Takdir Cinta Raina (S1&S2)

Takdir Cinta Raina (S1&S2)
Rara dan Rafly bagian 1


__ADS_3

Part ini khusus menceritakan kisah Rara dan Rafly,


Rara Syaira Anjani, nama ini tidak akan asing jika kalian sudah membaca RARA GADIS POLOSKU, cerita itu belum aku lanjutin.


Berawal dari persahabatan Rara dengan Lastri, hingga hubungannya dengan seorang Rangga Daniendra yang tak lain adalah sepupu dari Lastri.


Hubungan Rara dan Rangga berjalan sebagaimana mestinya sepasang kekasih, setelah mengejar cinta Rara akhirnya Rangga berhasil mendapatkan hati dan kepercayaan gadis itu. Sikap Rara yang polos dan ceria menjadi daya tarik tersendiri bagi Rangga.


Ujian cinta mereka di mulai saat kenaikan kelas, dan saat itu Rangga baru saja lulus dari sekolah dan akan melanjutkan study nya.


"Kak Rangga, apa kamu gak malu punya pacar seperti Rara? Rara gak punya orang tua, dan keluarga Om Dimas selalu meras Kamu. Aku merasa gak pantas untuk kamu, bisa gak kalo pacarannya di tunda dulu? Biar mereka gak meras kamu lagi."


"Kenapa Aku harus malu? Kamu tau kan gimana perjuangan Aku buat dapatin hati dan kepercayaan kamu? Itu gak mudah, dan apa yang kamu omongin itu? Aku sama sekali gak pernah keberatan, selagi kamu aman. Gak usah berfikiran yang macam-macam lagi, aku harus segera pergi. Jaga diri kamu baik-baik yaa," Rangga tersenyum dengan sangat tulus, sejujurnya pria itu sangat berat jika harus meninggalkan Rara sendiri disini.


Mencium kening Rara dengan begitu penuh kasih sayang, namun Rara tidak pernah tau bahwa itu adalah kecupan terakhir yang di berikan Rangga untuknya.


Rangga begitu fokus untuk segera menyelesaikan study nya di luar negeri. Menjalin persahabatan dengan seorang Rafly Adyatmaja, senior Rafly saat di kampus, yang sekarang menggantikan posisi Rangga. Rafly tidak mengkhianati Rangga, justru Rangga sendiri lah yang meminta Rafly untuk selalu menjaga Rara.


Sebelum Rangga pergi untuk selamanya dari dunia ini, pria itu berpesan untuk selalu membahagiakan Rara. Mau tidak mau, Rafly harus menuruti permintaan terakhir Rangga.


"Hiks, Rangga hiks, kenapa tinggalin Rara sendiri? Hiks, Rara udah kasih seluruh hati Rara untuk kamu hiks, hiks, kenapa kamu pergi ninggalin Rara sendiri?! Hiks, hiks, siapa yang akan menjadi pelindung Rara dari mereka? Rara mau ikut kamu aja, hiks, hiks," Rafly begitu tidak tega melihat bagaiman histerisnya Rara saat Rangga di kuburkan.


Semua keluarga dan sanak saudara sudah meninggalkan pemakaman. Sedangkan Rara? Gadis itu masih enggan untuk beranjak dari sana. Bahkan Lastri pun begitu tidak berdaya, merasa kasihan dengan keadaan sahabat nya, namun tidak dapat berbuat apapun.

__ADS_1


"Aku tau kamu sedih, tapi kamu juga harus ingat. Rangga sudah tenang sekarang, Rangga udah titipin kamu ke aku. Ayo pulang, jangan sampai kau sakit dan merepotkan semua orang."


Rafly terus terbayang, saat-saat masa kritis yang di alami Rangga sebelum pria itu pergi.


*flashback


"Raf, Gue tau Lo gak akan suka dengan permintaan Gue ini. Tapi Gue mohon Raf, kali ini aja. Turutin permintaan Gue, meskipun keadaan Gue udah baik-baik aja sekarang. Firasat Gue, udah gak lama lagi."


"Lo ngomong apaan sih? Lo pasti sembuh, tenang aja. Luka itu gak akan bunuh Lo, apa Lo gak sayang sama Rara? Kasihan dia, selama ini elo yang lindungin dia, seharusnya jadiin dia semangat biar Lo sembuh!"


Rafly begitu marah mendengar perkataan Rangga yang seolah-olah benar-benar akan pergi dari dunia ini. Bagaimana pun juga, meski terkenal cuek Rafly sudah menganggap Rangga seperti saudaranya sendiri.


"To-tolong Raf, jagain Rara buat Gue. Kasih ini ke dia, sampaikan maaf Gue. Gue belum bisa nepatin janji, bimbing dia Raf. Gue yakin akan banyak masalah yang datang, tapi satu permintaan Gue. Jaga Rara, sampai dia bisa nemuin pengganti Gue. Hiks, Gue capek Raf, akhh, to-tolonghh jahgah Ra-ra*."


"Akhhh, kenapa Rangga?! Kenapa Lo harus pergi secepat ini?! Lo lihat, Rara terus aja nangis dan Gue gak bisa lakuin apapun buat dia!"


Rafly sangat kalut sekarang, kecelakaan yang di alami Rangga sungguh berhasil merubah kehidupannya.


Dari hari ke hari, Rafly selalu meluangkan waktunya untuk memantau keadaan Rara. Pria itu begitu kasihan melihat Rara yang masih saja terpuruk dan belum menerima kepergian Rangga.


Saat itu, Namira dan Siska selalu menemani Rara namun sama sekali tidak membawa pengaruh apapun. Begitupun dengan Lastri, gadis itu bahkan sudah berusaha untuk membuat Rara melupakan Rangga. Namun tetap saja, kenangan akan Rangga sangat berbekas di hati dan pikiran gadis itu.


"Sampai kapan kamu akan seperti ini? Apa kau mau tau apa yang Rangga ucapin sebelum dia pergi?" Rara menoleh pada Rafly, menatap pria itu dengan tatapan sayu.

__ADS_1


"Rara baik-baik saja, Rangga bilang kalo dia akan nemuin Rara disini saat kuliah nya selesai. Rara akan tetap disini, sampai Rangga kembali."


Menghela nafas pelan, Rafly membawa Rara agar menghadap padanya.


"Dengerin aku Ra, Rangga udah tenang. Jangan tangisin dia seperti ini, Rangga udah titipin kamu ke aku. Dan aku akan sangat merasa bersalah kalo belum berhasil buat Kamu bangkit."


"Hiks, hiks, kenapa Rangga secepat itu ninggalin aku? Hiks, kenapa? Sekarang hiks, sama siapa lagi aku bisa mengadu? Hiks, hiks, selama ini hiks, Rangga yang selalu hiks ada buat Aku hiks, hiks, tapi kamu lihat kan? Dia pergi tanpa ngucapin selamat tinggal buat Aku hiks, hiks," Rara pergi begitu saja meninggalkan Rafly yang ikut sedih melihat keadaan Rara.


Sejatinya, Rafly adalah tipikal pria yang sulit untuk dekat dengan orang baru, terlebih itu perempuan.


"Rara, ada apa?" Tanya Sinta, Mama Rangga.


Rara memang masih tinggal di rumah keluarga Rangga, atas permintaan Sinta. Wanita setengah paruh baya itu cukup sangat terpukul dengan meninggalnya Rangga, cukup Rangga yang pergi tidak untuk Rara yang sudah di anggapnya seperti putri sendiri.


Seiring berjalannya waktu, Rara pun mulai bangkit. Gadis itu sudah mulai berinteraksi dengan sekitar. Semua itu berkat Rafly, dan juga dukungan dari sahabat dan keluarga Rangga untuknya. Setelah meninggalnya Rangga, keluarga isteri Dimas tidak lagi mengganggu Rara.


"Rafly, makasih ya. Makasih karena udah selalu ada buat aku, oh iya aku juga mau bilang kalo minggu depan aku udah ujian akhir. Doain aku yaa," ucap Rara dengan senyum yang merekah di wajah cantiknya.


"Iya sama-sama, ini udah tugas aku. Aku mau ngomong serius sama kamu, boleh?"


"Humm, mau tanya apa?"


"Apa Kamu udah siap buat buka hati untuk pria lain? Atau mungkin, udah ada seseorang di hati kamu Saat ini selain Rangga?"

__ADS_1


"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Rangga gak akan bisa tergantikan, kalo masalah pria lain. Mungkin ada, tapi aku masih mastiin dia juga punya perasaan yang sama atau tidak." Rara tersenyum saat menjawab pertanyaan Rafly, membawa desiran-desiran halus dalam diri pria itu.


__ADS_2