
Saat ini Raina sedang berada di depan sebuah rumah, Siska, Namira dan Rara dengan setia menemani gadis itu. Dengan susah payah Raina berhasil kabur dari pengawasan Devano dan keluarganya.
Mereka menatap rumah mewah itu dalam diam. Bukan, melainkan mereka menunggu Raina bertindak. Mereka juga tidak tau mengapa Raina meminta mereka menemaninya ke rumah itu. Bahkan sejam 1 jam yang lalu, Raina hanya memandangi rumah itu tanpa mengucapkan apapun. Rara saja sudah menghabiskan semangkuk bakso dari penjual keliling yang kebetulan lewat. Belum lagi Namira, wanita yang baru menikah itu sudah lelah sedari tadi menunggu. Tapi lihatlah Raina, gadis itu terlihat sangat serius menatap kearah rumah mewah itu.
"Raina, please deh. Jangan bikin kita pusing, udah 1 jam loh ini. Lo sebenarnya mau ngapain sih kesini?" kali ini kesabaran Siska sepertinya sudah mulai habis, gadis itu mulai bertanya namun Raina malah bengong.
"Jawab dong Raina, ngeselin juga ya lo lama-lama." kesal Siska.
"Siska jangan marah-marah dong, mau cepet tua?" Siska semakin kesal meladeni sahabatnya yang bolot ini.
"Terserah lo deh, capek gue ngomong sama lo!"
Raina mengerucutkan bibirnya, lalu kembali menatap rumah itu dengan intens.
"Raina sayang, ngapain sih kita kesini? Lo gak takut apa kalo tiba-tiba yang punya rumah keluar terus nuduh lo pencuri?" tanya Namira
"Kenapa harus takut? Raina ndak ambil apa-apa kok dari rumah itu. Kalian mending diem, Raina mau mantau lagi."
"Aduh Raina yang cantik, apa faedahnya sih lo mata-matain nih rumah? Kita udah lama loh ya perginya, gue gak mau kalo calon suami lo itu sinis-sinisin gue lagi karena udah bawa lo pergi tanpa ijin." kali ini Rara yang mengeluarkan suaranya.
"Faedah? Kayaknya ndak ada, tapi Raina tertarik aja jadi mata-mata. Rumah ini menarik, bagus untuk jadi target pertama." jawab Raina dengan polosnya.
"Au ah males gue ngomong sama orang bolot kayak lo!" Rara memilih duduk lesehan di tepi jalan diikuti oleh Namira dan Siska, sedangkan Raina kembali melakukan aktivitas mata-mata nya.
"Sebenarnya apa sih yang buat lo ngotot buat ngintai nih rumah? Gak mungkin kan lo mau jadi pengintai tanpa ada maksud tertentu nya?" tanya Siska.
Raina menatap ketiga sahabatnya dengan tatapan yang sangat serius. Ketiganya menegakkan tubuh siap untuk mendengar jawaban dari Almira.
"Ndak tau, cuma sekedar insting aja. Raina seperti ingin masuk kedalam, kalo masuk boleh ndak ya?"
"Jangan ngaco deh lo, emang lo kenal sama pemilik rumah? Gimana kalo isinya orang jahat?"
"Kalo isinya orang jahat, ya lawan dong. Gitu aja kok repot, kan ada Siska yang jago bela diri. Nanti, kalo penjahatnya keluar Siska lawan terus Raina yang jadi penonton setia. Tenang aja, kalo Siska menang nanti Raina traktir dehh. Jangan nolak, jarang-jarang loh Raina mau ngeluarin duit." jawab Raina lagi.
Ingin rasanya Siska mengubur sahabatnya itu hidup-hidup, tapi dirinya masih sayang nyawa. Mana ada Devano akan membiarkan gadis nakalnya terluka sedikit saja, apalagi Bima yang sangat menyayangi putri semata wayangnya itu.
"Raina, lo tambah lama semakin ngeselin yaa. Nyesel gue ikutin lo sampai kesini, buang-buang waktu aja." ucap Siska lagi, mulut pedas gadis itu sama sekali tidak berpengaruh untuk Raina.
"Ya udah, pulang aja kalo mau pulang. Raina ndak apa kok ngintai sendiri, tapi kalo Raina mati di tangan penjahat, Siska jadi orang pertama yang Raina gentayangin."
"Susah ya ngomong sama Nyonya Devano, ada mulu jawabannya." cibir Siska.
__ADS_1
15 menit kemudian, pintu utama rumah mewah itu terbuka. Seorang gadis cantik keluar dan hendak menghirup udara segar. Raina sangat terkejut melihat wajah gadis itu, wajahnya sangat mirip dengan dirinya.
"K-kak Rachel?? Tapi, bagaimana bisa? Kak Rachel kan ... "
"Ada apa Raina?"
Siska, Namira dan Siska pun melihat apa yang di lihat Raina hingga membuat gadis itu diam tak berkutik. Mereka juga terkejut melihatnya, gadis itu sangat mirip dengan Raina. Hanya gaya berpakaian dan model rambut mereka yang berbeda.
"Pikiran gue sama gak sih dengan kalian? Gila lo Ra, dari awal lo udah tau kalo penghuni rumah itu punya wajah yang mirip sama lo?!"
"Ndak, Raina kesini cuma insting aja. Raina mau temuin dia, kalian tunggu sini." tanpa mendengar jawaban dari ketiga sahabatnya, Raina berlari menghampiri gadis yang mirip dengannya itu
Entah kebetulan atau apa, Raina merasakan sesuatu yang mengganjal di hatinya. Jantungnya tidak berhenti berdetak dengan cepat. Raina seperti pernah merasakan saat seperti ini, perasaan yang di rasakan nya sangat tidak asing. Perasaan hangat itu pernah ada saat bersama Rachel. Apa perempuan itu Rachel?
"Lo?!!"
...----------------...
Sedangkan di kediaman Aryasetya, Devano sedang mengamuk saat mengetahui Raina berhasil kabur lagi dari pengawasan. Devano sangat takut jika Skizofrenia Raina semakin parah dan akan mempengaruhinya.
"Apa pekerjaan kalian hanya bersantai hah?! Sekarang juga, cepat cari Raina sampai dapat!!"
"Tenang lah Vano, kamu seperti tidak mengenal Raina saja. Dia akan baik-baik saja, sekarang dia pasti sedang bersama ketiga sahabatnya. Sudah, Papa juga sudah menghubungi Siska. Raina aman bersama mereka." ucap Bima, berusaha menenangkan calon menantu nya.
"Jangan berpikiran buruk terus nak, sekarang kau susul Raina. Siska sudah mengirimkan alamatnya, pergilah dan jemput dia pulang."
Devano pun pergi ke alamat yang dikirimkan Siska, pria itu mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh.
Sedangkan itu, Fana saat ini sedang menatap para bawahannya yang lagi-lagi memberikan alamat yang sama. Ingin rasanya Fana menceburkan pria di depannya itu kedalam got.
"Awas aja ya kalo kali ini kamu kasih saya alamat palsu lagi, saya gaji kamu pakai uang palsu selama setahun!"
"Ampun Pak Bos, jangan lah Bos. Kalo gaji saya yang palsu, saya gak bisa hidupin anak istri saya dong Bos."
Fana berlalu meninggalkan anak buahnya tanpa mengucapkan apapun lagi. "Haisssh, kemarin udah buat si pemilik rumah badmood masa harus balik kesana lagi sihh, ckckck "
Devano sudah sampai di alamat yang diberikan Siska. Namun, pria itu hanya menjumpai Rara, Namira dan Siska saja. Raina sama sekali tidak terlihat.
"Dimana Raina?" tanya Devano, pria itu menatap Rara dengan tatapan tajam.
"Apa lo liatin gue kek gitu?! Ngajak gelud lo?!!" ucap Rara dengan mata melotot kearah Devano.
__ADS_1
"Udah, napa sih kalian berdua ini tengkar mulu kerjanya. Mending, kita susulin Raina. Ayo, Raina masuk ke rumah itu tadi."
Mereka pun masuk ke dalam rumah itu, bersamaan dengan sebuah mobil yang cukup familiar di mata Devano.
"Fana, ngapain kamu disini? Bukannya jagain tawanan di markas," ucap Devano saat Fana baru saja keluar dari dalam mobilnya sembari merapikan rambutnya.
"Abang sendiri ngapain kesini? Sama tiga cewek lagi, kalian mau selingkuh ya?! Fana laporin kakak ipar hayoo,"
Devano menggeplak kepala Fana sedikit keras hingga pria itu mengaduh. "Sekarang, mending kamu pulang sana. Awas aja yaa kalo tawanan Raina kabur, kamu yang musti tanggung jawab."
"Ihh ogah, Fana tuh kesini karena ada misi. Udah ahh Fana mau masuk dulu, mau minta maaf sama tante cantik." Fana nyelonong begitu saja meninggalkan mereka semua.
"Itu Raina," Siska menunjuk Raina yang sedang berdiri berhadapan dengan gadis yang sangat mirip dengan Raina.
Raina dan gadis itu saling berpandangan dengan pandangan yang berbeda-beda. Raina tak sanggup menahan tangisnya, sedangkan gadis didepan nya menatap dirinya dengan tatapan datar.
"K-kak Rachel hiks, hiks, ini benar kak Rachel? Raina rindu kak, hiks, hiks, hiks," Raina hendak memeluk gadis itu namun gadis itu malah mundur menjauh.
"Lo siapa? Gue sama sekali gak kenal sama lo! Dan, kenapa muka lo mirip banget sama gue?!" terpancar wajah ketidaksukaan di wajah gadis itu.
"Vika sayang, ini ponsel mu ketinggalan nak." Rika datang dan memberikan ponsel milik Vika yang ketinggalan.
"Yo, Tante cantik. Beruntungnya Fana ini bisa bertemu Tante lagi, maapin mulut Fana kemarin ya Tante, mulut Fana ini emang gak bisa di rem, hehehe."
"Kamu? Pemuda gak waras kemarin kan? Ya sudahlah, saya juga sudah lupa atas kejadian kemarin." balas Rika.
"Makasih Ma, kalo gitu aku pergi dulu yaa." Vika mencium pipi Rika sebelum pergi tanpa menghiraukan Raina.
Vika hendak masuk ke mobilnya, namun Raina kembali menghentikan gerakannya.
"Kak Rachel, ini kakak kan? Apa kak Rachel ndak pernah merindukan Raina? Selama 10 tahun Raina sama sekali ndak bisa lupain kejadian waktu itu, jika bukan kak Rachel yang berkorban mungkin Raina yang mati saat itu. Kenapa kak Rachel baru muncul sekarang?"
"Maksud lo apa sih?! Gue gak kenal sama lo, dan nama gue bukan Rachel. Gue Vika, bukan Rachel!"
"Sayang, kamu pergi kenapa gak pamit sih?!"
"Raina tau itu kak Rachel, ndak papa kak Rachel ndak ingat sama Raina. Lihat kak Rachel baik-baik aja udah bikin Raina senang." Raina tersenyum walaupun air mata mengalir dari pelupuk matanya.
Entah dorongan dari mana, perlahan Vika berjalan mendekat dan memeluk Raina dengan erat. "Gue gak tau lo siapa, tapi gue seneng bisa ketemu lo."
Gaje banget ya part ini, jangan lupa vote, komen, like dan rate bintang 5 nya yaa😊
__ADS_1
Vote dari kalian adalah semangat aku buat terus up🤗