
"Bagaimana, apa semuanya beres?" tanya Raina pada Mayang yang baru saja datang usai menyelesaikan tugas yang diberikan Raina.
"Sudah nona, bahkan saya juga benar-benar memastikan cuma nona Ziva yang akan memakan camilan dan minuman itu. Apalagi saat saya mengatakan semua nya adalah kesukaan tuan Devano, nona Ziva terlihat sangat bersemangat. Tapi nona, sepupu tidak tahu malu nona itu juga ikut memakannya. Apa rencana kita akan gagal?"
Senyuman manis merekah di wajah Raina, ini namanya double point. Raina sudah tidak sabar ingin melihat pertunjukkan nya.
"Devano, gue gak nyangka loh kalo lo suka makan snack kayak gini. Tau gak, ini tuh kesukaan gue juga. Seru yaa, kita punya kesukaan yang sama. Kita juga pasti akan berjodoh." ucap Ziva, seraya memakan camilan yang di berikan padanya.
"Ahhh, ini pedas dan asin!! Hahh, siapa yang ngerjain gue hah?!!" Raina tertawa senang saat mangsanya memakan umpan yang diberikan.
"Ayo, minum jus nya. Setelah itu, akan Raina pastikan dia tidak akan bisa keluar rumah selama berhari-hari." Mayang yang melihat pertunjukkan di depannya di buat tercengang, sejauh ini Raina memang nakal tapi tidak pernah senakal ini.
Raina semakin terbahak saat Ziva mulai meminum jus jeruk yang di sediakan, wajah Ziva terlihat memerah karena menahan pedas yang di rasakan nya.
Sementara itu, Devano yang sedari tadi berada di dekat Ziva sama sekali tidak menunjukkan rasa kasihan ataupun simpati nya pada Ziva. Pria itu justru mengambil kesibukan dengan memainkan gadget nya.
Setelah puas melihat pertunjukan yang di perankan oleh Ziva, Raina beralih pada rekaman CCTV daerah kolam renang. Tempat Shakira sedang bersantai saat ini. Raina pun tersenyum puas saat melihat Shakira mengalami apa yang di alami Ziva.
"Hahaha, rasain makanya jangan suka gangguin Raina. Blee,"
Setelah puas menonton pertunjukkan, Raina pun memutuskan untuk masuk kedalam rumah dan menemui Devano. Raina menghela nafas, saat Ziva dalam keadaan sekarat pun masih juga berusaha merebut perhatian Devano.
"Euuwh, bau apa ini? Dev, kamu buang angin yaa?" Raina datang dengan menutup hidungnya.
Devano tersenyum senang melihat keberadaan Raina, pria itu berjalan mendekati gadis nya. "Kamu pulang kok gak bilang-bilang sayang? Aku dari tadi nungguin kamu pulang tau," ucap Devano, pria itu enggan melepas pelukannya pada Raina.
"Raina baru pulang kok, lepas dulu deh Dev. Raina ndak tahan sama baunya, ini bau apa sih?"
Raina melirik Ziva yang sedang menatap nya dengan tatapan benci, namun bukan namanya Raina jika memperdulikan semuanya. Raina akan bersikap biasa saja dan menghiraukan musuhnya.
"Lo?! Minggir!! Devano milik gue, lo mending pergi! Ahhh, Devano gue ke toilet dulu yaa. Jangan kemana-mana yaa, gue pasti balik lagi kok." Raina tak bisa lagi menahan tawanya, membuat Devano mengernyit bingung.
"Kenapa kamu tertawa seperti itu sayang?? Apa ada yang lucu?" tanya Devano dengan raut wajah bingung.
"Ndak ada, Raina mau ke kamar dulu yaa." Raina berlalu begitu saja dengan tawa yang tidak bisa di dihentikannya.
Devano mengikuti langkah Raina, pria itu sudah menunggu berjam-jam kepulangan Raina, mana mungkin dia melepaskan gadisnya begitu saja.
"Sayang, aku jangan di anggurin dong!" ucap Devano dengan sedikit merajuk.
Pasalnya, sedari tadi Raina terus saja mendiamkannya dan malah sibuk dengan ponselnya. Devano pun memeluk Raina hingga membuat gadis itu sedikit terkejut, namun hanya sesaat. Karena berikutnya, Raina tersenyum manis pada Devano. Apalagi melihat ekspresi merajuk Devano, Raina begitu tidak tahan untuk tak mencakar wajah Devano saking gemasnya.
"Sayang, aku jangan di cuekin dong." ucap Devano lagi, karena Raina lagi-lagi kembali fokus pada ponselnya.
__ADS_1
Dengan berat hati, Raina meletakkan ponselnya dan menatap Devano yang terus merengek layaknya anak kecil.
"Kakak ipar udah pulang kok gak ada yang kasih tau Fana sih?! Fana kan udah nungguin dari tadi!" kesal Fana, pria itu nyelonong masuk dan dengan seenak jidadnya mendorong Devano hingga abangnya itu terjatuh.
Devano hanya bisa meringis merasakan perih di bokongnya akibat terkantuk lantai. Menatap Fana dengan tatapan kesal, namun di abaikan oleh sang empu.
"Fana, kamu ngapain sih ke sini?! Katanya sakit, udah istirahat sana ke kamar kamu." ucap Devano, yang sudah mulai kesal. Apalagi melihat Raina yang mulai memberikan perhatian lebih pada Fana, hal itu membuat Devano cemburu. Menurut pria itu, sudah cukup seharian Raina meninggalkan dirinya. Dan saat ini, Raina harus bersama dirinya.
"Abang jangan syirik dehh, Fana sakit juga gara-gara abang kan." balas Fana dengan nada bicara tak kalah ketus.
Raina hanya bisa menggeleng kepala, ternyata begitu merepotkan jika Fana sedang sakit seperti ini.
"Raina!! Keluar kamu, jangan sembunyi di dalam kamar!!" teriakan Yuna membuat seisi rumah bergetar, karena tak sanggup menahan teriakan cempreng wanita itu.
Raina keluar dari kamarnya dengan tampang santai dan sesekali menguap, dengan Fana yang terus memeluk dirinya.
"Ada apa sih teriak-teriak di kamar orang?! Ndak pernah di ajarin adab dalam bertamu yaa?!" kesal Raina menatap Yuna yang sedang melotot padanya, gadis itu tidak memperdulikan empat orang lainnya yang menatap nya dengan tatapan tajam.
"Hehh!! Kamu yang sopan ya kalau bicara?! Saya tau, pasti kamu kan yang sudah membuat anak saya dan temannya sakit perut dan mengalami sakit kulit seperti ini kan?!" marah Yuna, Raina hanya menguap dan menatap orang-orang di depannya dengan tatapan datar.
"Oh ya?? Apa Anda punya bukti? Jika sudah punya bukti, silahkan datang kemari lagi dan saya akan bertanggung jawab." balas Raina, masih dengan wajah tanpa ekspresi nya.
Yuna tersenyum senang mendengar perkataan Raina, ini saatnya untuk menjatuhkan gadis itu. Pikir Yuna.
"Tapi, jika saya terbukti tidak bersalah ,,, " Raina kembali menjeda perkataan nya lalu menatap orang-orang di depannya dengan senyuman yang sangat manis.
"Eitss tunggu!" Raina kembali mengeluarkan suaranya saat Yuna dan pasukannya bersiap untuk pergi.
"Kalian mau kemana? Jangan bilang kalo kalian mau membatalkan tuduhan terhadap gadis lemah ini ,,, karena apa? Itu semua tidak bisa di batalkan, ckckck kalian sudah memulai perang dengan ku. Raina kasih kalian waktu 1 hari, jika dalam waktu yang Raina tentukan kalian belum mendapatkan bukti maka Raina tidak segan-segan untuk menuntut kalian semua! Kalian lihat, semua pelayan di rumah ini sudah mendengarnya. Dan kalian pasti tau kan? Reputasi Raina yang baik hati ini sudah hancur karena ulah kalian semua," lanjut Raina.
"K-"
"Shuttt, tidak perlu berkata apa - apa lagi. Karena bendera perang kita sudah di kibarkan." Raina memotong perkataan Yuna. Lalu berlalu meninggalkan Yuna, Shakira, Ziva, dan kedua orang tua Ziva begitu saja seraya tersenyum sinis.
Raina sudah menyiapkan semuanya dengan matang, termasuk menghapus semua rekaman CCTV, mengganti camilan dan jus dengan yang baru, serta menyabotase jam kepulangannya.
"Hahhh hari yang melelahkan, ayo Fana kamu juga harus tidur. Raina sangat lelah." Raina menutup pintu kamar Fana dengan sekali bentak lalu kembali berjalan ke arah kamarnya sendiri.
"Kenapa masih disini?"
"Sayang, aku menunggu mu sedari tadi. Dari tadi juga di cuekin mulu."
Devano yang merajuk sangat jarang terjadi, dan Raina sangat senang melihat wajah merajuk pria itu.
__ADS_1
"Baiklah, jadi Raina harus apa sekarang?"
"Kenapa kamu lakuin itu sayang?"
"Raina ndak lakuin apapun, kalo cuma mau bahas itu Raina mau tidur aja."
"Oke, aku minta maaf. Tapi kasihan mereka sayang, apa itu tidak keterlaluan?"
"Kau tau Dev, selama ini Raina udah cukup bersabar menghadapi Shakira dan mamanya. Dan sekarang, Shakira malah merencanakan rencana jahat buat singkirkan Raina dari rumah Raina sendiri. Kamu lihat sendiri kan, gimana Shakira dan temannya itu berusaha buat rebut perhatian kamu? Dev, Raina ndak mau kehilangan lagi itu sebabnya Raina berani lakuin ini. Udah cukup kak Rachel yang pergi ninggalin Raina, jangan Dev lagi. Raina ndak akan pernah siap kalo sampai itu terjadi."
Tergambar raut kecemasan pada wajah Raina, kehilangan yang dulu pernah di rasakan nya membuat trauma tersendiri bagi Raina.
"Sayang, aku tidak bermaksud untuk marah dengan apa yang kamu lakuin hari ini. Raina sayang, aku khawatir bagaimana jika mereka menemukan bukti? Mereka akan buat kamu susah nanti, dan aku sama sekali gak mau kamu kenapa-kenapa."
"Dev, percaya kan sama Raina? Mereka ndak akan pernah mendapatkan bukti apapun, sebentar lagi tante Yuna dan Shakira akan pergi dari rumah ini. Akan Raina pastikan, mereka hidup di jalanan dan menjadi gelandangan. Tidak ada sepersen pun yang boleh mereka bawa dari rumah ini, Raina ratunya dan hanya Raina yang akan memutuskan nasib mereka selama berada di rumah ini."
...----------------...
Sementara itu, di tempat lain
Raihan masih saja berusaha keras mengerahkan seluruh bawahannya untuk mencari keberadaan Maria Maria dan Hans.
"Dasar tidak berguna!! Ini sudah 1 minggu lamanya, tapi kalian belum juga berhasil menemukan keberadaan orang tuaku?! Untuk apa saya membayar kalian jika pekerjaan kalian tidak becus seperti ini hah?!!" marah Raihan pada seluruh para bawahan nya.
"Sabar Rai, kita tau sendiri kalo keberadaan tante Maria dan om Hans seperti di telan bumi. Kita udah ngerahin semua orang buat cari mereka tapi tetap saja hasilnya nihil. Bahkan, bodyguard-bodyguard om lo aja gak bisa nemuin orang tua lo."
"Nggak, gue gk mau tau! Nyokap dan bokap gue harus di temukan! Ren, gue yakin ada konspirasi disini. Kita harus temuin mereka sebelum hal yang buruk terjadi,"
"Iya, ini aneh. Apa ini siasat musuh?"
"Bisa saja, ini pasti siasat Raina dan Devano. Tapi, sepupu cantikku itu terlihat polos dan tidak mengerti apa-apa kecuali membuat orang-orang pusing. Bagaimana bisa dia melakukan penculikan? Atau, ini ulah keluarga Rafly? Mereka adalah halangan terbesar kita dalam semua rencana matang yang kita buat."
Raihan dan Rena saling menebak-nebak siapa dalang di balik menghilangnya Maria dan Hans. Saat mereka sibuk menebak-nebak, si pelaku utama justru sibuk menginterogasi sepasang kekasih yang baru saja pulang setelah 2 hari menghilang tanpa kabar.
"Bagus, sangat bagus. Pergi tanpa ijin, dan pulang setelah 2 hari kemudian? Apa kau sudah merasa hebat?! Beraninya membawa mbak Saras tanpa seijin Raina!!" Raina bertolak pinggang di depan Sandy yang sedang menunduk karena mendapat teguran dari Raina.
"Sebagai hukumannya, bersihkan kolam renang yang berada di teras belakang rumah ini! Dan, setelah itu kamu harus menjaga toko full selama seminggu. Awas saja kalo sampai melarikan diri, hukumannya akan bertambah dan Raina akan menjodohkan mbak Saras dengan pria lain!!" omel Raina, gadis itu memasang muka garangnya namun malah terlihat begitu menggemaskan.
"Baiklah, perintah akan saya laksanakan ndoro ratu." ucap Sandy dengan nada lemas sembari menyatukan kedua tangannya di depan dada.
Raina menganggukkan kepalanya puas dengan jawaban yang di berikan Sandy. Saras yang melihat kemalangan Sandy karena sudah berani membawanya pergi menjadi tidak enak hati.
"Huhh hari ini sungguh melelahkan, mau istirahat pun tidak bisa huhh!!" ucap Raina sambil berlalu pergi meninggalkan ruang tamu yang masih penuh dengan ketegangan akibat amukan dari ndoro ratu.
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, komen dan share yaa😘
See u next time🤗