
Semuanya telah berlalu, kini Rara sedang mempersiapkan ujian akhir semesternya. Rafly begitu sangat setia menemani Rara, hingga gadis itu bisa melupakan kesedihannya.
"Rafly apa kau tau, ujiannya berjalan dengan lancar." Ucap Rara dengan senyum yang merekah.
"Benarkah? Kalau begitu, bagaimana jika kita merayakannya? Ayo, kita akan jalan-jalan hari ini." Rafly menggandeng Rara dan membawanya pergi.
Kini Rara dan Rafly sedang berada di sebuah taman. "Rafly, jika suatu hari aku pergi dan bertemu Rangga, apa kamu mau nitip pesan buat dia?"
"Kamu ini ngomong apa sih, gak ada yang akan pergi. Kamu akan tetap berada disini sama aku. Ra, apa kamu gak ada niat buat buka hati kamu? Please, lupain Rangga. Aku tau kalo aku ini egois, Rangga titipin kamu buat aku jaga, tapi justru ... "
"Tapi justru apa?"
"Gak apa-apa, ayo aku antar kamu pulang."
"Nggak, aku gak mau pulang. Kecuali, kamu lanjutin perkataan kamu tadi."
Rafly menghela nafasnya pelan, menatap Rara dengan tatapan sayu.
"Aku suka sama kamu Ra, aku tau ini gak seharusnya terjadi. Tapi, aku gak bisa bohongin perasaan aku sendiri. Aku marah Ra, aku marah tiap kamu selalu mikirin Rangga di depan aku. Aku tau kalo ini egois, bagaimanapun juga Rangga adalah tunangan kamu. Tapi Ra, aku benar-benar suka sama kamu. Bisa gak sih, kamu gak perlu ngucapin nama Rangga di saat kita berdua?"
"Kenapa kamu ngomong seperti itu? Apa kamu tau, sampai kapan pun Rangga gak akan tergantikan! Kamu gak bisa maksa aku buat lupain Rangga, kamu minta aku buat ngertiin kamu? Lantas, gimana dengan kamu? Apa kamu bisa ngertiin aku, jika suatu saat kita bertukar posisi?" Sejujurnya, Rara juga sudah mulai menyukai Rafly. Namun mendengar perkataan pria itu membuat Rara sedikit kecewa.
Rara pergi begitu saja meninggalkan Rafly yang menyesali perkataannya barusan.
"Maaf Ra, aku memang egois." Rafly menatap taxi yang di naiki Rara hingga tak terlihat lagi.
Rafly memutuskan untuk mengunjungi makam Rangga, hanya itulah yang bisa menenangkan pikirannya.
"Hai, gue minta maaf. Gue gak bisa nepatin janji, dan Gue minta udah berani suka sama tunangan Lo. Maaf, kalo Gue berusaha buat Rara lupa sama lo."
"Gue sama sekali gak pernah duga, kalo Rara semenarik itu. Gue janji, bakal jaga Rara seperti yang lo minta."
Saat ini, Rafly sedang berada di makam Rangga. Ini lah yang di lakukan pria itu jika sedang kalut, makam Rangga akan menjadi tempat curhatnya. Pria itu akan pergi setelah uneg-uneg nya tersampaikan.
♡♡♡♡♡
Keesokan harinya, Rara kembali menjalani rutinitasnya di sekolah. Gadis itu seolah melupakan kejadian yang baru saja menimpanya kemarin.
"Rara, lo kok tumben datang sendiri? Rafly mana?" Namira dan Siska baru saja datang dan melihat Rara yang tanpa di antar pria itu.
"Gak ppa, gue cuma mau berangkat sendiri aja. Udah yuk, kita masuk. Gue gak sabar mau lihat pengumuman." Namira dan Siska saling pandang, menghela nafas pelan lalu mengikuti langkah Rara.
"Ra, lo ada hubungan ya sama Rafly? Tapi kok gue lihat nya Rafly malah deket sama Ajeng sih?"
"Ajeng?"
__ADS_1
"Iya, Ajeng. lo tau kan? Anak sebelah yang selalu cari masalah sama lo itu, tadi gue gak sengaja lihat dia datang di anterin Rafly. Itu gak mungkin kebetulan kan? Secara Rafly kan bukan anak sekolahan lagi, aneh tau."
Rara terdiam mendengar perkataan Namira, sedangkan Siska hanya diam merutuki mulut ember Namira.
"Mu-mungkin lo salah lihat, gak mungkin kan Rafly deket sama cewek lain? Hahahah, udah yuk gue laper nih." Rara pun berlalu meninggalkan Namira dan Siska.
"Elo sih, mulutnya ember banget gak bisa di rem. Kalo Raina disini, udah di jahit tuh mulut." Omel Siska pada Namira.
"Kok lo nyalahin gue sih? Kan gue cuma ngomong fakta. Raina gak bisa jahit kalo lo lupa, dia cuma bisa jahilin orang." Ucap Namira tak terima di salahkan oleh Siska.
Mereka pun mengikuti langkah Rara, namun langkah nya terhenti saat melihat Rara yang terpaku di tempatnya.
"Ra, kok berhenti?"
"Ra-rafly? Kok dia disini? Dia beneran jadian sama Ajeng?" Siska dan Namira saling menatap, sedangkan Rara? Gadis itu pergi entah kemana.
"Rafly!!"
"Siska? Namira?"
"Lo ngapain disini? Dan itu, pake acara suap-suapan lagi." Namira menatap Ajeng dengan tatapan sinis.
"Ehh?! Tadi gue gak sengaja nabrak dia, maka dari itu untuk bertanggung jawab gue nganterin dia ke sekolah. Dan, gue disini karena mau ngomong sama Rara. Gue nungguin dari tadi, apa kalian lihat dia? Gue khawatir aja, dari semalam nomornya gak aktif." Jelas Rafly, membuat Namira dan Siska menganggukkan kepala mereka mengerti.
"Tadi dia disini, tapi karena lihat lo sama cewek lain, dia pergi dehh gak tau kemana."
Rafly begitu merasa bersalah saat melihat Rara yang kembali menangis, apa yang menyebabkan gadis itu menangis?
"Hiks, apa hiks, aku gak bisa bahagia? Setelah Rangga pergi, Rafly yang selalu ada buat Aku hiks, sekarang hiks, dia justru malah deket sama musuh aku hiks, hiks,"
"Maaf," Rara begitu terkejut saat melihat keberadaan Rafly yang sedang menatapnya dengan tatapan sayu.
"Rafly? Kamu kenapa bisa ada disini?" Menghapus jejak air mata dengan segera, menetralkan perasaannya gadis itu memberanikan diri untuk menatap Rafly.
"Insting aku mengatakan, kalo kamu ada disini. Dan aku, aku perlu temuin kamu. Bagaimana mungkin aku bisa tenang saat kamu nangis? Maafin aku ya, aku cuma sayang sama kamu. Aku gak ada hubungan sama cewek itu."
"Oh ya? Sejujurnya, aku gak masalah kalo kamu ada hubungan sama dia. Toh, aku bukan siapa-siapa kamu."
"Kamu kapan peka nya sih kalo aku suka sama kamu? Apa aku harus terjun bebas terus teriakin nama kamu biar kamu percaya?"
Rara membuang mukanya, enggan untuk menatap wajah Rafly. Rasa cemburu gadis itu saat melihat kebersamaan Rafly dan Ajeng membuat gadis itu begitu kesal.
"Kamu tau gak gimana perasaan aku? Kemarin kamu bilang suka, tapi hari ini? Hari ini kamu malah deket sama cewek lain! Aku tau, aku gak secantik dia. Tapi bisa gak, kamu kasih aku kejelasan? Aku capek Raf, aku capek selama ini nahan cemburu tiap kali kamu deket perempuan lain. Aku udah sayang sama kamu, kamu berhasil buat aku ikhlasin kepergian Rangga, aku mau kamu gantiin dia Raf!"
Tanpa berkata apapun lagi, Rafly lantas memeluk tubuh mungil Rara kedalam dekapannya.
__ADS_1
"Maaf Ra, aku sayang sama kamu. Aku gak akan pernah suka lihat kamu nangis, terlebih penyebabnya adalah aku sendiri."
"Tapi gimana sama Ajeng? Bukannya kalian ada hubungan?"
"Ohh, jadi namanya Ajeng? Hahahaha, aku gak kenal sama yang namanya Ajeng itu. Itu hanya sebatas pertanggung jawaban aku buat dia, aku gak sengaja nabrak dia dan jatuh. Kamu percaya kan?"
"Humm, baiklah. Tapi janji, jangan pernah tinggalin Rara ya. Rara gak tau lagi mau gimana kalo kamu pergi."
Rara membalas pelukan Rafly hingga mereka saling berpelukan. "Tapi aku gak bisa selalu ada untuk kamu, aku harus kembali melanjutkan pendidikan aku."
"Kamu mau ninggalin aku?"
"Nggak, aku hanya pergi sebentar. Cuma sebulan, setelah itu aku akan kembali."
Rara terus terbayang-bayang dengan perkataan Rafly padanya, apa benar pria itu akan pergi? Kepergian Rangga menjadi ketakutan tersendiri saat akan berjauhan dari Rafly. Gadis itu tidak ingin, kejadian yang sama terulang kembali.
♡♡♡♡
Rafly berhasil menyelesaikan kuliahnya di luar negeri, Rara tentu saja sangat bahagia mendengarnya. Namun, lagi-lagi kekecewaan yang gadis itu dapat saat Rafly lebih memilih pulang bersama Zaneth, mantan kekasihnya.
"Ayo Ra, aku ada kejutan buat kamu." Ucap Lastri, sembari menarik pergelangan tangan Rara. Rara hanya menurut tanpa bertanya apapun lagi.
Rara tidak bisa mengekspresikan perasaannya saat ini, di depannya seluruh keluarga Rangga sudah berkumpul. Irwan papa Rangga, hingga Rani adik Rangga yang susah lama tak pulang sedang berkumpul di rumahnya.
"Ayo sayang,"
"Rara, selamat yaa."
"Selamat untuk apa?" Rara begitu bingung saat semua orang seperti sedang menunggunya dan mengucapkan selamat.
"Rara, maaf untuk tadi siang yaa." Rafly menyodorkan sebuah kotak beludru berwarna merah pada Rara, membuat gadis itu begitu bingung.
"Mulai hari ini, kita resmi bertunangan. Ayo, aku sudah menyiapkan sesuatu untukmu." Rafly menarik tangan Rara begitu saja dan membawanya masuk kedalam mobil.
"Kita mau kemana Raf?".
"Nanti juga kamu tau," Rafly tersenyum sembari menjawab pertanyaan Rara.
Lagi dan lagi, Rara di buat terkejut dengan apa yang di tunjukan Rafly padanya. Rafly memberikannya sebuah rumah, sebagai hadiah pertunangan mereka.
"Apa ini Raf?"
"Sayang, mulai saat ini kamu boleh tinggal disini. Rumah ini khusus aku beli untuk kamu."
Rara tidak dapat mengukur rasa bahagianya saat ini. Semuanya tidak terduga, hingga Lastri dan Rivan memutuskan untuk pindah ke luar negeri. Tapi sebelum itu, Lastri memberikan koleksi-koleksi drama koreanya pada Rara hingga otak gadis itu ikut tercemar.
__ADS_1
Tamat ...