Takdir Cinta Raina (S1&S2)

Takdir Cinta Raina (S1&S2)
61


__ADS_3

Sepanjang perjalanan, hanya ada keheningan. Raina sama sekali tidak mengucapkan separah katapun, begitu juga dengan Devano yang sedang fokus menyetir.


"Sayang, apa kamu baik-baik saja?" Devano bertanya pada Raina yang asik melihat pemandangan selama perjalanan.


"Hummm, Raina baik-baik saja. Bahkan jauh lebih dari kata baik, Raina senang bisa memberi mereka pelajaran secara langsung." jawab Raina dengan tersenyum senang, Devano terdiam mendengar perkataan Raina.


Apa gadisnya tidak merasakan takut sekalipun? Baru saja gadis itu menyiksa Maria dan Hans dengan begitu keji, dan gadis itu tidak merasakan takut sedikitpun? Ada apa dengan Raina, apa gadis itu berubah menjadi psikopat? Devano tidak peduli, Raina seorang psikopat atau tidak pun pria itu akan tetap mencintai Raina dengan setulus hati. Toh, Raina tidak menyakiti orang yang tidak bersalah.


"Apa tidak kasihan sama Om dan Tante kamu? Tadi kamu nyiksanya sadis banget loh, sampai buatin ukiran gitu di wajah mereka." Ucap Devano lagi, namun Raina hanya tersenyum menanggapinya. Pria itu bahkan merinding mengingat betapa sadis nya Raina tadi, tapi gadis itu justru bersikap biasa saja seolah tidak pernah terjadi apapun.


"Itu masih belum seberapa Dev, Raina sangat ingin menyiksa mereka lebih dari yang Raina lakuin tadi. Kenapa harus merasa kasihan? Kau tau Dev, mereka juga menjadi salah satu dalang penculikan Raina dulu. Dan karena mereka, Raina harus kehilangan kak Rachel untuk selamanya! Raina ndak akan lepasin mereka gitu aja." Raina tersenyum penuh kemenangan, Devano kembali melajukan mobilnya.


"Dev, Raina laper. Kita makan dulu yaa, setelah melakukan pekerjaan yang menyenangkan Raina jadi merasa sangat lapar sekarang." ucap Raina lagi, membuat Devano lagi-lagi terdiam mendengar perkataan yang di lontarkan Raina.


Apa menyiksa orang itu menyenangkan? Baiklah, hanya Raina yang tau.


"Kamu lapar? Ya udah, aku cari tempat makan yang searah dengan kita aja ya." Raina hanya menganggukkan kepalanya.


Tibalah mereka di salah satu restoran, Raina dengan tidak sabarannya turun dari mobil dan berlari masuk ke dalam restoran.


Syutt


"Pakai ini sayang, pakaian kamu sebagian terkena darah. Nanti mereka akan berfikiran yang tidak-tidak tentang kamu." Devano memakaikan jas nya yang selalu tersedia di mobil pada Raina.


Baju yang di kenakan Raina sedikit terkena bercakan darah, itulah sebabnya Devano memakaikan Raina jas agar bercak darah itu tertutupi.


"Makasih sayang," ucap Raina tersenyum tulus.


"Coba ulangin lagi, kamu panggil aku apa tadi?" Devano ingin memastikan apa yang di dengar nya tadi bukanlah guyonan Raina.


"Emang Raina ngomong apa tadi? Raina kan cuma bilang, makasih sayang. Ada yang salah dengan perkataan Raina?" Raina mengerjabkan kedua matanya bingung, apalagi saat melihat Devano yang tersenyum senang saat mendengar perkataan nya.

__ADS_1


"Sayang, kamu baru aja manggil aku sayang. Aku sangat senang dengar nya, gak ada yang lebih membahagiakan dari mendengar perkataan kamu tadi sayang."


"Dev ini ada-ada aja, Raina ndak merasa bilang sayang tuh. Dev aja yang salah denger, udah ahh Raina mau cepat-cepat masuk dan mesen makanan. Cacing-cacing nakal di perut Raina udah pada demo." Raina berlalu begitu saja meninggalkan Devano yang masih terdiam, pria itu sangat tahu jika saat ini Raina tengah menahan malu karena kelepasan menyebutnya dengan sebutan sayang.


sedangkan itu, Raina yang sudah berlalu dari hadapan Devano tidak henti-hentinya merutuki mulutnya yang lemes.


"Huhh seperti nya mulut Raina ini harus di didik biar pinter." gerutu Raina sepanjang jalan.


Raina duduk dan memesan makanannya di susul oleh Devano. Setelah makanannya datang, Raina langsung saja menyantapnya dengan lahap membuat Devano tersenyum geli melihatnya. Gadis nakalnya itu terlihat seperti tidak makan selama bertahun-tahun.


"Pelan-pelan sayang, tidak ada yang akan merebut makanan itu dari mu."


"Raiwna luawper, uayow Dev muawkan."


"Sayang, nanti kamu kesedak loh sama makanan kamu." peringat Devano lagi, namun bagai angin lalu bagi Raina. Gadis itu tetap lahap dalam menyantap makanan nya.


"Ukhuk ukhuk ukhuk, air Devh!"


"Makasih, hehehe abis nya Raina mau cepat-cepat sampai di Toko. Raina udah kangen sama Kitty dan Tommy."


"Iya sayang, tapi gak gitu juga. sekarang makan lagi, tapi pelan-pelan aja."


Kali ini Raina menuruti perkataan Devano. Gadis itu mulai makan dengan tenang.


"Hay kakak tampan, apa aku bisa duduk disini? Kakak begitu tampan, tapi kenapa mau duduk semeja dengan cewek jelek seperti Dia?" seorang gadis tiba-tiba saja datang dan duduk di sebelah Devano.


Bahkan, gadis asing itu dengan berani telah menghina Raina di depan Devano.


"Hey, apa kita mengundang tamu disini? Dev, apa kamu kenal dia?" Raina menatap gadis itu dengan tatapan sinis, sedangkan Devano sama sekali tidak memperdulikan gadis itu dan terus fokus untuk menghabiskan makanannya.


"Aku gak lagi ngomong sama kamu! Lagi pula, kakak tampan ini sangat tidak cocok denganmu! Bagaimana jika aku memberimu uang, tapi kau harus pergi meninggalkan kakak tampan ini." ucap gadis itu lagi dengan nada yang begitu sombong.

__ADS_1


Devano yang sedari tadi diam ikut tersulut saat gadis itu berniat untuk merendahkan harga diri Raina dengan uang.


"Raina ndak butuh uang dari kamu. Biar aku beritahu satu hal, tidak ada yang bisa menggantikan posisi Raina di sisi Dev, termasuk kamu sekalipun. Sungguh besar juga nyalimu untuk membayar diriku heh?!" balas Raina sambil tersenyum sinis.


"Sayang, habiskan saja makananmu. Anak-anak kita sudah menunggu di rumah, apa kau tega mereka menunggu begitu lama?" Ucap Devano, Raina tersenyum mengerti dengan permainan yang sedang Devano katakan.


"Apa? Anak-anak? Dasar perempuan murahan!! Beraninya Kamu punya anak dari kakak tampan ini, itu pasti kamu kan yang lebih dulu menjajahkan tubuhmu?!" marah gadis itu dan bahkan memaki Raina.


"Cukup!! Saya tidak kenal dengan anda! Beraninya kau menghina tunanganku seperti itu?! Aku bisa saja membuatmu menderita detik ini juga!" Sedari tadi Devano diam, namun pria itu tidak dapat diam saat gadis asing itu menghina Raina.


"Dev, tidak perlu semarah itu. Raina sudah lama tidak bermain, kamu duduk disini. Raina mau ke toilet dulu yaa," Devano menatap Raina dalam diam, apa lagi yang sedang di rencanakan gadis itu?


"Kakak, kenapa kamu begitu marah? Aku bahkan lebih cantik dan modis dari dia. Lihat, dia bahkan pergi tanpa menunggu jawaban mu. Lebih baik, kakak tinggalkan saja dia dan menjadi kekasih ku." ucap gadis itu lagi dengan suara yang sengaja di buat-buat.


"Oh ya? Kalau begitu, coba kau goda pria yang di sana setelah itu kembali lah kesini."


Gadis itu melihat pria yang di tunjuk Devano, dengan cepat gadis itu berjalan ke arahnya tanpa mengatakan apapun. Sedangkan itu, Raina sudah kembali dan tersenyum dengan begitu manis.


"Kakak, dia itu menyebalkan! Aku hanya mau kamu saja," gadis itu datang lagi dengan wajah yang muram karena lagi-lagi mendapat penolakan dari pria yang di tunjuk Devano.


"Kau pasti haus kan? Ini, minumlah. Raina lagi berbaik hati, ini minuman milik Dev." Raina memberikan segelas jus pada gadis itu, tentu saja tanpa menolaknya gadis itu menerima nya dengan senang hati, apalagi mendengar bahwa jus itu milik Devano.


"Akhhh! Perutku sakit! Aku mau ke toilet!"


"Hahahaha, emang enak di kerjain." Raina tertawa puas setelah berhasil mengerjai gadis itu.


"Dev, Raina tadi lihat Rena deh. Tapi dia lagi sama cowok, dan anehnya itu bukan Rehan (Devano palsu)." ucap Raina dengan wajah yang berubah serius.


"Iya sayang, aku juga lihat. Sepertinya ada yang aneh disini, ayo kita pulang sebelum gadis gila itu kembali." Devano sudah beranjak dari duduknya, namun Raina masih enggan untuk pergi.


"Tidak Dev, Raina penasaran siapa pria yang bersama Rena." ucap Raina, dan Devano hanya bisa menuruti perkataan Raina.

__ADS_1


__ADS_2