Takdir Cinta Raina (S1&S2)

Takdir Cinta Raina (S1&S2)
75


__ADS_3

Saat ini Raina dan Devano sedang berada di sebuah taman. Sedari tadi Raina terus saja melamun, gadis itu bingung dengan apa yang Tamara katakan padanya. Apa maksud Tamara tadi? Raina bahkan tidak merasa mengenal pria bernama Fabian itu, kenapa Tamara malah menuduhnya yang membuat pria itu depresi?


"Sayang, apa kamu baik-baik saja? Kita pulang saja yaa, aku takut kamu kenapa-kenapa sayang." Devano menatap lekat wajah Raina yang terlihat kebingungan.


"Raina ndak ppa Dev, Raina hanya masih bingung. Siapa Fabian? Kenapa mantan Dev bilang kalo Raina yang udah bikin pria itu gila dan hampir saja bunuh diri? Dev tau kan, Raina hanya punya satu mantan. Namanya Gio bukan Fabian, terus Fabian ini siapa?!"


"Udah sayang, gak usah di pikirin lagi. Aku akan nyelidikin ini nanti, kamu tenang yaa."


"Raina ndak bisa tenang Dev, Raina ndak bisa diam aja. Nama Raina di bawa-bawa disini, Dev lihat sendiri tadi banyak tamu yang mendengar. Bisa aja mereka menyudutkan Raina, kalo Raina di penjara gimana?!"


Devano mengusap wajahnya dengan kasar, Raina memang benar. Hanya hitungan jam, Raina pasti tidak akan aman lagi. Devano harus melakukan sesuatu.


"Sayang, tenang dulu yaa. Kamu tunggu disini, aku mau beliin minum buat kamu. Jangan kemana-mana yaa, pake masker dan topi ini. Aku akan segera mencari jalan keluarnya sayang," Devano pergi meninggalkan Raina yang masih saja melamun, gadis itu sedang berfikir keras.


"Sebenarnya apa yang sudah terjadi? Kenapa Tamara begitu yakin, kalo Raina yang sudah membuat kakaknya depresi? Hahhh, baru juga Raina bahagia karena akan menikah. Kenapa masalah selalu saja datang sihh?!" Raina mengacak-acak rambutnya yang sama sekali tidak gatal.


"Kak Rachel, apa kakak dengerin Raina? Raina butuh kak Rachel sekarang," Raina menyentuh dadanya seraya memejamkan matanya.


1 menit


2 menit


hingga 5 menit tidak ada yang terjadi. Tidak ada suara Rachel, bahkan Raina tidak merasakan kehadiran saudari kembarnya itu.


"Apa kak Rachel marah sama Raina?? Apa mungkin, selama ini Raina hanya halusinasi? Ndak mungkin, jelas-jelas semuanya nyata. Kak Rachel ada di hati Raina, kak Rachel akan selalu ada untuk Raina. Tapi kenapa kak Rachel gak datang juga??"


Raina terlihat begitu sangat frustrasi, membuat Devano yang baru saja datang menjadi bingung.


"Ada apa lagi sayang? Masih memikirkan masalah tadi? Udah, gak perlu dipikirkan. Tadi Revan udah kabarin aku, semuanya hanya salah paham. Om Johan udah jelasin semuanya, gadis yang mirip kamu itu memiliki tanda lahir di tangan kanannya, sedangkan kamu di tangan kiri. Itu jelas bukan kamu sayang, udah jangan bengong gitu."


"Tanda lahir di sebelah kanan?! Apa mungkin itu ,,,, " Raina menjeda ucapannya saat Devano tiba-tiba saja menarik pergelangan tangannya.


Keesokan harinya


Raina kembali melakukan aktivitasnya, hari ini gadis itu memutuskan untuk pergi ke toko kue miliknya. Raina sedang ingin merilekskan pikirannya, bukannya senang karena akan segera menikah, Raina justru malah menampung beban di pikirannya.

__ADS_1


"Loh, lo kok balik lagi?" Raina menatap Sandy dengan tatapan bingung, dan pergi seketika.


"Ehhh bos pelit, tunggu!! Tadi kan lo udah dari sini, kok lo balik lagi? Bukannya tadi katanya lo mau belanja?" menatap Raina dengan tatapan penuh selidik membuat Raina kesal.


"Gini ya Sandy yang ganteng tapi lebih gantengan Dev nya Raina, apa mata kamu perlu di refresh biar fresh?! Raina baru saja datang loh ini, udah di ajak ribut. Mbak Mayang, Mbak Saras, tolong yaa awasin nih karyawan malas satu, jewer aja telinganya kalo kedapatan malas-malasan." balas Raina, gadis itu berlalu begitu saja menuju ruangannya untuk berganti pakaian pelayan.


Selepas kepergian Raina, Sandy menatap Mayang dan Saras yang juga sedang menatap aneh padanya.


"Apa?? Kenapa kalian lihatin gue segitunya? Seharusnya gue yang natap kalian curiga. Kalian lagi kerjain gue kan?! Kalian udah sampai dari tadi, terus Raina masuk duluan sedangkan kalian nunggu di mobil. Setelah Raina balik, kalian pun datang bersamaan lagi dengan Raina. Dugaan gue bener kan?!"


"Mas Sandy lagi mimpi yaa? Kita baru aja datang kok, mungkin Mas Sandy nya yang salah ngenalin orang." jawab Saras, pelayan itu bahkan sedikit merasa takut pada Sandy sekarang.


"Saras, ini pria yang akan menikahi kamu? Lihat, dia bahkan suka bermimpi di siang bolong. Jelas-jelas kita baru saja datang, kurang kerjaan sekali sampai nona Raina harus bolak balik ke toko kue nya sendiri." sahut Mayang, perkataan pelayan itu membuat Sandy kesal.


"Bilang aja kalo lo cemburu, makanya cari pasangan sana jangan cuma bisa ngerecokin orang." kesal Sandy, membuat Mayang menjadi kesal.


"Sudah, apa kalian tidak malu bertengkar di depan pelanggan?! Tapi, ini memang aneh. Mayang, apa kamu lupa dengan kejadian kemarin? Ada perempuan yang mirip dengan nona, bahkan nona sempat menjadi kambing hitam." Mayang mengangguki perkataan Saras, lalu kembali menatap Sandy yang tidak mengetahui apa-apa.


"Apa Mas Sandy lihat ada tanda lahir di tangan perempuan yang mirip nona Raina??" Sandy tampak berpikir, Mayang dan Saras menatap dengan serius.


Mayang dan Saras tidak bisa menolak perintah dari nona mereka pun segera menuruti nya. Selepas kepergian kedua pelayan nya, Raina kini beralih pada Sandy yang masih saja berfikir.


Raina mendengus kesal, kenapa teman nya ini berubah menjadi pria yang idiot?! Apa karena dalam fase kasmaran kah? Entahlah, Raina juga pusing dengan sikap Sandy yang tidak bisa di tebak.


"Raina, gue serius tentang cewek yang mirip lo tadi. Tapi anehnya, dia gak ngenalin gue. Dia justru mesen kue, setelah itu pergi. Apa gue salah lihat yaa?"


"Kamu ndak salah lihat, itu nyata. Tapi itu bukan Raina, kamu harus nyelidikin ini. Raina mohon, jika bertemu dia lagi usahain buat ikutin kemana dia pergi."


"Ehh?! Ini tugas tambahan??!"


"Ini tugas baru, cepet kerjain pekerjaan kamu. Awas aja kalo malas-malasan, Raina pecat nanti."


"Lo pecat, gue sih fine fine aja. Gue kan udah kaya dari lahir." Sandy tersenyum sombong kearah Raina, membuat gadis itu mendengus kesal.


"Oh yaa? Kamu bisa aja kok, keluar tanpa harus di pecat." Raina tersenyum dengan sangat manis.

__ADS_1


"Serius lo?!"


"Dua rius malah, masih ndak percaya?"


"Ya udah kalo gitu, gue ngundurin diri sekarang!"


"Yakin? Padahal Raina belum bilang konsekuensi nya loh, tapi ndak ppa. Raina kasih tau sekarang yaa, konsekuensi nya itu kamu ndak boleh temuin mbak Saras lagi. Ngerti?!!"


"Gue gak jadi ngundurin diri, Ndoro Ratu. Maafkan hamba, hamba akan bekerja segiat mungkin." Sandy dengan lesuh berjalan menuju pantri untuk mengambil pesanan dan menyajikannya pada pelanggan, sedangkan Raina malah terbahak melihatnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Gimana? Udah ada info? Kita harus pecahin masalah ini secepatnya, Abang gak mau ada masalah lagi nantinya."


"Bang Dev tenang aja, Fana udah serahin anak buah Fana untuk mencari tau siapa sebenarnya perempuan yang mirip dengan kakak ipar. Fana juga tau, kakak ipar pasti sedang tertekan sekarang. Tapi Bang, apa mungkin perempuan itu saudari kembar kakak ipar??"


Devano menatap Fana sekilas, lalu menggelengkan kepalanya. " Gak mungkin Fana, kembaran Raina itu sudah meninggal saat insiden penculikannya 9 tahun yang lalu. Gak mungkin orang mati bisa bangkit dari kubur, mau kamu di gentayangin arwah kembarannya Raina??!"


"Bang, kan Fana cuma nebak-nebak aja. Bisa aja kan, mayat yang dikuburkan itu bukan kembarannya kakak ipar. Secara, waktu saudara kembarnya di kuburkan kakak ipar sedang kritis karena peristiwa penculikan itu, hanya oma dan opa kakak ipar yang tau kebenarannya."


Yang di katakan Fana ada benarnya, namun Devano sangat yakin bahwa Rachel sudah meninggal. Tidak mungkin oma dan opa Raina sengaja menyembunyikan keberadaan Rachel dari keluarganya sendiri.


Karena merasa urusannya dengan Devano sudah selesai, Fana memutuskan untuk pergi. Pemuda itu memutuskan untuk berjalan-jalan, selagi Devano dan Raina sedang sibuk dengan urusan mereka. Namun saat sedang nongkrong di sebuah Cafe, Fana justru melihat seorang perempuan yang sangat mirip dengan Raina. Perempuan itu memiliki kemiripan dengan Raina, namun sikap dan gayanya sangat lah berbeda. Perempuan itu terlihat sedikit tomboy namun tetap feminim, berbeda dengan Raina yang selalu bersikap feminim dan bar-bar.


"Apa aku salah lihat? D-dia, kenapa sangat mirip dengan kakak ipar?"


Fana terus saja memperhatikan perempuan yang mirip dengan Raina itu, dan beberapa saat kemudian seorang pria datang menemuinya.


"Hay adik, apa kabar? Lama tidak bersua, are you okay? " pria itu bercipika cipiki dengan perempuan itu.


"Sangat berbeda, kakak ipar mana mau bercipika cipiki sama pria lain. Sama aku aja, karena lagi sakit dia mau nyium." ucap Fana, sambil terus memperhatikan gerak-gerik perempuan dan pria itu.


Namun saat pria itu tak sengaja berbalik, Fana melihat dengan sangat jelas wajahnya. Dan Fana mengenalnya, ini akan menjadi sebuah bukti baru dalam penyelidikannya. Devano dan Raina pasti akan sangat senang dengan apa yang dirinya temukan.


Akhirnya bisa up lagi, jangan pernah bosan yaa baca cerita ini, love you buat kalian semua yang udah setia membaca cerita ini dari awal hingga saat ini, aku semangat up demi kalian, sampai rela begadang nih, keasikan nulis aku sampai lupa kalo tugasku belom selesai😂 Udah dulu yaa, jangan lupa like, comment, rate, dan share yaa, see u next time🤗

__ADS_1


__ADS_2