Kita sama-sama salah. Dev, ayo baikan."


Akhirnya sepasang kekasih itu kembali berbaikan seperti dulu lagi, melupakan Diva yang masih saja menatap Sisil dengan tatapan tajam. Seolah jika gadis itu mengalihkan tatapan nya, maka Sisil akan kabur.


Melihat aksi Devano dan Raina yang sedang menghabiskan waktu berdua serta melupakan sekelilingnya, membuat Fana di buat frustasi. Di ruangan rawat Devano bukan hanya Mereka saja, tapi kedua manusia itu tidak menghiraukannya dan terus mengumbar kemesraan.


"Ayo semuanya, jika masih ingin berdebat sebaiknya di lakukan di luar yaa." Ucap Fana, dengan sedikit melirik kearah Devano dan Raina. Mereka pun mengerti, kecuali Diva dan Sisil yang masih saja berdebat.

__ADS_1


Dengan terpaksa Fana menyeret kedua manusia itu keluar ruangan. Setelah semuanya keluar, Fana kembali masuk untuk menjadi orang ketiga di antara Devano dan Raina.


Hahh, nasib banget sihh. Sepertinya harus nyari pasangan nih biar gak nelangsa kek gini mulu. Batin Fana saat melihat keromantisan Devano dan Raina dengan secara jelas.


"Fana, tolong beliin makanan ya di kantin. Raina belum makan sejak pagi, dan ya tolong suruh Mereka masuk." Ucap Devano, tanpa bertanya lagi Fana segera pergi untuk melaksanakan perintah Devano.


Setelah kepergian Fana, Raina menatap Devano dengan tatapan polosnya.


"Dev, Raina mau kiss. Seperti adegan drama yang di tunjukin Rara kemarin, Raina penasaran sama caranya." Ucap Raina, perkataan gadis itu membuat Devano bingung.


"Emangnya apa yang di tunjukin Rara sama Kamu?" Tanya Devano yang masih bingung dengan permintaan Raina.


"Itu loh Dev, cowoknya kiss pacarnya di sini. Raina ndak tau namanya apa, tapi Rara bilang kalo itu kiss kiss." Jawab Raina dengan polosnya menunjuk bibirnya.


Devano hanya mengerjab mendengar perkataan Raina, sepertinya Devano harus memperingati ketiga sahabat gadisnya ini untuk tidak mengajari gadisnya dengan hal-hal berbau dewasa seperti ini.


"Kak Vano manggil Kita?" Tanya Diva, yang di jawab anggukan oleh Devano. Pria itu menatap ke arah ketiga sahabat Raina yang asik dengan pasangan Mereka masing-masing kecuali Siska yang masih jomblo, asik dengan ponselnya.


"Kalian bertiga, jangan ajarin tunangan Saya hal-hal berbau dewasa. Apa Kalian tidak lihat betapa polosnya gadisku ini? Kau Rara, jangan menunjukkan drama kiss kiss lagi pada gadisku." Ucap Devano memperingati ketiga sahabat Raina.


"Kiss kiss? Rara, apa itu kiss kiss?" Tanya Siska, gadis itu begitu sensitif jika berkaitan dengan Raina.


"Ehh?!! Kiss kiss, tentu aja permen kiss gitu aja masa Lo gak tau sih Sis." Jawab Rara sedikit gugup, bisa abis Dia kalo Siska tau.


"Lo ngancam tunangan Gue?" Tanya Rafly dengan tatapan datar.


"Gak, Gue cuma ngingetin. Gara-gara cewek Lo, Raina jadi minta kiss." Jawab Devano.


"Emang kenapa kalo Dia minta Kiss? Tinggal kasih aja kali, gak susah kan." Sahut Siska.


Sedangkan yang menjadi objek pembicaraan kini sedang asik menyantap makan siang nya yang baru saja di berikan Fana.


"Dev, habis ini Raina minta kiss kiss yaa." Pinta Raina lagi sambil tersenyum manis, membuat wajah Devano memerah seketika.


Hahh, polosnya sahabat Gue yang satu ini. Batin Rara.


Hayoo, yang tau kiss kiss itu apa ayo acung kan tangan kalian🤭


Jangan lupa vote, like, komen dan rate bintang 5 yaa.

__ADS_1


See u next time🤗


__ADS_2