Takdir Cinta Raina (S1&S2)

Takdir Cinta Raina (S1&S2)
88


__ADS_3

Alvin tampak merenung, memikirkan bagaimana caranya agar Devano bisa pulang sore ini. Pria itu menopang dagu, memikirkan nasibnya yang harus menghabiskan 20 kotak susu coklat. Membayangkannya saja sudah membuat Alvin merinding.


"Loh, Alvin? Lo kok disini? Bukannya lagi dalam masa hukuman ya?"


Alvin menatap pria tampan yang kini sedang menatap nya bingung, wajah Alvin berbinar seketika melihat keberadaan pria itu. "Oh Tuhan, terima kasih! Kau datangkan jiwa penolongku di saat yang tepat, terima kasih Tuhan!"


Pria itu meletakkan punggung tangannya pada kening Alvin, "Gak panas kok," gumam pria itu.


"Bang Dev, ayo. Katanya mau temuin kakak ipar dulu sebelum pergi, bentar lagi pesawatnya lepas landas loh." Devano menganggukkan kepala nya lalu mengikuti Fana masuk kedalam, sedangkan Alvin masih jingkrak-jingkrak tak memperdulikan kepergian Devano dan Fana.


"Eh Van, tunggu!" panggil Alvin, saat Alvin hendak menaiki tangga menuju kamar Raina.


"Ada apa?" Devano menatap Alvin aneh, sedari tadi terus bertingkah aneh sekarang malah begitu kegirangan saat melihat dirinya.


"Kok lo masih disini? Bukannya lo udah berangkat sejak 1 jam yang lalu, ya?"


"Penerbangan nya di tunda, ini gue mau pamit sama Raina." jawab Devano.


"Syukurlah kalo gitu, hampir aja gue celaka karena Raina. Calon bini lo itu bener-bener buat gue pengen melambaikan tangan ke kamera. Kok lo bisa betah sih sama dia?"


"Maksud lo apa? Apa Raina ngerjain lo lagi?" Alvin menganggukkan kepalanya membuat Devano menggelengkan kepala, kasihan sekali temannya ini.


"Dia gak bakal gangguin lo, kalo gak di usik duluan. Emang sih, Raina itu jahil. Tapi dia sebenarnya baik, apa lo udah buat tensi lagi hari ini?"


"Tapi dia bener-bener kek macan, gue gak sanggup kalo deket-deket dia. Bisa abis gue di kerjain tiap hari nanti, dia ngamuk karena tau gue yang nyuruh lo nanganin proyek yang di luar negeri. Dia taunya lo udah berangkat dan gak pamit, ehh gue di kerjain. Untung aja lo belum berangkat, masa iya pesawat yang lo tumpangin disuruh putar balik. Kapo lo gak balik sore ini, bisa opname gue seminggu gara-gara susu."


"Raina tau lo alergi susu coklat?" Alvin menganggukkan kepalanya, Devano hanya bisa berdecak kagum dengan kelakuan gadis nakalnya.


"Terus sekarang lo mau apa?"


"Temuin tuh tunangan lo, dan lo gak perlu berangkat. Biar gue aja yang nanganin."


"Serius? Bukannya kemarin katanya lo gak bisa tanganin karena di sana banyak mantan sesaat lo?"


"Dari pada gue harus di opname," cetus Alvin, sambil berlalu mencari keberadaan Rachel. Devano tertawa melihat wajah pasrah Alvin, pria itu pun ikut berlalu menuju kamar Raina.


Setibanya di kamar gadisnya, di dapatinya Raina yang sedang duduk di meja rias seraya menopang dagu. Devano hanya diam menatap apa yang sedang gadis itu lakukan.


"Kemarin janji ndak akan pergi-pergi lagi sebelum pernikahan, ini malah pergi tanpa pamit. Awas aja nanti kalo balik, Raina ilangin kakinya." ucap Raina dengan ekspresi wajah kesal, Devano mengernyit mendengar perkataan Raina. Membayangkan jika kedua kakinya benar-benar menjadi sasaran kekesalan Raina.

__ADS_1


"Sayang, lagi apa? Ayo, semuanya udah nungguin loh di bawah."


"Ndak ngapa-ngapain, Raina lagi ndak mood."


"Ehh, ayo kita ke bawah. Revan udah nungguin tuh, dia mau ngenalin adik-adiknya sama teman-temannya. Emang kamu mau kalo Revan kecewa nantinya?" Raina memutar kedua bola matanya malas mendengar perkataan Bima.


"Oke, Raina mau turun. Tapi Papa gendong Raina ya, Raina lagi mager."


"Ehh?!" belum juga Bima menjawab, Raina kini sudah naik ke punggungnya membuat Bima pasrah dan berjalan keluar dari kamar gadis itu. Devano menatap kasian, Raina kalo sudah berkata tidak bisa di tolak.


Setibanya di ruang keluarga, semuanya sudah berkumpul dan sedang menunggu kedatangan Raina dan Bima. Beberapa pasang mata menatap Raina saat gadis itu duduk di sofa yang memang khusus untuk dirinya. Melihat hal itu seorang gadis menatap Raina dengan tatapan sinis, sedari tadi gadis itu ingin duduk di sofa itu tapi selalu saja di halangi dan hanya nona rumah yang boleh menempati sofa itu.


"Selamat siang semuanya, jadi gue ngundang kalian kesini buat ngenalin kedua adik kembar gue yang cantik-cantik ini. Yang dekat Mama gue itu, namanya Rachel. Dan, gadis nakal yang di situ Raina. Oh iya, gue juga ngundang kalian buat hadirin acara pertunangan Rachel dan Alvin besok malam. Gue harap kalian bersedia datang,"


"Tunggu-tunggu, jadi maksud lo dua cewek kembar ini adek lo? Kok kita gak pernah tau lo punya adek?"


"Keberadaan mereka memang di sembunyikan. Gue sengaja ngenalin mereka ke kalian semua, karena gue tau selama ini kalian selalu berusaha mencari tahu kabar tentang keluarga gue. Dan gue kasih kesempatan kalian buat tau sekarang, jadi kalian gak perlu repot-repot buat cari informasi lagi."


"Jadi, cewek manja ini adek lo? Gak sesuai banget sih sama reputasi keluarga lo yang terkenal dengan kewibawaannya." cetus seorang gadis, menatap Raina dengan sinis.


Raina hanya diam, tanpa ada niat membalas ataupun menyela. Gadis itu justru asik memakan keripik singkong yang tadi dibawakan Alvin saat datang.


"Kakak ipar, dari mana aja? Fana cariin loh dari tadi," tiba-tiba saja Fana datang dengan mulut menggembung, pria tampan itu sedang mengunyah sesuatu.


Raina begitu bersemangat saat melihat keberadaan Fana, sangat berbeda sebelum pria itu datang. "Kakak ipar emangnya belum ketemu Bang Dev? Bang Dev tadi disini kok, dia mau pamitan katanya."


"Sayang, kamu lakuin kenakalan apa lagi hari ini humm? Aku dari tadi disini loh, ngawasin kamu." tiba-tiba saja Devano sudah berada di belakang Raina, membuat gadis itu terkejut.


"Kok Dev juga masih disini? Pesawat nya udah putar balik?" tanya Raina dengan polosnya, membuat Devano tersenyum mendengar kepolosan gadis itu.


"Sayang, aku belum berangkat kok. Mana mungkin aku pergi tanpa pamit sama permaisuri, humm?"


"Tuh, Devano gak jadi pergi. Berarti gak jadi kan gue minum susu nya." celetuk Alvin. Raina menganggukkan kepalanya senang, gadis itu kini duduk di pangkuan Devano. Menyandarkan kepalanya pada dada bidang pria itu, sama sekali tidak memperdulikan keadaan sekitar. Devano mengelus kepala Raina, hingga gadis itu pun terlelap dalam pelukannya.


"Nak Devano, mending bawa dia ke kamarnya yaa. Kasihan loh kamu, Raina itu berat kebanyakan makan keripik singkong." ucap Dewi, Devano terkekeh kecil mendengar perkataan calon ibu mertuanya itu.


"Kalo gitu, aku bawa Raina ke kamar dulu ya Ma."


Selepas kepergian Devano dan Raina, tinggallah yang lain dalam keheningan. Gadis yang tadi menatap sinis Raina, bertambah datar saat melihat kedatangan Devano dan kedekatan keduanya.

__ADS_1


...----------------...


Hari begitu cepat berlalu, Rachel dan Alvin sudah bertunangan sejak seminggu yang lalu. Mereka akan menikah setelah Rachel lulus kuliah, 2 tahun lagi. Tak masalah jika Alvin harus menunggu, yang terpenting pria itu tidak ingin kehilangan Rachel. Sedangkan Rachel sendiri, terus bersikap cuek dan acuh. Namun sikap cueknya itu justru membuat Alvin semakin menyukai dirinya.


Sedangkan Raina dan Devano, mereka akan segera melangsungkan pernikahan 1 bulan lagi. Dewi dan Bima harus segera menikahkan mereka, apalagi melihat Raina yang tak ingin jauh dari Devano. Belum lagi pikiran-pikiran Raina yang sudah tercemar otak mesum nya Rara.


Hari ini, secara diam-diam Raina kembali kabur dari rumah. Gadis itu menemui ketiga sahabatnya. Dan saat ini mereka tengah ngerumpi di rumah Qinzo dan Namira. Mengenai Namira, wanita itu kini tengah hamil, dan usianya baru memasuki lima bulan. Raina begitu bersemangat saat mengetahui kabar itu, bahkan gadis itu sudah menyiapkan berbagai perlengkapan bayi hingga tempat tidurnya. Namira jadi bingung sendiri, yang akan punya anak dirinya namun Raina lah yang terlihat sangat bersemangat menyambut anaknya.


"Bagaimana kponakan Raina, sehat di dalam sana?" tanya Raina, sembari tangannya mengelus perut buncit Namira.


Rara asik memakan camilan yang di sediakan, mendengar perkataan Raina seketika otak sengkleknya mulai bekerja kembali. Gadis itu tampak tengah berpikir, kalimat apa yang cocok dirinya ajarkan pada Raina hari ini. Sedangkan Siska? Gadis tomboy itu justru sibuk dengan tugas-tugas kampusnya, malas terlibat dengan obrolan sahabat-sahabatnya. Apalagi dengan Rara, cukup Raina saja yang terkontaminasi dirinya jangan.


"Dia baik-baik aja, Raina. Lo senang banget kayaknya denger gue hamil, gue sampai sesek loh di kamar sama barang-barang keperluan bayi yang lo pesen. Gue dan Qinzo aja gak se excited lo, emang lo gak ada niatan buat hamil juga kek gue?" tanya Namira, entah mengapa pikiran bumil itu sepertinya juga sudah terkontaminasi Rara.


"Kata Bi Min, melahirkan itu sakit. Raina belum siap, nikah aja belom. Selagi ada bayi instan, kenapa Raina harus punya sendiri?"


"Gila lo, lo pikir anak gue mie instan bisa langsung jadi. Lagian nih ya, kan lo sebentar lagi nikah. Mau gak mau, lo pasti akan ngerasain yang namanya hamil dan melahirkan."


"Raina, kalo lo mau punya anak nanti buat yang banyak yaa. Kalo bisa jumlahnya bisa buat boy band atau girl band, lumayan kan gue jadi bisa nonton gratis nanti. Atau nggak, lo bisa siaran langsung waktu lahirinnya."


"Eh, otak sengklek! Lo mending diem deh, lo mau jadi sasaran nya Devano lagi? Sembarangan aja lo ngomong, dikata Raina pabrik bayi apa." kesal Siska.


Raina tampak berpikir, gadis itu menopang dagu. "Kayaknya boleh juga, nanti deh Raina omongin ke Dev."


"Harus itu, jangan lupa bikin yang banyak yaa." wajah Rara tampak sumringah, sedangkan Siska hanya geleng kepala melihat tingkah sahabatnya itu.


Ponsel Raina berdering, sebuah panggilan masuk dari Devano. Raian menatap ketiga sahabatnya, serentak tiga wanita cantik itu berucap 'mampus' dengan menggerakkan mulut mereka. Raina berdecak kesal,


"Sayang, pulang sekarang atau aku seret?"


"Eheheheh, iya Dev Sayang. Raina mau pulang kok, tapi sejam lagi yaa."


"Sekarang, Raina Sayang. Aku seret nih ya, tunggu aja."


"Eh, iya-iya ini Raina mau pulang."


"Raina, awas aja kalo ada kosa kata baru yang kamu pelajarin yahh."


Tutt

__ADS_1


Panggilan dimatikan sepihak oleh Raina, gadis itu merenggut kesal saat ketiga sahabatnya menertawakan dirinya.


"Udah ah, Raina mau pulang. Bye!"


__ADS_2