Takdir Cinta Raina (S1&S2)

Takdir Cinta Raina (S1&S2)
49


__ADS_3

Raina saat ini sedang berada di taman rumah sakit, gadis itu begitu kesal dengan kejadian beberapa saat lalu. Devano lebih memilih membela orang asing di bandingkan dirinya, bahkan dengan tega pria itu mengusir dirinya.


"Udah Gue bilang, pergi aja. Ngapain sih masih mau berharap?!"


"Ihhh diem deh kak Rachel, Raina lagi kesel ini!"


"Terserah Lo deh, awas aja ya kalo nanti ngadu ke Gue lagi."


Raina kembali terdiam, suara Rachel sudah tidak terdengar lagi.


"Raina? Kok Kamu bisa ada disini sih? Terus kak Vano sama siapa di dalam?" tanya Diva, gadis itu hendak pulang ke rumah namun terhenti saat melihat Raina.


Raina menolehkan kepalanya kearah Diva, gadis itu terlihat bingung melihat dirinya.


"Dev ngusir Raina, jahat kan Dia. Raina kesel pokoknya, udah ah Raina mau pulang aja bye!" jawab Raina sambil berlalu dari hadapan Diva. Diva tidak mengetahui apa yang terjadi antara Devano dan Raina, karena gadis itu sedang pergi untuk mengunjungi ruangan Devano palsu dan memastikan kesengsaraan pria itu setelah memakan bubur Ayam racikan Raina.


Diva menatap kepergian Raina dengan tatapan bingung, sebenarnya ada apa dengan kakak nya dan Raina? Kenapa Devano mengusir gadis nakal itu? Devano kan sangat memanjakan dan menyayangi Raina, tidak mungkin kakaknya itu mengusir Raina. Pikir Diva, gadis cantik itu akhirnya memutuskan untuk menemui Devano.


Diva tidak ingin kejadian beberapa minggu lalu kembali terjadi, Diva sangat tidak rela jika hubungan Raina dan Devano berakhir begitu saja.


Sesampainya di ruangan rawat Devano, mata Diva di suguhkan dengan pemandangan Devano sedang tertawa lepas dengan seorang gadis. Terlebih, Fana yang begitu lelap dalam tidurnya.


"Kak Vano, Dia siapa? Terus Raina nya mana?" Tanya Diva, gadis itu bersikap seolah tidak tahu jika Raina sudah pulang.


"Lohh dek, Kamu kok masih disini? Tadi katanya mau pulang? Raina udah kakak suruh pulang tadi." jawab Devano, pria itu terlihat seperti tidak pernah melakukan kesalahan sedikit pun.


"Oh iya, kenalin ini Sisil teman kecil kakak dulu. Kamu ingat kan? Yang selalu main sama kakak dan buat Kamu kesel tiap hari itu lohh." lanjut Devano,


"Hai Diva, senang bisa ketemu Kamu lagi." Sapa gadis itu.


Diva ingat, Sisil adalah gadis ambisius yang selalu merebut perhatian Devano hingga Diva selalu di abaikan. Sejak dulu, Diva tidak menyukai keberadaan Sisil karena sikap gadis itu yang selalu ingin menang sendiri.


"Hai." jawab Diva cuek, gadis itu malah pergi menemui Fana yang asik dengan dunia mimpinya.


"Fana, ayo bangun!"


Sedangkan di tempat lain, Raina baru saja sampai di kontrakannya.


"Hai cantik, akhirnya Lo pulang juga. Tega banget sih ninggalin orang ganteng di toko sendirian, udah gitu malam gini baru pulang lagi. Lu pikir Gue ini satpam hehh." Raina memutar kedua bola matanya malas, dirinya sedang dalam mood yang tidak baik dan sedang tidak ingin berdebat dengan pria di depannya ini.


"Makasih ya udah di jagain tokonya, Kamu silahkan pulang." jawab Raina dengan halus, namun terdapat usiran di perkataannya.

__ADS_1


"Gitu doang? Lo gak mau ngajakin Gue makan malam gitu? Gue laper kali nungguin Lo dari siang tadi. Wahh, parah sih, gila sih ini cowok seganteng Gue di usir, jahat banget Lo sumpah."


"Udah deh Sandy, Raina lagi ndak mood buat adu bacot sama Kamu! Raina udah bilang kan tadi, silahkan pulang Raina capek pengen bobo. Kalo mau makan, makan aja sendiri. Raina lagi ndak napsu makan!" ucap Raina dengan nada kesal.


Melihat ekspresi wajah Raina yang terlihat lelah membuat Sandy mengurungkan niatnya untuk mengajak gadis itu berdebat.


BRAKK


Pintu di tutup dengan kuat oleh Raina membuat Sandy terjungkal karena kaget. Pria itu terkejut dengan pintu yang di tutup dengan tiba-tiba dan Raina membanting nya cukup keras.


Tok tok tok


Baru saja Raina menutup matanya, pintu rumahnya kembali di ketuk membuat gadis itu terpaksa kembali bangun untuk melihat siapa yang datang.


Raina melirik jam yang sudah menunjukkan pukul 9 malam, siapa yang datang bertamu semalam ini?


"Iya, sebentar!" Teriak Raina saat ketukan di pintu tidak juga berhenti.


Ceklek


Raina terpaku melihat siapa yang berada di depan pintu, Sandy membawa dua paperbag dan tengah tersenyum lebar ke arahnya.


"Hai, ayo minggir biarkan orang tampan ini masuk." Tanpa persetujuan Raina, Sandy menerobos masuk kedalam kontrakan dan duduk di sofa.


"Gue baru aja duduk kok udah mau di usir lagi sihh, Gue dengan niatan baik loh balik lagi kesini." jawab Sandy.


"Ini, Gue tau Lo belum makan kan? Tadi Gue udah nyampe rumah, tapi karena ingat Lo baru pulang dan gak beli makanan jadi Gue inisiatif buat balik dan beliin Lo ini. Dimakan, jangan di lihatin doang."


"Kamu_"


"Bilang makasih nya nanti aja, Lo makan aja dulu. Awas loh ya kalo gak di habisin, itu di belinya pakai duit tau." Ucap Sandy memotong perkataan Raina, membuat gadis itu memberenggut kesal.


"Geer, Raina cuma mau bilang pintu rumahnya masih sama, belum Raina tutup juga, silahkan pulang." ucap Raina menatap Sandy dengan tatapan sengit.


"Jahat banget sih, Gue baru aja duduk loh udah di usir aja. Gak di tawarin minum gitu, atau apa." ucap Sandy dengan tatapan memelas. Sungguh menjengkelkan pria di hadapannya ini.


Raina menatap pria di depannya ini dengan tatapan kesal, sudah lelah jika ingin menanggapinya lagi. Dengan langkah kesal Raina pun pergi mengambilkan air untuk Sandy.


"Ini, cepat minum dan pergi dari sini!" ucap Raina, memberikan segelas air putih kepada Sandy. Kali ini Raina tidak mencampurkan apapun di dalam nya, gadis itu sudah sangat lelah dan hanya ingin segera mengistirahatkan tubuhnya.


Sementara itu, di rumah sakit Sisil belum juga menunjukkan tabda-tanda akan pergi dari ruangan rawat Devano. Diva yang melihat tingkah gadis di depannya itu sangat ingin mengajar wajahnya.

__ADS_1


Sedangkan Fana? Entah mengapa pria itu juga malah ikut-ikutan akrab pada Sisil, membuat Diva semakin kesal.


"Lo gak ada niatan buat pulang gitu? Gak tau malem yaa?" Sindir Diva, Sisil menoleh kearah gadis itu dan tersenyum kecut mendengarnya.


"Ahh iya, Aku baru ingat. Devano, Aku boleh gak nginep disini? Aku takut kalo mau pulang, ini kan udah malam. Belum lagi arah apartemen Aku ada gang nya, Aku takut kalo ketemu preman." ucap Sisil, hal itu membuat Diva memutar kedua bola matanya malas.


"Lo punya rumah, dan ini rumah sakit bukan penginapan. Sana pulang Lo, gak sopan banget jadi cewek!" Ketus Diva, mana mungkin gadis itu akan membiarkan Sisil tinggal di rumah sakit dan satu ruangan dengan kakaknya.


"Adek, gak boleh gitu ngomongnya. Kasian juga kan kalo Dia pulang sendirian malam gini, coba aja Fana bawa mobil pasti udah kakak suruh anterin Dek," ucap Devano membela Sisil, membuat gadis itu tersenyum penuh kemenangan.


"Sama Dia aja kak Vano baru bisa ngomong gitu, sedangkan sama Raina gimana? Kak Vano biarin aja tuh tadi Dia pulang sendiri, abis itu malah ketawa ketiwi sama cewek ini." ucap Diva, membuat Devano terdiam.


"Diva, Kamu kenapa sih? Lagian bener kata Bang Dev, kasian kalo Dia harus pulang sendiri malam-malam gini. Kalo terjadi apa-apa sama Dia gimana?" Sahut Fana.


"Huhh, dasar kalian cowok-cowok gak peka!! Untung aja Raina orangnya sabar, kalo gak udah abis kalian." ucap Diva, gadis itu membaringkan tubuhnya di sofa rumah sakit lalu menutup kedua matanya.


Keesokan harinya,


Raina sangat ingin berkata kasar sekarang, semalam dirinya sudah mengusir Sandy dari kontrakannya, dan saat Raina membuka pintunya gadis itu justru mendapati Sandy tertidur di teras.


"Apa Dia masih hidup? Tunggu, kalo Raina deketin nanti Dia jadi kegeeran. Tapi, gimana kalo Dia beneran mati? Ahhh, Raina ndak mau di penjara," gumam Raina, gadis itu hendak membangunkan Sandy namun pria itu lebih dulu bangun dan menarik pergelangan tangannya hingga Raina terjungkal dan jatuh keatas tubuhnya.


Raina terdiam saat wajahnya dan wajah Sandy hanya berjarak beberapa senti saja. Gadis itu mengerjab-ngerjabkan matanya membuat Sandy semakin terpesona dengan kecantikan gadis itu.


"A-apa yang Kamu lakuin, kenapa Kamu__"


"Hehh, Gue gak sengaja. Gue pikir tadi Lo itu guling makanya Gue tarik. Tapi ternyata bukan, tangan Lo aja kurus gitu." ucap Sandy menetralkan rasa gugupnya, sedangkan Raina tengah berusaha menormalkan perasaan nya dari rasa kaget.


"Kamu pikir Raina ini guling heh?! Ngapain Kamu masih ada disini?"


Keduanya terus saja bertengkar hingga suara dering ponsel Raina menghentikan perdebatan Mereka.


"Kenapa gak di angkat?" tanya Sandy saat Raina menolak panggilan di ponselnya.


"Bukan urusan Kamu, minggir sana Raina mau buka Toko!" jawab Raina dengan nada yang ketus, Sandy mengangkat kedua bahunya acuh lalu mengikuti kemanapun gadis itu pergi.


"Gimana Bang? Diangkat gak telponnya?" Tanya Fana yang mendapat gelengan dari Devano.


"Di tolak," jawab Devano dengan nada yang lesu.


Diva yang menyaksikan keduanya tersenyum sinis, apalagi saat melihat Sisil yang baru saja bangun dari tidurnya dan mencari perhatian kedua pria itu.

__ADS_1


"Emang enak gak di angkat, udah tau tunangan nya baperan. Lakuin kesalahan kemarin nelponnya hari ini, udah basi kali." sahut Diva, gadis itu sudah siap untuk pulang kerumah setelah semalam memutuskan untuk tinggal karena ingin mengamankan kedua pria itu dari Sisil. Entahlah, Diva sangat membenci kehadiran Sisil dari Mereka kecil hingga Mereka dewasa seperti sekarang.


__ADS_2