Takdir Cinta Raina (S1&S2)

Takdir Cinta Raina (S1&S2)
42


__ADS_3

Saat ini Raina sedang memandikan Anjing pemberian dari Revan, sekarang hewan lucu nan menggemaskan itu sudah bersih dan wangi.


Jika Kalian bertanya di mana Tommy dan Kitty, maka jawabannya Oma dan Opa Raina meminta Revan untuk membawa kedua hewan berbulu itu ke negara tempat Mereka tinggal. Awalnya Raina tidak setuju, namun karena bujukan Oma dan Opa nya jadi lah gadis itu menyetujui permintaan Mereka.


"Kaleng Kerupuk, itu ponsel Kamu bunyi terus. Mending angkat dulu gih, siapa tau aja penting." ucap Raina, pasalnya sedari tadi ponsel Fana terus saja berdering.


"Males ahh, paling juga operator." jawab Fana.


"Ehh, katanya pendidikan tinggi tapi O2n nya lebih banyak. Mana ada operator mau telepon Kamu, kayak penting aja." omel Raina.


Fana mendengus mendengar omelan gadis itu, dengan langkah berat pria itu melihat nama si penelpon.


Papa Dimas is calling


"Tumben banget Papa Dimas nelpon, apa terjadi sesuatu yaa?" gumam Fana.


Fana pun mengangkat telepon dan meninggalkan Raina sendiri di taman bersama Jacky (anjing pemberian Revan)


"Ehh, anak Papa kenapa hemm? Kok murung gitu sihh mukanya, ada apa?" ucap Bima, pria itu baru saja melewati taman dan mendapati Raina sedang melamun dengan jari tangan yang mengeluarkan darah.


"Papa?? Raina ndak tau, tapi perasaan Raina ndak enak Papa. Tadi Raina lagi megang bunga mawar, tapi malah ketusuk duri." jawab Raina, perasaan gadis itu mendadak cemas tanpa sebab.


"Om Bima, Raina, gawat!!" ucap Fana yang baru saja datang usai mengangkat telepon, tampak jika pria itu sedang kalut.


"Ada apa Fana? Coba ceritain ke Om." ucap Bima.


"Bang Dev, hiks, Bang Dev kecelakaan hiks, hiks, sampai sekarang tubuhnya belum di temuin Om, hiks, Kakak Ipar, Bang Dev kecelakaan dan hilang tanpa jejak hiks, hiks," ucap Fana, tadi Dimas mengubungi Fana untuk memberitahukan kabar buruk ini.


Raina yang mendengar perkataan Fana tentu saja shock


"Ndak, ndak mungkin! Kamu mungkin salah dapat informasi, beberapa saat tadi Dev baik-baik aja kok. Dev ndak mungkin hilang!!" Raina masih belum mempercayai perkataan Fana, gadis itu terduduk lemas di pelukan Bima.


"Raina, Kamu sabar yaa. Devano pasti baik-baik saja, percayalah. Fana, Kamu dan Raina tetap lah di rumah. Saya akan pergi bersama beberapa Bodyguard untuk mencari keberadaan Devano." ucap Bima, Fana hanya mengangguk di sela-sela tangisnya.


Tubuh Raina semakin melemah, bagai tidak ada energi dalam tubuhnya. Sebuah fakta membuatnya menjadi gadis yang lemah, Raina sudah sangat mencintai Devano. Mereka baru saja berucap janji untuk selalu bersama selamanya, namun tuhan berkehendak lain dengan memisahkan Mereka.


"Fana, hiks, a-apa itu benar? Dev, hiks, Dev, hiks,"

__ADS_1


"Kakak ipar, Bang Dev pasti akan baik-baik saja. Dan semoga Om Bima bisa menemukan keberadaan Bang Dev." ucap Fana, pria itu sangat tidak tega melihat Raina yang seperti ini. Gadis itu seperti kehilangan warna hidupnya.


Sudah satu minggu lamanya semenjak kejadian menghilangnya Devano, belum juga ada titik temu keberadaan pria itu. Setiap harinya Raina hanya menangis, melamun dan enggan untuk berbicara pada siapapun.


Bahkan, Fana yang terbilang dekat dengannya tak jarang menjadi pelampiasan gadis itu.


"Nona, ayo dimakan dulu makanannya. Nona tidak boleh terus bersedih seperti ini, Mbak yakin Tuan Devano pasti akan segera di temukan. Bukankah Kalian sudah berjanji akan terus bersama hingga mau memisahkan? Apapun nanti yang terjadi, Nona harus bisa menerimanya dengan lapang dada." ucap Mayang, wanita itu tengah membujuk Raina agar mau makan dan sedikit tersenyum.


Namun sayang, perkataan Mayang tidak membawa pengaruh apapun untuk Raina. Gadis itu malah mengunci dirinya di kamar mandi dan enggan keluar sebelum kedua pelayannya pergi.


"Hiks, Dev, Raina mohon hiks, kembali Dev, hiks, Raina janji ndak akan buat ulah, ndak buat Dev kesal, ndak bertengkar sama Kaleng Kerupuk lagi, tapi Raina mohon hiks Dev kembali hiks, hiks, Raina ndak mau kehilangan Dev hiks, ini terlalu cepat untuk Raina hiks, hiks,"


Mayang dan Saras dapat dengan jelas mendengar rintihan tangisan Raina, Mereka juga ikut sedih mendengarnya. Devano sangat berperan penting dalam hidup Nona Mereka. Secara tidak langsung, Raina sudah menggantungkan hidupnya pada Devano. Bagaimana mungkin gadis itu bisa terlihat baik-baik saja di saat Devano menghilang.


"Saras, Aku sangat kasihan melihat keadaan Nona Raina yang seperti ini. Nona Kita yang selalu terlihat ceria dan gemar menjahili orang, lihat lah sekarang karena hilangnya Tuan Devano Dia menjadi terpuruk seperti ini." ucap Mayang,


"Kau benar Mayang, Aku sangat mengkhawatirkan kesehatan Nona. Ayo, Kita sebaiknya memberitahukan ini kepada Tuan dan Nyonya."


Kedua pelayan itu pun pergi untuk memberitahukan keadaan Raina pada Bima dan Dewi.


"Nyonya, Tuan, Kami sudah memberikan makan malam pada Nona Raina tapi Nona malah mengunci dirinya di dalam kamar mandi." ucap Mayang.


"Iya Ma, semua orang suruhan Kita sudah di kerahkan tapi belum juga ada kabar."


Mereka pun memutuskan untuk menemui Raina di kamarnya.


"Raina sayang, ayo buka pintu nya Nak. Raina, jika Kamu terus seperti ini Devano pasti akan sangat sedih Nak. Apa Kamu mau, Devano marah dan benar-benar pergi ninggalin Kamu?"


"Hiks, hiks, Mama, kenapa Dev begitu cepat sekali ninggalin Raina? Raina mau nyusul Dev Ma, Raina tidak mau berpisah sama Dev."


Bima dan Dewi sangat terpukul melihat keadaan Raina yang seperti ini, tidak ada lagi Raina yang selalu membuat orang-orang tersenyum, kesal dan marah di saat bersamaan. Kini hanya tersisa Raina yang pendiam, dan lebih banyak menangis.


"Om Bima, Tante Dewi, Fana punya kabar baik. Bang Dev udah di temuin, sekarang Dia lagi di rawat di rumah sakit X." perkataan Fana yang baru saja datang, seketika mengembalikan senyuman Raina.


"Fana, apa itu benar? Yang Fana ucapin itu benar kan? Ayo Fana, Kita temuin Dev sekarang. Raina mau bertemu Dev, ayo Fana antar Raina kesana." ucap Raina, gadis itu seperti memiliki semangat baru saat mendengar perkataan Fana bahwa Devano sudah di temukan.


"Iya kakak ipar, tadi bawahan Aku udah kasih kabar kalo Bang Dev udah ketemu dan keadaannya udah baik-baik aja saat ini. Ada orang baik yang nolongin Dia saat kecelakaan itu terjadi, dan alhamdulillah nya Bang Dev baik-baik aja meskipun sempat mengalami koma." jawab Fana.

__ADS_1


"Sayang, Kau boleh pergi tapi sebelum itu makan dulu makananmu." ucap Bima, namun di acuhkan Raina. Gadis itu dengan penuh semangat menarik Fana agar mau mengantarkannya ke rumah sakit tempat Devano di rawat.


Saat ini, Raina dan Fana sudah berada di sebuah rumah sakit swasta tempat Devano di rawat. Mereka sudah sampai di depan ruang rawat Devano, dapat Raina lihat seseorang dengan setia tengah menemani Devano.


"Permisi," ucap Fana, orang itupun berbalik dan wajahnya tampak jelas di lihat oleh Fana dan Raina.


"Ya? Kalian siapa?" ucap orang itu, yang ternyata adalah seorang gadis seusia Raina. Gadis itu tampak terkejut dengan keberadaan Fana dan Raina.


"Kami keluarga pasien. Terimakasih karena sudah menemani Abang Saya, apa boleh Kami melihatnya?" jawab Fana, gadis itu pun mengangguk kecil namun tatapan nya tidak lepas dari Raina.


Gadis terus saja menatap Raina, apalagi melihat penampilan Raina yang sangat berantakan dengan hanya memakai baju tidur Hello Kitty pemberian Devano.


"Hiks, Dev, akhirnya Kamu ketemu juga hiks, Raina sangat rindu hiks." ucap Raina, gadis itu masih saja menangis saat melihat Devano terbaring lemah.


"Hmm, maaf ya jika Saya mengganggu. Tapi Dia baru saja tertidur, tolong membuat keributan." ucap gadis tadi.


"Kakak Ipar, Bang Dev lagi istirahat. Kamu juga harus istirahat, kata Om Bima Kamu selalu menunda makan dan lebih banyak membuang makananmu di bandingkan memakannya. Tunggu lah disini, dan Aku akan membelikan makanan untukmu." ucap Fana, pria itu baru saja mendapat pesan dari Bima agar memberi gadis nakal nya ini makan.


"Tidak Fana, Raina ndak lapar. Raina sangat ingin bicara dengan Dev, Raina sangat tersiksa Fana hiks, Raina khawatir dengan keadaan Dev hiks, Raina hanya mau Dev, Raina ndak mau yang lain hiks, hiks," Fana mengusap wajahnya dengan kasar, percuma berbicara dengan Raina karena pada dasarnya gadis itu tidak akan pernah mau untuk mengalah.


"Kalo Bang Dev tau Fana gak urus calon isterinya ini dengan benar, Bang Dev bisa marah besar. Kamu mau Aku menjadi sasaran kemarahan Bang Dev?" tanya Fana,


"Baiklah, Raina mau makan." pasrah Raina, Fana pun tersenyum senang mendengarnya.


"Maaf kalo Saya mengganggu kalian, tapi Saya masih belum paham dengan ini semua. Kalian siapa? Dan siapa itu Dev?" tanya gadis yang tadi menjaga Devano.


"Saya adik dari pria itu, dan gadis di sampingku ini adalah tunangan nya. Mereka akan menikah 2 bulan lagi, tapi mungkin harus tertunda karena Bang Dev mengalami kecelakaan dalam perjalanan bisnisnya seminggu yang lalu." Jelas Fana, gadis itu sedikit memasang wajah tak suka nya saat Fana menyebut Raina adalah tunangan Fana.


"Rena, tolong ambilkan Saya air."


"Ahh, baiklah. Ini, minumlah." Gadis bernama Rena itu dengan cepat memberikan segelas air putih pada Devano yang baru saja terbangun dari tidur nya karena mendengar suara ribut di ruangan nya.


"Terimakasih, Fana? Kamu ada disini?" tanya Devano saat menyadari keberadaan Fana.


"Syukurlah Bang Devano tidak kenapa-kenapa, Fana sangat khawatir apalagi saat Bang Dev gak di temuin. Semuanya panik terutama kakak ipar, bahkan Dia selalu mogok makan dan memusuhi semua orang. Fana aja kadang selalu menjadi sasaran kalo Dia ngamuk." jawab Fana, Devano mengalihkan pandangannya pada Raina yang tengah menatapnya dengan tatapan berkaca-kaca.


Segini dulu aja deng, author banyak tugas jadi up nya nanti-nanti dulu yaa😁

__ADS_1


Jangan lupa vote, like, komen, dan rate bintang 5 yaa🤗


See u next time😘


__ADS_2