
"Bunda, aku mau ketemu sama kak Dev. Aku rindu sama kak Dev, bunda, kak Dev udah gak pernah jengukin aku." ucap seorang remaja sekiranya, remaja itu seumuran dengan Raina berusia 19 tahun.
"Iya nak, kamu jangan gitu dong mukanya bunda jadi gak nahan buat gak nguyel-nguyel kamu nanti." jawab sang bunda, remaja itupun menatap bunda nya sambil mencibir.
"muka aku biasa aja juga tetap di uyel-uyel kok." Sang bunda terkekeh mendengar perkataan sang anak.
******
"apa lihat-lihatin tunangan Raina kayak gitu?! matanya mau Raina colok heh?!!" marah Raina pada Nandini, putri kepala desa yang terkenal sombong akan jabatan yang dimiliki sang ayah.
"masalahnya buat kamu apa?! mas ganteng nya juga ndak marah tohh, kamu mending pulang sana mandi terus bobo siang. anak manja kayak kamu itu ndak cocok jadi pasangannya mas ganteng." jawab Nandini dengan nada yang ketus, baiklah seperti nya gadis desa ini ingin bermain-main dengan seorang Raina.
Devano hanya diam melihat perdebatan sang gadis, pria tau bahwa Raina bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Nanti saja dirinya ikut campur kalo gadis desa itu berani menyakiti gadisnya.
"Bibi Dania, apa Raina sangat sering kesini? saya lihat Dia sangat senang berada di sini, dan apa mereka memang selalu bertengkar seperti itu?" Tanya Devano pada Dania.
Dania tersenyum maklum melihat kebingungan di wajah Devano. Meskipun sudah mengetahui semua rahasia yang di lakukan gadis itu di belakang keluarganya, tapi tidak sampai sedetail ini. Devano hanya fokus menyelidiki masa lalu Raina bukan aktivitas yang absurd seperti ini.
"Sejak pertemuan kami waktu itu, nak Raina memang selalu kesini jika ada waktu. Dia gadis yang begitu periang dan energik, bahkan sangat sering kali gadis itu membuat pertengkaran kecil dengan gadis-gadis lainnya. Alasannya cuma satu, Raina terlalu cantik untuk berada di desa seperti ini." jawab Dania.
Pria tampan itu semakin tak habis pikir melihat tingkah Raina, bagaimana tidak gadis nakal itu lagi-lagi berhasil mengelabui lawannya. Bahkan, Nandini yang terkenal tidak pernah mau mengalah pada siapapun kini tunduk di hadapan Raina.
Devano terbahak melihat ekspresi wajah Raina yang tersenyum miring meledek wajah Nandini yang sudah merah karena memakan begitu banyak sambal rujak buatan Dania.
Raina berhasil menantang Nandini untuk menghabiskan semangkuk rujak dengan cabai yang begitu banyak, sementara dirinya untuk mengelabui Nandini mangkuk rujaknya di taburi biji wijen sehingga nampak seperti biji-biji cabai. Tentu saja Raina yang memenangkan tantangan itu, Nandini dengan wajah yang merah menahan pedas di mulutnya sedangkan Raina dengan wajah senang dan ekspresi tanpa rasa pedas sedikitpun. Licik sekali kamu sayang, batin Devano tertawa pelan.
"hahahah, muka nya hahahahah merah kek tomat kelindas gerobak hahah," Raina terus menertawai Nandini yang sedang menahan rasa pedasnya, wajah gadis desa itu semakin merah karena mendengar perkataan Raina.
__ADS_1
"Kamu ngerjain aku ya?!! Hahh, awas kamu yaa. Aku akan laporin kamu sama ayah dan kakak aku biar kakak aku gak suka lagi sama kamu!!" Teriak Nandini dengan nada marah.
"Dasar tukang ngadu, ya udah ngadu aja sana. Nanti kita Raina juga mau ngadu sama Dev kalo ayah kamu berani marahin Raina." bukannya takut, Raina malah ngancam balik pake bawa-bawa nama Devano lagi.
Devano yang sedang sibuk bercerita dengan Dania dan Edgard tidak mendengar apa yang di katakan Raina.
"Dev, kita pulang yuk Raina capek." ucap Raina, memeluk Devano dengan manja. Setelah berpamitan, mereka pun memutuskan untuk pulang. Namun, mereka kembali di kejutkan dengan Raina yang tiba-tiba saja kembali menoleh pada Dania dan suaminya.
"Oh iya, bibi Nini dan paman Ed besok datang yahh di pertunangan kita. Udah, Raina cuma mau ngomong itu aja kok heheh." Ucap Raina sambil tersenyum lebar, Devano sudah menyampaikan pada mereka jadi mereka sudah mengetahuinya.
"Ehh gadis sok polos!! Mau kemana kamu?! Urusan kita belum selesai ya!!" Teriak Nandini saat Raina baru saja akan masuk kedalam mobil yang pintunya sudah di buka kan oleh Devano.
Raina memutar kedua bola matanya malas, berdebat dengan Nandini bisa berkepanjangan seperti ini membuat gadis itu lelah.
"Apa benar kamu sudah berani mengerjai anak saya?!" Tanya pak Kades yang sepertinya ikutan marah karena hasutan anaknya.
"Bohong ayah, mana ada cowok kota kaya raya seperti mas Devano ini mau sama cewek idiot kayak dia! Lebih pantasan juga sama aku." ucap Nandini dengan sombongnya, jangan salahkan Raina kalau gadis itu main cakar yaa salah kan saja mulut Nandini yang tidak tahu malu.
"awww!" Tuh kan, baru juga di bilang gangguin macan betina sihh.
"Apa yang kamu lakuin sama muka anak saya?!!" Teriak pak Kades saat melihat wajah Nandini mendapat goresan panjang dari kuku manja Raina, tidak tahu saja gadis itu sekarang sedang proses untuk memanjangkan kuku-kukunya.
"Jaga ucapan anda, anda sama sekali tidak berhak berbicara kasar pada tunangan saya!" tegas Devano, pria itu memang sudah memutuskan untuk kembali menjadi penonton namun karena pak Kades itu membentak Raina tentu saja dirinya harus turun tangan.
"Seharusnya, ajarkan kepada anak anda untuk tahu tata krama!" lanjut Devano dengan tatapan tajam.
"Raina, apa benar kamu sengaja tantang Nandini makan rujak dengan sambal yang banyak dan kamu berbuat curang? Seharusnya Nandini yang memenangkan tantangan itu kan, itu berarti pria bernama Devano itu menjadi milik adikku Nandini." ucap Reza, kakak dari Nandini.
__ADS_1
Sejak awal, Reza sudah menyukai Raina. Bahkan, pria itu dengan terang-terangan menyatakan perasaannya, namun karena sikap Raina yang rada-rada yaa tentu saja Reza selalu di otaknya bahkan tak jarang mendapat kata-kata pedas dari mulut Raina.
"Berani nya anda berbicara seperti itu!" geram Devano,pria itu jelas tau tidak ada peraturan seperti itu dalam tantangan itu.
"Jadi kamu Devano itu? Saya Reza, calon suami Raina." ucap Reza, dengan pede nya pria itu memperkenalkan dirinya sebagai calon suami Raina.
Devano tersenyum sinis, baiklah kita lihat siapa yang sesungguhnya calon suami Raina.
"Sayang, apa kamu kenal sama DIA?" Tanya Devano sambil menekankan kata DIA dan melirik Reza dengan tatapan tajam.
"Dia kakaknya nek lampir, Raina mau pulang Dev hiks, ayo pulang." jawab Raina, mungkin gadis itu sudah terlalu lelah dan malah menangis karena perjalanan mereka harus terhambat dengan 3 orang tak tau diri ini. Perkataan Raina membuat senyum Reza surut seketika.
"Apa dia calon suami kamu?" Tanya Devano lagi, mengabaikan wajah lelah Raina masih belum puas mempermalukan Reza apalagi saat beberapa warga sudah berbondong-bondong melihat keributan yang mereka buat.
"Issh!!! Bukan, Raina ndak kenal ayo kita pulang Raina udah rindu mama." Dengan kesal Raina memukul pundak Devano dengan keras sampai pria itu mengaduh.
"awww, sakit sayang. Kenapa di pukul sih?!" Ucap Devano.
"kalo dia calon suami Raina, terus ini apa?!!" Teriak Raina dengan wajah kesal, menunjukkan cincin berlian pemberian Devano yang selalu di kenakan nya.
Devano tersenyum penuh kemenangan, lalu meninggalkan Kades dan kedua anaknya dengan perasaan malu mereka.
******
Jangan lupa like, vote dan komen serta kritik dan sarannya juga yaa😉
See u next time😘
__ADS_1