
Hari ini, Devano dan Raina akan menghadiri acara pernikahan Namira dan Qinzo. Lohh, kok Namira dan Qinzo? Soalnya Qinzo gercep ya teman-teman, gak mau dia kalo Namira nya berubah pikiran makanya langsung di nikahin🤭
Devano sedang bersiap di kamar nya, begitupun juga dengan Raina. Gadis itu bahkan sangat bersemangat, sudah berbagai gaun yang di pilihnya tapi tidak juga satu pun yang menarik perhatian Raina.
"Tidak-tidak, Raina ndak mau pakai yang itu."
"Bukan itu juga,"
"Itu terlalu mencolok, Raina ndak suka."
"Yang pink, Raina ndak mau yang merah!"
Untung saja Mayang dan Saras sabar orangnya, kalo tidak entah lah mungkin mereka sudah kabur karena menyerah menghadapi nona bawel mereka ini.
"Sayang, apa kau belum siap juga?" kata Devano yang baru saja datang dan masuk ke kamar Raina.
"Dev, Raina belum menemukan baju yang pas untuk digunakan hari ini. Lihat, semua pakaian nya jadi berantakan." ucap Raina dengan ekspresi wajah yang menggemaskan.
"Kamu gemesin banget sih sayang, sini biar aku aja yang nyariin gaun untuk kamu." Devano mengunyel-uyel wajah Raina karena gemas, Raina hanya pasrah mumpung belum menggunakan make up, biar saja pria itu menguyeli wajahnya.
"Kamu pakai ini saja sayang, memakai pakaian apapun kamu juga tetap cantik." Devano memberikan sebuah gaun pesta pada Raina. Kali ini, Raina tidak memberikan protesan apapun, gadis itu menerima gaun yang di berikan Devano dengan senang hati.
Mayang dan Saras lagi-lagi di buat pusing, itu kan gaun yang pertama kali mereka tunjukkan pada Raina, tapi Raina menolaknya mentah-mentah dengan alasan terlalu jelek.
Setelah memakai gaunnya, Raina pun duduk di meja rias nya untuk segera merias diri. Raina tidak ingin di rias siapapun, jadilah gadis nakal itu merias dirinya sendiri dengan make up seadanya.
"Raina ndak mau tangan seksi Raina ini kotor, pake ini aja dehh." gumam Raina, gadis itu mengarahkan sebuah jarum ke bibirnya.
"Astaghfirullah sayang!! Apa yang kamu lakuin? Itu bibir kamu berdarah, kenapa di tusukin jarum sih?!" kaget Devano saat melihat bibir Raina yang mengeluarkan cairan merah, dan tangan gadis itu yang memegang jarum dan mengarahkannya di bibirnya.
Raina yang kaget mendengar teriakan Devano pun membuat cairan merah itu meluber kemana-mana.
"Ihhh Dev ngagetin ishhh!! Kan, lip tint Raina jadi belepotan! Yahh, tumpah dehh." Raina menatap miris lantai yang sudah berubah warna menjadi merah akibat teriakan Devano tadi.
__ADS_1
Sementara itu, Devano masih saja cemas melihat warna merah di bibir dan jarum yang di pegang Raina.
Apa jiwa psikopatnya semakin berbahaya? Bahkan **d**ia melukai bibirnya sendiri. batin Devano menatap Raina dengan tatapan khawatir, apalagi melihat ekspresi wajah Raina yang biasa saja tanpa merasa sakit sedikitpun.
"Dev harus tanggung jawab!!" teriak Raina, gadis itu tidak terima lip tint seharga 35 ribu nya jatuh dan terbuang sia-sia akibat teriakan Devano.
"Aku?? Aku salah apa sayang? Ayo, aku akan mengobati luka mu dulu."
"Siapa yang luka? Lihat, lip tint Raina terbuang sia-sia! Hiks, hiks, Raina tidak mau tahu, Dev harus membelikan yang baru hari ini." Devano semakin di buat kalang kabut melihat Raina yang mulai menangis.
"Heyy, kau kenapa menangis? Baiklah, aku akan membelikan apapun itu untuk mu. Sekarang diam yaa, nanti cantik nya hilang lohh."
Devano lagi-lagi dibuat bungkam saat Raina menghapus wajahnya dengan tisu, dan warna merah itu hilang seketika meskipun masih meninggalkan bekas sedikit. Namun, bibir Raina terlihat baik-baik saja seperti tidak ada bekas luka sedikit pun.
"Wahhh ajaib," gumam Devano dengan mulut sedikit terbuka.
"Bang Dev, kakak ipar, kenapa kalian lama sekali sih??" tanya Fana yang baru datang dan berniat untuk memanggil Raina dan Devano yang belum juga kunjung datang.
"Lihat Fana, sedari tadi Raina membuat ku khawatir. Bagaimana bisa dia melukai bibir nya dan malah bersikap biasa saja sekarang!" adu Devano, pria itu masih mengira bahwa Raina terluka.
"Ini?? Haisssh ternyata kalian berdua ini sangat bodoh, apa Raina begitu kurang kerjaan sampai harus melukai diriku sendiri!" omel Raina.
"Ini hanya jarum! Dan yang merah ini bukan darah, ini hanya lip tint bodoh! Raina tidak mau tau, Dev harus membelikan Raina lip tint yang baru. Ingat, harus lip tint 35 ribu." lanjut Raina.
"Apa?! Jadi, itu bukan darah?? Tapi, kenapa harus liptint seharga 35 ribu sayang? Kenapa tidak yang lain?" ingin rasanya Devano mengubur dirinya hidup-hidup sekarang,
"Jangan banyak bertanya Dev, Raina hanya mau lip tint seharga 35 ribu. Kalo sampai Dev tidak memberikannya, lihat saja Raina akan mendiamkan Dev selama 1 minggu!" ancaman Raina sangatlah mutlak, dan Devano harus memenuhi nya.
"Baiklah sayang, maafin aku yaa. Aku cuma khawatir terjadi sesuatu padamu, lagi pula kenapa kamu menggunaan jarum itu?" ucap Devano, pria itu merasa malu dengan apa yang baru saja terjadi.
"Benar kakak ipar, kenapa kau menggunakan jarum? Bukannya ada kuas untuk lip tint mu itu? Kau membuat orang panik saja." ucap Fana, namun malah mendapat lirikan tajam dari Raina.
"Kepo kamu, ngapain masih disini? Pergi sana, Raina dan Dev akan menyusul sebentar lagi." jawab Raina dengan nada ketus.
__ADS_1
Fana sangat kesal, sudah capek-capek naik ke lantai 4 untuk memanggil Raina dan Devano, dirinya malah di usir.
"Fana gak mau pergi, mau disini aja nungguin kalian." Fana malah duduk tepat di samping Devano.
"Sayang, kamu kenapa pakai jarum sih buat pakai lip tint nya? Tanpa memakai itu juga kamu tetap cantik kan, ayo simpan saja jarum nya yaa." ucap Devano,
"Raina ndak mau tangan Raina yang menggemaskan ini menjadi merah dan kotor, Raina melihat jarum ini karena bisa di gunakan, kenapa tidak?" jawab Raina.
"Tanganmu juga setiap hari kotor karena bermain dengan Tommy dan Kitty, kakak ipar." ucap Fana mencibir.
"Nyenyenye, diam kamu! Raina tidak menyuruhmu untuk berbicara." ketus Raina.
Setelah perdebatan panjang, kini Raina dan rombongan sudah sampai di gedung tempat pernikahan Qinzo dan Namira.
Selama perjalanan, Raina enggan melepaskan lengan Devano. Gadis itu selalu saja merapat pada tubuh Devano membuat Devano bingung dengan tingkah Raina yang tidak biasa.
"Ada apa sayang?" tanya Devano mengelus kepala Raina dengan penuh kasih sayang.
"Raina ndak suka gadis-gadis itu menatap Dev dengan tatapan lapar, Dev hanya milik Raina dan begitu pun sebaliknya. Jangan tinggalin Raina yaa," jawab Raina sedikit merajuk, gadis itu sedang cemburu karena menjadi sasaran tatapan lapar gadis-gadis.
Devano sangat ingin melahap Raina sekarang juga, Raina terlihat sangat menggemaskan jika dalam keadaan merajuk dan cemburu seperti sekarang.
"Selamat ya bro, akhirnya perjuangan lo gak sia-sia selama ini. Gue dan Raina doain semoga kalian bahagia dan cepat di beri momongan yaa." ucap Devano memberikan ucapan selamat pada Qinzo dan Namira.
"Thanks, gue gak bisa kayak gini kalo lo gak sadarin gue waktu itu. Oh iya, kapan kalian nyusul nya?"
"Tunggu aja tanggal mainnya, hahaha"
"Namira, selamat ya. Raina senang deh karena perjuangan Qinzo berbuah manis. Hihihi, cepat buatin Kponakan yang lucu ya buat Raina. Dahhh, Raina mau icip-icip makanan."
Raina sangat senang menggoda Namira, sampai melupakan Devano yang kini di kerubungi gadis-gadis.
Jangan lupa vote, like, komen dan rate bintang 5 yaa
__ADS_1
See u next time🤗