
Happy Reading😊
Sore itu, Devano tengah membantu Dimas mempersiapkan pernikahannya yang akan di gelar 1 minggu lagi. Namun kegiatan pria itu terhenti dengan kedatangan asistennya yang tiba-tiba di sela kegiatannya.
"Maaf Tuan, kedatangan saya hari ini mengganggu waktu istirahat Anda." asisten Rayn tampak menundukkan kepalanya hormat pada Devano. Devano mempersilahkan Rayn untuk duduk dan mengatakan perihal kedatangannya yang tiba-tiba.
"Cabang perusahaan yang berada di luar negeri mengalami masalah, Tuan. Saya baru saja mendapat kabar bahwa para investor menghentikan pengaliran dana serta beberapa karyawan mulai melakukan aksi demo karena tak mendapatkan upah gaji selama 2 bulan. Satu-satunya cara adalah, Tuan sendiri yang harus mengecek dan menstabilkan keadaan di sana. Maaf jika perkataan saya ini lancang, Tuan."
Devano tampak menganggukkan kepalanya mengerti. Pria itu menopang dagu sembari memikirkan kembali perkataan Rayn.
"Saya akan kesana setelah pernikahan, sekarang kau kembali lah dan minta pimpinan disana untuk mengambil alih untuk sementara waktu sampai saya datang." putus Devano, Rayn pun segera berpamitan karena masih ada hal yang harus segera di urus.
"Ada apa Nak? Sebentar lagi pernikahan mu, sudah waktunya kamu bahagia dan melupakan sejenak permasalahan perusahaan. Ayo, bantu Papa menyiapkan acara sesuai keinginan para wanita." ucap Dimas, Devano pun menurut dan kembali mengikuti langkah Dimas mendekor rumah mereka.
Diva datang dengan camilan juga minuman dingin untuk Dimas dan Devano. Gadis itu pun duduk sembari memperhatikan ayah dan kakaknya bekerja dengan pengawasan Sari.
"Yang itu di terangin lagi dong warna nya, pokoknya Mama mau rumah ini terlibat cantik dan nyaman terutama untuk menantu kesayangan nanti." ucap Sari, Diva hanya tertawa melihat wajah Dimas dan Devano yang mulai jengah dengan segala protesan yang di layangkan Sari pada mereka.
"Ya ampun Ma, kenapa heboh banget sih. Lagi pula, setelah menikah kan Kak Devano dan Raina tinggal di rumah mereka sendiri. Ngapain Mama heboh banget ngedekor rumah, toh Raina juga tinggalnya di rumah mereka sendiri." ucap Diva, perkataan gadis itu membuat aktivitas Dimas dan Devano terhenti. Kedua pria itu saling tatap, lalu beralih menatap Sari yang nyengir tanpa dosa sembari berlalu meninggalkan mereka.
Melihat reaksi sang Mama, Diva pun tergelak. Apalagi melihat ekspresi wajah Dimas dan Devano yang begitu malang dan lelah.
Malam harinya, Devano hendak memeriksa email tentang data-data informasi perusahaan yang bermasalah. Namun, sebuah email tiba-tiba masuk dan membuat pria itu terdiam.
__ADS_1
"Baiklah, jadi kau ingin bermain. Mari kita lakukan, dan lihat siapa pemenangnya kali ini." gumam Devano, sesaat setelah membaca email itu. Pria itu pun segera menghubungi asisten Rayn untuk mengatur semua rencana dan kebutuhannya.
"Halo Rayn, tolong kamu atur semuanya. Saya sudah mengirim semua informasi di email kamu, dan jangan sampai informasi itu bocor." ucap Devano saat panggilan telponnya sudah terhubung dengan asisten Rayn.
"Baik Tuan, saya akan segera mempersiapkan semuanya." jawab Rayn, pembicaraan pun berakhir.
Hingga seminggu kemudian, pernikahan Devano dan Raina pun berjalan dengan lancar walaupun di akhir acara Raina harus menelan pil kecewa karena Devano berdalih akan pergi untuk melakukan pekerjaan penting.
"Ini gak mungkin Fana, Raina yakin mayat itu bukan Dev! Dev udah janji bakal kembali, dia gak mungkin ninggalin Raina sendiri. Fana, Raina mohon tolong bilang kalo jenazah itu bukan Dev." Raina tampak histeris sesaat tim penyelamat sudah pergi dari rumahnya, gadis itu bahkan tidak segan menjambak rambut Fana agar pria itu berkata bahwa bukan jasad Devano yang di temukan para tim penyelamat.
Sementara itu, Rayn yang sedari tadi berada di sana pun segera pamit dengan dalih harus mengurus surat-surat perusahaan dan mengumumkan berita kematian Devano kepada para staff dan karyawan kantor. Namun sebenarnya, Rayn pergi untuk menemui Devano.
"Lapor Tuan, semua rencana yang kita buat berjalan dengan baik. Seluruh keluarga percaya dengan hasil tes DNA palsu itu, namun Nyonya muda masih belum mempercayai nya Tuan. Dia terus saja histeris dan mengatakan jika hasil tes dan jenazah itu bukan anda. Lalu apa yang akan Tuan lakukan selanjutnya? Bukankah dalang sebenarnya berhasil melarikan diri?"
"Dan juga, tolong kamu awasi keamanan istri saya Raina. Sebelum DIA kita temukan, saya tidak akan menunjukkan diri." lanjut Devano, dengan tatapan tajam yang memandang lurus.
"Baik Tuan," ucap Rayn, pria itu pun segera berlalu untuk melaksanakan semua perintah Devano juga karena tidak ingin siapapun curiga padanya.
Kembali ke acara lamaran Rachel,
Raina terlihat asik menyantap berbagai hidangan yang di suguhkan, gadis itu bahkan tak memperdulikan tatapan-tatapan para tamu yang memperhatikannya. Bagi Raina, perut adalah urusan nomer satu.
"Jeng Dewi, jadi ini anak bungsu kamu? Cantik banget sih, kembar ya sama Rachel? Beruntung banget punya anak kembar yang cantik-cantik seperti mereka. Oh iya, dia udah punya calon belum? Aku punya anak yang masih lajang loh, pekerjaan nya juga bagus dan mapan. Udah punya rumah sendiri juga, buat masa depan katanya."
__ADS_1
"Iya Jeng Lani, ini anak bungsu saya. Namanya Raina, dia ini agak gak waras otaknya Jeng. Lihat aja, mana ada orang waras tetap santai pas di lihatin banyak orang." bukannya senang anaknya di puji, Dewi justru menjelekkan anaknya sendiri.
"Jeng Lani telat, Raina ini udah jadi janda perawan. Di tinggal mati sama suaminya, hii sial banget kan hidupnya. Mending gak usah deh Jeng mau jodohin anaknya sama anaknya Jeng Dewi, emang gak takut anaknya nanti kena sial." Dewi menatap kesal wanita yang baru datang dan menyerobot, bahkan wanita itu dengan lancang menghina Raina di depannya.
"Maksud kamu apa Sita? Anak saya memang janda di tinggal mati sama suaminya, tapi itu bukan kemauan putri saya! Apa hak kamu membicarakan hal buruk dan memfitnah dia? Sadar tidak, kamu sudah menghambat kebahagiaan anak saya hah?!" Dewi tidak dapat mengontrol emosinya, membuat Raina yang masih asik makan pun menghentikan aktivitasnya.
"Mama kenapa? Kok marah-marah?" tanya Raina, gadis cantik itu menatap intens wajah sang Mama.
"Tante Sita, Raina emang gak marah Tante nyebut Raina janda perawan. Tapi bukan berarti Raina akan diam aja lihat Mama Raina sedih karena perkataan Tante. Apa Tante udah ngerasa hebat? Sehebat apa sih anak Tante itu? Denger ya Nte, saya juga gak mau ada di posisi ini. Jadi saya mohon, jaga omongan Tante. Please, ingat umur. Udah tua kok, hobi ngegosip." Raina mendengus kesal sambil berlalu saat melihat Rachel dan Alvin datang menghampiri mereka.
Dengan santainya Raina kembali melanjutkan makan nya yang sempat tertunda. Raina sudah tidak memperdulikan keributan yang terjadi, gadis itu kini kembali lahap memakan hidangan yang sudah tersedia.
"Wahh, acaranya lamarannya mewah banget ya Pa. Beruntung banget kita bisa di undang,"
"Iya, Gisel. Papa juga gak nyangka Tuan Bima mau mengundang kita, padahal perusahaan kita baru saja di rintis." Gisel dan Hans datang ke acara lamaran Rachel dan Alvin karena Bima yang mengundang mereka.
Gisel mengedarkan pandangannya, hingga pandangan gadis itu tertuju pada foto-foto keluarga yang terpampang di dinding. Gadis itu menatap dengan intens foto-foto itu, benar saja salah satu dari foto itu ada foto pernikahan Devano dan Raina. Hal itu tentu saja membuat Gisel begitu terkejut, gadis itu pun semakin banyak diam.
Saat acara puncak di mulai, Raina justru kebelet karena terlalu banyak makan dan minum. Melihat Rachel yang melakukan acara lamaran bersama Alvin, sontak membuat Gisel kembali terkejut. Bagaimana tidak, Rachel terlihat begitu mirip dengan Raina.
"Pa, itu bukannya istri Devano? Dia mau lamaran? Gisel gak salah lihat kan? Itu artinya, istri Devano benar-benar nganggap Devano udah meninggal dan memutuskan untuk menikah dengan laki-laki lain? Kasihan sekali Devano," ucap Gisel yang di angguki Hans.
"Kakak ipar dari mana aja sih? Di cariin Mama Sari tuh,"
__ADS_1
"Iya Fana bawel, tadi Raina tuh kebelet."