
Brukk
Raina dan Devano saling pandang, apa yang terjadi di luar kamar hotel mereka? Kenapa seperti ada suara benda jatuh? Dengan langkah pelan, keduanya pun berjalan menuju pintu.
Ceklek
"Astaga! Sayang, kamu nemu dimana sih mereka ini?! Kalian kurang kerjaan ya?!" Raina hanya bengong mendapati ketiga sahabatnya, Rafly, Qinzo, dan Sandy tengah berdiri dengan tampang tak bersalah di balik pintu kamar hotelnya.
"Siapa yang punya ide?" tanya Raina dengan polosnya, masih cukup terkejut mendapati manusia-manusia tak punya pekerjaan itu.
Dengan serentak mereka menunjuk ke arah Rara yang menampakkan wajah tak berdosanya. Devano hanya bisa geleng kepala, bingung dengan isi otak Rara.
"Yang ada di otak lo itu apa aja sih?" tanya Devano pada Rara.
"Nganu-nganu," jawab Rara dengan polosnya.
"Astaghfirullah, Raf. Mending cepet lo halalin deh nih cewek mesum, bahaya." celetuk Devano,
"Raina, gimana? Enak gak malam pertama?"
"Hah?! Malam pertama? Raina tadi udah mau nutup mata, karena denger ada yang jatuh jadi bangun. Ada apa sih sebenarnya? Dan ngapain kalian di depan pintu kamar? Mau ngintip ya?! Hati-hati loh nanti matanya bintitan." celetuk Raina.
"Ehh amit-amit, gue lagi bunting nih. Kalo mata gue bintitan bintitan ntar anak gue ketularan lagi." cetus Namira, wanita pun perlahan mundur bersama Qinzo.
"Ini tuh idenya Rara, gue sih cuma kepo aja kenapa nih anak heboh banget pengen ke kamar lo sama Devano." ucap Siska membela diri.
"Munafik sekali kalian ini, wong jelas kalian kesini karena kepo bagaimana proses malam pertama dan buat anak nya Raina sama Devano kok." ucap Rara tak mau kalah,
Devano sungguh pusing menghadapi teman-teman Raina, dan sialnya kenapa Rafly juga malah ikut-ikutan? "Gue kepaksa, tau sendiri kan Rara itu lihat yang bening dikit lengket. Mana rela gue kalo otak mesumnya nanti beraksi sama cowok lain." ucap Rafly, sadar dengan tatapan yang diberikan Devano padanya.
"Ayo Dev, kita masuk aja. Raina udah ngantuk, lagian besok Dev harus bangun lebih awal."
Raina dan Devano pun kembali masuk ke dalam kamar hotel merek, meninggalkan teman-teman mereka yang masih setia berada di depan pintu. Rara mengerucut sebal, gadis itu pun pergi sambil menghentak-hentakan kakinya. Gagal sudah rencananya untuk melihat malam pertama sahabatnya.
Keesokan harinya, Devano memboyong Raina ke rumah mereka. Rumah yang sudah disiapkan Devano jauh hari sebelum pernikahan. Raina tampak terbengong melihat desain rumah yang akan dirinya tempati bersama Devano. Raina tak henti-hentinya berdecak kagum, melihat itu Devano pun ikut tersenyum. Syukurlah, Raina menyukai desain rumah yang dipilihnya.
"Dev, rumah ini terlalu besar. Bagaimana kalau nanti ada hantu nya?"
__ADS_1
"Hahaha, kamu ini lucu Sayang. Disini ada 5 pelayan yang akan tinggal bersama kita, kamu tidak perlu khawatir. Aku sengaja membangun rumah ini supaya kamu dan anak-anak kita nanti nyaman tinggal disini." Devano mengelus rambut Raina, membuat gadis itu tersenyum senang.
"Raina sangat suka, ini bukan rumah tapi istana. Rumah papa Raina besar, mewah, tapi ini lebih dari rumah papa. Dev, terima kasih."
Raina tersenyum tulus pada Devano, pria itu pun membalas senyuman sang istri. Devano melirik arlojinya, waktu sudah menunjukkan pukul 10 pagi. 30 menit lagi pesawatnya akan lepas landas, dan Devano harus pergi.
"Sayang, aku gak bisa lama-lama. Kamu baik-baik disini yaa, dan tunggu aku pulang." raut wajah Raina berubah seketika, gadis itu terpaksa harus melepaskan kepergian Devano.
"Tapi Dev janji yaa, jangan lama-lama disana. Ndak boleh lirik-lirik cewek bule, ingat udah punya Raina yang cantik dan seksi ini." ucap Raina, Devano terkekeh mendengar pernyataan istrinya itu. Sungguh lucu menurutnya, Raina begitu sangat percaya diri.
"Iya Sayang, sekarang ayo aku tunjukin letak kamar kita." Devano menuntun Raina masuk ke dalam rumah mereka, saat masuk ke dalam Raina lagi-lagi di buat tercengang dengan interior dan mewahnya barang-barang yang berada di dalamnya. Mulai dari Sofa, lukisan, hiasan dinding, guci mahal, dan terakhir bunga Juliet Rose.
Raina lagi-lagi di buat begitu takjub, ruang keluarga sengaja di sisakan sedikit ruang dengan atap dan dinding kaca. Devano sengaja menyediakannya untuk taman mini Raina. Disana sudah ada bunga Juliet Rose yang sedang mekar di bawah teriknya mentari. Raina menatap Devano dengan tatapan tak percaya, gadis itu memang sangat menyukai bunga. Tapi tak pernah terbayang Devano memberikannya kejutan seindah ini, apalagi Raina sangat tau harga dari sepohon bunga Juliet Rose.
"Dev, ini ... ini beneran? Tapi sayang uangnya, kalo Dev bangkrut karena membelikan Raina bunga ini gimana?"
"Sayang, aku siapin ini semua buat kamu dari jauh hari. Aku sengaja, dan spesial untuk istriku tercinta. Kamu tidak perlu takut, Sayang. Aku tidak akan bangkrut hanya karena membelikanmu bunga ini." Raina tersipu malu mendengar perkataan Devano, gadis itu tak henti-hentinya tersenyum.
Setelah puas mengantar Raina berkeliling di istana mereka, Devano kini sudah berada di bandara. 15 menit lagi pesawatnya akan lepas landas. Sedari tadi Raina terus saja memeluk pria tampan itu dan enggan melepaskan nya.
"Udah kali Raina, Devanonya harus pergi tuh. Lagian kan cuma seminggu, setelah itu juga dia balik lagi." ucap Rachel, kesal karena Raina enggan melepaskan pelukannya dari Devano.
Cup
Devano mencium kening Raina, membuat gadis itu memejamkan matanya. "Jangan pergi," lirih Raina namun suaranya yang kecil tak dapat di dengar Devano.
Raina melambaikan tangannya, mengantar kepergian Devano dengan air mata. Raina tak peduli dengan tatapan orang-orang, gadis itu hanya ingin menyuarakan perasaannya.
"Udah, ayo kita pulang." Raina dan Rachel pun berlalu dari bandara menuju mobil mereka, mobil itu melaju menuju rumah milik Devano dan Raina. Rachel akan ikut tinggal di rumah itu sampai Devano kembali, gadis itu sangat khawatir dengan keadaan Raina.
"Kak Rachel, Dev akan kembali kan?" tanya Raina, saat ini kedua gadis cantik itu dengan berada di ruang keluarga. Raina menyenderkan kepalanya di pundak Rachel, dan Rachel mengelus kepala Raina dengan lembut. Memberi kenyamanan pada gadis itu.
"Iya Raina, Devano pasti kembali. Lo gak boleh sedih terus, pamali tau."
"Emang iya?" Rachel menganggukkan kepala nya tanpa ragu.
"Kata siapa emang?"
__ADS_1
"Kata gue,"
Raina beranjak dari duduknya, berjalan menuju lift. Karena kamarnya dan Devano berada di lantai 5, Raina pun menaiki lift agar tidak lelah. Rumah yang siapkan Devano ini memiliki 6 lantai. Di lantai 6 sudah disediakan berbagai ruangan khusus Raina. Bioskop mini, salon pribadi, dan tempat khusus piknik keluarga yang dilengkapi kolam renang.
Melihat Raina yang sudah masuk ke lift, Rachel pun turut beranjak dari duduknya. Gadis itu harus berangkat ke kampus, dan menemui Alvin. Sedari tadi tunangannya itu terus menghubungi dirinya. Akhirnya Rachel meminta Alvin untuk menemui dirinya di sebuah cafe, tak jauh dari rumah Raina dan Devano.
Setibanya di cafe, Rachel menemukan Alvin yang sedang duduk dengan gusar. Pria itu berdiri saat melihat kedatangan Rachel, Rachel semakin di buat bingung dengan tingkah Alvin.
"Kamu kemana aja? Aku telponin, sms, wa, gak ada balasan! Kamu tau gak sih aku lagi khawatir?!"
"Kamu kenapa sih? Aku baru datang tiba-tiba marah kek gini,"
"Dimana Devano?" tanya Alvin, mengabaikan protesan Rachel.
"Dia udah berangkat sejak sejam yang lalu, ada apa sih sebenarnya? Kok kamu kayak panik gitu?"
"Ini semua jebakan, Chel. Informasi yang dia dapat itu palsu, dan asisten Rayn bang gak ada masalah sama perusahaan di Singapore. Devano dan Raina dalam bahaya, dimana Raina? Kita harus temuin dia sebelum sesuatu yang buruk terjadi."
"Tunggu-tunggu, maksud kamu apa Vin? Tolong ya jangan becanda, kalo informasi itu bohong terus siapa yang udah nebak Devano?"
"Raihan, sepupu lo."
Rachel terdiam, gadis itu tampak berpikir. Rachel sama sekali tak mengenal siapa Raihan, kenapa Alvin menyebut pria itu sepupunya? Dan jika benar, kenapa sepupunya itu tega melakukan ini pada Raina dan Devano?
"Udah Sayang, sekarang kita harus temuin Raina dulu."
"Tunggu Vin, kita akan temuin Raina. Tapi kamu harus janji sama aku, jangan ceritain yang sebenarnya pada Raina. Mereka baru aja menikah, gue lihat sendiri betapa sedihnya dia saat di tinggal di hari pertama pernikahan nya. Gue gak akan sanggup lihat Raina bertambah sedih karena mendengar berita ini."
"Tapi Chel, hanya Raina yang bisa menyelesaikan masalah ini. Terlebih, Raihan pasti akan bertindak lebih jauh lagi."
"Aku tau Vin, tapi jangan sekarang. Biarin Raina tenang dulu," pinta Rachel, Alvin pun menuruti permintaan Rachel. Mereka berdua kini sudah berada di ruang tamu rumah Raina dan Devano.
Rachel kini bisa tenang saat melihat Raina yang baik-baik saja di kamar nya. Dan benar saja, 5 menit setelah Rachel dan Alvin datang tiba-tiba saja sekelompok orang bertopeng mencoba untuk menerobos rumah super mewah itu. Dan beruntungnya, keamanan rumah ini begitu ketat. Ada senjata tersembunyi yang akan melindungi tuan rumah.
Tanpa di duga, sekelompok orang bertopeng itu kini tumbang di tangan orang-orang berjubah hitam. Rachel membelalakkan mata saat mengetahui siapa pemimpin dari orang-orang berjubah hitam yang telah menolong mereka membasmi kelompok orang bertopeng.
S2 akan tetap ada di novel ini, jadi tetap stayy yaa๐ awal puasa insha Allah akan up season 2 nya, siapkan tisu untuk menyambut akhir S1 ya๐
__ADS_1
See u next time๐