Takdir Cinta Raina (S1&S2)

Takdir Cinta Raina (S1&S2)
76


__ADS_3

"Itu kan," Fana tampak berfikir, namun seakan nama pria itu sulit untuk disebutkan nya.


"Raihan! Ya, itu adalah Raihan. Tapi, ada hubungan apa perempuan mirip kakak ipar itu dengan Raihan? Apa semua yang terjadi kemarin juga ulah Raihan? Aku harus cepat bertindak dan memberi tahu bang Dev." Fana menghubungi salah satu anak buah kepercayaan nya untuk mengikuti kemana perempuan yang mirip Raina itu pergi.


Setelah puas menjadi penguntit, Fana pun memutuskan untuk pulang dan memberitahukan informasi yang di dapatkan nya pada keluarga yang lain.


Setibanya di rumah, Fana hanya menjumpai Bima, Dewi, Dimas, Sari dan Sinta yang sedang bercengkrama di ruang keluarga.


Melihat anak manjanya datang, Sinta langsung saja menanyai Fana dengan berbagai pertanyaan. "Kamu dari mana Fana? Bunda telponin gak di angkat-angkat."


"Bunda, anak nya pulang bukannya di tawarin minum malah di tanya-tanya." bukannya menjawab, Fana malah ikut ngomel.


"Hehh, kamu ini yaa. Wong kalo orang tua bertanya tuh di jawab, ini malah ikutan ngomel."


"Duduk dulu Bunda, Fana punya berita penting."


Semuanya menatap Fana dengan tatapan bingung. "Ada kabar apa Memang nya Fana? Muka kamu kok serius gitu."


"Tadi Fana lihat perempuan yang mukanya mirip sama kakak ipar, tapi anehnya mereka akrab banget. Apa, ini tidak aneh?" semuanya terkejut mendengar perkataan Fana, tidak mungkin Raina akrab pada Raihan. Bima dan Dewi tau, Raina sangat tidak terlalu dekat dengan sepupu-sepupunya. Jadi bagaimana mungkin gadis itu bisa terlihat akrab pada Raihan.


"Itu tidak mungkin Fana, pagi tadi Raina pergi ke toko bersama kedua pelayannya. Dan untuk wajah yang mirip dengan Raina, Raina sudah tidak memiliki kembaran. Rachel sudah meninggal 9 tahun yang lalu. Jadi bagaimana mungkin dia hidup kembali dan bangkit dari kubur," sahut Dewi.


"Tapi Tante, itu benar. Perempuan itu sangat mirip dengan kakak ipar, tapi cara berpakaian dan gaya nya sangat berbeda. Fana juga tidak percaya sih, soalnya kalo itu kakak ipar pasti dia bisa tau Fana ada di sana tadi."


Semuanya merenungi perkataan Fana, jika benar ada orang lain yang mempunyai wajah yang sama dengan Raina, siapa perempuan itu? Mengapa hadirnya perempuan itu justru membuat ketenangan keluarga mereka goyah?


"Fana, sekarang istirahat lah biar masalah ini jadi urusan kami." Fana mengangguki perkataan Bima, lalu segera pergi menuju kamarnya.


...----------------...


Seorang gadis baru saja memasuki sebuah mansion dengan mobil mewahnya. Gadis itu keluar dari mobilnya dengan wajah datar.


"Kamu pulang kenapa gak kabarin kami nak? Gimana sama sekolah kamu disana, lancar?"


"Kan kejutan, udah lama aku gak pulang kesini. Sudah 2 tahun, tapi rumah ini tidak berubah sama sekali. Kabar aku baik kok, kalian sendiri bagaimana? Maafin aku ya, aku gak pernah pulang dan biarin kalian sendiri di usia renta." gadis itu menatap sepasang suami isteri yang selama ini selalu menyayangi dan melindunginya dengan sangat tulus.


"Tidak nak, justru kami senang kamu bisa melanjutkan sekolah di tempat yang kamu inginkan. Ayo, Mama sudah menyiapkan makanan yang sangat lezat buat kamu."


"Iya Mama, kalian duluan aja ke meja makan nya. Aku mau nyimpen ini ke kamar dulu." gadis itu pamit dengan koper nya, membuat kedua orang tuanya.


30 menit telah berlalu, namun yang di tunggu tidak juga kunjung datang. Menyadari sang anak belum juga keluar dari kamarnya, kedua orang tuanya menjadi sedikit panik.


"Apa kebiasaan Vika belum hilang? Lebih baik Mama panggil dia dulu, Papa tunggu sebentar yaa."


Saat memasuki kamar Vika, tidak terdengar suara apapun dari dalam. Mama Vika hanya mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi.


"Vika, apa kamu di dalam nak? Ayo cepat turun, ini sudah waktu nya makan malam!" panggil mama Vika yang bernama Rika.


Ceklek


Pintu kamar mandi terbuka, Rika hanya bisa geleng kepala melihat tingkah sang anak. Ini adalah kebiasaan Vika sejak kecil, gadis itu sering kali tertidur di kamar mandi.


"Vika, sayang ayo bangun. Kamu kok masih suka tidur di kamar mandi sih sayang. Ayo cepat tukar pakaian, Papa udah nungguin loh dari tadi."


"Iya Mama,"


15 menit kemudian, Vika pun datang dengan penampilan nya yang terlihat segar. "Anak Papa, habis tiduran di kamar mandi lagi humm?"


"Heheh, iya Pa. Enak sihh, abis mandi langsung tidur gitu." Rika dan suaminya Ryan hanya geleng kepala mendengar jawaban dari Vika.


"Oh iya, bagaimana hubungan kamu dengan pria itu? Apa dia masih saja mengejar kamu? Papa harap dia sudah menyerah." tanya Evan pada Vika, namun yang di tanyai malah melamun.


"Vika, kamu denger kan apa yang Papa omongin tadi??" Vika menggeleng kan kepalanya dengan tegas.


"Emang Papa ngomong apa tadi?"

__ADS_1


"Sudahlah, habiskan dulu makanan mu."


Seusai makan malam, Ryan kembali menanyakan pertanyaan nya tadi pada Vika.


"Dia gak akan pernah nyerah Pa, bahkan kabar yang aku dengar dia sekarang depresi dan terus aja nyariin aku."


"Vika, sebaiknya diselesaikan baik-baik nak. Papa dan Mama tidak mau terjadi hal yang tidak inginkan nanti kedepannya." nasehat Ryan, namun Vika hanya menganggukkan kepalanya saja tanpa memberikan jawaban pasti.


"Jangan cuma angguk-angguk kepala, Mama tau kamu seperti apa. Jangan buat anak orang sakit hati, bagaimana jika nanti dia mau balas dendam?" Rika turut memberikan nasehat pada Vika.


"Ma, Pa, aku gak mau bahas dia lagi okay?? Lagian aku sama dia juga udah gak ada hubungan apa-apa, salah dia sendiri kenapa jadiin aku sebagai bahan taruhan. Emang dia pikir, aku ini barang!"


Vika akhirnya mengeluarkan pendapatnya, membuat Rika Ryan terdiam. "Baiklah jika keputusanmu seperti itu, Mama dan Papa hanya akan mendukung saja."


"Ya udah, aku ke kamar dulu ya Ma, Pa, besok harus survei kampus yang pas buat aku."


Setelah kepergian Vika, pasangan suami istri pun hanya bisa saling pandang. Rasa sayang mereka pada Vika begitu besar, mereka terpaksa harus turun tangan sendiri untuk membantu masalah Vika.


Kembali pada kediaman Aryasetya, semuanya di sibuk kan dengan pembahasan mengenai perempuan yang Fana lihat di cafe bersama Raihan.


"Dek, kamu gak salah lihat? Bukannya, Raina sedang ada di toko nya tadi. Tapi kenapa bisa berada di cafe? Aku gak ngerti sama sekali," Devano terlihat sangat bingung sekarang.


"Itu dia Van, kami juga bingung. Apa mungkin perempuan itu suruhan Raihan untuk menjebak Raina? Mereka tidak berhasil melancarkan rencana yang dulu, bisa saja mereka sengaja melakukan ini. Apa lagi melihat kemarahan anak Johan kemarin, dia begitu sangat yakin bahwa Raina adalah perempuan yang sudah membuat kakak nya depresi." Devano hanya diam mendengar perkataan Bima, tak lama kemudian Raina pun pulang bersama kedua pelayannya dengan Tommy dan Kitty di gendongannya.


"Ada apa?? Kenapa natap Raina seperti itu?" tanya Raina saat menyadari seluruh mata tertuju padanya.


"Kau baru pulang sayang? Bagaimana, apa di toko lancar?" Bima menghampiri Raina dan mengalihkan pembicaraan mereka. Bima tidak ingin Raina kembali mengingat tentang kejadian kemarin dan mengetahui apa yang sedang mereka bahas.


"Lancar kok, calon suami Mbak Saras bekerja dengan sangat baik. Tapi ada yang aneh tadi, bagaimana mungkin Raina bolak balik ke toko dan berpura-pura ndak kenal sama Sandy. Sandy pasti salah lihat, mungkin saja itu hanya sedikit mirip."


"Maksud kamu apa sayang?" Raina menatap mereka yang sedang menantikan jawaban darinya.


"Tanya aja tuh sama Sandy kunci indomaret,"


"Nak Sandy, sebenarnya apa yang terjadi? Apa maksud dari perkataan Raina?"


Sandy pun menjelaskan apa yang terjadi tadi di toko sebelum Raina dan kedua pelayannya datang.


"Ini memang masalah yang serius, Raina untuk sesaat lebih baik kamu diam di rumah aja dulu yaa. Kondisi sedang tidak memungkinkan, kami takut terjadi sesuatu yang akan membahayakan kamu." Raina hanya menganggukkan kepalanya mendengar perkataan Sari, calon ibu mertuanya.


"Baiklah, kalo begitu Raina mau ke kamar dulu." tidak ada yang menyadari, raut wajah Raina berubah murung.


Selepas kepergian Raina, Mereka kembali melanjutkan perbincangan mereka yang tertunda. Hingga dering telepon Fana membuyarkan perbincangan mereka.


"Kalian sudah menemukan tempatnya? Kenapa begitu mudah? Awas saja kalo kalian berbohong." Fana mematikan teleponnya secara sepihak, tentu saja membuat orang yang menelponnya menggerutu kesal.


"Ada apa? Apa sudah ada kabar?" tanya Sinta, wanita masih enggan meninggalkan Fana hingga memutuskan untuk tinggal.


"Iya Bunda, tadi salah satu orang suruhan aku nelpon kalo dia sudah berhasil nemuin tempat tinggal perempuan itu." jawab Fana.


"Ya sudah, tunggu apa lagi. Ayo kita kesana sekarang juga,"


"Bang, biar Fana aja yang cek. Sebaiknya Bang Dev disini, temuin kakak ipar tadi kelihatannya dia lagi nahan sesuatu deh."


Devano mengernyit bingung, apa maksud Fana? Pria itu tidak merasakan sesuatu yang aneh pada Raina tadi.


"Nahan sesuatu apa maksud kamu?"


Fana terus berjalan menuju pintu keluar, lalu memutar kepalanya menatap Devano dengan tatapan jahil. "NAHAN BOKER BANG, HAHAHAH" suara tawa Fana menggema membuat Devano kesal karena sudah menanggapi perkataan Fana.


"Awas ya kamu, lihat aja nanti," ancam Devano.


Karena perkataan Fana tadi, Devano jadi kepikiran. Pria itupun memutuskan untuk menemui Raina di kamarnya. Dan benar saja, saat memasuki kamar gadisnya terlihat Raina yang duduk diam di pojokan dengan mata yang memerah. Devano sangat yakin, mata gadisnya merah karena habis menangis. Bahkan, sisa jejak-jejak air matanya pun masih ada.


Dengan perlahan Devano menghampiri Raina yang sepertinya sedang melamun.

__ADS_1


"Ada apa sayang? Apa ada masalah?" tanya Devano, Raina pun menatap Devano yang kini duduk di hadapannya dan menghapus jejak air matanya.


"Tadi Om Johan datang ke toko."


"Dia akan nuntut Raina kalo Raina ndak mau ngaku."


Devano di buat terkejut dengan perkataan Raina. Bukankah kemarin Johan sudah mengatakan jika bukan Raina yang membuat putranya depresi? Lalu kenapa dia masih saja mengancam akan menuntut Raina? Apa kemarin, pria itu hanya pencitraan semata?


"Tidak mungkin sayang, bukankah dia sudah bilang kalo bukan kamu perempuan itu? Berani sekali dia mengancam kamu!"


"Raina juga ndak tau, tapi dia bilang. Kalo Raina orangnya, Raina yang udah buat Fabian depresi. Tapi Raina sama sekali ndak tau apa-apa hiks, hiks, Raina ndak mau di penjara hiks, hiks, kalo hiks Raina di penjara hiks, hiks, kita ndak jadi nikah dong hiks, hiks, huaaa pokoknya Raina ndak mau di penjara!!"


"Iya sayang, kamu gak akan di penjara. Lihat aja, aku akan buat perhitungan sama dia karena udah buat kamu nangis kayak gini."


Karena kelamaan menangis, akhirnya Raina tertidur di dalam pelukan Devano. Sementara itu, kini Fana sudah sampai di tempat tujuan. Alamat yang dikirim kan bawahannya membawanya ke sebuah rumah mewah.


Tanpa ragu Fana mengetuk pintu, dan tak lama kemudian seorang wanita keluar dan menatap Fana dengan tatapan bingung.


"Maaf, cari siapa yaa?" tanya wanita itu.


"Perkenalkan nama saya Fana, saya ingin bertemu dengan pemilik rumah ini. Apa boleh?" jawab Fana dengan memasang senyum pepsodentnya.


"Baiklah, silahkan duduk. Saya akan memanggil nyonya," wanita itu pun pergi.


"Awas saja kalo dia memberiku alamat yang salah," gumam Fana mengumpati bawahannya yang memberinya informasi.


"Siapa yaa? Saya sepertinya tidak mengenal adik," seorang wanita seumuran orang tuanya pun datang dan menghampiri Fana yang sibuk mengumpat.


Bukannya menjawab, Fana malah memperhatikan wanita itu dengan tatapan intens.


"Maaf Tante, apa Tante memiliki anak?"


"Ya, saya mempunyai anak satu_"


"Hahh, syukurlah." Fana memltong perkataan wanita itu hingga membuat wanita itu sedikit kesal.


" Ada perlu apa ya kesini?" wanita itu terlihat tak sabaran dan terus mendesak Fana agar menjawab pertanyaan nya.


"Hehehe, tidak apa-apa Tante. Apa anak Tante itu perempuan?"


"Ma, aku lapar. Bibik udah masak belom?" seorang pemuda datang dan memanggil wanita itu dengan sebutan mama.


Fana shock pemirsa, pria itu pun hendak bertanya lagi namun wanita sudah terlihat kesal dan meninggalkan nya sendiri dan masuk kedalam rumahnya.


"Ehhh, yahh ditinggal. Masa cowok ganteng gini ditinggal sihh, awas ya kamu Budi berani bohongin Fana" karena kesal di tinggalkan, Fana pun memutuskan untuk menelpon bawahannya yang bernama Budi itu untuk bertanggung jawab.


"TANTE, FANA MINTA MAAP YAKK. JANGAN MARAH, NANTI TANTE TAMBAH TUA." teriak Fana sebelum meninggalkan rumah itu dan masuk ke dalam mobilnya. Fana bisa mendengar suara wanita itu mengumpati Fana namun dihiraukannya.


"Beraninya kamu bohongin saya heh?!"


"Saya tidak bohong Pak Bos, perempuan itu memang pulang ke rumah mewah itu. Bahkan, saya melihat kedua orang tuanya menyambutnya."


"Apa matamu perlu di kasih vitamin?? Jelas-jelas mereka hanya memiliki satu anak, dan itu pun laki-laki. Saya tidak mau tau, cepat cari informasi yang lebih akurat lagi!!"


"Baiklah Pak Bos, lalu bagaimana dengan bonusnya apa masih berlaku Pak Bos??"


"Hehh tidak usah pikirkan bonus, tidak ada bonus-bonus segala. Cepat lakukan pekerjaanmu, tidak ada bonus selama 1 tahun!!" terdengar helaan nafas pasrah dari ujung telepon, Fana tidak mempedulikannya dan mematikan sambungan secara sepihak.


"Sungguh tega dirimu Pak Bos,"


Sebenarnya mau up dari kemarin, tapi gak sempat. Gak papa ya kan😅


Jangan lupa vote, like, komen dan share yaa


See u next time🤗

__ADS_1


__ADS_2