
Rachel menatap pria di depannya dengan kedua mata membola, apa yang dilihatnya ini benar-benar nyata? Gadis itu mengucek-ngucek kedua matanya, namun yang dilihatnya benar-benar sangat nyata.
"Fa-Fana?! Lo ... anggota kelompok berjubah itu?"
"Gimana Fan? Udah ada kabar?" Fana menggeleng lemah, pria tampan itu bahkan nyaris mengeluarkan bulir-bulir di matanya.
"Pesawat yang di tumpangi bang Dev hilang kontak, gak ada yang tau dimana pesawat itu sekarang. Aku jadi bingung buat ngomong sama kakak ipar, dia pasti akan sangat sedih." jawab Fana, Alvin mengusap wajahnya kasar. Semuanya sudah terlambat, kini mereka kehilangan jejak.
"Kak Rachel, Alvin, Fana? Kok kalian ada disini? Bukannya tadi Kak Rachel bilang mau ke kampus ya?" tiba-tiba saja Raina datang dengan rambut yang dicepol asal.
"Eh, iya. Ini, tadi gue udah ke kampus kok. Heheh, iya pas mau balik ketemu Alvin. Ya udah, gue ajak aja kesini." jawab Rachel, gadis itu terlihat gugup menjawab pertanyaan Raina.
Raina tampak menganggukkan kepalanya, gadis itu pun beralih pada Fana. "Ehh, kalo aku sih mau temenin kakak ipar selama bang Dev gak ada."
"Oh, tadi Raina denger kalian kayaknya lagi ngomongin hal yang serius. Ada apa sih sebenarnya?" Alvin, Rachel dan Fana saling berpandangan. Bingung harus mengatakan apa, Raina sangat sulit untuk di bohongi.
"It .... "
"Raina! Ini gawat, Devano dalam bahaya. Tadi Rafly baru aja dapat kabar kalo pesawat yang di tumpangin Devano hilang kontak, dan gak bisa di lacak. Pilotnya gak bisa di hubungi, dan parahnya lagi. Perusahaan di Singapore gak ngalamin masalah apapun, Devano di jebak." tiba-tiba saja Rara datang sambil tergesa-gesa bersama Rafly, membuat Rachel kembali mengatupkan mulutnya yang hendak berkilah.
DEG
Raina terdiam, menyimak pernyataan Rara dengan baik. Gadis itu tampak linglung, benarkah apa yang Rara katakan itu? Siapa yang begitu tega melakukan ini pada Devano? Bagaimana nasib Devano sekarang?
"Ndak, itu ndak mungkin. Kamu bohong kan, Ra?! Dev ndak mungkin celaka! Raina yakin, pesawatnya pasti lagi sembunyi di balik awan. Kak Rachel .... " Raina kini beralih pada Rachel yang menatapnya prihatin. Ini lah yang Rachel takutkan, gadis itu tidak ingin melihat kesedihan di wajah Raina. Raina seharusnya menikmati kebahagiaan pernikahan nya bersama Devano, bukan menikmati berita duka seperti ini.
"Kak Rachel, tadi Dev udah janji kan? Dia udah janji akan segera kembali dan kita akan pergi berbulan madu, Rara pasti salah! Dev ndak mungkin .... "
"Raina, lo yang tabah yaa. Gue pengen buat bantah berita itu, tapi semua nya nyata Raina. Devano .... "
Wajah Raina tampak memerah, gadis itu terlihat tengah menahan tangisnya. Rachel bergerak ingin memeluk kembarannya, namun Raina dengan tegas menolak dan menghindar. Raina menolak siapapun yang ingin menyentuh dirinya.
Raina terlihat sangat shock, "Raina, kita harus mencari pelaku utama dari semua ini. Dia sengaja lakuin ini untuk buat lo menderita, kalo dia di biarin dia bakal bertindak lebih jauh lagi." ucap Rara, namun Raina sama sekali tak merespon.
__ADS_1
Semua yang berada di ruangan itu terlihat bingung harus berbuat apa. Sudah satu jam lamanya, namun Raina sama sekali tidak bereaksi apapun. Rachel semakin khawatir, khawatir jika Raina kambuh. Skizofrenia Raina tidak dapat disembuhkan, Rachel sangat takut jika penyakit kembarannya itu kambuh di saat seperti ini.
"Vin, ayo lakuin sesuatu. Aku khawatir, kamu lihat kan gimana keadaan Raina!" desak Rachel, namun percuma karena Alvin pun tak tahu harus berbuat apa.
"Kenapa? Apa ada yang salah? Hahaha, tenanglah. Kalian boleh pulang, aku hanya ingin sendiri saat ini." ucap Raina, namun gadis itu tetap saja tak berekspresi.
Raina berjalan gontai menuju kamarnya dan Devano. Setibanya di sana, di raihnya album foto pernikahan dan kebersamaan mereka. Raina tersenyum miris melihatnya, lalu beralih pada foto seminggu sebelum pernikahan mereka. Saat itu, Devano mengajaknya ke sebuah taman. Raina sangat senang, dan Devano bahagia bisa melihat senyum indah Raina.
"Dev, Raina percaya kalo kamu masih hidup. Sampai kapan pun Raina gak akan pernah percaya kamu pergi seperti apa yang mereka ucapin. Raina mohon, cepat kembali Dev. Buktiin ke mereka, kalo kamu gak pernah pergi dan ninggalin aku sendiri." Raina memeluk erat foto-foto itu, hingga dirinya terlelap karena lelah menangis.
Keesokan harinya, seluruh keluarga sudah berkumpul. Mereka begitu terpukul dan prihatin dengan Raina. Apalagi kabar terbaru yang mengatakan bahwa pesawat yang di tumpangi Devano meledak dan akhirnya jatuh ke laut. Hal itu membuat semuanya shock, apalagi menurut informasi dari tim penyelamat tak ada satupun penumpang maupun pilot yang selamat akibat ledakan itu.
"Mama mertua, Papa mertua, kalian disini juga? Maaf ya, Raina ndak sempat menyambut kalian. Mama Papa juga, Raina minta maaf." ucap Raina yang baru saja keluar dari lift.
Mendengar penjelasan salah satu tim penyelamat yang menemukan puing-puing pesawat dan jenazah korban, tak membuat ekspresi Raina berubah. Raina tetap bersikap tenang, tidak ada raut kesedihan. Raina tetap terlihat tenang dengan wajah datarnya.
"Kakak ipar, salah satu jenazah sudah berhasil diidentifikasi. Dan kami menemukan ini .... " Fana menyerahkan sebuah benda pada Raina. Raina melirik benda itu sekilas dan menerimanya dengan tangan bergetar.
"Nggak, ini bukan milik Dev! Ini pasti palsu! Kalian sengaja kan buat berita bohong? Sampai kapanpun, aku gak akan pernah percaya!" bantah Raina.
"Maaf Nona, tapi cincin itu kami temukan di jari manis korban. Kami juga sudah melakukan tes DNA karena wajahnya yang sudah tidak bisa di kenali, dan hasilnya cocok dengan DNA suami Nona." jelas salah satu tim penyelamat lagi.
Tubuh Raina luruh seketika, apakah ini nyata? Devanonya benar-benar telah pergi. Raina sangat ingin bangun dari mimpi buruk ini, namun sayang ini bukan mimpi tapi kenyataan. Raina kini kehilangan cintanya, lalu bisakah dirinya melanjutkan hidup tanpa Devano?
"Mama, Dev pasti kembali kan?" Raina menatap Dewi dengan tatapan sayu, Dewi tak tahan melihat wajah Raina. Wanita itu pun menangis di pelukan sang suami.
"Raina, gue tau ini berat buat lo. Tapi bukan berarti lo harus berhenti berjuang, ini gak seperti Raina yang gue kenal selama ini. Raina itu kuat, gak pantang menyerah, gak cengeng, strong woman, dan psikopat. Apa lo akan terus terpuruk dan membiarkan pelakunya hidup tenang?"
__ADS_1
"Siska, Raina butuh waktu. Ini terjadi begitu cepat, kami bahkan belum menikmati indahnya pernikahan. Raina pasti akan membalasnya, jika dulu Raina masih berbaik hati. Maka sekarang, jangan harap. Raina akan balas penderitaan ini seribu kali lipat!"
"Kakak ipar, kita semua sama-sama kehilangan. Tapi, kamu gak boleh terpuruk seperti ini. Kak Vano pasti akan sangat sedih melihat kamu yang terpuruk karenanya,"
"Makasih Diva, Raina kuat kok. Buktinya Raina ndak nangis," ucap Raina, semuanya tersenyum lega melihat Raina yang terlihat jauh lebih baik.
"Karena Raina yakin, Dev masih hidup. Suatu saat Dev pasti akan kembali," semuanya saling pandang, entah dengan cara apa lagi agar Raina menerima kenyataan pahit ini.
Detik, menit, jam, hari, minggu, bulan hingga satu tahun pun berlalu. Raina tetap dalam pendiriannya, gadis itu selalu membantah tiap kali ada yang menyebutnya janda atau menegaskan kepergian Devano hingga saat ini. Gadis itu berusaha menjalani hari seperti biasa, tak memperdulikan pandangan orang-orang sekitarnya.
Raina masih harus melaksanakan balas dendamnya, membasmi dalang utama. Dibantu Fana yang seorang ketua agen khusus, tidak sulit untuk Raina menemukan dalangnya. Namun Raina enggan untuk menuntaskannya, Raihan selaku pelaku utama justru menjadi tahanan di suatu tempat. Dengan penjagaan khusus, Raina hanya akan datang untuk menjenguk dan memberikan pria itu kenangan yang tak pernah di lupa.
Terhitung sudah 991 luka sayatan yang diberikan Raina pada Raihan, namun gadis itu masih belum merasa puas. Kebencian dan kemarahannya semakin menjadi kala mengingat Devano yang tak kunjung pulang hingga saat ini.
Kedua orang tua Devano maupun Raina terus berusaha agar Raina bisa terbebas dari masa lalu dan dendamnya. Namun tetap saja, Raina tak memperdulikan saran dari siapapun. Raina seakan bukan dirinya lagi, kepribadian gadis itu berubah. Bahkan sifat jahilnya kini berubah menjadi gadis yang lebih memilih diam dan tak banyak bicara.
"Kakak ipar, hari ini ada rapat pemegang saham di perusahaan bang Dev. Apa kamu akan datang? Ini sudah kali kedua, para pemegang saham ingin bertemu langsung dengan pemilik perusahaan yang baru." ucap Fana, Raina hanya melirik sekilas sebelum kembali fokus pada ponselnya.
"Kamu aja yang nemuin mereka, bukankah sudah aku jelaskan? Pemilik perusahaan itu tetaplah Dev, dan aku sama sekali gak pernah mau mengambil alih. Berikan saja alasan yang baru, agar mereka berhenti menanyakan itu. Kalau perlu, bagaimana kalau kamu yang menggantikan posisi itu?"
"Raina, sampai kapan kamu akan terus bersikap seperti ini?! Bang Dev udah gak ada, stop dengan selalu menganggap bang Dev masih hidup! Karena kenyataan nya, bang Dev gak akan pernah kembali sama-sama kita lagi!"
"Dan stop beranggapan bahwa Dev sudah tiada! Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah mengakui kematian Dev! Jangan pernah, mengatakan Dev sudah tiada di hadapanku lagi!" wajah Raina tampak memerah, Fana pun meminta maaf sebelum pergi. Fana tidak ingin melihat Raina yang pastinya akan kembali histeris setelah ini, akan sangat bahaya untuk dirinya. Karena Raina akan melampiaskan pada siapapun yang ada di hadapannya.
Rapat pemegang saham,,,
Tampak kericuhan dalam ruangan rapat, para pemegang saham tampak meributkan siapa gerangan pemilik perusahaan yang baru setelah kepergian Devano. Tak jarang pula mereka mengajukan diri untuk menjadi direktur perusahaan yang baru dan menggantikan Devano. Hal itu membuat Fana yang sedari tadi berada di ruangan itu naik pitam.
"DIAM. Beraninya kalian bersikeras untuk bertemu direktur dan menjadi pimpinan baru perusahaan Abang saya! Jangan lupa, kalian hanya memiliki masing-masing 5% saham di perusahaan ini. Jika kalian ingin mundur, silahkan. Perusahaan ini tetap berjaya tanpa kalian semua!"
Ruangan tampak senyap setelah Fana berbicara, asisten Rayn pun kembali melanjutkan pidatonya. Para pemegang saham hanya diam dan menerima keputusan dari rapat itu. Tidak mungkin bagi mereka mundur, karena perusahaan Devano sangat berperan besar dalam perekonomian keluarga mereka meskipun dengan saham yang mereka tanamkan relatif kecil.
Waktu terus berlalu, namun sama sekali tak membawa kemajuan apapun. Raina tetap dalam pendiriannya, sedangkan para keluarga, kerabat serta sahabat begitu prihatin dengan kondisi Raina. Terutama Dewi, Bima, Rachel dan Revan. Mereka begitu sangat merasakan perubahan sikap Raina, bahkan tempramen gadis itu begitu sangat berubah.
__ADS_1
"Permainan baru dimulai, mari kita lihat sekuat apa dirimu bertahan dalam prinsip mu itu," ucap seseorang, yang mengawasi Raina dan keluarganya dari kejauhan. Orang tersebut tersenyum penuh smirk, tanpa sepengetahuan siapapun orang itu pun pergi dengan penuh kemenangan.
Sampai bertemu di S2, yang penasaran dengan perjuangan Raina tetap stayy ya😊