
Hari ini Devano memutuskan untuk mengantar Raina kepada seorang psikiater. Kondisi Raina kian memburuk, kenangan masa lalu sungguh membuatnya selalu terlihat tidak waras. Devano baru menyadari nya saat beberapa kali Raina berbicara pada dirinya sendiri. Awalnya Devano hanya berpikir Raina sedang melatih cara berbicara nya, namun semuanya terungkap saat Raina menceritakan semuanya tentang sosok Rachel yang tinggal di dalam hatinya dan selalu menghibur kala gadis itu bersedih.
Keadaan Raina semakin parah saat peristiwa lamaran, gadis itu terus saja memikirkan tentang perempuan itu. Raina tidak bisa membohongi dirinya, gadis itu sangat berharap perempuan itu adalah kembarannya Rachel. Raina sangat berharap Rachel benar masih hidup, Raina tidak masalah jika dirinya di tuduh menjadi penyebab Fabian depresi, asalkan gadis itu bisa bertemu dengan perempuan yang mirip dirinya itu.
Devano begitu merasa khawatir dengan keadaan Raina, apalagi saat ini. Raina tiba-tiba saja menjadi sosok yang pendiam, sangat jauh dari kepribadian Raina yang sesungguhnya.
"Kamu yakin akan membawa Raina ke psikiater? Kalo kamu mau, Mama dan Papa akan ikut bersama kalian." tanya Dewi saat melihat Devano datang sambil memapah tubuh Raina yang terlihat lemah.
"Gak apa-apa Ma, biar saya saja sendiri. Kalian fokuskan saja pada pencarian. Biar saya yang mengurus Raina, kalian tidak perlu khawatir. Yang terpenting, perempuan itu harus di temukan dan mempertanggung jawabkan perbuatannya, kasihan Raina. Dia menjadi tertekan karena masalah ini." jawab Devano meyakinkan semuanya.
"Dev, tadi Raina bertemu kak Rachel. Dia belum pergi Dev, Raina seneng karena dia gak ninggalin Raina lagi." perkataan Raina membuat semuanya terdiam.
Separah itu kah derita yang di tanggung Raina selama ini? Bima dan Dewi sangat merasa bersalah, karena sama sekali tidak mengetahui perihal kondisi putri mereka. Mereka hanya percaya apa yang mereka lihat, tanpa tau apa yang sebenarnya Raina rasakan selama ini.
"Saya benar-benar orang tua yang tidak berguna, bagaimana bisa keadaan putriku sendiri aku tidak tau. Maafkan Papa sayang, maafkan Papa yang kurang memperhatikanmu. Papa pikir, kamu sudah begitu bahagia dengan kekayaan dan kasih sayang yang kami berikan, sampai kami melupakan bahwa separuh jiwa putriku sudah pergi." ucap Bima, memandang Raina dengan tatapan sendu.
"Papa, kenapa nangis? Raina baik-baik aja Pa, Dev aja yang berlebihan. Raina kan sudah bilang, kalo kak Rachel ada disini, dia ada di hati Raina. Kak Rachel juga selalu nemenin Raina kalo Raina lagi sedih. Kenapa kalian ndak ada yang percaya sih?!"
Raina terlihat kesal karena tidak ada yang mempercayai dirinya. Gadis itu pun memilih duduk sembari menunggu Devano bersiap.
"Sayang, Rachel sudah tidak ada nak. Dia sudah tenang di sana, seberapa begitu dalamnya rasa bersalahmu sampai menanggung semuanya seperti ini nak." Dewi tidak dapat lagi menahan air matanya, wanita itu merengkuh tubuh mungil Raina.
"Kalian terlalu berlebihan, Raina baik-baik saja. Raina hanya lelah, kepala Raina sakit."
"Apa sangat sakit sayang? Sini, biar Papa pijitin yaa sambil menunggu Devano." tawar Bima, namun dengan tegas Raina menggelengkan kepalanya.
"Sayang, ayo kita berangkat."
Devano dan Raina kini sudah berada di rumah sakit jiwa. Devano mendapatkan rekomendasi psikiater yang berpengalaman untuk membantu Raina. Dengan ragu Raina mengikuti langkah kaki Devano, gadis itu begitu takut. Kenapa Devano membawa nya ke rumah sakit jiwa? Raina tidak gila, dia hanya sedikit merasa lelah.
"Dev, kenapa kesini? Raina ndak gila Dev, ini tempat orang gila! Raina ndak mau disini!" Raina mulai berontak, namun Devano dengan cepat memeluk gadis itu agar tenang.
"Sayang, kamu tidak gila. Justru itu, kita akan menemui psikiater hebat untuk menyembuhkan halusinasi kamu."
"Raina ndak halusinasi!!"
"Iya sayang, aku mengerti. Tapi kamu juga bukan indigo yang bisa melihat arwah gentayangan, Rachel sudah meninggal sayang. Kamu tidak mungkin terus-terusan bisa melihatnya jika bukan halusinasi, dan kamu bukan indigo. Aku gak mau halusinasi kamu ini membuat kamu semakin tertekan sayang, kamu percaya kan sama aku??" dengan perlahan Raina menganggukkan kepalanya, meskipun dalam pikirannya bahwa Rachel benar ada dan selalu menemuinya.
"Tapi Raina ndak akan tinggal disini kan?"
"Tidak sayang, bagaimana mungkin aku rela calon isteri ku ini tinggal di rumah sakit jiwa. Ayo, Dokter Ivan sudah menunggu kita di dalam." Raina pun mengikuti langkah kaki Devano membawanya, gadis itu menggenggam erat jari jemari Devano. Apalagi saat tak sengaja beberapa pasien berjalan dan mendekat padanya, Raina begitu ketakutan.
"Sayang, kau ini tidak takut pada penjahat. Tapi kenapa bisa takut pada pasien-pasien disini, hahaha" Devano menertawakan kelakuan Raina, pria itu akhirnya mendapat cubitan manja dari sang gadis.
"Dev, itu beda. Rasanya, pasien-pasien disini lebih menakutkan daripada penjahat." gerutu Raina, sedangkan Devano masih saja tertawa membuat Raina semakin kesal.
Raina memelototi Devano dengan tatapan tajam, hingga seorang perawat datang menghampiri mereka. Namun, Raina terlihat tidak menyukai kedatangan perawat itu. Apalagi saat perawat itu menatap Devano dengan tatapan memuja, ingin rasanya Raina mencongkel kedua matanya.
"Tuan Devano, mari saya antar. Dokter Ivan mengutus saya untuk menjemput anda, dia sedang menunggu di ruangannya." ucap perawat itu, sambil tersenyum ramah pada Devano namun enggan menatap Raina sedikitpun.
"Dasar perawat ganjen," gumam Raina dengan wajah kesalnya, saat perawat itu asik berbicara dengan Devano.
__ADS_1
"Baiklah Carla, tolong antarkan kami kesana yaa." ucap Devano. Tanpa di duga, perawat bernama Carla itu menggenggam tangan Devano dan menariknya begitu saja.
"Apa-apaan ini, dia berani mengambil Dev di depan mataku?? Dan Dev, dia juga meninggalkanku? Hohh, baiklah jika begitu. Mari kita bermain, ini rumah sakit jiwa kan. Raina yang waras ini di bawa ke rumah sakit jiwa, jika begitu kenapa ndak gila sekalian aja." ucap Raina, gadis itu berbalik dan pergi menjauh dan membiarkan Devano pergi bersama Carla.
Raina mendekati seorang pemuda yang sedang duduk di taman, pria itu tidak menggunakan baju pasien. Tapi dari pandangannya terlihat kosong, oleh sebab itu Raina pun menghampirinya.
Tanpa berkata dan meminta ijin, Raina duduk tepat di samping pria itu.
"Kenapa kau duduk disini? Masih banyak bangku yang kosong di taman ini." ucap pria itu tanpa menatap Raina sedikitpun.
"Ini tempat umum, terserah dong Raina mau duduk dimana aja. Jangan buat Raina kesal, Raina ini pasien yang kabur. Mau Raina cakar-cakar mukanya?!" pria itu hanya diam mendengar ocehan Raina.
Karena tidak mendapat respon dari pria di sampingnya, Raina pun ikutan diam. Tapi mulut Raina yang lemes ya dasarnya tidak bisa diam, gadis itu kembali mengoceh membuat pria di sampingnya itu memutar kedua bola matanya dengan malas.
"Kamu tampan juga, 11 12 lah sama Dev. Tapi kamu lebih tampan, Raina tukar calon suami boleh ndak yaa??"
"Apa maksudmu??!" kali ini pria itu menatap Raina tanpa berkedip.
"Apa?? Raina hanya mengutarakan pendapat, kau tau Raina sedang kesal sekarang. Raina ini masih waras, tapi calon suami Raina malah membawa Raina kesini. Dan lihat sekarang, dia ninggalin Raina dan pergi sama perawat ganjen itu! Huhh, Raina sebel!"
Pria itu tersenyum kecil mendengar perkataan Raina, gadis itu terus saja mengoceh membuat pria itu tidak bisa menahan senyum di wajahnya.
"Kamu sedang curhat? Cerita aja, akan saya dengarkan." ucap pria itu sambil menatap Raina, pria itu bahkan tidak bisa mengalihkan pandangannya.
"Ndak jadi dehh, Raina mau pulang aja. Makasih yaa udah dengerin curahan hati Raina, Raina pergi dulu. Dadah kakak tampan," Raina berjalan menjauh dari pria itu. Memanggil pria itu dengan sebutan kakak tampan, Raina seperti merasa dejavu. Raina pernah memberikan panggilan itu untuk Devano di awal pertemuan mereka.
Devano yang menyadari bahwa Raina tidak berada di dekatnya pun di landa kepanikan. Pria itu baru menyadari tangannya yang sedang di genggam erat oleh Carla.
"Tidak, sejak tadi kan hanya ada kita berdua." Devano mengusap wajahnya kasar, pria itu pun berlari untuk mencari Raina.
Devano sudah mencari dimana-mana, namun tak kunjung menemukan Raina. Devano pun memutuskan untuk mencari Raina di luar rumah sakit.
Raina yang kelelahan akibat berjalan pun duduk di bangku yang tersedia di pinggiran jalan. Gadis itu terlihat pucat, mungkin efek sakit kepala yang di rasakan nya tadi sebelum pergi RSJ.
"Raina!!" Raina menoleh pada suara yang memanggilnya, terlihat Devano yang sedang berlari ke arahnya. Senyum Raina merekah saat melihat Devano ada di depannya, namun senyum itu redup seketika saat melihat siapa yang sedang bersama Devano, Carla.
Dengan kesal, Raina bergegas pergi menjauh dari Devano. Karena kondisi tubuh Raina yang lemah, Devano pun akhir nya bisa mengejar langkah gadis itu.
"Raina tunggu!! Kamu mau kemana sih hah?! Pergi gak bilang-bilang, aku nyariin kamu tadi. Bisa gak sih gak bikin aku khawatir?!" Raina hanya menunduk mendengar perkataan Devano, apalagi nada bicara Devano yang terdengar marah padanya. Raina tidak ingin terlihat lemah, gadis itu kembali melanjutkan langkahnya.
"Raina!!" Devano menarik pergelangan tangan Raina hingga gadis itu meringis kesakitan.
"Apasih mau kamu hah?!!"
Raina tidak menjawab pertanyaan Devano, gadis itu justru menatap Carla dengan tatapan penuh permusuhan.
"Raina mau pulang sendiri, ndak usah cariin Raina!!"
"Kamu kenapa sih?!! Marah tanpa sebab dan tiba-tiba pergi gitu aja!! Kita kesini buat ngobatin kamu, biar kamu sembuh, biar normal lagi!"
"Jadi menurut Dev, Raina ini ndak normal gitu?? Sudah Raina bilang, Raina ndak sakit, Raina ndak gila!! Raina baik-baik aja kok,"
__ADS_1
"Ehmm, maaf. Tidak baik jika kalian bertengkar di pinggir jalan seperti ini, bagaimana jika kita masuk saja kedalam." ucap Carla, namun malah mendapat tatapan tajam dari Raina.
"Terima kasih Carla, baiklah ayo kita ke dalam. Raina, jangan buat masalah lagi atau petugas rumah sakit akan benar-benar menjadikan kamu pasien." Devano menarik pergelangan tangan Raina, namun langsung ditepis Raina.
"Raina ndak mau, Dev aja sana yang konsultasi."
"Raina!! Jangan menguji kesabaran ku, oke?"
"Apa?! Raina harus takut?? Silahkan, paksa Raina masuk kedalam. Tapi ingat, Raina akan sangat marah nanti. Raina akan pergi ke rumah om Johan, dan menikah dengan Fabian." Devano terdiam mendengar perkataan Raina, pria terlihat sangat marah mendengarnya.
Tanpa mengatakan apapun, Devano menarik pergelangan tangan Raina masuk dalam rumah sakit, dan segera menemui dokter Ivan.
Karena kelelahan serta kondisi fisiknya yang sedang tidak baik, Raina pingsan saat hendak memasuki ruangan dokter Ivan.
Devano merasa sangat bersalah, apalagi melihat pergelangan tangan Raina yang memerah akibat cengkramannya tadi.
"Maafkan aku sayang, aku begitu kalut sampai tidak memperdulikan kamu. Aku hanya ingin kamu sembuh, aku tidak ingin kamu terus tertekan, aku sangat takut dengan perubahan sikap mu yang tiba-tiba." ucap Devano, saat ini Raina masih belum sadarkan diri.
"Gimana Vano, dia belum sadar juga? Tunggulah sebentar, adikku akan datang dan membawa perlengkapan medis ke sini."
Ceklek
Pintu ruangan rawat dokter Ivan terbuka dan menampilkan seorang pemuda tampan.
"Kak, ini perlengkapan medisnya." pria itu memberikan perlengkapan medis, dan Ivan segera menangani Raina.
"Ehhh, dia kan cewek di taman tadi. Lo calon suaminya yaa?" pria itu ternyata adalah pria yang di temui Raina di taman tadi.
"Iya, kamu kenal dengan Raina?"
"Iya, tadi dia sempat curhat di taman. Katanya calon suaminya pergi sama perawat ganjen dan ninggalin dia sendiri, kelihatannya dia sedang cemburu." ucap pria itu lagi.
Devano menghela nafas pelan, seharusnya dirinya bisa mengerti perasaan Raina. Raina gadis yang sensitive, tentu saja gadis itu akan cemburu saat melihat Devano digandeng wanita lain di depan matanya sendiri. Devano merutuki kebodohannya.
15 menit kemudian, Raina mulai sadar. "Sayang, akhirnya kamu sadar juga sayang. Maafin aku yaa, aku emang gak peka. Jangan marah lagi yaa, aku akan menghukum diri Aku sendiri kalo kamu gak mau maafin aku."
"Pergi aja sana sama perawat ganjen itu, Raina mau cari calon suami baru. Kakak tampan itu sepertinya boleh juga," ketus Raina.
"Tidak, aku hanya mencintai kamu sayang. Bagaimana mungkin kamu nyuruh aku sama perempuan lain, nggak kamu hanya milik aku dan hanya akan menikah denganku."
"Sudah-sudah, jangan bertengkar terus, ayo kita sebaiknya segera melakukan pemeriksaan."
Dokter Ivan pun akhirnya bisa memeriksa kondisi mental Raina. "Apa ini sudah lama terjadi? Maksudku, apa Raina sering berhalusinasi itu sudah lama?"
"Iya, Raina selalu merasa bahwa saudari kembarnya yang sudah meninggal selalu melindunginya. Raina selalu mengatakan bahwa saudari kembarnya itu tinggal di dalam hatinya, sebenarnya apa yang terjadi pada Raina?"
"Skizofrenia, Raina selalu berhalusinasi seolah-olah arwah kakaknya itu masih ada disisinya."
"Apa maksudnya, dan apa itu skizofrenia?"
"Skizofrenia adalah gangguan mental yang terjadi dalam jangka panjang. Gangguan ini menyebabkan penderitanya mengalami halusinasi, delusi atau waham, kekacauan berpikir, dan perubahan perilaku. Gejala tersebut merupakan gejala dari psikosis, yaitu kondisi di mana penderitanya kesulitan membedakan kenyataan dengan pikirannya sendiri. Tapi tenang saja, selagi kamu selalu mendampingi dia, Raina pasti akan sembuh."
__ADS_1
Devano terduduk lemas, mendengar diagnostik yang diberikan Ivan. Devano mengenal Ivan, pria itu tidak mungkin berbohong. Sekarang Devano mengerti, mengapa Raina di situasi tertentu memiliki sikap yang berbeda.