Takdir Cinta Raina (S1&S2)

Takdir Cinta Raina (S1&S2)
81


__ADS_3

Sore harinya, Raina merasa sangat bosan. Seharian Devano belum juga mengabari dirinya, sedangkan Raina tidak punya pulsa untuk menghubunginya lebih dulu. Mau pinjam ponsel orang, Raina malah gengsi.


"Ngapain lo ngelamun kayak gitu?"


"Kak Rachel baru pulang?"


"Nih bocah, di tanya malah balik nanya."


"Anterin Raina yaa kak Rachel, Raina mau ketemu Dev." pinta Raina, yang di jawab anggukan oleh Rachel tanpa berpikir panjang.


Rachel menghela nafas, usai menyimpan buku-buku yang di bawanya ke kampus justru melihat Raina yang katanya ingin bertemu Devano tapi malah hanya menggunakan baju tidur Hello kitty.


"Raina, lo yakin mau pake baju ini?! Ganti cepat sana, lo mau di usir security nanti?!"


"Ndak mau, Raina mau pake ini aja. Ini baju pemberian Dev, ayo kita pergi sekarang kak. Dev pasti masih di kantor," karena malas berdebat Rachel pun menuruti perkataan Raina, dengan cepat gadis itu melajukan mobilnya.


Setibanya di perusahaan yang di kelola Devano, Raina segera turun dan berlarian meninggalkan Rachel yang baru saja selesai memarkirkan mobil.


"Cihh, bener-bener deh bucin banget nih anak." cibir Rachel, gadis itu pun memutuskan untuk menyusul Raina. Rachel tidak ingin kembarannya yang ceroboh itu mendapat masalah.


"Ayo lah Pak satpam, beri tahu di mana Dev. Masa Pak satpam gak tau sih!" Raina terus saja mendesak satpam yang sedang berjaga di pintu masuk untuk memberitahunya dimana Devano berada sekarang.


"Maaf Nona, saya baru saja berganti shift dengan satpam yang lain. Saya tidak tau direktur ada dimana sekarang, Nona silahkan tanya saja pada sekretarisnya atau resepsionis." jawab satpam itu.


"Raina, ayo masuk! Lo ngapain disitu?! Mau temuin Devano atau satpam?" Rachel menatap Raina yang masih asik mencerca pertanyaan pada satpam.


Dengan wajah sedikit cemberut Raina pun mengikuti Rachel masuk ke perusahaan dan menuju meja resepsionis.


"Selamat sore, apa ada yang bisa saya bantu?" sapa sang resepsionis dengan tersenyum ramah pada Raina dan Rachel, meskipun tidak bisa dipungkiri resepsionis itu sedang menahan tawanya melihat pakaian yang di gunakan Raina.


"Saya Rachel, calon adik ipar dari direktur perusahaan ini. Apa pimpinan kalian masih ada di ruangannya?"


"Iya Nona, direktur sedang ada rapat penting dengan klien sejak 1 jam yang lalu. Jika berkenan, kalian bisa menunggu beliau di ruangannya yang berada di lantai 20."


Setelah mendapat informasi dari resepsionis, Rachel segera menyeret Raina agar mengikutinya karena takut kembarannya itu kembali membuat ulah.


"Kak Rachel, gimana dengan si Alvin itu? Udah ada kemajuan? Terus gantengan mana, Dev atau Alvin?" tanya Raina pada Rachel.


"Ngapain sih lo nanyain dia segala, lagian gue juga ogah di jodohin sama dia. Kalo lo mau, ambil aja sana. Tapi itu sih kalo Devano ijinin lo," jawab Rachel dengan nada ketus, mendengar nama Alvin malah membuatnya naik pitam. Apalagi saat gadis tau bahwa pria yang di gadang-gadangkan dengannya itu ternyata sudah memiliki kekasih, meskipun tidak memiliki perasaan apapun tapi tetap saja Rachel merasa kesal.


"Hati-hati loh kak, benci bisa jadi cinta hihihi," ucap Raina menggoda Rachel.


"Ngaco lo, udah bentar lagi nyampe nihh."

__ADS_1


Ting


Pintu lift pun terbuka, Rachel dan Raina melangkah dengan pasti menuju ruangan Devano. Namun di tengah perjalanan, seorang wanita dengan dandanan menor menghentikan langkah mereka.


"Maaf, kalian siapa? Dan ada urusan apa ke lantai ini? Apa kalian tidak tau, lantai ini khusus pimpinan! Dan lo, ini kantor bukan kamar tidur lo! Mana ada orang ke kantor pake baju tidur!!" ucap wanita itu memandang rendah Raina dan Rachel.


"Diem lo! Gue dan kembaran gue mau kemana bukan urusan lo, ayo Raina. Gue gak punya banyak waktu buat ngomong sama orang gak penting kayak dia ini!"


Rachel kembali menarik pergelangan tangan Raina meninggalkan wanita itu yang merasa kesal dengan perkataan Rachel padanya.


"Tunggu! Kalo kalian berani melangkah lagi, saya tidak akan segan memanggil security."


"Maaf Tante, ini perusahaan tunangan Raina. Apa hak mu melarang kami? Apa jabatan ku sangat berpengaruh disini? Jika iya, maka bersiap lah Raina akan membuatmu turun jabatan bahkan sampai kehilangan pekerjaan!"


"Heh anak manja, jangan sembarangan ngomong ya! Gue ini calon istri pak Devano, gue gak akan tinggal diam kalo lo berani macam-macam!"


Dengan kesal Raina maju mendekati wanita itu yang ber tag Nadia. "Bangun dari mimpi mu dulu, apa kenyataan sangat tidak sesuai ekspektasi mu? Hahaha, kita lihat saja nanti."


Raina kembali berbalik, gadis itu melewati Rachel begitu saja. Raina menuju ruang rapat yang tak jauh dari ruangan Devano, dan kebetulan sekali pintu ruangan itu terbuka. Rapat baru saja usai, Rayn yang menjabat sebagai asisten pribadi Devano belum mengetahui siapa Raina pun berusaha menahan gadis itu namun dengan cepat di singkirkan Rachel.


"Jangan ikut campur!" ucap Rachel, lalu mengikuti Raina masuk kedalam.


Ceklek


"Hiks, hiks, hiks, Dev jahat hiks,"


Devano terkejut melihat Raina yang tiba-tiba saja menangis dan memukul dada bidangnya, dan itu sangat menyakitkan.


"Hey, ada apa sayang? Aku hanya belum sempat memberi kabar hari ini, kau sudah menangis seperti ini?"


"Raina mau Dev pecat TANTE itu." ucap Raina sambil menunjuk ke arah Nadia yang diam mematung di depan pintu bersama Rayn.


"P-pak Devano, wanita itu tidak waras! Dia bahkan mengaku-mengaku sebagai tunangan Bapak, dan lihat saja pakaian nya. Dia dengan berani datang ke kantor dengan memakai pakaian tidur," ucap Nadia dengan berani tanpa memperdulikan tatapan tajam yang diberikan Devano.


"Beraninya kau?! Apa kau ingin angkat kaki dari perusahaan ini?"


"Ekhemm, maaf mengganggu tapi gue cuma mau bilang Raina belum makan sejak siang tadi." ucap Rachel, membuat Devano yang semula menatap Nadia dengan tajam berubah lunak saat menatap Raina.


"Ada apa? Kenapa kamu belum makan, gadis nakal?"


"Jangan salahkan Raina, salahkan saja Fana dan Dev! Gara-gara Fana, Kitty dan Tommy sakit perut. Gara-gara Dev ndak telpon Raina sejak kemarin, Raina jadi ndak napsu makan!"


"Dasar bucin," cibir Rachel, gadis itu memilih duduk di sofa dan memainkan ponselnya.

__ADS_1


"Sayang, kamu gak boleh gitu. Kamu harus tetap makan, kalo kamu sakit gimana? Kamu mau, pernikahan kita di undur lagi? Aku gak mau loh ya kasih kamu kiss kalo kita gak jadi-jadi nikah." ucap Devano pada Raina.


"Rayn, bawa makanan itu kesini." dengan patuh Rayn membawa beberapa kotak nasi ke meja yang di gunakan rapat tadi.


"Alvin, silahkan dinikmati. Gue pribadi meminta maaf karena sudah buat lo kelaparan dan harus menikmati hidangan sederhana ini."


"Tidak perlu sungkan Van, kita teman bukan? Ini bukan masalah, karena ini tetaplah makanan. Dan, gue gak pernah tau lo udah punya calon. Tapi, dia kenapa tidak asing?"


"Raina! Lo habisin tabungan gue lagi?!" Rachel menatap Raina dengan kesal. Bagaimana tidak, kembarannya itu kembali menghabiskan saldo tabungan nya, lagi. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali. Dengan alasan, jika tidak di habiskan saldonya itu akan di ambil tuyul.


"Selow atuh kak, tabungannya nanti Raina balikin." jawab Raina dengan santainya membuat Rachel semakin kesal.


"Nyebelin banget lo jadi adek,"


"Jangan sebel-sebel, nanti kakak suka lohh." jawab Raina lagi.


"Udah-udah, Rachel maaf yaa Raina udah nyusahin kamu. Raina, gak boleh jahil sama kakak sendiri. Cepet, balikin tabungannya."


Raina memberikan buku tabungan kepada Rachel, "ini buku tabungan yang baru. Nanti, kalo Papa transfer lagi cepet pindahin ke rekening ini. Rekening kak Rachel udah di bobol orang." ucap Raina, membuat Rachel terdiam.


Setelah memberikan apa yang seharusnya dirinya berikan pada Rachel, Raina kembali ke tempat nya semula. Gadis itu dengan lahap menerima suapan demi suapan dari Devano, mengabaikan keadaan sekitar termasuk Nadia yang terpojokkan.


"Ini, lo pasti juga laper kan." ucap Alvin, memberikan kotak makannya pada Rachel.


"Lo gak usah sok perhatian sama gue, lagian gue punya makanan sendiri." tolak Rachel dengan nada ketus, gadis itu bahkan enggan menatap Alvin yang sialnya adalah calon tunangan nya.


"Apa lo marah? Lagian, lo gak ada hak buat marah. Kita hanya korban PERJODOHAN, tapi wanita yang gue cinta bukan lo. Dan lo tau kan dia siapa?" ucap Alvin lagi, membuat dada Rachel semakin sesak mendengarnya.


"Apa sekarang lo lagi menyombongkan diri?! Kalo lo udah punya pacar, ya udah batalin aja perjodohan ini. Apa lo pikir gue suka rela nerima perjodohan ini, dengan senang hati gue sendiri yang akan batalin semuanya."


Alvin tersenyum mendengar perkataan Rachel, pria itu berjalan mendekat hingga hembusan nafasnya terdengar begitu sangat dekat di telinga Rachel.


"Silahkan, itu pun kalo orang tua lo berkenan. Apa lo gak sadar, lo itu cuma beban keluarga. Apa lo tega kecewain orang tua yang udah rawat lo dari kecil?" ucap Alvin, membuat Rachel mendengarnya karena hembusan nafas Alvin begitu dekat dengan telinganya.


"Lo pikir gue takut? Silahkan jika mereka tetap memaksa, kalo itu terjadi maka mereka harus terima untuk kehilangan putri nya untuk kedua kalinya. Ini hidup gue, mereka gak ada andil dalam kehidupan gue. Gue juga bukan anak penurut yang akan menuruti setiap perkataan orang tuanya, tentang jodoh, itu juga urusan gue. Jadi, bersiaplah setelah ini kita sudah tidak memiliki ikatan lagi." balas Rachel, gadis itu pun berlalu menuju Raina yang sedang bercanda gurau dengan Devano.


"Raina, ayo kita pulang. Tommy dan Kitty sedang sakit, lo mau Fana kembali kasih mereka makanan yang salah?" ucap Rachel, membuat Raina menganggukkan kepala nya mengerti.


"Dev, Raina pulang dulu yaa. Dev ndak boleh pulang larut malam, ingat sebelum pulang ke rumah papa Dimas, Dev harus nelpon atau temuin Raina dulu." pamit Raina pada Devano.


"Iya, sayang. Rachel, tolong jagain Raina yaa. Dan, jangan biarin dia ngerjain orang lagi,"


Rachel menganggukkan kepalanya, kedua gadis itu pun berlalu meninggalkan Devano dan yang lain.

__ADS_1


Sedangkan Alvin, pria itu masih memikirkan perkataan Rachel tadi. Jika Rachel benar-benar membatalkan perjodohan mereka, tetap saja orang tuanya akan mencarikan gadis lain untuknya. Alvin di buat frustrasi dengan keputusan sepihak Rachel, pria itu harus mencari cara agar Rachel mau melanjutkan perjodohan mereka kembali.


__ADS_2