
"Sayang, kamu lapar gak? Kita cari makan dulu yaa, aku takut kamu tambah sakit." ucap Devano, namun Raina hanya diam memandangi ponselnya.
"Sayang, jawab dong. Kita mampir beli makan dulu yaa,"
"Raina ndak lapar, Dev aja yang makan."
"Kamu masih marah? Aku minta maaf sayang, aku gak peka, udah ninggalin kamu tadi, udah marah-marah juga, aku minta maaf. Jangan marah lagi dong, kamu gak kasian sama aku?"
"Dev juga ndak kasian sama Raina tadi, sepertinya adik dokter Ivan boleh juga. Raina mau cari calon suami baru aja, dia tadi bilangnya masih jomblo kok."
Wajah Devano kecut seketika mendengar perkataan Raina. "Jangan gitu dong sayang, kalo kamu mau cari calon suami baru, aku juga gak rugi cari calon isteri baru." balas Devano.
"Dev itu cowok paling ndak peka!"
"Aku udah mau peka sayang, tapi kamu gak mau ngerti."
Readers, Devano sedang di landa masalah. Tolong doakan Devano yaa, semoga Raina mau memaafkan Devano dan gak jadi cari calon suami baru.
"Dev beneran mau cari calon isteri baru? Dev udah ndak sayang Raina lagi kah? Huaaa, Raina mau nyusul kak Rachel aja kalo gitu hiks, hiks,"
"Sayang, kamu ngomong apa sih? Gak boleh ngomong gitu sayang, emang kamu udah bosan hidup? Yang mau nyari calon isteri baru siapa? Aku cuma becanda sayang, udah ya jangan nangis lagi. Sebaiknya kita mampir ke rumah makan dulu yaa, kamu pasti udah lapar." Raina menganggukkan kepalanya, namun masih saja sesenggukan.
Sesampainya di sebuah rumah makan, Raina menolak untuk turun dengan alasan wajahnya yang sembab akibat menangis dan sedang malas untuk berjalan. Dengan sabar Devano memakaikan Raina kaca mata hitam miliknya dan menggendong Raina bersamanya.
"Dev, Raina berat."
"Tidak sayang, kamu belum makan jadi masih bisa aku gendong. Tapi setelah makan, kamu jalan sendiri yaa."
"Ndak mau, Raina ndak mau jalan." menghela nafas pelan, Devano harus menuruti perkataan Raina jika tidak ingin Raina kembali marah.
Semua mata tertuju pada sepasang sejoli, sang pria yang berjalan dengan gagah dengan sang wanita di gendongannya. Wajah Devano yang tampan membuat para wanita terpana, mereka tidak memperdulikan Raina yang sedang menyembunyikan wajahnya di dada bidang milik Devano.
Satu persatu para wanita itu datang dan mendekati Devano. Devano merutuki kebodohannya, rumah makan ini berada di ruang terbuka. Dan secara otomatis, Devano sudah mengundang banyak lalat. Tidak ada waktu lagi untuk berbalik, Devano sangat khawatir pada kondisi Raina. Gadis nya itu belum makan sejak pagi, jika terjadi sesuatu pada Raina maka Devano tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.
"Sayang, kamu duduk disini dulu yaa. Aku mau pesan makanan dulu, dan ingat jangan kemana-mana." Devano berlalu meninggalkan Raina sendiri.
Tak lama kemudian, satu persatu wanita datang menghampiri Raina. "Dek, nama kakak nya tadi siapa? Boleh minta id line nya gak?" wanita 1
"Kakak saya udah nikah" Raina
"Lo adeknya yaa? Kakaknya udah punya pacar belom?" wanita 2
"Udah punya anak sepuluh." Raina
Satu persatu wanita itu pun pergi karena jawaban yang diberikan Raina membuat mereka kecewa, hanya tersisa seorang wanita lagi. Tanpa rasa malu wanita itu duduk dan menatap Raina dengan tajam.
"Lo bisa nipu mereka, tapi lo gak bisa nipu gue. Kenalin, gue Lyodra. Dan gue, calon masa depan cowok yang bersama lo tadi." ucap wanita bernama Lyodra itu dengan penuh percaya diri.
Mood Raina yang sedang buruk membuatnya mengabaikan perkataan Lyodra, hingga Devano datang gadis itu terlihat semakin lemah.
"Sayang, kamu baik-baik aja?"
"Dev, Raina mau pulang aja."
__ADS_1
"Gak bisa sayang, kamu harus makan dulu. Kamu mau mama papa kamu marah sama aku karena biarin kamu kelaparan?"
"Ya udah, peluk" Devano terkekeh melihat tingkah manja Raina, mengabaikan Lyodra yang wajahnya sudah memerah. Dengan kesal Lyodra menggebrak meja dengan keras, membuat beberapa pengunjung terkejut termasuk Devano. Namun Raina hanya bersikap biasa, gadis itu malah hampir terlelap di pelukan Devano.
"Lo punya sopan santun gak sih?! Meja disini banyak yang kosong, silahkan lo pindah." ucap Devano menatap Lyodra dengan tatapan tajam.
"Lo tau gak sih, gue dari tadi disini nungguin lo. Tapi apa, lo malah peluk-pelukkan sama cewek gatal ini di depan gue!" ucap Lyodra sambil menunjuk-nunjuk Raina.
Devano sangat marah mendengar perkataan Lyodra. "Lo udah pernah rasain kepala lo pisah dari tubuh lo belum?" Devano menatap Lyodra dengan tajam.
Dengan polosnya Lyodra menggeleng, "lo mau rasain?"
"Gue belum pernah rasain, lo mau kasih tau gue caranya gak?"
"Dev, ndak usah di gubris. Dia itu ndak waras,"
"Gak bisa sayang, dia udah berani ngatain kamu. Aku gak terima," ucap Devano.
Tak lama kemudian, seorang wanita dengan seragam yang kontras datang dan menghampiri mereka. "Maaf atas ketidaknyamanan nya tuan, nona, beliau ini adalah pasien kami yang kabur 2 hari yang lalu."
"Apa?! Jangan-jangan, dia tidak waras?!"
"Iya tuan, wanita ini sedang depresi karena ditinggal kekasihnya. Sekali lagi, saya mohon maaf. Ayo nona Lyodra, kita akan kembali ke rumah."
Selepas kepergian petugas rumah sakit jiwa dan Lyodra, Devano menatap pada Raina yang malah cekikikan.
"Udah puas ketawa nya? Seneng lihat aku jadi seperti orang bodoh yang hampir aja hajar orang gak waras?"
"Hahaha, lagian Dev nya aja yang ndak mau dengerin Raina. Raina kan tadi udah bilang, dia itu ndak waras. Raina sudah tau dari awal, makanya ndak kepancing. Raina udah lihat gelang khusus pasien rumah sakit jiwa di tangannya, jadi ndak ketipu."
Usai menyantap makan siang mereka, kini Devano dan Raina sedang menuju ke sebuah alamat yang diberikan Fana. Menurut informasi, Fana berhasil meringkus Raihan dan perempuan yang mirip dengan Raina.
"Apa kalian sudah lama menunggu?" tanya Devano yang baru saja datang dengan Raina di sampingnya, lalu pria itu menatap dua oranv yang sedang menjadi tersangka kali ini.
"Dan apa ini, lagi-lagi Raihan?! Lo sepertinya gak ada bosan-bosannya ya cari masalah, seharusnya lo bersyukur karena gue gak penjarain lo!" lanjut Devano, pria itu hendak memukul Raihan, namun akhirnya tersadar ada Raina bersamanya.
Raina melepaskan rangkulan tangannya pada lengan Devano, gadis itu berjalan perlahan ke arah Raihan.
"Raina ndak nyangka, kak Raihan tega lakuin ini semua. Raina pikir, kak Raihan itu orang baik, maka dari itu kakak Raina ampuni. Tapi ternyata, buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Kak Raihan itu, 11 12 dengan tante Maria dan om Hans. Tapi sepertinya, kak Raihan juga harus merasakan apa yang mereka rasakan." Raina tersenyum sangat manis saat berbicara pada Raihan.
"Sayang, jangan tersenyum seperti itu sama dia aku gak suka!" cetus Devano, namun dihiraukan Raina.
Raina beralih pada perempuan yang berada di sebelah Raihan. Perempuan itu sangat mirip dengan dirinya, Raina bahkan sempat terkejut. Namun hanya sebentar, karena berikutnya Raina tersenyum misterius.
"Pandai sekali yaa permainan kalian, tapi sayang itu terlalu murahan. Kalian sudah pernah melakukan nya sekali, tapi bodohnya aku justru terpengaruh hingga pergi dari rumah. Apa kalian tidak memiliki cara lain untuk balas dendam? Aihhh rencana kalian sungguh kampungan."
Tangan Raina terangkat kearah wajah perempuan itu. "Apa wajah ini asli?" Raina menyentuh wajah perempuan itu dengan sentuhan lembut.
"Te-tentu saja, kau pikir wajahku ini palsu hah?!" marah perempuan itu, namun Raina tersenyum saat menemukan apa yang dirinya cari sejak tadi.
Srekk
"Akhh!"
__ADS_1
Kulit palsu di area jidad perempuan itu terbuka karena tarikan paksa Raina.
Srekk
Suara sobekan kembali terdengar, kali ini hanya tersisa area mulut dan dagu saja. Raina tersenyum sinis, sepertinya perempuan di hadapannya itu benar-benar nekat ingin menjadi dirinya sampai topeng silikon pun di beri perekat.
"Aww, apa rasanya sakit? Tenang saja, setelah ini kau akan mendapatkan wajah aslimu. Hihihi, jujur saja Raina sangat tidak menyukai darah. Apa Raina perlu melakukan sesuatu agar darah mu itu berhenti humm?"
"Sa-sakit, gue mohon lepasin gue hiks, jangan sakitin gue lagi hiks hiks gue mohon,"
"Rena, Rena, kamu itu ternyata bodoh yaa. Mau aja di jadiin boneka, ohh Raina tau. Kamu pasti mau, karena memiliki wajah yang cantik seperti Raina kan? Hahaha, tapi sayang. Raina ini ndak mempunyai rasa kasihan apalagi, untuk seseorang yang seperti mu."
"Apa Raina perlu membuka silikon yang terakhir?" tanya Raina, Rena menatap wajah Raina dengan wajah memelas.
Srekk
"Akhhh, kejam lo Raina!!"
"Ckckck, kalo udah tau Raina ini kejam kenapa masih mau main-main sama Raina heh?! Bersyukurlah, Raina tidak menyiksamu seperti apa yang di rasakan tante Maria dan om Hans. Aku cukup berbaik hati hari ini."
Tiga kali tarikan yang di lakukan Raina menampilkan wajah asli perempuan itu. Sekali lagi, Raina tersenyum sangat puas dengan hasil yang di dapatkannya.
"Apa yang lo lakukan hah?! Rena, lo gak apa-apa kan??" marah Raihan, namun sama sekali tidak berpengaruh untuk Raina.
"Kerja bagus Fana, tolong urus mereka baik-baik." Raina hendak pergi namun kembali berbalik, tersenyum pada Fana.
"Sepertinya sepupuku itu sangat merindukan kedua orang tuanya. Persatukan mereka berempat, jaga dengan baik oke. Jangan sampai mereka kabur, dan beri wanita itu pengobatan yang memuaskan. Raina sudah tidak sabar untuk bermain setelah wajahnya itu sembuh."
"Raina!! Lo gak bisa bikin gue kayak gini!! Lo harus bebasin kedua orang tua gue, Raina jangan pergi!!"
Raina dan Devano pergi begitu saja meninggalkan tempat itu. "Sayang, apa kamu tidak lelah? Sebaiknya kita pulang sekarang yaa,"
"Ndak kok, Raina belum lelah. Raina mau ketemu mereka sekarang, emangnya Dev mau Raina mati penasaran?"
"Baiklah, tapi kalo lelah bilang yaa sayang. Kamu harus banyak istirahat,"
"Iya Dev,"
Mobil yang di kendarai Devano dan Raina berhenti di depan sebuah rumah mewah. Tanpa berkata apapun, Raina turun tanpa menunggu Devano.
Ceklek
Pintu rumah mewah itu terbuka, Raina sudah tidak memperdulikan tata krama. Gadis itu masuk tanpa mengucapkan salam, apalagi mendengar suara gelak tawa dari dalam rumah itu.
"Lo emang hebat Ta, dengan begini kita pasti bisa hancurin keluarga itu." ucap seorang pria.
"Jelas dong kak, gue gak akan biarin mereka hidup tenang. Cewek manja itu udah berani rebut Devano dari gue, jadi biarin aja dia tanggung semua masalah yang gak dia lakuin sama sekali."
"Apa-apaan ini hah?! Jadi, selama ini kalian udah bohongin Papa?! Fabian, kamu baik-baik aja?! Apa maksud kalian? Papa gak pernah ajarin kalian jadi anak yang tidak tau malu seperti ini, bertahun-tahun persahabatan Papa hancur karena ulah kalian!" Johan yang baru saja datang sangat terkejut mendengar semua perkataan Fabian dan Tamara.
"Hebat, sangat hebat. Jadi ini, kakak kamu yang depresi itu? Sayang ya, ganteng-ganteng penipu." ucap Raina lalu memutuskan pergi dari rumah itu.
"Om Johan, didik kedua anak Om ini. Jika tidak, jangan salah kan saya kalo Raina yang akan mengajarkan mereka." Devano mengikuti langkah kaki Raina.
__ADS_1
Hari ini adalah hari yang melelahkan, Raina dan Devano pun memutuskan untuk pulang.