
Sedari tadi Raina terus saja uring-uringan di kamarnya, membuat kedua pelayannya pusing melihat tingkah Nona mereka itu. Raina uring-uringan sejak pulang dari taman bersama Devano, gadis itu bahkan menolak untuk berbicara pada siapapun tapi terus saja mengoceh membuat kedua pelayannya pusing mendengarnya.
"Nona, apa Nona sedang lapar?" tanya Mayang, biasanya Raina uring-uringan seperti ini saat sedang lapar.
"Atau Nona ingin minum susu? Atau makan keripik singkong?" kali ini Saras yang berbicara, namun tetap saja Raina tak memperdulikan kedua pelayannya.
Ceklek
Pintu kamar Raina terbuka, menampilkan Rachel yang baru saja datang dengan membawa nampan berisi makanan dan minuman untuk Raina. Dengan pelan gadis itu duduk di depan Raina yang tampak cemberut, sedetik kemudian tangis gadis itu pecah. Hal itu sontak membuat Rachel terkejut, pasalnya Raina dengan perasaan tak berdosanya mengeluarkan ingus dan menggesek-gesekkannya pada lengan baju Rachel.
"Raina! Ihhh, jorok banget sih lo! Gue baru abis mandi Raina, nih baju juga baru gue ganti! Masa mau ganti lagi sih!" kesal Rachel.
"Kak Rachel ndak peka, Raina tuh lagi sedih tau!"
"Emang lo sedih kenapa? Gak jelas lo, pulang-pulang tiba-tiba kek gini lo." Rachel memeriksa lemari pakaian Raina, mencari-cari kaos yang sekiranya bisa di gunakannya untuk mengganti pakaian nya yang sudah di nodai Raina.
Rachel menghela nafas, pusing melihat isi lemari kembarannya. Isinya hanya ada dress, gaun, baju tidur, dan beberapa kaos. Dan yang membuat Rachel kesal, semua kaos Raina bermotif hello kitty. Apa kembarannya itu maniak hello kitty? Rachel jadi teringat pada kedua kucing peliharaan Raina, Tommy dan Kitty. Beberapa waktu lalu Raina menghebohkan seisi rumah karena mendapati perut Kitty yang membesar.
Kehebohan Raina membuat seisi rumah gempar, dan alasannya membuat Bima sangat ingin menitipkan anak kesayangannya itu ke panti asuhan. Suka bikin jantungan, padahal hanya alasan sepele.
Flashback
"OMG, Mama, Papa, Kak Revan, Kak Rachel! Cepat kesini!" teriakan menggelegar Raina di pagi buta membuat seluruh anggota keluarga kalang kabut.
Revan pertama kali datang masih menggunakan celana boxer bermotif doraemon. Dewi dan Bima menyusul dengan tampilan yang berantakan, apalagi waktu masih menunjukkan pukul 4 pagi. Dan terakhir, Rachel datang sambil menguap. Gadis itu hanya menggunakan tank top dan celana bermotif superman.
"Siapa yang hamilin kamu, Kitty? Jawab! Cepet ngomong, emang kamu mau nanti anak kamu lahir gak ada bapaknya?"
Revan melongo melihat adik kesayangannya itu tengah memarahi seekor kucing yang berbentuk bulat, kek bola karena kebanyakan makan. Jadi, Raina memanggil mereka semua selagi ini hanya untuk menyaksikan gadis nakal itu memarahi kucing nya?
"Sayang, ada apa? Ini masih pagi banget loh kamu udah bangunin seisi rumah," tanya Bima.
"Kitty hamil, Pa. Raina ndak tau siapa bapaknya, sapa tau aja di antara kalian salah satunya ayah dari bayi yang di kandung Kitty."
"Ya ampun, Raina. Jadi kamu teriak-teriak tadi itu karena dapatin Kitty yang sedang hamil? Kamu bikin kita semua panik aja pagi-pagi begini. Lagian, ya gak apa-apa dong kalo Kitty hamil. Itu artinya kita akan punya anggota keluarga baru, iya kan Pa?"
"Bener, Ma. Udah, ayo kita tidur lagi. Biar besok, Papa telponin dokter hewan buat cek kondisi Kitty."
"Mama ini kenapa ndak peka sih? Maksud Raina tuh, Kitty hamil siapa yang udah berani hamilin dia?! Jangan-jangan Kak Revan ya?"
"Hah?! Gila, mentang-mentang jomblo di tuduh hamilin kucing. Aku masih normal, ya Dek." dengan kesal Revan pun kembali ke kamarnya.
Dewi dan Bima hanya geleng kepala melihat tingkah Raina, ada-ada saja gadis itu. Masa iya, Revan di tuduh hamilin kucing. Sedangkan Rachel hanya diam, enggan untuk mengeluarkan suara. Bisa-bisa kembarannya itu malah menjadikan dirinya baby sister untuk si Kitty nanti.
"Udah, Raina. Sekarang kamu kembali ke kamar ya,"
"Jangan dulu, Pa. Kan pelakunya belum terungkap, emang Papa ndak kasihan kalo Kitty punya anak ndak ada suaminya?"
Meaow
"Sayang, kamu gak perlu repot-repot cari pelakunya. Tuh, si Tommy pelakunya."
"Apa?! Kok Papa tega nuduh Tommy? Tommy, maafin Papa Raina yaa. Raina yakin, Papa ndak ada maksud buat nuduh kamu."
Meaow
__ADS_1
Dewi dan Bima serentak nepok jidad menghadapi Raina, sudahlah dari pada mereka bertambah tua mending kabur ke kamar.
"Kalian mau kemana?!"
"Mau ke kamar, Sayang. Papa masih ngantuk nih,"
"Tapi ini gimana? Besok Papa telponin dokter nya yaa, ingat dokter kandungan. Dan jangan lupa, sama penghulu juga ya Pa."
"Hah? Dokter kandungan? Penghulu? Untuk apa penghulu?"
"Buat nikahin Kitty sama Tommy, biar anak Kitty nanti punya bapak."
Mengingat kejadian waktu itu, Rachel hanya bergidik bahkan keesokan harinya Revan yang sudah bersiap ke kantor malah menjadi penghulu dadakan untuk Kitty dan Tommy. Ckckck, kasihan sekali nasib kakaknya itu.
"Kak Rachel, emang ndak rindu sama Mas Alvin?" tanya Raina membuat lamunan Rachel tentang tingkah konyol Raina buyar seketika.
"Kenapa lo tiba-tiba nanya gitu?"
"Ndak ppa, Raina cuma mau tau aja."
"Gue gak rindu sama dia, humm ada sih sedikit. Tapi gue rindunya cuma pas lihat muka kasihannya aja pas lo hukum, selebihnya nggak. Ya meskipun gue selalu deg-deg an kalo deket dia. Yakin, cuma mau nanya doang? Gak ada niat gitu buat bebasin dia dari hukuman?"
"Hukumannya berakhir kalo Dev ndak jadi perjalanan bisnis di dua negara."
"Loh, kok gitu?"
"Karena Mas Alvin Kak Rachel itu yang udah buat Dev mau pergi. Huhh, pengen Raina tambahin hukumannya."
Rachel malah cekikikan melihat wajah nelangsa kembarannya. "Udah, lebay banget sih lo. Mungkin itu karma, karena lo selalu kasih ujian buat Mbak Saras dan gue."
"Ada pelakor di rumah ini."
"Hah?! Siapa?"
"Tuh, si Inem Markinem. Enak aja kemarin berusaha godain Dev." adu Raina.
"What?! Wahh, parah sih ini. Biar gue bilang Papa buat pecat dia yaa,"
"Eits, jangan dulu Kak."
"Kenapa? Emang lo mau tuh pembantu semakin buat ulah lagi?"
"Raina kan belom main-main sama dia, nanti aja kalo Raina udah main-main baru boleh di pecat."
Rachel menggelengkan kepalanya tak percaya mendengar perkataan Raina. Kembarannya itu, memang luar biasa ajaibnya. Malas berdebat dan ketularan sengklek nya Raina, Rachel pun berlalu dari kamar Raina. Hal itu membuat Raina kesal karena di tinggal saat dirinya belum usai bercerita.
Raina menghentak-hentakan kakinya kesal saat sudah berada di ruang makan. Gadis itu cukup terkejut saat kursi yang tersedia biasanya lengang kini terisi full. Raina tampak berfikir, mencoba mengingat siapa gerangan orang-orang yang memenuhi meja makan.
"Lo kenapa lagi sih, Raina?" tanya Rachel.
"Pinjem ponsel," pinta Raina, menadahkan tangannya pada Rachel. Tanpa bertanya lagi Rachel segera memberikan ponselnya pada Raina, toh menolak juga percuma karena Raina akan tetap mengambil ponsel itu sendiri.
Raina tampak mengotak atik ponsel milik Rachel, dengan gerakan cepat sebuah panggilan terhubung. Raina meloudspeaker agar Rachel bisa mendengar siapa yang tengah dirinya hubungi.
"Halo, Sayang. Tumben kamu nelpon, biasanya ngangkat telpon dari aku aja kamu gak mau."
__ADS_1
Rachel menatap Raina meminta penjelasan, namun Raina malah acuh dan tetap menjalankan aksinya.
"Mas Alvin, apa gak kangen sama aku? Kamu datang kerumah, ya."
Lagi-lagi Rachel malah mangap melihat kelakuan kembarannya, Rachel melirik kedua pelayan pribadi Raina yang sedang cekikikan. Sedangkan orang-orang yang tak dikenali Raina hanya bengong menonton aksi gadis nakal itu.
"Apa yang Nona kalian sedang lakukan?" bisik Rachel pada Saras dan Mayang.
"Nona, Nona kami sedang bermain-main. Sepertinya tuan Alvin melakukan kesalahan fatal hingga membuat Nona Raina kesal. Lihat saja tadi, dia datang sambil menghentakkan kaki." jawab Mayang. Rachel tampak menganggukkan kepala nya mengerti, ini pastibada hubungannya dengan perjalanan bisnis Devano yang tiba-tiba.
"Ckckck, kenapa gue punya calon suami yang bego kek Alvin sih?! Bodoh banget cari lawan,"
"Hihihi, benar Nona. Sebaiknya Nona menyiapkan rencana untuk membantu tuan Alvin nanti, jika tidak Nona Raina pasti akan bertindak brutal.
"Kamu serius? Gimana sama kembaran kamu Raina? Dia kan belum bolehin aku ketemu kamu, makanya aku kerjain balik jauhin dia dari Devano." lagi, jawaban yang di lontarkan Alvin membuat Rachel tepuk jidad. Sedangkan semakin tersenyum senang mendengar jawaban dari Alvin.
"Kamu tenang aja, Mas. Semuanya aman, Raina ada di atas kendali aku. Mas cepat datang, yaa. Jangan lupa bawain keripik singkong dan susu kotak yang banyak buat Raina ya, kalo perlu isi satu supermarket juga gak ppa."
Raina mematikan panggilan secara sepihak membuat Rachel melongo. Sedangkan di seberang sana, Alvin sama sekali tidak merasa curiga. Raina sangat ahli berakting dan merubah nada bicaranya agar mirip seperti Rachel. Namun saat Raina meminta keripik singkong dan susu kotak, Alvin merasa bingung. Karena setaunya, Rachel tidak menyukai keripik singkong melainkan keripik kentang. Namun pria itu mengabaikan perkiraannya dan melakukan apa yang Raina pinta.
"Raina, apa yang akan lo lakuin?"
"Bermain-main, menurut Kak Rachel apa Mas Alvin akan mendapat restu dari Raina apa ndak? Dia begitu sombong dan arogan, mana katanya rumor yang mengatakan bahwa seorang Alvin Denandra Abraham itu tampan, tegas, dan berwibawa? Calon suami Kak Rachel harus tanggung jawab, gara-gara dia Dev jadi ingkar janji sama Raina."
"Raina, tapi gak gini juga! Lihat, mereka semua teman-teman gue dan Kak Revan. Mereka akan nginep di rumah ini selama seminggu menjelang hari pertunangan gue dan mas Alvin. Please deh, Raina. Gak usah aneh-aneh yaa," pinta Rachel, gadis itu tidak tega jika Alvin harus malu di depan teman-temannya dan Revan. Gadis itu sangat tau, Raina tidak pernah mau melepaskan mangsanya dengan mudah.
"Raina bisa aja sih ubah pikiran, asal Dev udah ada disini sore nanti. Kalo ndak, Raina akan buat perhitungan."
"Jadi, yang nelpon tadi itu Raina? Bukan Rachel? Kok gue bisa kena tipu ya?" Alvin yang baru saja datang terkejut saat mendengar percakapan Raina dan Rachel.
"Dan apa tadi? Devano harus sudah berada disini sore nanti? Gila aja, ini bukan penerbangan antar kota, ini antar negara. Mana bisa kek gitu?"
"Ya terserah sih, Raina yakin pesawat yang ditumpangi Dev belum sampai di tempat tujuan. Suruh putar balik aja, gampang kan?"
"Eh? Gila aja, pesawat disuruh putar balik. Lo kira itu mobil?" sahut Alvin.
"Mobil kendaraan, bukan?"
"Kendaraan,"
"Bisa putar balik ndak?" lagi Raina bertanya.
"Bisa,"
"Pesawat kendaraan, bukan?"
"Kendaraan juga,"
"Ya udah, tinggal putar balik. Sama-sama kendaraan kan, enak nya lagi di udara pesawatnya gak akan tabrakan karena lalu lintas di udara ndak sepadat di darat. Udah, pokoknya Raina mau Dev udah sampai disini sore nanti. Kalo ndak, siap-siap aja abisin tuh susu kotak. Raina tau loh, kalo Mas Alvin alergi susu coklat."
Raina berjalan santai menuju ruangan khusus kucing-kucing nya, sedangkan Rachel menatap Alvin dengan tatapan prihatin. Tak dapat berkata apa-apa lagi.
"Sayang, bantuin napa?"
"Gak, kamu gak denger tadi Raina ngomong apa? Suruh putar balik tuh pesawat, mumpung lalu lintas di udara masih lengang. Kalo gak, abisin tuh susu coklat yang kamu beli."
__ADS_1
Rachel ikut berlalu meninggalkan Alvin yang mengusap wajahnya frustrasi. Kenapa dirinya harus mendapat calon ipar yang semenyebalkan Raina? Sebuah anugerah kah, atau kesialan?