Takdir Cinta Raina (S1&S2)

Takdir Cinta Raina (S1&S2)
67


__ADS_3

Raina duduk diam memandangi para gadis-gadis yang sedang mengerubungi Devano dengan tatapan kesal. Apa kalian ingat dengan gadis tempo hari yang sempat menghina Raina di restoran? Gadis itu ternyata adalah sepupu jauh dari Qinzo yang bernama Anyelir, entahlah namanya begitu aneh di dengar oleh Raina.


"Masih Raina lihatin," ucap Raina sambil sibuk memakan cake yang baru saja di ambil nya dan tetap menatap lurus kearah Devano dan para gadis.


Saat ini Devano sedang mencari keberadaan Raina, bukannya mendapatkan keberadaan gadis itu Devano malah menjadi sasaran gadis-gadis lainnya.


"Kakak tampan!! Ya benar, ini memang kakak tampan. Kakak tampan pasti kesini untuk menemui Anye kan?" ucap Anyelir dengan begitu bersemangat, membuat Devano semakin kesal.


"Minggir-minggir, permaisuri mau bertemu rajanya." Tiba-tiba saja Raina datang dan membelah kerumunan gadis-gadis itu.


"Kamu?!! Wanita jalang yang sudah merebut kakak tampan dariku! Berani nya kamu datang ke acara pernikahan kakakku!" Anyelir menatap Raina dengan tatapan tajam dan mengejek, perkataan Anyelir membuat para gadis-gadis yang berada disana ikut menghina Raina.


Namira yang sedari tadi terus memperhatikan Raina pergi pun di buat geram saat mendengar perkataan Anyelir pada sahabatnya.


"Kamu hentikan perbuatan adik sepupu sombong mu itu, atau aku yang akan turun tangan." ucap Namira pada Qinzo yang juga ikut memperhatikan apa yang di lakukan Anyelir pada Raina.


"Sayang, bahkan kita belum melakukan malam pertama. Kamu udah ngancam aku kayak gini aja sihh." jawab Qinzo dengan wajah memelas, namun Namira tidak memperdulikannya. Bagi Namira, tidak ada yang boleh menghina sahabat-sahabatnya kecuali sesama mereka.


"Kamu kalo ngomong di saring dulu, Dev ini tunangan Raina. Kamu yang siapa, datang-datang malah sok akrab sama Dev. Ingat yaa, jangan mempermalukan diri sendiri. Ayo Dev, setelah ini Dev harus bayar hutang sama Raina." ucap Raina dengan wajah mengejek, membuat Anyelir dan para gadis itu kesal.


Anyelir tidak berhenti sampai di situ saja, gadis licik itu tetap berusaha untuk mempermalukan Raina. Kali ini, gadis itu memasukkan ponselnya ke dalam tas Raina tanpa sepengetahuan siapapun.


"Tolong! Tolong! Ponselku hilang, ku mohon bantu aku mencarinya." teriak Anyelir memulai sandiwaranya, gadis itu bahkan berakting selayaknya orang yang sedang terdzolimi.


"Ada apa Anye? Kenapa bisa ponselmu hilang?" tanya mama Anyelir.


"Mana Anye tau Ma, tadi ponsel nya ada di meja ini setelah Anye pergi mengambil minum ponsel nya udah gak ada." ucap Anyelir dengan air mata palsunya.


Mama Anyelir melirik kearah meja yang di tunjuk Anyelir, terdapat satu tas disana. Tas itu milik Raina, dan orang nya malah asik memakan kue-kue yang di suapi Devano.


"Ini sangat enak Dev, tapi cake di toko Raina jelas lebih enak hihihi." ucap Raina disela makannya.


"Kamu ini, habisin dulu baru boleh ngomong." ucap Devano memperingati Raina.


Raina hanya menganggukkan kepalanya sambil terus mengunyah.


"Akhh, ukhuk ukhuk"


"Apa yang anda lakukan?!!" marah Devano saat mama Anyelir tiba-tiba saja datang dan menjambak rambut Raina hingga gadisnya itu tersedak.

__ADS_1


Untunglah, Fana sangat cekatan memberi Raina air hingga gadis itu bisa merasa lebih baik.


"Kamu jangan ikut campur, gadis ini sudah mencuri ponsel mahal milik anak saya! Dasar kampungan, dan lihat saja cara makannya persis seperti tidak pernah memakan makanan enak." sindir mama Anyelir lagi, membuat Devano semakin tidak bisa menahan amarahnya.


"Beraninya anda menuduh dan menghina calon isteri saya, lihat apa yang akan terjadi pada keluarga anda nanti. Dan berdoalah semoga anak anda itu bisa hidup tenang kedepannya." ucap Devano pada Mama Anyelir dan menatap gadis itu tajam.


"Fana, periksa rekaman CCTV nya. Dan jika terbukti Raina tidak bersalah, buat keluarga gadis ini menderita." lanjut Devano, Fana pun menuruti apa yang di katakan abangnya itu tanpa berkata apapun.


Tidak membutuhkan waktu lama, Fana sudah membawa bukti rekaman CCTV dan memutarnya sehingga seluruh tamu dapat menonton hasil rekaman itu tanpa adanya rekayasa.


"Brengsek!! Berani nya anda ingin menjebak dan mempermalukan kakak ipar saya!! Apa kau tau apa yang kau lakukan ini hah?! Bang Dev gak perlu turun tangan, biar Fana yang menghadapi para parasit ini. Fana gak yakin Abang akan menghukum mereka jika tau siapa mereka ini." ucap Fana yang langsung saja tersulut emosi saat melihat rekaman CCTV itu.


Devano tidak dapat berkata apa-apa lagi, biarlah Fana yang membereskan semuanya. Pria itu justru kembali menyuapi gadis nakalnya agar mulut lemes nya itu berhenti berbicara, pasalnya sedari tadi Raina terus saja menggerutu kesal karena sudah di fitnah.


"Ayo aaa, buka mulutnya sayang." ucap Devano, namun napsu makan Raina sudah hilang. Gadis itu membuang mukanya, lalu teringat dengan tas nya. Meraba isi dalam, dan mengambil sebuah ponsel lalu membantingnya begitu saja.


Apa yang di lakukan Raina membuat Anyelir menjadi marah, gadis itu tidak terima Raina membanting ponsel nya begitu saja. Baru saja tangannya hendak menampar Raina, tapi Fana lebih dahulu menahannya.


"Berani sedikit pun kau sentuh kakak ipar, maka tangan mu ini akan ku patahkan sekarang juga." ucap Fana dengan tatapan tajam, sedikit memelintir pergelangan tangan Anyelir hingga gadis itu meringis kesakitan.


"Ayo Dev, kita pulang aja. Pesta pernikahan bosenin, nanti kita bikin pesta yang meriah yaa. Tapi jangan undang biang rusuh, Raina ndak mau ada masalah nanti. Kalo ada masalah, di tunda aja sampai biang masalahnya pergi." ucap Raina, gadis itu asal ngelantur membuat Devano semakin gemas.


Saat dalam perjalanan, Raina kembali mengoceh. "Kita mau kemana?" tanya Raina, sedari tadi gadis itu seperti nya melampiaskan kemarahannya pada Devano. Yang sabar Devano yaa,


"Ya pulang sayang, apa lagi?" jawab Devano.


"Gak boleh pulang! Dev harus beliin Raina liptint 35 ribu dulu! Ayo putar balik!!" ucap Raina saat mobil yang di kendarai Devano sampai di depan kompleks perumahan.


"Baiklah, kita ke mall sekarang yaa." balas Devano kemudian memutar kembali mobilnya.


"No, Raina ndak mau di mall. Ayo kita ke pasar saja, jaraknya tidak jauh." ucap Raina dengan begitu semangat.


"Apa?! Pasar?!" kaget Devano, dan Raina menganggukkan kepalanya dengan semangat. Devano menghela nafas pelan, demi gadis nakalnya hari ini pria itu akan menuruti apapun permintaan Raina.


Sesampainya di pasar yang di Raina maksud, lagi-lagi Devano di buat bingung saat Raina memintanya turun sendiri ke pasar.


"Apa aku harus turun sendiri?"


"Iya sayang, ndak mungkin kan Raina ikut turun dengan memakai gaun humm?"

__ADS_1


"Baiklah, karena kamu udah manggil aku sayang maka Dev mu ini akan melakukan nya. Doakan aku ya sayang."


Raina memutar kedua bola matanya malas, ini bukan berperang. Untuk apa dirinya harus mendoakan Devano.


30 menit kemudian


Devano belum juga kembali, membuat Raina kalang kabut. Gadis itu pun memutuskan untuk ikut turun untuk menyusul Devano ke dalam pasar.


Setibanya di dalam, terdapat kerumunan yang tidak biasa. Raina juga bingung, ini kan pasar. Bagaimana mungkin bisa ada gadis-gadis genit di dalamnya, dan malangnya Devano menjadi bahan rebutan gadis-gadis itu.


Raina melirik kresek yang di bawa Devano, gadis itu tersenyum senang. Devano sudah membelikan apa yang dia inginkan.


"Baiklah, biarkan permaisuri ini beraksi." ucap Raina lalu melangkah mendekat ke arah Devano dan para gadis itu.


"Pria tampan ini milikku!"


"Tidak, dia milikku!"


"Kalian sadar diri dong, muka pas-pas san gak usah kepedean. Pria tampan ini pasti akan memilih Mona."


Raina menggelengkan kepalanya tak percaya, apa pesona Devano begitu kuat sampai harus menjadi bahan rebutan seperti ini?


"Misi misi misi, orang cantik mau lewat." Raina menerobos kerumunan hingga membuat beberapa gadis terjatuh dengan tidak elitnya. Devano tersenyum senang saat melihat kedatangan Raina, permaisurinya sudah datang.


"Sayang, kenapa lama sekali? Raina sudah mulai lapar lagi, kalo cacing-cacing di perut ini mati gimana?" ucap Raina manja pada Devano.


"Maaf sayang, pesanan kamu udah ada nihh. Tapi sedari tadi mereka menutup jalan dan gak bolehin aku pergi." sahut Devano dengan wajah penuh pengharapan. Ingin rasanya Raina tertawa melihat wajah penuh belas kasihan Devano saat ini.


"Lo?! Beraninya lo datang-datang dan main meluk pria tampan ini! Pria tampan ini tuh milik aku!" ucap seorang gadis pada Raina.


Raina menghela nafas, mungkin lain kali gadis itu akan memakaikan topeng pada Devano agar tidak menjadi rebutan. Tadi di pesta pernikahan Qinzo dan Namira, sekarang Namira. Pusing kan Raina jadinya.


"Maaf ya kakak-kakak yang cantik, tapi mas nya ini CALON SUAMI nya Raina. Bukan milik kalian, minggir kita mau pulang." Raina menekankan kata CALON SUAMI membuat para gadis itu terdiam dan tanpa sadar membuka jalan untuk mereka.


Raina is my hero. Batin Devano sambil tersenyum melihat Raina yang terlihat begitu menggemaskan.


Jangan lupa like, vote, komen dan rate bintang 5 nya yaa🥰


See u next time😊

__ADS_1


__ADS_2