
Fana dan Raina berjalan mengendap-ngendap mengikuti Rachel yang baru saja keluar dari mobilnya. Keduanya sibuk memperbaiki penyamaran mereka, namun Raina atau pun Fana selalu mencela apa saja yang mereka gunakan.
"Kakak ipar waras, nyamar pake baju hello kitty? Gak sekalian dengan baju badutnya?"
"Fana, kamu waras nyamar pake costum spiderman?! Gak sekalian dengan kolor ijo nya?"
"Heh, remahan rengginang. Emang spiderman pake kolor ijo?"
"Kaleng kerupuk, ya mana Raina tau kan yang pake Fana,"
Pusing karena tidak mendapat pencerahan akan mengenakan penyamaran apa, Raina pun mengobrak-abrik seisi mobil Fana. Gadis itu menemukan sebuah wig, kumis palsu, topi dan cardigan.
"Ini, cepat pake!" Raina memberikan Wig dan kumis palsu pada Fana, lalu gadis itu memakai topi dan cardigan untuk menutupi pakaian hello kitty nya.
"Perfect, sekarang ayo kita lakukan investigasi! Fana sangat bersemangat, ayo cepetan kakak ipar keburu Rachel nya ilang." ucap Fana tak sabaran.
"Apa sih? Ribut banget deh, diam aja napa! Penyamaran gak boleh kebongkar, jadi mending kita disini aja." Almira dengan santainya melepas topi dan cardigan yang di pakainya lalu memejamkan matanya. Hal itu sontak membuat Fana sangat kesal.
"Ehh curut, kalo cuma mantau di mobil ngapain pake penyamaran segala sih?!" omel Fana tak terima, pasalnya pria itu malah mengenakan perekat pada kumis palsu hingga menempel sempurna di kumisnya.
"Buat gaya-gayaan aja sih. Udah ah, ngomong sama kaleng kerupuk bikin Raina laper." Raian berlalu begitu saja dengan santainya menuju kantin yang terlihat jelas di matanya. Melihat kepergian Raina, Fana pun ikut di belakang gadis itu.
"Bu, nasi gorengnya satu ya. Sama minumnya es jeruk aja," ucap Raina seolah sudah hapal dengan menu makanan di kantin itu.
"Eh Bu, saya juga pesan nasi goreng super jumbo yaa! Minumnya juga sama, es jeruk. Yang bayar dia ya Bu, kalo saya mah gak punya duit." sahut Fana, membuat Raina memutar kedua bola matanya dengan malas.
"Ngikut aja kamu,"
"Biarin, wlekk."
__ADS_1
Devano yang baru saja datang ke rumah Raina harus kecewa karena gadis itu baru saja pergi bersama Fana. Dan masalahnya, tidak ada yang tau mereka kemana.
"Beneran Ma, Raina baru aja pergi? Padahal aku kesini mau minta maaf karena gak sempat mampir semalam, sekalian bawain dia bunga. Ya udah Ma, aku titip bunganya yaa tolong simpanin ke kamarnya Raina. Aku mau nyari mereka dulu,"
"Iya, hati-hati ya nak."
Devano membuka GPS di ponselnya, untung saja Raina masih mengenakan cincin yang berisi pelacak hingga pria itu bisa melacak keberadaan Raina.
15 menit lagi pelajaran akan di mulai, namun dosen yang akan mengajar belum juga datang. Dengan sabar Rachel menunggu namun hingga 30 menit kemudian dosennya tak kunjung datang.
"Guys, sorry yaa. Paketan gue habis, jadi gak tau kalo hari ini pak Paijo gak masuk. Sorry semuanya, gue balik duluan yaa!" Mirna, yang di tugaskan untuk menghubungi dosen itu lari menghindari amukan teman-teman nya.
"Bener-bener deh si Mirna, selalu aja gitu kan gue jadi lapar jadinya. Chel, kantin yokk laper nih gue." ucap Sisi, sahabat Rachel. Tanpa berkata apa-apa pun, Rachel mengikuti Sisi dan Andin yang berjalan di depannya menuju kantin.
Sepanjang perjalanan, mahasiswa-mahasiswi yang mengenal Rachel terus saja menatap Rachel dengan tatapan aneh. Mereka seolah kaget dengan keberadaan Rachel, pengamatan mereka tak luput dari penglihatan Sisi dan Andin.
"Chel, lo habis ngapain? Kok mereka lihatin lo kayak gitu sih?" tanya Andin, Rachel mengangkat kedua bahunya tanda tak tahu.
"Rachel, lo kok disini? Bukannya barusan lagi di kantin yaa?" tanya Mira, teman sekelas Rachel menatap gadis itu dengan bingung.
"Apa sih lo, ini masih siang woy gak usah sok mistis dehh. Lagian Rachel tuh dari tadi sama kita di kelas, mana mungkin dia ada di kantin." sela Sisi.
"Ya elahh Si, gue serius gak sok mistis. Tapi pakaian mereka beda sih, yang di kantin justru dia tuh kekanakan banget. Dia lagi makan di kantin, berdua sama cowok berkumis. Kalo gak percaya lihat aja sendiri, anak-anak yang lain juga masih pada ada di sana kok." ucap Mira membantah tuduhan Sisi padanya.
"Tunggu, apa dia pake baju tidur?" Mira menganggukkan kepala nya mengiyakan pertanyaan Rachel.
"Hello Kitty?" lagi-lagi Mira menganggukkan kepalanya.
"Haishh, bener-bener deh tuh anak. Oke, thanks yaa."
__ADS_1
Rachel segera berlari menuju kantin, meninggalkan Sisi dan Andin yang meneriakinya. Setibanya di kantin, benar saja teman-temannya sedang mengerubungi Raina dan Fana. Bahkan, Gilbert yang terkenal begitu tergila-gila pada Rachel kini kembali di buat bertekuk lutut oleh Raina. Tidak, lebih tepatnya Fana. Raian yang hanya mengenakan pakaian tidur hello kitty tentu saja menambah kesan menggemaskan dari gadis itu, bukannya ilfeel Gilbert justru semakin tergila-gila
"Masih mau lo gangguin kakak ipar gue hah?! Berani colek sedikit, gue patahin tangan lo." ucap Fana seraya memelintir tangan Gilbert.
"Udah Fana, ndak baik jadi anak nakal. Nurut deh, kita disini buat jadi mata-mata. Cepetan makan, kalo kak Rachel tau bisa abis Raina kena omel." belum juga sedetik Raina berbicara, sebuah jeweran manja kini bersarang di telinganya.
"Bandel ya lo, udah gue bilang gak usah ikut malah ngikutin gue diam-diam!" omel Rachel menatap Raina dengan tajam.
"Hehehe, maaf atuh kak. Lagian kak Rachel keras kepala, kan Raina cuma mau jagain kak Rachel selagi di kampus. Kalo si Alvin itu nyamperin kak Rachel kesini gimana? Kak Rachel mau emang nya di paksa nikah?"
"Tapi gak gini juga Raina, ini lagi pake acara nyamar. Itu, pakaian lo gak di ganti lagi. Heran gue kok bisa Devano betah sama lo," Rachel memijat kepalanya yang terasa pening karena kelakuan Raina.
"Sayang, kamu disini ternyata. Kau nyariin kamu di rumah tadi, kok pergi gak bilang dulu ke aku?" Devano memecah kerumunan dan memeluk Raina yang setia mendengar ceramah dari Rachel.
Raina terkejut melihat kedatangan Devano yang tiba-tiba, begitupun dengan Fana dan Rachel. Bahkan anak-anak lain juga terkejut dengan kedatangan Devano. Mereka sama sekali tak menyangka, pria muda sukses yang menjadi idola mereka kini berada di kampus mereka sendiri.
"Dev kok tau Raina disini?"
"Bagus deh lo datang, nih bawa calon istri lo pulang. Kasih tau, jangan ngikutin gue lagi. Kayak gak ada kerjaan aja," ucap Rachel setelah sadar dari keterkejutannya.
"Maaf ya, ayo sayang. Hari ini, aku akan luangin waktu buat kamu. Jadi, gak usah jadi penguntit untuk hari ini. Fana, sebagai gantinya kamu yang jagain Rachel."
"Eh?! Gak, gue bisa jaga diri gue sendiri. Lagian, Raina aja yang berlebihan." tolak Rachel, namun Fana sudah mengangguk setuju.
"Oke Bang, tapi makanan nya bayarin yaa." sahut Fana, Devano hanya menganggukkan kepalanya.
"Lo gak perlu sungkan Chel, gue udah lama kenal Raina. Dia gak akan lakuin ini kalau gak ada yang terjadi, lo jaga-jaga aja. Fana isa di percaya kok, biarpun culun dan kekanakan dia punya pasukan sendiri buat jagain dia."
Devano dan Raina pun pergi meninggalkan kantin dengan penuh tanda tanya. Sedangkan Fana, pria itu malah asik tetap memakan makanan nya.
__ADS_1
"Sayang, kita mau kemana hari ini? Aku akan turutin semua permintaan kamu hari ini," ucap Devano, membelai wajah chubby Raina dengan lembut.
"Kita tetap ikutin kak Rachel, itu mangsa nya udah datang." jawab Raina, seraya menunjuk Alvin yang baru saja datang bersama seorang gadis cantik.