Takdir Cinta Raina (S1&S2)

Takdir Cinta Raina (S1&S2)
70


__ADS_3

Semenjak sakit, Fana terus saja nempel sama Raina dan enggan berbicara pada Devano. Hal itu membuat Devano merasa bersalah karena sudah menghiraukan Fana kemarin, adik sepupunya itu pasti sakit karena berada di luar.


Keesokan harinya, kondisi Fana sudah jauh lebih baik. Sikap manjanya pun juga sudah hilang, malu dia kalo sadar sikapnya sama Raina waktu sakit.


"Udah baikan?" tanya Devano, pria itu membawa segelas susu untuk Fana.


"Iya bang, Fana udah baikan. Dimana kakak ipar?" jawab dan tanya Fana. Sepertinya pria itu masih ingin bermanja-manja dengan Raina.


"Kamu ini, jangan seperti itu. Raina pasti lelah rawat kamu dari kemarin, udah kamu istirahat aja biar abang yang nemenin kamu di sini." jawab Devano.


Fana pun mengalah, pria itu kalo sakit ya gini suka cari kenyamanan. Biasanya cuma sama bundanya atau Devano, sekarang sepertinya Raina juga harus terbiasa.


"Fana udah baikan?" tanya Raina, gadis itu bahkan belum menyisir rambutnya dan sedikit menguap.


"Rambutnya di rapiin dulu sayang, sini biar aku rapihin." Devano dengan telaten merapihkan rambut Raina, membuat Fana merasa terabaikan.


"Dev, Raina mau ke rumah Siska yaa. Tadi dia telpon, katanya dia lagi ndak enak badan. Kasian dia sendiri di rumah," ucap Raina pada Devano, membuat pria itu menghentikan aktivitas nya.


Entah lah, Devano selalu was-was kalo Raina keluar dan bertemu ke tiga sahabatnya. Meskipun dalang kecemasan nya hanya ada di Rara, tapi kan tidak ada yang tau nanti kalo Siska dan Namira juga tertular. Jika gadisnya yang polos saja bisa di bodohi, apalagi kedua gadis waras itu.


Menghela nafas pelan, Devano tidak mungkin menolak permintaan Raina. Lagi pula, Siska sedang membutuhkan Raina saat ini.


"Baiklah, tapi kamu hati-hati yaa. Pak Sam yang akan antar kamu kesana, aku gak bisa ngantar. Lihatkan, Fana masih sakit dan sangat manja."


Raina tersenyum senang karena Devano mengijinkan dirinya pergi, gadis itu menatap Fana yang masih terlihat lemas dan wajahnya yang sedikit pucat. Raina mendekati Fana, dan sedikit menunduk.


Cup


"Cepat sembuh yaa, Raina mau pergi dulu. Jangan buat Dev nya capek." Raina mencium kening Fana dengan penuh rasa sayang.


Devano sama sekali tidak masalah, karena dirinya tau Raina sudah sangat menyayangi Fana. Meskipun Fana seumuran dirinya, tapi bagi Raina, Fana adalah adik untuknya. Raina juga akan sedih jika Fana sakit, tidak ada yang jadi bahan bullyan nya nanti.


"Makasih ya Dev, kalo gitu Raina mau siap-siap dulu."


Raina segera pergi menuju kamarnya untuk berganti pakaian.


"Kamu disini dulu, abang mau susulin Raina dulu."


"Mau ngapain emang?"


"Mau minta jatah, enak aja kamu doang yang di cium tunangan nya di anggurin."


"Hehh, tiati belom halal bang!!" teriak Fana, Devano hanya mengangkat kedua jari jempol nya ke atas sambil terus berlalu.


Setibanya di kamar Raina, Devano masuk begitu saja dan mendapati Raina yang sedang mengucir rambutnya. Namun ada yang aneh, Raina tidak menggunakan jepit, atau ikat rambut sekalipun. Rambut gadis itu tetap terlihat rapih meskipun hanya di gulung-gulung ke atas.


"Sayang, apa kau tidak menyisir rambut mu lagi? Dan apa ini?"


"Dev, Raina sedang terburu-buru. Rambutnya ndak kusut kok, lihat. Rambut Raina tetap terlihat cantik kan?"

__ADS_1


Raina menunjukkan rambutnya pada Devano yang hanya di bentuk menggunakan sebuah pulpen. What?! Pulpen?


"I-ini, ini pulpen sayang apa yang akan kau lakukan dengan ini?"


Devano melihat pulpen kesayangannya yang kini sudah menancap indah di rambut Raina.


"Apa ini cantik? Hihihi, Raina menyukai nya."


Baru saja Raina ingin beranjak, namun tangannya sudah di cegat Devano.


"Kamu mau kemana sayang? Apa kau mau pergi tanpa memberi aku jatah setelah mencium Fana di depanku tadi humm?" tanya Devano dengan wajah memelas.


"Dev, Raina sudah terlambat."


"Aku ingin kiss, apa kau tidak mau memberikannya padaku?" ucap Devano lagi.


Wajah Raina memerah, kenapa semuanya jadi terbalik? Kenapa jadi Devano yang berubah mesum?


"Dev, huhh baiklah."


"Tutup kedua matamu," Devano menurut, lalu menutup kedua matanya.


Cup


Cup


Cup


Raina terdiam cukup lama, menghela nafas panjang lalu mendekatkan wajahnya dengan wajah Devano. Jarak mereka sudah sangat dekat, namun yang di lakukan Raina justru di luar ekspektasi Devano.


Raina sama sekali tidak memberikannya kiss, gadis itu justru meletakkan jari jempol, tengah dan telunjuknya pada bibir Devano.


"Kau curang sayang, kau harus memberiku kiss juga. Kalo tidak, kamu gak boleh pergi." ucap Devano merajuk.


Raina memutar kedua bola matanya malas, gadis itu pun kembali mendekatkan wajahnya dengan Devano.


Cup


Raina mengecup sekilas bibir Devano, namun saat hendak melepas kecupannya, Devano justru semakin memperdalam ciuman mereka.


"Terima kasih sayang," ucap Devano, wajah Raina memerah karena malu. Devano selalu bisa membuatnya gugup dan salah tingkah di saat seperti ini.


Setelah drama panjang dirinya dan Devano, kini Raina sudah berada di rumah Siska. Yang membuat Raina kesal, Siska terlihat baik-baik saja. Dan bodohnya, Raina percaya begitu saja dan tak mengenali siapa yang berbicara pada nya di telepon tadi.


"Jadi, Siska ndak sakit? Raina di boongin?" Raina menatap ketiga sahabatnya dengan tatapan tak percaya.


"Hehehe, sorry Ra. Soalnya kalo gue jujur Devano pasti gak bakalan ngijinin lo kesini." jawab Rara dengan cengirannya.


Raina menghela nafas, ada-ada saja sahabatnya ini. Selalu saja bertengkar dengan Devano, dan Devano pun tidak bisa diam jika Raina berdekatan dengan Rara.

__ADS_1


"Tumben Rafly nya ndak ikut? Qinzo juga mana? Kalian titipin ke tempat penitipan suami ya??" tanya Raina saat menyadari ketidakberadaan Rafly dan Qinzo yang biasanya selalu ikut kemanapun pasangan mereka pergi.


Rara hanya nyengir, sedangkan Namira bersikap biasa saja. Siska yang aslinya jomblo alias belum punya pasangan hanya diam melihat interaksi para sahabatnya.


"Hehh tunggu, tadi lo bilang apa? Gue sakit? Butuh pelukan dan kasih sayang dari lo?!! Siapa yang berani fitnah gue hah?!" ucap Siska dengan suara toa nya, gadis itu baru sadar kalo dirinya sudah di jadikan kambing hitam oleh Rara.


"Kalo Devano nya marah ke gue gimana? Tega banget kambing hitamin gue!" lanjut Siska masih dengan wajah kesalnya.


"Ya elahh, santai aja kali Sis. Lagian si Devano gak bakal marah kok, sumpah dehh. Palingan dia cuma jingkrak-jingkrak aja kalo tau yang sebenarnya, dan gue yakin Raina juga udah kasih Devano jatah sebelum pergi." jawab Rara dengan santainya, membuat mereka yang mendengarnya hanya bisa geleng kepala dengan sahabat mereka yang satu itu.


Sedangkan yang menjadi topik pembicaraan justru duduk anteng dengan sogokan keripik singkong dari Rara. Tau kan, Raina tuh suka banget sama keripik, apalagi itu keripik kentang. Gadis itu ogah berbagi ataupun menghiraukan sekitarnya.


Raina pun menghabiskan waktu nya bersama ketiga sahabatnya hingga petang tiba, hari ini Rara tidak berbuat aneh-aneh dan tidak mempengaruhi Raina sama sekali.


......................


Sementara itu, di kediaman Aryasetya sedang menerima tamu yang sama sekali tidak di harapkan. Devano yang frustasi karena Raina belum juga memberinya kabar dan tak kunjung pulang, semakin di buat kesal dengan kedatangan tamu tersebut.


"Devano, ini gue bawain makanan buat lo. Kata Shakira, lo belum makan jadi gue beliin ini buat lo. Di makan yaa,"


"Bang, kakak ipar kapan pulang sihh?"


Devano pusing, sedari tadi Ziva terus saja mengganggu diri nya. Sedangkan Fana, pria itu masih dalam mode rewel. Sejak tadi terus saja menanyakan keberadaan Raina. Memang nya kalo Raina sudah pulang kenapa? Fana mau menyusu pada Raina?


"Lo bisa, gak usah gangguin gue?! Gue gak butuh tanggung jawab lo, mending lo urus diri lo sendiri!" ucap Devano pada Ziva, namun bukannya pergi Ziva justru semakin mendekatkan dirinya pada Devano.


Raina yang baru saja pulang dan hendak memasuki rumah di buat geram dengan kelakuan tamu tak di undang yang sedang berada di rumahnya itu.


Dari pada merusak suasana, Raina lebih memilih untuk lewat pintu belakang.


"Selamat datang nona, kenapa masuk melalui pintu ini?" tanya Mayang ya g sedang membantu para pelayan yang lain.


"Humm, Raina kesel sama Ziva Ziva itu. Siapa yang undang dia kesini?!"


"Maaf nona, perempuan itu datang dengan alibi pertanggung jawaban, tapi sepertinya nona Shakira yang sengaja mengundangnya. Ziva itu terlihat menyukai tuan Devano, ini tidak bisa di biarkan nona. Mereka harus di beri pelajaran." Raina tersenyum penuh arti, mata gadis itu tertuju pada nampan berisi camilan dan minuman dingin.


"Apa ini untuk gadis tidak tahu malu itu?" tanya Raina, dan Mayang hanya menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, mari kita bermain. Sudah lama tangan mulus ini tidak mengerjai seseorang," ucap Raina tersenyum dengan sangat manis.


Mayang yang melihat senyuman Raina pun mengerti, pasti akan ada pertunjukan yang menarik nanti.


"Ini, bawa nampan ini dan pastikan gadis itu yang memakan atau pun meminumnya. Dan ya, kalo perlu rekannya juga boleh menikmatinya." ucap Raina, Mayang menganggukkan kepalanya mengerti kemudian melaksanakan apa yang di perintahkan Raina padanya.


"Heheh, mari kita lihat pertunjukan" ucap Raina sambil duduk diam di ruangan CCTV sembari mengawasi mainannya.


Selamat tahun baru ya buat semuanya, ehh udah telat yaa🤭wkwkwk ya gk ppa dong yaa😄


Jangan lupa like, vote, comen and share yaa❤

__ADS_1


See u next time🤗


__ADS_2