
"Terimakasih, nanti mampir yaa." ucap Raina pada pelanggan di Toko kue nya.
Meskipun masih baru, kue-kue buatan Raina cukup di sukai oleh pelanggan.
"Huhh, Raina capek. Raina mau jalan-jalan ah, siapa tau aja nanti ketemu cogan hehehe." ucap Raina sambil cekikikan.
Raina pun memutuskan untuk pergi ke taman, namun sebelum itu Ia menutup Toko nya terlebih dahulu.
Di taman, Raina hanya duduk diam memakan eskrim nya. Tanpa ada niat untuk melakukan apapun, hingga seorang pria datang menghampirinya.
"Hay, Lo Raina kan?" sapa pria itu, Raina mengernyitkan dahinya bingung merasa tidak kenal dengan pria di hadapannya.
"Huhh, jangan sok kenal sama Raina. Raina ndak kenal kamu." jawab Raina dengan nada ketus nya.
Pria itu tertawa mendengarnya, Raina sama sekali tidak berubah sejak pertama kali Mereka bertemu.
"Lo pasti lupa ya, Gue Sandy. Lo ingatkan? Kita pernah ketemu sekali di taman saat Lo lagi berantem sama pacar Lo." Jelas Sandy.
"Kamu ndak penting, pergi sana!" Usir Raina, namun di abaikan oleh Sandy.
"Gue maunya nemenin Lo disini, gimana dong?" ucap Sandy dengan nada jahil.
Raina mendengus kesal, sekarang gadis itu ingat siapa pria di depannya ini. Pria yang sudah mengganggu harinya saat berhasil kabur dari rumah Fana beberapa bulan yang lalu.
"Terserah dehh, tapi perintah dari Raina harus Kamu turutin yaa. Awas aja kalo ndak, Raina kerjain." ucap Raina dengan pasrah.
Kini Sandy menyesal telah memilih tetap menemani Raina di taman. Lihatlah gadis itu sekarang, memerintahkannya layaknya seorang pembantu. Malangnya, Sandy selalu tidak kuasa untuk menolak permintaan gadis nakal itu.
"Hah, hah, hah, Rainahh Gue capek, biarin Gue istirahat bentar yaahh, hahh." ucap Sandy dengan nafas yang tersengal-sengal.
Pria itu terlihat sangat lelah, dan wajahnya pun memerah akibat teriknya sinar matahari. Raina yang merasa kasihan pun menyetujui perkataan Sandy. Sejak sejam yang lalu, Raina memaksa Sandy untuk mencabuti rumput-rumput ilalang yang berada di taman. Sandy yang tidak bisa menolak permintaan gadis itu pun terpaksa melakukannya.
"Ini, tadi Raina beliin." ucap Raina, menyodorkan sebotol air pada Sandy.
__ADS_1
"Jangan gr, Raina tadi kebetulan lagi haus makanya beli kalo ndak ya Kamu beli sendiri lahh." lanjut Raina, hal itu membuat Sandy kesal.
BUGH BUGH BUGH
Tiba-tiba saja seorang pria datang dan memukuli Sandy dengan brutal. Raina yang berada disana pun terkejut, apalagi saat melihat wajah dari pria itu.
"GIO," bentak Raina, ya yang memukuli Sandy adalah Gio mantan kekasihnya dahulu.
"Lo apa-apaan sih, kenapa Lo mukulin Dia?! Lo udah berasa hebat? Gk bisa ya, Lo gk campurin urusan Gue?!! Dia ada salah apa sama Lo?!!" Marah Raina.
"Lo tanya kenapa Gue gebukin Dia?? Lo lihat, Dia udah berani deketin Lo! Gue gak rela Lo di deketin sama cowok lain!" ucap Gio yang masih tersulut emosi.
Raina tersenyum sinis mendengarnya, sepertinya mantannya ini benar-benar sudah lupa diri.
"Lo bukan siapa-siapa Gue lagi, Lo gak usah ngurusin kehidupan Gue." ucap Raina, sebelum berlalu memapah tubuh Sandy.
Raina dan Sandy kini sudah berada di depan gedung sebuah rumah sakit swasta.
"Ya ndak bisa gitu dong, Kamu seperti ini gara-gara Raina. Salah Kamu juga sihh, udah di bilang jangan temenin Raina tapi malah ngotot, kalo kayak gini kan Raina juga yang merasa bersalah." omel Raina, Sandy tersenyum melihat ekspresi kesal gadis itu yang malah terlihat menggemaskan.
Tanpa memperdulikan protesan yang di berikan Sandy, Raina kembali menarik pria itu agar mengikuti langkahnya. Saat memasuki rumah sakit itu, Raina harus mengumpulkan niat terlebih dahulu. Devano di rawat di rumah sakit ini, semoga saja dirinya tidak bertemu seseorang yang mengenalnya.
Setelah Sandy mendapatkan perawatan, Raina dengan terburu-buru ingin pergi dari kawasan rumah sakit. Saat memasuki ruangan Dokter, Raina melihat sosok yang sangat di kenal nya.
"Lo kenapa sih buru-buru gitu?" tanya Sandy dengan raut wajah bingung, pasalnya sejak Mereka memasuki kawasan rumah sakit Raina terus saja terlihat tegang.
"Ndak apa-apa, ayo Kita pergi dari sini. Raina ndak suka berada di kawasan rumah sakit." jawab Raina seadanya.
Dengan langkah cepat gadis itu menarik pergelangan tangan Sandy agar mengikutinya.
"Tunggu!" Raina mengabaikan panggilan itu, dan terus melanjutkan jalannya.
"Raina tunggu!! Lo gak bisa pergi, Lo harus pulang, semua orang khawatirin Lo! Devano udah sadar dari kritisnya, apa Lo gak mau nemuin Dia?" ucap orang itu saat berhasil menghentikan langkah Raina.
__ADS_1
"Lepasin tangan Raina, Rafly! Raina ndak mau pulang, apalagi nemuin Dev. Raina udah cukup kecewa dengan apa yang Dev lakuin sama Raina! Dev udah khianatin Raina, Kamu lihat ini!! Raina udah jual cincin pemberian Dev, dan itu artinya Raina dan Dev udah ndak ada hubungan apa-apa lagi!" ucap Raina, gadis itu sedang menahan tangisnya saat ini dan Rafly menyadarinya.
Namun perkataan Raina membuat Rafly terdiam, pria itu melirik jari manis Raina yang memang kosong tanpa cincin pemberian Devano yang selalu gadis itu kenakan.
"Dan ya, bilang sama Dev kalo Raina udah cukup kecewa. Lihat, Raina udah punya gandengan. Bilang juga sama Dev, kalo Raina juga bisa bahagia tanpa Dia!" lanjut Raina, lalu benar-benar pergi dari hadapan Rafly.
Sandy yang sedari tadi terdiam pun menjadi sasaran kemarahan Rafly. Pria tampan itu menatapnya dengan tatapan tajam dan mengintimidasi.
"Lo?! Lo udah buat hubungan sahabat Gue dan Raina berantakan! Lo siapa hah?! Beraninya Lo rebut Raina dari sahabat Gue!!" Marah Rafly, Sandy yang tidak tahu apapun mengernyit bingung.
"Eitss, santai bro!! Gue gak ngerti maksud Lo apa, Gue sama Raina cuma sebatas kenal dan gak lebih." ucap Sandy yang kaget dengan kemarahan Rafly.
Sedangkan itu, di tempat lain
Raina kini sudah berada di kontrakannya, bohong besar jika semua perkataan Raina pada Rafly itu dari hati. Jujur, Raina sangat merindukan sosok Devano, perhatiannya, kasih sayangnya, dan bagaimana pria itu selalu sabar dan berusaha menuruti semua permintaannya.
"Dev, Raina rindu hiks, tapi Raina ndak mau Kamu kembali ngecewain Raina hiks, hiks, Raina lemah ya Dev, Raina ndak ada usaha buat perjuangin Kamu hiks, hiks, hiks, maafin Raina Dev, maafin Raina,"
Raina terus saja menangis, hingga kantung mata gadis itu terlihat bengkak.
"Van, sorry. Gue belum bisa bawa Raina buat bertemu Lo, tapi Gue yakin suatu saat nanti Raina akan tau apa yang sebenarnya terjadi." ucap Rafly, menatap Devano yang masih terbaring lemah di brangkar rumah sakit.
♧♧♧♧♧
"Hahaha, bagus, bagus sekali. Rencana Kita berjalan mulus, sebentar lagi keluarga itu pasti akan hancur! Kau lihat kan sayang, satu panah yang Kita layangkan, 3 keluarga terlampaui." ucap seorang pria dengan senyum penuh kemenangan.
"Ya, Kau benar sayang. Dan setelah ini Kita hanya perlu menikmati kehancuran ketiga keluarga itu satu persatu. Aku sudah tidak sabar menantikannya sayang, Aku sangat ingin Mereka semua hancur sehancur-hancur nya." ucap sang wanita dengan tersenyum miring.
Siapa yang penasaran siapa kedua orang itu?? Ayo di tebak, kalo ada yang berhasil nebak nanti aku up nya cepat😁
Jangan lupa vote, like, komen, dan rate bintang 5 yaa, biar author tambah semangat buat up nya🥰
See u next time🤗
__ADS_1