
Pagi yang cerah, hari Raina bangun lebih awal. Gadis itu segera membersihkan diri lalu turun ke lantai satu. Rachel tampak sibuk membantu Dewi di dapur, di bantu dengan beberapa pelayan.
"Selamat pagi Kak Rachel, pagi Mama nya Raina yang cantik." sapa Raina, gadis itu memeluk Dewi dari belakang.
"Pagi juga kembaran gue yang bawel,"
"Pagi anak Mama. Gimana tidurnya, nyenyak?"
Raina memilih duduk menyaksikan kedua wanita itu berkutat di dapur. "Nyenyak dong Ma, apalagi semalam abis di kelonin Dev. Nyenyak dong, tidur Raina."
"Bahaya nih anak Mama, kenapa gak dinikahin aja sih mereka berdua? Belum apa-apa udah minta di kelonin Devano, nih anak." sahut Rachel,
"Biasalah, adik kamu itu Chel. Kayak gak tau Raina aja, Mama juga mau nya gitu. Tapi setiap rencana yang di rancang, pasti aja ada halangan. Mama jadi pusing, kalo kayak gitu kapan mereka bisa nikahnya." ucap Dewi menanggapi perkataan Rachel.
"Mama jangan ngomong gitu dong, doain atuh supaya rencana kedepannya lancar. Jangan pesimis mulu," sahut Raina.
Mereka menghabiskan waktu pagi itu dengan bercerita dan memasak. Lebih tepatnya hanya Rachel dan Dewi, karena Raina hanya duduk dan asik memakan buah tanpa berniat untuk membantu.
Setelah makanan selesai di buat, kali ini Raina membantu Rachel dan Dewi menata makanan di atas meja makan. Fana, Revan dan Bima sudah berada di meja makan. Melihat Raina yang sibuk menata makanan di atas meja, membuat Fana tak tinggal diam. Pria itu berjalan mendekat ke arah Raina yang hendak duduk di kursinya.
"Tumben, Kakak ipar bangun pagi. Gak nangis tuh tempat tidurnya di tinggal?" ucap Fana, pria itu kini sudah duduk tepat di sebelah Raina.
Raina sama sekali tidak memperdulikan Fana, gadis itu justru tengah fokus pada makanannya. Kesal karena di cuekin Raina, Fana pun memutuskan untuk memakan makanan nya juga.
"Aww! Eh buset, sekate-kate ya kalo mau jahil gak pake aba-aba!" teriak Fana, pria itu terlihat sedikit terkejut dan kesakitan.
Tanpa di ketahui siapapun, Raina menginjak kaki Fana dengan keras lalu bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Seluruh keluarga yang sudah tau tentang kebiasaan kedua anak muda itu hanya diam tanpa peduli apa yang akan mereka lakukan.
"FANA, kaki Raina sakit! Raina aduin Dev, tau rasa kamu." Fana membalas dengan menginjak kaki Raina, membuat sang empu melotot ke arahnya dengan wajah memerah. Fana tidak peduli, pria itu hanya tersenyum lalu melanjutkan makannya.
Usai sarapan, Raina pergi ke kamar yang di khususkan untuk Tommy dan Kitty. Mayang terlihat baru saja selesai memberi makan pada kedua kucing menggemaskan itu.
"Mbak Mayang, mbak Saras nya dimana?" tanya Raina, gadis itu belum melihat keberadaan Saras sejak tadi.
"Saras sedang pergi, Nona. Subuh tadi, tuan Sandy datang untuk menjemputnya. Katanya ada toko yang baru buka di ujung perumahan sebelah, Saras ingin memborong mumpung lagi diskon katanya." jawab Mayang, wanita itu sebenarnya takut jika Raina kembali marah karena Sandy berani membawa Saras tanpa seijinnya lagi.
"Baiklah, kalo begitu Raina mau kembali ke kamar."
Raina mendekati Tommy dan Kitty yang sedang bermain bola, "halo, sayang-sayang nya Raina. Kalian jangan nakal yaa, Raina mau ke kamar dulu. Mau siap-siap temuin Dev di kantor,"
Meaow
Meaow
"Raina ingin begini, Raina ingin begitu, ingin ini, ingin itu, banyak sekali. Semua-semua, semua dapat di kabulkan, dapat di kabulkan dengan minta Devano. Hihihi, pinter banget Raina nyanyi nya." Raina berjalan sembari bersenandung ria, gadis itu bahkan tidak menyadari beberapa pasang mata yang sedang memperhatikan dirinya.
"Raina, lo mau kemana?" tanya Rachel, gadis itu sedang duduk bersama beberapa teman kampusnya di ruang tamu.
"Raina mau ke kamar, mau mandi," jawab Raina, gadis itu kini menghentikan langkahnya sejenak. Menatap satu persatu teman Rachel, tanpa berbicara apapun.
"Tumben lo mandi pagi, mau kemana?"
"Kak Rachel kepo deh, udah ah Raina mau ke kamar."
__ADS_1
Rachel hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Raina yang main asal nyelonong saat dirinya belum selesai berbicara.
"KAK RACHEL, RAINA MAU SUSU STRAWBERRY." suara teriakan Raina terdengar hingga ke ruang tamu, Rachel yang mendengarnya hanya tersenyum lemah tak enak pada teman-temannya.
"Maaf ya, gue tinggal sebentar." teman-teman Rachel menganggukkan kepalanya, Rachel pun segera berlalu menuju dapur.
"Bi, tolong anterin ke kamar Raina yaa. Saya masih harus temuin teman-teman di ruang tamu," ucap Rachel pada seorang pelayan.
Setelah urusannya selesai, Rachel pun kembali ke ruang tamu untuk menemui teman-temannya. Mereka larut dalam perbincangan hangat di sela-sela kesibukan mereka dalam mengerjakan tugas kampus. Tak lama kemudian, Raina turun dengan tampilan fresh. Gadis itu berjalan ke arah Rachel, lalu memeluknya. Tak memperdulikan teman-teman Rachel yang kini sedang menatapnya.
Raina selain nakal, gadis itu juga sangat manja. Terlebih pada Devano, Rachel dan Revan.
"Chel, mukanya kok mirip sama lo? Lo gak ada niatan buat kenalin ke kita-kita?" tanya Sisi.
"Iya Chel, gue dari tadi penasaran loh. Wajah kalian mirip banget, tapi sikap dan kepribadian beda banget," sahut Rio.
"Ehh, maaf. Kenalin, ini adek kembar gue. Namanya Raina, sekali lagi maaf yaa. Dia emang gini, manja." ucap Rachel, Rio sudah mengulurkan tangannya untuk bersalaman namun Raina malah cuek membuat pria itu menurunkan kembali tangannya.
"Kak Rachel, Raina mau pergi yaa. Raina mau ke kantornya Dev, udah janji."
"Lo kesana nya bareng siapa? Gue gak ngijinin kalo lo pergi sendiri, kalo lo di culik gimana?"
Rachel sangat khawatir jika Raina bepergian tanpa di temani siapapun. Apalagi saat beberapa hari yang lalu, Raina nyaris saja di culik. Beruntungnya Devano datang tepat waktu, hingga orang-orang bertopeng itu tidak jadi membawa Raina yang sudah pingsan karena di bius.
"Kak Rachel tenang aja, Raina perginya dengan taxi online," ucap Raina sekenanya, tanpa memperdulikan wajah Rachel yang sudah kesal dengan jawaban gadis itu.
"Gak, lo boleh pergi kalo ada yang nemenin. Lo tunggu aja disini dulu, setelah tugas-tugas gue ini selesai, gue nemenin lo kesana."
Raina pun menurut, membantah pun sama saja. Rachel tidak akan membiarkan dirinya pergi seorang diri, Raina jadi menyesali keputusannya dengan memberikan seluruh pengawal yang di pekerjakan Bima pada Fana.
"Mbak Saras, tolong bawain bantal ya buat Raina," pinta Rachel pada Saras yang baru saja datang bersama Sandy.
"Eh, Mbak punya nomor teleponnya Devano gak?" tanya Rachel lagi sebelum Saras benar-benar pergi.
"Punya, Nona. Tuan Devano meminta kami menyimpan nomor teleponnya jika sesuatu terjadi pada Nona Raina," jawab Saras.
Rachel pun mengambil nomer telepon Devano dari Saras, lalu menghubungi pria itu. Rachel akan memberitahu bahwa Raina tidak bisa pergi ke kantor pria itu, Rachel tidak ingin Devano menjadi khawatir karena kembarannya itu belum juga datang.
Setelah menghubungi Devano, Rachel kembali melanjutkan aktivitasnya. Namun berbeda dengan Rio dan Renald, kedua pria tampan itu sedari tadi terus saja mencuri-curi pandang pada Raina yang sedang pulas dalam tidurnya. Rachel menyadari tatapan kedua temannya itu, namun Rachel bersikap seolah tidak tau.
"Chel, terus itu kembaran lo gimana? Berarti dia gak jadi pergi dong? Kasihan, udah cantik-cantik eh gak jadi pergi," ucap Rio memecah keheningan.
"Santai aja, gue udah hubungin tunangan nya tadi. Bentar lagi juga dia datang," jawab Rachel, lalu kembali sibuk dengan buku-buku nya.
Mendengar jawaban yang di lontarkan Rachel, tampak raut kekecewaan di wajah Rio dan Renald. Rachel hanya tertawa dalam hati melihat kekecewaan di wajah kedua temannya itu. Rio dan Renald terkenal sebagai pria yang cuek dan dingin, terutama pada perempuan. Melihat keduanya begitu tertarik pada Raina, Rachel menjadi kasihan dengan kedua temannya itu.
30 menit pun berlalu, tugas-tugas Rachel dan teman-temannya belum juga usai. Mereka memutuskan untuk mengerjakan hingga malam hari. Bima dan Dewi juga tidak masalah jika mereka menginap semalam di ruang mereka, toh mereka harus mengerjakan tugas itu bersama-sama.
Suara mobil terdengar memasuki pekarangan rumah, banyak mobil-mobil terparkir membuat Devano bingung. Pria itu pun memakirkan mobilnya dan segera masuk kedalam kediaman Aryasetya. Mayang yang baru saja datang usai membuang sampah pun, menyambut kedatangan tunangan dari nona nya itu.
"Dimana Raina?" tanya Devano pada Mayang.
"Nona sedang berada di ruang tamu, Tuan. Dia tertidur saat menunggui nona Rachel," jawab Mayang, setelah mengucapkan terima kasih Devano pun segera masuk ke dalam untuk menemui Raina.
__ADS_1
Devano masuk dengan langkah cool nya, kedatangan pria itu menyita perhatian teman-teman Rachel. Salah satunya Andin, gadis itu musuh bebuyutan Rachel sejak di bangku SMA dan naas nya mereka justru berada di satu jurusan dan kelompok yang sama. Andin menatap Devano dengan tatapan penuh binar, apalagi beberapa hari yang lalu Devano sempat ke rumahnya dalam memenuhi undangan makan malam sang ayah.
"Untung deh lo cepat datang, bawa nih Raina ke kamar nya. Kasian tau dari tadi tidur di sofa, pasti pegal tuh kalo bangun," ucap Rachel pada Devano, tanpa memperdulikan tatapan penasaran dan terpesona dari teman-temannya.
"Kenapa gak di bawa dari tadi?" Devano tampak sedikit kesal dengan ucapan Rachel, bagaimana jika Raina benar-benar akan sakit karena tidur di sofa?
"Sembarangan aja lo kalo ngomong, emang lo mau Raina di sentuh cowok lain? Atau lo mau gue yang angkut dia ke kamar? Yang ada malah guling-guling tuh di tangga," sahut Rachel, membuat Devano terdiam.
Devano melirik arlojinya, sebentar lagi waktunya makan siang. Devano pun menepuk pelan pipi tembem Raina, perlakuan Devano tidak luput dari pandangan Rio, Renald, Andin dan teman-teman Rachel yang lain. Sedangkan Rachel malah bersikap cuek dan melanjutkan pekerjaan nya, Rachel membiarkan saja mereka menyaksikan keromantisan Raina dan Devano. Meskipun sebenarnya, Rachel juga sangat iri dengan keromantisan keduanya. Namun apa daya, saat ini Alvin belum boleh menemui dirinya. Hukuman dari Raina benar-benar membuat Alvin mati kutu.
"Sayang, ayo bangun." Devano mulai menciumi seluruh wajah Raina, tanpa memperdulikan sekitarnya. Apa yang di lakukan Devano tak luput dari pandangan orang-orang yang berada di ruang tamu.
Rio dan Renald semakin patah hati melihat apa yang Devano lakukan pada Raina, sedangkan Andin tampak mengepalkan kedua tangannya melihat kejadian itu. Raina yang merasa terusik pun mulai membuka matanya, kedua mata gadis itu membuka sempurna saat melihat Devano berada di hadapannya.
"Dev, Raina masih ngantuk."
"Bangun sayang, ini waktunya makan siang. Sana cuci muka, habis itu kita akan pergi. Hari ini aku akan mengganti hari-hari sebelumnya karena terlalu sibuk di kantor."
"Ayo, Raina sudah ndak ngantuk lagi." Raina tampak bersemangat, Devano hanya terkekeh melihat tingkah Raina.
"Tidak sayang, kamu harus cuci muka. Lihat tuh, ada kotoran di mata kamu." Devano hanya mengerjai Raina namun jawaban dari gadis itu membuat Devano kalah telak.
"Raina mau ada kotoran di mata atau ndak, Devano tetap cinta sama Raina. Raina bercucuran darah parasit aja, Devano tambah cinta sama Raina," jawab Raina dengan polosnya, Rachel hanya geleng kepala mendengar penuturan dari mulut kembarannya itu.
"Raina masih lemes, ndak kuat jalan, kalo jatuh nanti sakit. Kaki Raina seperti ndak ada tulangnya, Kak Rachel tolongin Raina. Raina ndak bisa jalan lohh." Raina terus mengoceh membuat Rachel memutar kedua bola matanya malas, gadis itu tau jika kembarannya itu sedang berakting.
"Udahlah, sayang. Aku tau kamu lagi kode aku," ucap Devano, pria itu menggendong Raina seperti koala hingga wajah mereka berhadapan.
Raina dengan senang hati mengalungkan kedua tangannya di leher Devano, gadis itu bahkan tak sungkan menarik-narik hidung mancung Devano. Hingga ....
Cup
Raina mencium pipi Devano, pemandangan itu tak luput dari ketiga manusia yang sedang memperhatikan mereka. Rachel kembali menggelengkan kepalanya melihat tingkah Raina. Raina sangat senang membuat orang-orang di sekitarnya menjadi cemburu, suasana pun menjadi panas untuk Andin, Rio dan Renald.
Gue belum pernah jatuh cinta sebelumnya, sekali nya jatuh cinta malah udah jadi milik orang. Rio
Seharusnya aku yang disana, Renald
Br*ngs*k, lihat aja gue pasti akan merebut Devano dari lo. Andin
Rachel berjalan mendekati Andin, "Jangan pernah berpikir buat hancurin kebahagiaan Raina, bukan gue tapi lo akan berhadapan langsung dengan psikopat cantik. Apa lo pernah denger keluarga Hartawan yang melakukan tindak penculikan terhadap gue dulu? Kepala keluarga dari keluarga itu menghilang dengan misterius, dan 1 minggu kemudian dia di temukan dengan kondisi mengenaskan hingga memilih untuk mati," bisik Rachel.
"Raina, Saras dan Sandy udah pulang dari belanja!" teriak Rachel,
"Dev, kita makan di rumah aja yukk," sahut Raina saat mendengar teriakan Rachel,
"Chel, lo gak bisa apa di ajak kompromi sebentar aja? Jarang-jarang loh ini gue ada waktu buat berduaan sama Raina," ucap Devano kesal karena Raina yang berubah pikiran.
Devano sudah menebak, Raina pasti akan kembali menghukum Sandy. "Sayang, jangan mulai dehh."
"Ndak Dev, Raina cuma mau bilang kalo Raina mau makan bubur ayam spesial buatan Dev. Setelah itu, Raina mau mandi terus ganti baju biar terlihat cantik saat jalan sama Dev," ujar Raina, Devano pun mengangguk dan menuruti perkataan Raina.
Saat Devano sibuk di dapur, diam-diam Raina mencari keberadaan Sandy. Dan bravo, mata Raina mendapati Sandy yang asik suap-suapan dengan Saras. "Bersihin kolam renang atau lari 10 putaran?"
__ADS_1
"Yahh, apes dehh."