Takdir Cinta Raina (S1&S2)

Takdir Cinta Raina (S1&S2)
50


__ADS_3

"Ada apa Nak? Sedari tadi Kau terus bolak balik ke kamar mandi." tanya Sari pada Devano palsu. Ya, sejak kemarin Devano palsu mengalami sakit perut akibat bubur yang di buat khusus oleh Raina.


"Ini semua gara-gara Raina Ma, Dia sengaja mau buat Aku sakit perut seperti sekarang ini. Mama lihat, setelah berbuat Dia sedikitpun tidak datang untuk menjengukku lagi." jawab Devano palsu.


"Kamu ada-ada aja, ya gak mungkin Raina tega lakuin itu sama Kamu. Raina kan sayang sama Kamu, mungkin Kamu cuma salah makan aja." ucap Dimas, pria itu sibuk membaca koran sedangkan Sari sedang menyiapkan sarapan pagi Mereka.


Sari dan Dimas memang belum mengetahui perihal Devano palsu dan asli. Yang Mereka tahu Devano yang berada di hadapan Mereka saat ini ya anak Mereka.


Di ruangan Devano asli, Devano sedang di buat gundah karena Raina masih juga enggan mengangkat telepon darinya.


"Terus gimana dong? Abang khawatir, kenapa baru kepikiran sekarang sihh. Fana, Kamu tolong temuin Raina yaa. Tolong bawa Dia kesini, Abang kangen." ucap Devano yang di angguki Fana, tidak ada jalan lain selain menuruti permintaan Devano karena jika sudah seperti ini sangat sulit untuk membujuk Raina.


Persoalan Sisil, perempuan itu sudah pergi setelah kepulangan Diva. Jadilah saat ini Devano sendiri menunggu kabar dari Fana sembari mencoba untuk menghubungi Raina.


"Makasih ya,"


"Buat apa?"


"Makasih karena udah peduli sama Raina, maaf juga buat sikap Raina yang ndak sopan semalam. Dan makasih udah bersedia jadi satpam nya Raina yaa, untung aja Kamu ndak pulang. Raina ndak tau lagi gimana jadinya kalo preman-preman itu berhasil masuk ke rumah Raina." ucap Raina, gadis itu sudah sedikit tenang sekarang meskipun masih merasa sedih dengan sikap Devano kemarin.


"Ohh buat itu, iya sama-sama." ucap Sandy


"Raina lagi patah hati, jadi bawaannya pengen marah-marah terus. humm, dan makasih ya buat makanannya semalam." lanjut Raina sedikit malu karena sudah bersikap tidak sopan pada Sandy kemarin.


"Hahahah, jadi Lo lagi patah hati?! Oke, Gue paham sihh." Raina kini menyesal berbicara baik pada pria di depannya ini, di kasih hati ngajaknya gelut mulu.


"Nyebelin yaa, huhh!" Ucap Raina sambil berlalu.


Fana yang baru saja datang melihat semuanya, Raina begitu akrab dengan Sandy membuat Fana bingung. Pria itu tau bahwa Raina tidak mudah dekat dengan orang lain, namun mengapa sekarang gadis itu begitu dekat dengan pria itu? Pikir Fana.


Namun saat melihat wajah pria itu, Fana mengingat bahwa pria itu adalah pria yang dirinya ikuti hingga bisa menemukan keberadaan Raina.

__ADS_1


"Raina!" Panggil Fana, hal itu sukses menarik perhatian beberapa pengunjung Toko kue Raina termasuk Sandy dan Raina sendiri yang baru saja usai melayani pembeli.


"Raina, kenapa telepon dari Bang Dev gak Kamu angkat? Bang Dev khawatir, Dia minta Aku buat jemput Kamu." Ucap Fana saat dirinya sudah berada dekat dengan Raina.


"Ndak penting dan ndak peduli. Ndak ada gunanya Kamu kesini, Raina ndak mau datang ke rumah sakit lagi. Bilang aja sama Abang Kamu itu, jangan ganggu Raina lagi." jawab Raina, gadis itu melengos begitu saja meninggalkan Fana yang terdiam.


Raina begitu menyeramkan jika sedang dalam mode badmood seperti ini.


Karena penolakan Raina, Fana akhirnya kembali ke rumah sakit dengan tangan kosong.


"Fana, dimana Raina? Kenapa Kamu hanya sendiri?" Tanya Devano.


"Sorry Bang, tapi kakak ipar gak mau ikut. Bahkan Dia ninggalin Fana gitu aja dan nitip pesan kalo Abang gak usah ganggu Dia lagi," jawab Fana menunduk sedih.


"Segitunya ya Dia marah sama Aku, oke makasih ya." Devano begitu kecewa mendengar jawaban Fana, apa Raina begitu marah padanya?


"Udah, Kamu jangan sedih gitu. Sini, Aku suapin yaa. Kamu kan belum makan." Ucap Sisil, perempuan itu datang lagi dengan alibi khawatir pada keadaan Devano.


"Tapi Bang, Abang kan masih sakit."


Karena paksaan Devano, akhirnya Fana terpaksa harus menuruti permintaan abangnya itu.


Mereka pun sampai di depan rumah kontrakan Raina sekaligus Toko kue gadis itu, Raina terlihat begitu sibuk melayani pelanggan. Namun pandangan Devano jatuh ke seorang pria yang terus menerus membuntuti kemana pun Raina pergi hingga gadis itu tak jarang marah dengan kelakuan pria itu.


"Sandy, Kamu kenapa sih gangguin Raina terus?!"


"Gak ganggu gak seru, hehehe,"


Raina memutar kedua bola matanya malas, malas banget debat sama pria di depannya ini banyak jawabnya.


"Sayang," Raina menoleh dan mendapati Devano tengah menatapnya dengan tatapan datar. Raina baru saja ingin tersenyum, namun tertahan saat melihat keberadaan Sisil yang setia memeluk lengan kekar Devano.

__ADS_1


"Aku nelponin Kamu dari pagi tadi, tapi Kamu gak ada niatan buat jawab telepon dari Aku. Dan apa yang Aku lihat sekarang, Kamu malah asik berduaan sama laki-laki lain?!" ucap Devano,pria itu dengan jelas menunjukkan ketidaksukaan nya pada Sandy.


"Kenapa baru pagi tadi Kamu nelpon? Kenapa ndak dari kemarin? Apa begitu ndak berharganya Raina di hidup Dev?! Dev dengan teganya nya ngusir Raina karena kedatangan Dia! Dan sekarang Dev nuduh Raina?!" ucap Raina, terdapat kesedihan dalam kalimatnya namun Devano tidak menyadarinya.


"Kamu jangan kekananakan gitu dong, Sisil ini teman masa kecil Aku. Aku juga gak ada maksud buat ngusir Kamu, Aku rela kabur dari rumah sakit buat nemuin Kamu. Aku khawatir Raina, kenapa Kamu mengabaikan panggilan dari Aku?!"


Raina begitu takut saat melihat ekspresi wajah marah Devano, apa dirinya salah jika marah dan cemburu akan sikap Devano? Kenapa pria itu yang malah marah padanya?


"Raina emang kekanakan, Dev tau kan kalo Raina kekanakan?! Kalo ndak suka, silahkan pergi! Raina ingin sendiri!" Raina kecewa dengan perkataan Devano, dengan cepat Raina berlari dan masuk kedalam rumah.


"Lo Devano? Jadi Lo yang udah buat Raina patah hati? Lo gak seharusnya berbicara seperti itu sama Raina, Gue emang gak tau apa-apa tentang hubungan Kalian. Tapi Gue tau, kalo Raina benar-benar sayang sama Lo." Ucap Sandy, pria itu tidak tega melihat Raina yang sedih akibat perkataan Devano.


"Apa hubungan Lo sama tunangan Gue? Apa Lo selingkuhan nya?" Tanya Devano, pria itu masih cemburu pada Sandy rupanya.


"Gue emang suka sama Raina, tapi Gue sadar kalo Raina cuma cinta sama Lo. Jangan pernah kecewain Raina, atau Gue akan merebut Dia dari Lo." ucap Sandy, pria itu kembali duduk dan meninggalkan Devano bersama Fana dan Sisil.


Devano terdiam di tempatnya, pria itu merasa sangat bersalah saat menyadari perkataan yang sudah dirinya lontarkan pada Raina.


"Sayang, buka pintunya! Maafin Aku, gak seharusnya Aku bicara seperti itu sama Kamu,"


"Aku mohon Sayang, buka pintunya." pinta Devano namun tidak ada tanda-tanda pergerakan atau pun suara dari dalam kontrakan.


"Bang Dev!!"


"Devano!!"


"Bangun Bang, jangan buat Fana khawatir!"


Semuanya panik saat tubuh Devano tiba-tiba ambruk di depan pintu kontrakan Raina, dengan segera Fana membawanya ke rumah sakit. Sedangkan sandy, pria itu menggedor pintu rumah Raina dengan tidak sabaran. Karena tidak mendapatkan respon, Sandy mendobraknya dan mendapati Raina yang sedang menangis di rumahnya.


"Raina, Gue tau Lo sakit hati dengan perkataan Devano. Tapi Lo harus temuin Dia, Gue yakin Dia cuma keliru aja. Dia hanya masih terpaku dengan masa lalunya, dan itu tugas Lo buat nyingkirin masa lalunya itu Raina. Kalo Lo terus seperti ini, Devano bisa aja berpaling sama teman masa kecilnya itu." ucap Sandy.

__ADS_1


"Raina, Lo harus ke rumah sakit sekarang. Tadi Dia pingsan di depan kontrakan Lo." Lanjut Sandy membuat Raina menatapnya dengan wajah yang memerah akibat menangis.


__ADS_2