
"Ngapain Kamu disini?! Mau numpang makan seperti Dia?" Tanya Raina pada pria di hadapannya dan melirik Fana yang sedang asik memakan makanannya.
"Galak banget sihh, Gue kesini tuh karena ada perlu sama Devano. Sekalian mau ngapelin Lo juga sihh," jawab pria itu dengan tatapan yang menggoda.
Raina sama sekali tidak terpengaruh dengan pesona pria di depannya, justru semakin membuat Raina ilfeel pada pria itu.
"Albert? Lo kok disini? Sama Mereka juga?" Tanya Devano yang baru saja datang dan melihat Albert yang sedang menggoda Raina. Albert tidak sendiri, melainkan bersama Riky, dan si kembar Veno dan Vero.
"Kita kesini mau bantuin Lo soal kasus kemarin, Kita gak mungkin diam aja di saat Lo dalam masalah." Jawab Albert, entah dimana sikap dingin dan wajah datar pria itu apalagi saat melihat Raina, hilang sudah martabat pria itu yang terkenal dingin,cuek dan angkuh.
"Thanks ya, Sayang Kamu istirahat aja dulu di kamar. Kamu baru pulangkan? Aku mau ngobrol sama Mereka dulu, oh iya Kamu istirahat aja dulu yaa." Ucap Devano, Raina hanya menurut karena enggan untuk bertemu lagi dengan Albert.
Raina sangat merasa risih jika Albert terus memandangnya, menurut gadis itu hanya Devano yang boleh memandangnya.
"Tau dari mana Lo kalo Gue ada masalah?" Tanya Devano.
"Tuhh," tunjuk Riky pada Fana yang asik menyantap makanannya.
"Hahhh, baiklah mari Kita bicara."
Mereka pun sangat serius membahas pembahasan Mereka, hingga Shakira datang dan tebar pesona.
"Hai kakak-kakak semua, temennya Devano yaa? Kenalin, Aku Shakira." Ucap Shakira menyapa semuanya dan memperkenalkan dirinya.
Albert hanya menatap gadis itu dengan tatapan datar, begitupun dengan Devano. Sedangkan Vero, Veno serta Riky, Mereka menyambut uluran tangan Shakira dengan sedikit terpaksa. Mereka tidak ingin di katakan sombong atau sebagainya, untuk itulah Mereka memutuskan untuk menerima uluran tangan Shakira.
Sudah sejam sejak kedatangan Shakira, namun gadis itu tidak juga pergi dan meninggalkan Raina membuat Albert menjadi geram. Bagaimana tidak, sedari tadi Shakira terus saja mengganggu pembicaraan Mereka dan menatap diri nya, membuat Albert tidak nyaman.
"Hoamm. Dev, Raina laper." Ucap Raina dengan tatapan sayu, gadis itu baru saja bangun dari tidurnya. Bahkan penampilan gadis itu tidak bisa di katakan sedikitpun.
Devano menoleh ke arah Raina dan tersenyum gemas melihat penampilan gadisnya itu.
"Ya ampun sepupu, kenapa keluar dengan penampilan seperti itu? Kamu mau Devano malu ya di depan teman-temannya? Seharusnya Kamu bisa lebih perhatiin penampilan Kamu." Ucap Shakira dengan nada yang di buat-buat dan sengaja ingin menjatuhkan harga diri Raina.
"Lo, cuma numpang. Lo, parasit. Gak usah sok peduli, dan gak usah sok cari muka. Atau Lo mau Gue tambahin goresannya?"
Shakira seketika diam saat mendengar perkataan Raina, gadis itu masih terngiang atas apa yang di lakukan Raina padanya kemarin.
"Sepupu, Aku hanya memberitahukan mu saja. Apa Kamu gk kasihan lihat Devano malu di depan teman-temannya?"
Sepertinya Shakira masih meremehkan Raina, gadis itu pikir Raina tidak akan berbuat nekat saat berada di kumpulan orang seperti sekarang.
Dia meremehkanku, lihat saja apa yang akan Raina ini lakukan. pikir Raina sembari menatap Shakira dengan tatapan datar.
"Dev, Raina mau bubur Ayam." Sembari berjalan ke arah Devano, Raina menggoreskan sebuah jarum di lengan kanan Shakira membuat gadis itu meringis kesakitan. Entah dimana Raina mendapatkan jarum itu, yang pasti Raina sangat senang bisa menyakiti Shakira.
"Ahhh!! Apa Kau gila Raina?! Lagi-lagi Kau melukai tanganku! Psikopat gila!!" Setelah mengatakan itu, Shakira segera pergi untuk mengobati lengannya yang lumayan terluka dalam.
Raina tersenyum puas melihat hasil pekerjaan nya pada tangan Shakira.
"Kenapa Kamu begitu senang setelah melukai Shakira humm?"
Membelai pucuk kepala Raina dengan lembut, Devano sama sekali tidak terkejut dengan apa yang di lakukan Raina. Toh, pria itu sudah pernah melihatnya kemarin.
"Raina ndak mau menjawabnya, sekarang Dev harus membuat kan Raina bubur Ayam."
"Baiklah gadisku yang nakal, Aku akan segera membuatkan nya untukmu."
Setelah beberapa lama berkutat di dapur, akhirnya bubur Ayam buatan Devano sudah jadi. Raina menyantap bubur itu tanpa niat untuk membagi nya pada siapapun. Devano hanya tersenyum geli melihat cara makan Raina yang begitu belepotan.
"Pelan-pelan Sayang, tidak akan ada yang merebutnya."
__ADS_1
"Humm, tapi sedari tadi Fana terus lihatin bubur Raina." Devano melirik kearah Fana yang sedang memakan keripik singkong milik Raina. Pria itu menghela nafasnya kasar, sebentar lagi keributan pasti akan terjadi.
"Baiklah, Aku mau lanjutin ngobrolnya dulu yaa." Raina hanya mengangguk tanpa ada niatan untuk membalasnya dan melanjutkan makan nya yang tertunda.
"Alhamdulillah, akhirnya Raina kenyang juga. Raina mau jengukin si Alex dulu dehh, Dia pasti kangen sama Raina." Raina beranjak dari duduknya menuju sebuah ruangan yang di khususkan untuk hewan peliharaannya. Karena Tommy dan Kitty sudah tidak ada, jadilah ruangan itu menjadi milik Alex. Si Anjing lucu pemberian Revan.
"Mbak Mayang, dimana Alex?" Tanya Raina pada Mayang yang mendapat giliran tugas untuk merawat Anjing lucu itu.
"Sedang tidur Nona, Alex baru saja Saya berikan susu dan makan siangnya." Jawab Mayang, kemudian berlalu pergi.
Raina menghela nafas, niat hati ingin bermain bersama Alex namun harus tertunda karena Anjing lucu itu sedang tidur.
"Assalamualaikum," Raina membalikkan badannya saat mendengar suara seseorang yang mengucapkan salam.
"KAKAK IPAR, ADA SAHABAT-SAHABAT KAMU NIHH" Raina mengusap-usap telinganya yang berdengung mendengar teriakan Fana. Jarak Mereka hanya 5 meter saja, tapi pria menyebalkan itu malah berteriak padanya.
"Iya, Raina ndak budek!" Jawab Raina sedikit kesal lalu mempersilahkan ketiga sahabatnya masuk. Mereka bukan hanya bertiga, Rafly dan Qinzo sangat setia mengikuti Kemanapun ketiga gadis remaja itu pergi.
"Kalian seperti perangko saja," ucap Raina sembari menggelengkan kepalanya,
"Hai cantik, apa Lo udah mempertimbangkan penawaran waktu itu? Gue bisa loh jadi brondong, secara umur Gue lebih muda dari Devano." Ucap Qinzo, yang kembali menggoda Raina.
"Lo berani?"
Qinzo langsung kicep saat melihat tatapan tajam Devano, apalagi saat pria itu menatapnya tanpa memberikan celah sedikit pun.
"Aelahh, selow atuhh. Becanda aja Gue, mana ada Gue berani berpaling dari Namira yang manis ini, heheheh,"
Devano tidak terpengaruh sedikitpun, pria itu kini menatap Rara membuat Rafly kebakaran jenggot.
"Lo ngapain lihatin my baby honey Gue se intens gitu? Suka Lo sama Rara?!" Cetus Rafly menunjukkan ketidak sukaannya.
"Gue gak napsu sama cewek Lo. Gue cuma mau nuntut orang yang udah ngeracunin pikiran gadis Gue."
"Albert? Kalian? Wahh, parah nih lagi ngumpul gak ngajak Gue!" Rafly begitu terkejut melihat keberadaan Albert dan yang lain. Mereka sempat bersekolah di sekolah yang sama sebelum peristiwa 10 tahun yang lalu terjadi dan merusak persahabatan Mereka.
"Kita mana tau kalo Lo dan Devano udah baikan."
Mereka pun saling berbagi cerita, namun tatapan Devano tidak pernah lepas dari jangkauan Raina. Pria itu tidak ingin kejadian yang sudah-sudah terjadi lagi, bisa gila Devano jika Raina kembali meminta yang aneh-aneh.
"Dev,"
"Iya, kenapa Sayang?"
"Kata Rara, kiss itu enak. Dev cuma kasih Raina sekilas, kata Rara bisa enak kalo bukan sekilas. Raina mau minta yang lama."
Jlebb
Tatapan Devano langsung saja menyorot pelaku yang sudah membuat Raina seperti ini. Devano sangat frustasi, saat dalam pengawasannya saja bisa kecolongan, bagaimana jika Dia tidak mengawasinya?
"Lo?!! Bawa pulang cewek Lo sekarang juga!" Ucap Devano menunjuk Rafly dengan ekspresi wajah yang kesal.
"Ngapa sih Lo? Lo dendam sama cewek Gue?"
"Iya, Gue dendam banget sama cewek Lo! Udah bikin otak Raina semakin argghh!!"
"Hellehh, bilang aja Lo suka sama pikiran polos Raina kan?!" Jawab Rafly mencibir.
"Omongan Lo ya," ucap Qinzo.
"Kenapa omongan Gue?"
__ADS_1
"Suka bener, hahahah"
Rafly dan Qinzo ber tos ria bahagia melihat ekspresi wajah kesal Devano.
"Bang," Devano menoleh ke arah Fana yang terlihat bingung.
"Abang ada pesan paket?"
"Paket? Gak ada, emang kenapa?"
"Di luar ada kurir, pesanan nya banyak banget. Katanya yang pesen cowok, cowok di rumah ini kan cuma Abang. Kak Revan lagi ada kerjaan di luar, Om Bima juga lagi gk ada." Jelas Fana.
"Lahh, terus siapa yang pesan?"
"Ada apa nih ribut-ribut?" Tanya Albert yang baru saja datang setelah izin untuk menelepon.
"Ini, di depan ada kurir tapi gak tau siapa yang pesan paket."
"Ohh udah dateng ya rupanya, itu paket Gue." Albert segera beranjak untuk menemui kurir dan menerima paketnya.
Semua menatap Albert dengan tatapan bingung, paket yang di terima pria itu lumayan banyak. Dan anehnya bukannya menyimpan paket nya, pria itu malah memberikan paket itu pada Raina.
"Ini buat Lo." Menyerahkan paket itu dan pergi begitu saja, mengalahkan rasa penasarannya Raina pun membukanya.
Raina begitu terkejut saat melihat isi dari paket itu, ingin rasanya Raina memaki pria yang memberikan nya paket ini.
"Albert mau bikin gigi Raina ompong ya?!" Kesal Raina saat menemukan berbagai pcs permen kiss dengan semua varian rasa.
"Lo tadi bilang mau kiss, ya udah Gue beliin permen kiss yang banyak, baik kan Gue? Gue beliin semua itu buat Lo, Gue gak tega aja Lo minta tapi Devano selaku tunangan Lo marah asik debat sama Mereka. Di habiskan yaa, Gue gak tau Lo suka rasa apa, jadi Gue beliin semua varian rasanya." Ucap Albert membuat semuanya terdiam.
"Al, kayaknya Lo gak usah ikut campur dulu dehh. Lihat aja tuh mukanya Raina, udah merah gitu. Yang dimaksud itu bukan permen, kalo Lo mau tau tanya aja cewek Gue." Rafly berusaha memberitahu Albert tentang kebenaran kiss yang diminta Raina, namun Albert tetap bersikukuh bahwa apa yang di lakukan nya sudah benar.
"Sayang, udah simpan aja permen nya." Raina menurut dan menaruh permen-permen itu begitu saja.
"Dev, Raina mau kiss yayaya? Tapi Raina mau yang lama, Dev ndak pernah nurutin permintaan Raina. Selalu aja nyari alasan kalo Raina minta kiss." Ucap Raina dengan bibir yang mengerucut.
"Wahh, parah Lo masa permintaan gitu aja Lo gak bisa turutin? Raina, biar Gue aja yang nurutin Lo mau gak?" lagi-lagi, perkataan Albert membuat semuanya terdiam.
"Huhh, Raina ndak mau sama Kamu!" Tolak Raina, membuat Rara tertawa dengan kerasnya.
"Hahaha, mana mau Raina di kiss cowok lain. Di deketin dikit aja, masih untung kalo tetap sehat-sehat aja." Ucap Rara di sela-sela tawanya.
Ya, yang di katakan Rara memang benar. Raina tetaplah tipikal perempuan yang enggan dekat dengan pria lain yang tidak di sukainya. Jika ada yang berusaha mendekatinya, maka bisa di pastikan keesokan harinya pria itu akan mendapat masalah.
"Nona, sedari tadi ponsel Nona berdering. Nona Diva menelepon." Ucap Saras, yang baru saja datang dan menyerahkan ponsel Raina yang masih saja berdering.
Raina tersenyum puas saat melihat panggilan dari Diva, gadis itu yakin pasti ada kabar baik.
"Halo Diva, ada apa?"
"Aku mau nebar kebahagiaan sama Kamu, hahaha." Ucap Diva di seberang sana, terdengar bahwa gadis itu sangat bahagia.
"Benarkah? Apa itu? Raina sangat menyukai kebahagiaan."
"Gak usah pura-pura gak tau, Raina. Aku tau, Kamu sengaja kan ngerjain kakak palsu Aku itu dengan brownies dan obat pencuci perut? Aku senang banget lihat penderitaannya yang sedari tadi keluar masuk di kamar mandi, hahaha."
Raina tersenyum puas sekarang, gadis itu juga sengaja meloud speaker panggilannya agar semuanya dapat mendengar pembicaraan Mereka.
"Raina sangat senang mendengarnya, Raina juga berhasil mengecoh dan membodohinya. Dia sudah berani untuk menipu Raina, ya sudah terima saja akibatnya. Raina tutup dulu ya telepon nya, segera kabari jika terjadi sesuatu disana. Bye,"
Raina menutup panggilan teleponnya dengan senyum yang merekah.
__ADS_1
"Siap untuk menjadi target selanjutnya?" Raina menatap Albert sambil menaik turunkan alisnya, membuat Albert terdiam dan tak berani berkomentar lagi.