Takdir Cinta Raina (S1&S2)

Takdir Cinta Raina (S1&S2)
Takdir Cinta Raina 3


__ADS_3

Setelah pertemuannya dengan Siska, Raina terus kepikiran. Apa benar Dewi sedang sakit, dan Rachel menunda pernikahan demi dirinya? Raina tidak ingin egois, namun gadis itu tetap menuruti kata hatinya.


"Raina, ada apa? Dari tadi ngelamun terus, noh di panggil pak bos tuh." ucap Karin, rekan kerja Raina. Karin tidak seperti para karyawati lainnya yang membenci kehadiran Raina, wanita berusia 27 tahun itu justru bersikap cuek dan biasa saja.


"Ah, iya. Sorry, gue lagi banyak pikiran aja sih sebenarnya. Ya udah, gue duluan yaa." Raina pun berlalu menuju ruangan Evan. Gadis itu mengetuk pintu, setelah di perisilahkan masuk barulah Raina masuk kedalam ruangan Evan.


"Ohh, jadi ini sekretaris ganjen yang udah berani godain calon suami anak saya?! Heh, asal kamu tau ya si Evan ini calon suami anak saya. Enak aja kamu mau rebut Evan dari, punya harga diri gak kamu?! Jawab!" Raina jelas saja terkejut saat tiba-tiba seorang wanita dengan dandanan glamour melabrak dirinya, bahkan mencekiknya.


Evan dengan segera melerai perseteruan yang terjadi. Apalagi melihat Raina yang mulai kehabisan nafas akibat ulah dari Dona, ibu dari Marisa tunangannya. "Cukup Tante! Ini kantor, saya memanggil Raina kesini untuk mengatur ulang jadwal pertemuan hari ini. Marisa, awasi mama kamu itu! Aku udah jelasin ya, Raina ini sekretaris aku bukan selingkuhan!" dengan kesal Evan pun membimbing Raina agar duduk di sofanyang sudah tersedia di ruangannya.


Raina dengan kesal menepis tangan Evan, menolak bantuan dari bos nya itu. Raina beralih menatap Dona dengan tatapan tajam, tampak jelas jejak cekikan wanita itu di lehernya.


"Heh nenek tua! Dan kamu anaknya, denger yaa. Saya kasih tau sekali lagi, saya disini kerja tapi bukan jadi penggoda! Enak aja main nuduh, kemarin anaknya sekarang emaknya! Saya bisa aja nuntut kalian atas tuduhan penganiayaan."


Perkataan Raina tak cukup membuat Dona gentar, wanita itu justru semakin maju dan berusaha menjambak rambut Raina. Melihat keagresifan lawannya, Raina menjadi semakin tertantang. Sudah lama gadis bar bar itu tidak berkelahi sejak pernikahannya dengan Devano.


Dengan satu jurus, lawan Raina tumbang seketika. Apa yang di lakukan gadis itu begitu sangat mengejutkan. Raina dengan cepat dan gesit membuka heals nya kemudian melayangkan kaki jenjang nya ke wajah Dona hingga wanita tumbal seketika.


"Huh, udah lama saya tidak bermain bar bar. Makasih ya Tante, berkat Tante akhirnya saya bisa luapin emosi. Oh iya, satu lagi ... Tante gak perlu emosian dan berprasangka buruk sama saya. Tenang aja, saya udah nikah. Dan yang pasti saya gak doyan sama calon menantu Tante."


Kini semua yang berada di dalam ruangan itu pun melongo dengan apa yang baru saja Raina lakukan. Para karyawan yang mencuri kesempatan mengintip karena pintu yang tidak di tutup pun menganga tak percaya. Gadis yang selalu diam saat mereka gosipkan dan sindir, kini terlihat begitu mengerikan saat menghajar lawannya.


"Pak Evan, mulai saat ini saya mengundurkan diri. Nyesel saya udah ngelamar pekerjaan di perusahaan ini. Ah, dan satu lagi ajarin dulu deh calon Bapak itu. Biar punya sopan santun, gak cuma modal cantik aja." lanjut Raina, gadis itupun berlalu meninggalkan ruangan direktur.


Setelah kepergian Raina, Evan kini menatap Marisa dan Dona dengan tajam. "Udah puas? Sudah puas kalian buat onar hah?! Kemarin kamu udah buat aku rugi, dan sekarang mama kamu malah buat aku kehilangan sekretaris! Oh Tuhan, dosa apa aku punya calon istri sepertimu Marisa! Arghh!"


"Evan, maaf. Aku gak bermaksud seperti itu, aku cuma takut kamu kegoda cewek-cewek ganjen. Aku gak akan kayak gini kalo gak ada laporan dari karyawan kamu kok! Jadi kamu jangan cuma salahin aku," ucap Marisa memberikan pembelaannya, namun Evan sudah terlanjur lelah dengan kejadian hari ini akibat ulah tunangan dan ibunya.


"Kamu pulang aja, aku butuh waktu buat tenangin diri. Harusnya kamu bisa mikir, Marisa! Kenapa kamu bisa dengan mudah terpengaruh dengan omongan orang lain?! Kamu gak percaya sama aku? Kalo kamu gak ada sedikitpun kepercayaan buat aku, mending kita bubar aja. Aku muak sama sikap kamu yang pencemburu ini!"


Evan keluar dari ruangannya dengan amarah yang meletup-letup. Marisa merasa sangat bersalah, gadis itu merutuki kebodohan nya. Akibatnya, kini Evan marah besar.


Sementara itu, saat ini Raina sedang membereskan barang-barang nya dan bersiap pergi meninggalkan kantor. Tak lupa, foto pernikahannya dengan Devano yang selalu gadis itu bawa.

__ADS_1


Raina masih tidak ingin pulang dan menemui keluarganya, misi nya belum selesai. Gadis itupun memutuskan untuk tinggal selama beberapa hari di rumah sederhana nya sampai perasaannya puas atas pemikirannya.


Waktu begitu cepat berlalu, sudah satu minggu lamanya. Namun Raina sama sekali tak berniat untuk kembali, Siska juga tidak bisa jika harus terus berdiam diri. Apalagi kondisi Dewi yang kian memburuk.


"Raina, gue mohon. Kali ini aja, lo jangan egois! Mama lo lagi sakit, lo gak kasihan hah?! Ayolah, ikut pulang sama gue." ucap Siska, gadis itu kembali menemui Raina dan memaksa nya untuk pulang. Namun Raina tetap keukeh untuk menetap.


"Ya udah, kita pulang sekarang."


Saat keduanya hendak menaiki mobil yang dikendarai Siska, tiba-tiba saja ada yang mencekal tangan Raina hingga langkah gadis itu terhenti.


"Gue perlu ngomong sama lo, bisa?"


Raina dan Siska saling tatap, Siska menganggukkan kepala nya tanda setuju Dan disinilah mereka sekarang, di sebuah cafe tak jauh dari tempat tinggal Raina.


"Ada apa? Kalo lo mau nuduh gue lagi jadi pelakor mending gak usah deh, percuma."


"Nggak kok, gue cuma mau minta maaf. Gue tau, gue yang salah. Gue begitu mudah terpengaruh sama omongan orang, dan gue sadar akan hal itu. Dan ... atas apa yang mama gue lakuin ke lo, gue minta maaf." Raina tersenyum senang, Marisa terlihat begitu merasa bersalah dan menyesali perbuatannya. Sejujurnya, Marisa adalah gadis yang cantik dan ceria. Namun trauma masa lalu membuat gadis itu menjadi sangat pencemburu dan posesif pada pasangannya.


"Makasih Raina, lo emang cewek baik. Tapi sayang, Evan udah putusin pertunangan kita. Udahlah, mungkin dia bukan jodoh gue."


Raina begitu terkejut mendengar perkataan Marisa, apa benar yang dikatakan gadis itu benar?


"Maksud lo? Kalian putus? Tapi, bukannya kalian mau nikah akhir bulan ini?" tanya Raina, Marisa hanya tersenyum kecut. Sedangkan Siska, sedari tadi hanya diam dan menjadi pendengar yang baik.


"Miris banget, ini semua salah gue. Sorry, gue udah ganggu waktu lo. Kalo gitu gue pamit ya, bye."


Setelah kepergian Marisa, Raina tampak berpikir. Gadis itu tan percaya Evan memutuskan hubungannya dan Marisa begitu saja tanpa mencari siapa dalang utamanya.


"Cihh, dasar cowok banci. Ngurus masalah kecil aja gak bisa," cibir Raina.


"Cowok banci? Siapa? Lo ngomong sama siapa sih? Aneh lo, udah ah ayo kita harus buruan kembali sekarang!" Siska menarikpergelangan tangan Raina keluar dari cafe menuju mobilnya.


Selama perjalanan, Raina hanya diam. Hingga mobil yang di kendarai Siska kini sampai di salah satu rumah sakit yang cukup besar dan terkenal. Dengan segera Siska memerintahkan Raina untuk turun.

__ADS_1


Sedangkan itu, di dalam sebuah kamar rawat inap VIP telah terjadi kehebohan. Dewi yang kini terbaring lemah tiba-tiba saja sadar dan ngotot untuk pulang dengan alasan untuk menemui Raina.


"Ma, Raina belum ada kabar sampai sekarang. Rachel mohon Ma, jangan kayak gini." Rachel mencoba memeluk Dewi, namun wanita itu tetap memberontak dan tetap menyebut nama Raina.


Ceklek


Pintu ruang rawat inap terbuka, menampakkan Siska dengan wajah bingung nya saat semua orang yang berada di dalam ruangan itu melihatnya. Sesaat kemudian, gadis itu kembali merubah ekspresi wajahnya dengan tersenyum lebar.


"Ayo masuk! Gue santet lo kalo gak mau masuk!" ucap Siska, memalingkan wajahnya pada Raina yang masih setia berdiri di belakang nya.


"Lo nyuruh gue masuk?"


"Iya, Raina. Tunggu apa lagi? Buruan!" ucap Siska dengan nada kesal, namun Raina justru memasang wajah polosnya.


"Lewat mana? Lompat? Atau jendela?" tanya Raina lagi. Siska memutar kedua bola matanya kesal, "Ya lewat pintu lah Raina oon!" jawab Siska, berusaha menahan sabar menghadapi Raina. "Sempit gitu, lo pikir gue papan triplek? Mending lo minggir dulu deh dari pintu, udah gitu pake kacak pinggang lagi. Mau tawuran kemana lo, gak bisa masuk gue nih!"


Siska buru-buru menurunkan kedua tangannya, lalu menyingkir dari jalan. Raina pun masuk dan tersenyum pada semua nya, gadis itu berjalan perlahan ke arah Dewi.


"Mama, maafin Raina. Tapi Raina butuh waktu buat sendiri, Raina mau pergi lagi. Mama cepat sembuh ya, kalo udah dapat oppa-oppa nanti Raina balik lagi buat ngenalin ke kalian semuanya."


"Kamu ini, kenapa suka banget bikin kita semua khawatir hah?! Mama itu takut kamu nekat, kamu selama ini ada dimana? Kenapa gak pernah kasih kabar dan menghilang gitu aja?"


"Kan kalo ndak bikin rusuh itu namanya bukan Raina, Ma." jawaban spontan Raina membuat semuanya hanya bisa istighfar dalam hati.


"Fix, kakak ipar yang nyebelin udah kembali." ucap Fana, pria itu mendudukkan bokongnya fi salah satu sofa yang tersedia dengan raut wajah membingungkan. Ekspresi wajah pria tampan itu tampak seperti banyak masalah, Ravic yang sedari tadi berada di samping pria itu pun bingung.


"Lo kenapa sih Fan? Kesambet?" tanya Rachel.


"Nggak, gue lagi siapin mental buat hadapan kakak ipar gue yang gesreknya bikin gue pengen kubur diri hidup-hidup."


"Oalah, gitu toh. Gimana kalo gue bantu lo, sini biar gue yang kuburin lo aja "


"Sama aja lo sama kakak ipar, 11 12 suka nistain gue."

__ADS_1


__ADS_2