Takdir Cinta Raina (S1&S2)

Takdir Cinta Raina (S1&S2)
38


__ADS_3

Hingga keesokan harinya, Dania dan Arnold masih setia menunggu Raina bangun dari tidur nya. Namun, hingga hari menjelang siang gadis itu tidak kunjung bangun.


"Yah, apa Dia baik-baik saja? Lihat lah, tidur pun seakan Dia sudah tidak bernyawa." ucap Dania pada suaminya.


"Iya, Kamu benar. Ya ampun, seperti nya gadis ini terkena demam karena kehujanan semalam." kaget Arnold, saat memegang kening Raina yang terasa hangat.


Dengan sigap, Dania mengompres Raina agar demam gadis itu bisa secepatnya turun.


"Sebenarnya apa yang terjadi dengannya? Sepertinya Dia sedang kabur lagi, keluarganya pasti mengkhawatirkan dirinya." ucap Dania sembari mengelus pucuk kepala Raina.


"Enghh, Paman, Bibi, Raina haus." ucap Raina, gadis terlihat pucat.


"Ini, minumlah. Setelah ini, makan dan minum obat mu yaa." Dania memberikan segelas air putih pada Raina yang langsung di tenggak habis, mungkin dirinya kehausan.


"Bibi, terima kasih." ucap Raina tersenyum tulus,


******


"Bagaimana ini, Raina kenapa belum juga bisa di temukan? Apa Dia di culik? Apa pekerjaan kalian hanya untuk bersantai saja hah?!! Cepat temukan putriku!!" Perintah Dewi pada para bawahan suaminya. Orang tua mana yang akan tenang jika anaknya belum juga bisa di temukan. Terutama Dewi, yang sangat menyayangi Raina dan memanjakan gadis itu.


Mengingat tiap tingkah nakal yang di lakukan gadis itu membuat Dewi bertambah sedih, tidak ada yang bertingkah nakal dan jahil membuat sedih nya bertambah berkali-kali lipat. Bima yang melihat isterinya sedih pun merasa sangat bersalah, Mereka sudah melakukan kesalahan sehingga membuat Raina kabur dari rumah.


☆☆☆☆☆


"Hiks, Bibi Mereka jahat hiks, Raina ndak suka!! Ayo bibi bunuh saja, Raina ndak tega lihat nya hiks,"


"Huaa kenapa di bunuh Bibi? Raina belum tuntas melihatnya, hiks, itu jahat sekali hiks, Paman Raina mau lap ingus di mana? Hiks, hiks,"


"Aduhh Bibi, Raina ndak suka itu nyeremin!! Huaaa, mukanya gosong!!"

__ADS_1


Dania dan Arnold sudah lelah meladeni Raina yang banyak maunya, gadis itu sedang sakit tapi tetap saja menyebalkan. Saat ini Raina sedang menonton tv bersama Dania dan Arnold di ruang keluarga.


Raina terus saja protes dengan tayangan yang di tampilkan, yang orang nya jahat lah, seram lah, nyeremin lahh, bucin lahh, semua nya Raina komentari dan ujungnya selalu meminta ganti chanel atau membunuh televisinya.


Yang parahnya lagi, saat menonton adegan sedih gadis itu turut menangis dan mengelap sisa-sisa air matanya di lengan baju Paman Arnold yang kebetulan duduk di sebelahnya. Untung nya Arnold sayang sama Raina, kalo tidak mungkin Arnold sudah marah. Apalagi bukan jejak air mata saja, ingus pun juga ikut tersapu di lengan bajunya.


"Baiklah, terserah Kau saja Nak. Bibi akan membuatkan makan siang untuk kalian," pasrah Dania, wanita itu lelah sedari tadi menuruti permintaan Raina. Meninggalkan Raina dan Arnold yang sedang menonton Tv, namun langkah nya terhenti saat pintu rumahnya di ketuk dengan brutalnya.


Dengan penuh penasaran siapa yang sudah bertamu ke rumahnya, Dania segera pergi untuk membukakan pintu. Sedangkan Si pengetuk terus saja mengetuk pintu dengan keras hingga mengundang perhatian beberapa tetangga sekitar.


"Iya, sebentar!!" Ucap Dania yang mulai jengah karena pintu rumah nya terus saja di ketuk, kan kalo pintu nya hancur sayang, sayang uangnya untuk mengganti dengan pintu yang baru.


"Devano?!" Ucap Dania saat melihat keberadaan Devano dan beberapa orang yang tidak di kenalinya.


"Bibi, apa Raina kemari? Dia kabur dari rumah sejak kemarin, Kami sudah mencari nya kemana pun dan hanya disini Kami belum mencarinya." ucap Devano, pria itu tidak ingin berlama-lama.


"Bibi ini siapa Van? Dan apa hubungannya dengan Raina?" tanya Siska, ya ketiga sahabat Raina juga ikut bersama Devano.


"Bibi!! Paman Arnold nakal!! Raina ndak mau minum obat!! Ahhh, Paman jauh-jauh!! Raina ndak suka bau obatnya!!!" Baru saja Mereka masuk, suara teriakan Raina sudah kembali terdengar sampai ke luar rumah.


Dania menghela nafas lelah, seharian ini Raina sudah membuatnya pusing. Bahkan tak jarang beberapa tetangga datang hanya untuk meminta Raina untuk menekankan volume suaranya, yang lebih membuat Dania bertambah pusing adalah beberapa pemuda yang memang menyukai Raina mulai berdatangan dan memaksa untuk menemui gadis itu.


"Huaa, Bibi hiks, Raina ndak mau minum obat hiks, hiks," adu Raina, dengan wajah yang berantakan karena tangisnya.


"Yah, jangan paksa Raina lagi! Telingaku berdengung tiap kali mendengarnya berteriak seperti ini." ucap Dania pada suaminya.


Arnold hanya diam, tanpa menjawab apapun. Tatapan pria itu tertuju pada seorang pemuda yang sedang bersama Rara. Senyum tipis terukir di wajahnya yang sudah tak muda lagi itu, Dania menyadari apa yang di pandangi suaminya. Dirinya pun juga begitu, paling tidak Mereka bahagia melihat pemuda itu baik-baik saja.


"Sayang?! Syukurlah akhirnya Aku menemukanmu! Kamu kemana saja humm? Kau tau, semua orang khawatir saat tau Kamu kabur. Maafin Aku yaa, ini salahku juga karena sudah tidak mendengarkan penjelsanmu." ucap Devano, pria itu sangat bahagia bisa -melihat Raina lagi. Pria itu memeluk tubuh mungil Raina dengan erat, begitupun dengan sahabat-sahabat Raina yang ikut senang karena Raina akhirnya bisa di temukan. Setidaknya perspektif Mereka salah, Mereka berfikir Raina kembali di culik.

__ADS_1


"Dev?? Hiks, kenapa Dev bisa temuin Raina hiks, hiks, Raina ndak mau pulang. Raina benci sama Dev, sama Mama Papa juga!! Kalian jahat udah marahin Raina hiks, pokoknya Raina ndak mau pulang!!" Bukannya senang karena Devano dan keluarganya mencarinya, Raina justru menolak untuk pulang.


Sepertinya sikap keluarganya kemarin sungguh membuat Raina sangat kecewa hingga enggan untuk memaafkan Mereka.


"Sayang, Aku benar-benar minta maaf sama Kamu. Aku salah karena udah gak percaya sama Kamu, tapi Kamu juga gak bisa egois gini. Kita semua sayang sama Kamu, Kita rela gak tidur cuma untuk ngabisin waktu buat nyari Kamu!" Ucap Devano, pria itu terbawa emosi mendengar perkataan Raina.


"Dev, Kamu nyalahin Raina? Kalian semuanya itu egois, Kalian tau kalo Shakira dan tante Yuna adalah dalang dari penculikan kemarin. Tapi Kamu dan Mama kan yang udah ijinin Mereka tinggal kembali di rumah?! Hanya beralasan balas budi, Kamu setuju dengan permintaan Mama buat ngijinin Dia tinggal serumah sama Aku!! Kamu gak pernah mikir kalo Aku yang tersiksa saat Dia masih ada di dekat Aku!" Marah Raina, bukan saat ini Rachel lah yang sedang mengambil alih tubuh Raina.


Kondisi fisik Raina sedang buruk akibat demamnya, itu sebabnya Rachel mengambil alih tubuh Raina dan berpura-pura menjadi gadis itu.


Devano tidak dapat berkata-kata lagi, disini Dirinya lah juga yang salah. Devano hanya tidak tega melihat Shakira dan Mama nya tinggal di jalanan, begitupun juga dengan Dewi. Wanita itu sangat berutang budi pada keluarga Yuna, terutama ayah Shakira yang sudah bersedia membantu nya untuk melanjutkan pendidikan hingga bisa bertemu dengan Bima dan akhirnya menikah serta hidup dalam kemewahan.


"Rachel, please biarin Raina yang berbicara. Jangan buat semuanya berantakan Chel, Gue tau itu Lo. Kasian Raina, Dia pasti pengen bicara juga sama Devano. Biarin Mereka selesain masalah Mereka berdua." Ucap Siska, dari awal Siska sudah menyadari bahwa Rachel lah yang sedang berbicara dan Raina berada di alam bawah sadarnya.


Tatapan mata Raina yang tajam meredup saat Siska berkata seperti itu, sedetik kemudian Raina berhasil kembali sadar.


"Dev, kenapa nyariin Raina? Bukankah, Dev menyesal telah memilih Raina?" tanya Raina, gadis itu tersenyum tipis dengan bibir yang pucat. Sangat berbeda dengan Raina yang selalu ceria dan menebarkan kebahagiaan.


"Maafin Aku sayang, Kamu bisa hukum Aku sekarang juga! Kamu pukul Aku, atau kasih Aku makanan buatan spesial Kamu. Aku rela lakuin apa aja yang penting Kamu mau maafin Aku, Aku benar-benar nyesel sayang." ucap Devano, pria itu kembali memeluk gadis di depannya. Kali ini Raina membalas pelukan Devano,


"Dev ndak perlu minta maaf, Raina udah maafin kok. Raina hanya kecewa, Raina juga minta maaf karena udah kabur dan buat kalian semua khawatir." balas Raina.


"Gadis nakal, akhirnya Kamu ketemu juga!! Kamu jangan buat Kita semua khawatir lagi yaa." Seru Fana, pria itu turut ikut kemanapun Devano pergi dan terlihat khawatir saat Raina menghilang. Fana merindukan teman berantemnya di rumah.


"Hai Kaleng Kerupuk, Raina ndak nyangka ternyata Kamu Khawatir juga sama Raina, Raina terharu, hihihi." ucap Raina, gadis itu terlihat lemas dan sangat pucat. Setelah berkata seperti itu, Raina jatuh pingsan di dalam delapan Devano.


Melihat Raina yang tiba-tiba pingsan, semuanya merasa sangat khawatir dan segera membawa gadis itu ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik.


Segini dulu yaa, jangan lupa vote, like, komen dan rate bintang 5 yaa 🥰 biar author tambah semangat nulisnya, biar cepet up juga pastinya🤗

__ADS_1


See u next time😘


__ADS_2