
Sudah 1 minggu lama nya Fana tinggal di rumah keluarga Raina, hari ini Devano akan kembali untuk mengunjungi gadisnya.
"Mbak Mayang, Raina mau susu coklat." celetuk Raina pada pelayannya.
"Baiklah nona," jawab Mayang.
"Mbak Saras lihat si curut Fana? Raina curiga kalo dia udah ngilang seperti ini." tanya Raina pada Saras.
"Tidak nona, sedari tadi pelayan ini selalu bersama nona dan tuan muda Fana tidak menampakkan dirinya sama sekali." jawab Saras.
Raina semakin bingung karena tidak ada Fana yang mengganggu diri nya hari ini. Selama tinggal di satu rumah, Fana selalu mencari masalah dengan membuat Raina kesal. Tapi yang Raina suka dari Fana adalah, pria itu selalu membantunya untuk mengerjai Yuna dan Shakira hingga kedua wanita ular itu kesal setengah mati.
BA!!!
Raina hampir saja tersedak susu yang sedang dirinya minum, membuat sang empu yang mengagetkan dirinya nyengir tanpa ada dosa sama sekali padanya.
"Fana!!! Rese banget sihh kagetin Raina ishh, kalo Raina kesedak terus kehabisan napas, terus mati, terus Fana mau tanggung jawab?!" ujar Raina dengan wajah kesalnya, wajah gadis itu memerah.
"Terus bang Dev cari tunangan baru, terus Fana gak akan tanggung jawab." Fana melanjutkan perkataan Raina dengan ekspresi wajah yang mengejek, hal itu membuat Raina semakin kesal.
Seperti biasa, setelah kejadian seperti ini pasti kedua manusia kesayangan Devano itu akan adu mulut dan saling jambak-jambakkan.
Devano yang baru saja datang di buat terkejut dengan apa yang di perbuat keduanya, kedua manusia itu saling menatap tajam dengan wajah dan rambut yang mengenaskan.
Wajah Raina yang kusut karena belum mandi ataupun mencuci muka dengan rambut awut-awutan karena jambakkan dari Fana, sedangkan pria itu wajah nya hancur karena Raina membasuhnya dengan sisa susu yang belum sempat diminumnya (susu kotak yaa, jadi dingin)
"Astaghfirullah, apa yang kalian lakuin hah?!" teriak Devano, pria itu sudah tak bisa berkata apa-apa lagi sekarang.
"Abang?"
"Dev?"
__ADS_1
Mereka kembali berebutan untuk memeluk Devano, aksi saling dorong kembali terjadi dan membuat Devano bertambah pusing.
"stop!!" teriak Devano.
"jangan ada yang mendekat sebelum ada yang mandi," lanjut Devano, dengan langkah berat mereka pun menuruti permintaan Devano.
Devano lelah, jika seperti ini dirinya seperti pengasuh dua anak kecil yang selalu ribut tiap saat. Ya ampun, kalo Raina tau bisa abis kamu Dev.
"Dev, jangan marah yaa. Tadi itu Fana kok yang mulai duluan, dia ngagetin Raina. Raina kaget, jadi hampir kesedak kalo Raina kehabisan napas gimana? Terus nanti yang jadi tunangan nya Dev siapa kalo Raina ndak ada?"
"Kan baru hampir sayang, apa gak bisa kamu dan Fana berdamai? aku pusing sayang lihat kalian bertengkar mulu." jawab Devano dengan wajah lelahnya, lelah dengan tingkah Raina dan Fana yang tidak pernah akur.
Kini Raina dan yang lain sedang duduk santai di ruang keluarga, Fana terus saja mencari masalah dengan bergelayutan manja pada Devano. Raina yang melihatnya tentu saja tidak tinggal diam, dengan tersenyum sinis Raina berjalan kearah dapur.
"Ini, Raina buatin minuman buat Dev." ucap Raina tersenyum manis memberikan segelas jus pada Devano.
"Terima kasih sayang, tau aja kalo aku lagi haus." ujar Devano tersenyum senang, namun saat tangannya baru hendak mengambil gelasnya tangan Fana lebih dulu mengambilnya dan meminumnya hingga tandas.
Devano dan Raina di buat bengong dengan apa yang di lakukan Fana. Devano bengong karena kaget gelas yang akan di ambil nya tiba-tiba menghilang dari genggaman nya, sedangkan Raina bengong karena takjub dengan Fana yang bisa menghabiskan jus buatannya itu. Namun tak ayal Raina tersenyum miring saat Fana merasakan ada yang aneh pada jus itu, bukannya terasa manis dan menyegarkan tapi malah terasa sangat asin dan menyiksa.
Ya, Raina memang sengaja membuat jus jeruk dengan garam bukan gula untuk Devano. Karena Raina yakin Fana pasti akan termakan umpanannya, dan ternyata benar Fana meminum jus yang memang di Khusus kan untuk dirinya.
Devano melongo melihat tingkah gadis nakal nya ini, jadi minuman itu bukan untuk dirinya? Gadis nakal itu menjadikan dirinya umpan untuk mengerjai Fana? Apa kah gadis itu tidak berfikir bagaimana jika dirinya yang meminum jus itu.
"Kau benar-benar licik calon ipar, lihat saja aku akan membalas mu nanti!" ujar Fana sambil berlalu menuju dapur untuk mengambil sesuatu yang bisa menetralkan rasa asin di tenggorokannya itu.
******
"Bagaimana? Apa kamu sudah melakukan apa yang saya perintahkan?" tanya seorang pria pada wanita di hadapannya.
"Tentu saja, dan setelah ini keluarga itu pasti akan hancur saat mengetahui semua faktanya. ahhh, dan ya aku juga akan mengambil peran besar di dalamnya." jawab wanita itu
__ADS_1
"hahahah, permainan ini sungguh sangat lah menyenangkan. Setelah ini kita akan memiliki apa yang menjadi milik mereka dan tentu saja mereka harus menderita." ucap pria itu
"kau benar sayang, kau tahu aku sebenarnya lelah dengan sandiwara ini. Bahkan, aku harus bersikap seolah-olah sebagai pengemis cinta pria itu. kau tau kan, orang yang ku cinta hanyalah dirimu seorang." ujar wanita itu dengan nada yang manja.
"Tenang lah sayang, sebentar lagi mereka semua akan hancur dan kita bisa bahagia selamanya. Dan laki-laki bodoh itu, akan kita singkirkan setelah urusan kita selesai." Sepasang pria dan wanita itu sudah memiliki banyak rencana untuk menghancurkan kehidupan orang lain.
♡♡♡♡♡
Karena hari sudah mulai siang, Raina tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan saat Devano bersamanya. Raina mengajak Devano untuk piknik bersamanya di taman belakang rumah, namun lagi-lagi rencana Raina hancur karena kehadiran Fana yang terus saja mengekori mereka.
"Fana lagi kurang kerjaan ya dari tadi ngikutin Raina sama Dev mulu kayak anak bebek, Raina bosen lihat muka kamu." cetus Raina
"idihh jangan kepedean yaa, aku itu lagi ikutin bang Dev bukan kamu." ketus Fana.
Raina memutar kedua bola matanya malas, alasan saja pria di hadapannya ini.
"udah, jangan marah-marah mulu. Kamu lihat itu?" Devano menunjuk sebuah meja dekat dengan tempat mereka menggelar tikar piknik mereka.
Raina melihat arah yang di tunjukkan Devano lalu menganggukkan kepalanya.
"Pergilah kesana, ada sesuatu untuk kamu." ucap Devano
Tanpa bertanya lagi, Raina segera beranjak untuk mengikuti perkataan Devano. Raina kan anak penurut, apalagi kalo Devano yang suruh tanpa berpikir juga gadis itu akan melakukannya. Kali ini Fana bersikap baik, mungkin lelah mendengar omelan Raina terus menerus.
"wahhh, bunga nya sangat cantik dan wangi. Raina suka, terimakasih Dev." Ucap Raina tersenyum bahagia, melihat bunga matahari yang di berikan Devano untuknya.
"Sama-sama sayang, bunga yang cantik tentu untuk orang yang tak kalah lebih cantik." ucap Devano sedikit menggoda.
Fana menatap kesal keduanya, dirinya kan jomblo disini. Mereka malah memamerkan kemesraan mereka.
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, komen, dan kritik serta sarannya yaa😘
See u next time🤗