
Sesampainya di rumah, Raina langsung saja masuk ke kamarnya, meninggalkan Devano yang masih sibuk mengoceh karena di diamkan Raina selama perjalanan.
"Sayang, jangan marah gitu dong. Aku kan gak tau kalo jadinya kayak tadi, kamu lihat sendiri kan aku gak bisa kemana-mana."
"Ya paling ndak Dev ada usaha buat pergi, bukannya malah pasrah! Huhh, Dev ngeselin!!" kesal Raina. Gadis itu sedang terbakar api cemburu sekarang akibat kejadian di pasar tadi.
"Iya, maafin aku yaa."
"Tapi janji yaa, jangan kayak gitu lagi. Nanti kalo mau kemana-mana pake masker aja, pokoknya Raina ndak mau tau, ndak ada penolakan."
"Iya sayang, apapun itu untuk gadis nakal ku"
Cup
"Tidur gihh, udah malam. Ayo, aku bantu kamu cuci muka. Dan, besok aku ada kejutan buat kamu."
"Kejutan apa? Raina mau sekarang aja."
"Tidak-tidak, sekarang kamu harus tidur sayang."
Raina pun menurut dan mulai menutup kedua matanya. Devano mengelus kepala Raina dengan lembut dan penuh kasih sayang, hingga gadis nakalnya itu tertidur.
"Selamat malam sayang, semoga mimpi indah." Devano kembali mencium kening Raina sebelum benar-benar pergi dari kamarnya.
Keesokan harinya, Raina di buat bingung dengan Fana yang sudah tertidur di sofa kamarnya. Kedua pelayan nya tidak terlihat, Raina pun memutuskan untuk membersihkan diri.
"Selamat pagi nona, sarapan sudah siap. Apa nona akan makan sekarang?" sapa Mayang, pelayan itu menunduk hormat pada Raina membuat sang empu kesal.
"Huhh mbak Mayang ndak perlu seformal itu. Dimana Dev?"
"Tuan sedang joging bersama tuan Revan. Sebentar lagi juga pasti kembali." jawab Mayang.
"Seperti ada yang kurang, lalu dimana mbak Saras?" tanya Raina lagi saat tidak melihat keberadaan Saras.
"Ehh, itu. Pagi tadi tuan Sandy datang dan membawa Saras bersamanya. Katanya mereka akan kembali sore nanti." jawab Mayang lagi, membuat Raina kesal.
__ADS_1
"Apa?! Beraninya dia datang dan membawa mbak Saras pergi tanpa ijin dari Raina. Lagi?!"
"I-iya nona, nona tenang saja mereka pasti akan segera kembali." ucap Mayang tak enak hati melihat wajah Raina yang berubah masam.
"Lalu, mengapa anak ini berada disini? Kenapa dia ada di kamar Raina?" tanya Raina lagi menunjuk ke arah Fana yang tertidur nyenyak di kamarnya.
"Eh, itu ,,, "
Flashback
*Waktu menunjukkan pukul 3 pagi. Suara dering ponsel membangunkan Devano yang baru saja terlelap usai menyelesaikan pekerjaan kantor yang tertunda.
Pria itu melirik nama di penelpon, dan nama Fana si kaleng kerupuk lah yang terpampang disana. Jangan tanya siapa yang memberi nama itu, kalian pasti sudah tau kan.
"Halo Bang, kok pintu nya di kunci sih? Kan Fana mau belum masuk rumah," terdengar suara Fana yang terdengar lelah disana, namun Devano yang terlanjur lelah pun tak menghiraukan sepupu manjanya itu dan melanjutkan tidurnya.
Tidak mendapat respon dari Devano, Fana pun mencari cara agar bisa masuk ke rumah. Pria itu baru saja selesai menjalankan misi dan baru pulang dini hari. Kenapa tidak pulang ke rumah orang tua Devano? Itu karena Devano akan menjadikan dirinya supir pribadi esok hari, Fana tidak mau repot untuk bolak balik dan memutuskan untuk menginap di rumah Raina.
Fana melirik sekitar, semua terkunci dengan rapat bahkan tak ada celah. Tidak mungkin kan, pria itu tidur di teras. Fana menuju halaman belakang tepat di bawah kamar Raina, cukup tinggi namun Raina selalu menyiapkan tangga agar dirinya mudah kabur nanti. Fana menaiki tangga tali itu, sepertinya keberuntungan masih sedikit memihaknya. Jendela kamar Raina tidak terkunci seperti biasa, entahlah gadis itu begitu ceroboh.
"Gak ppa deh tidur di sofa, dari pada tidur di teras kan." ucap Fana lalu tertidur di sofa empuk dalam kamar Raina.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ*...
"Ohh, jadi begitu. Ya sudah, Raina mau icip-icip makanan di dapur dulu." Raina melenggang pergi begitu saja, meninggalkan Mayang dengan nampan berisi sarapan pagi gadis itu.
"SARAPANNYA UNTUK MBAK MAYANG AJA" teriakan Raina membuat Mayang menghela nafas, gadis itu memang begitu menjengkelkan.
Setibanya di dapur, Raina akan berbuat semaunya. Para pelayan yang baru saja membersihkan dapur, harus rela melihat dapur itu kembali berantakan layaknya kapal pecah akibat ulah Raina.
"Nona, biar kami bantu."
"No, Raina bisa melakukannya sendiri."
"Baiklah nona, kami akan membersihkan yang lainnya jika begitu." para pelayan pun pasrah dan memilih pergi ketimbang gila melihat kekacauan yang di lakukan Raina pada dapur mereka.
__ADS_1
"Nona, tuan Devano dan tuan Revan sudah kembali. Tapi, tuan Devano terlihat kesakitan dan seorang wanita memapahnya." lapor seorang pelayan pada Raina, perkataan pelayan itu membuat kegiatan Raina terhenti. Gadis itu segera membersihkan kedua tangannya dan segera menemui Devano.
"Apa lo baik-baik aja? Maaf yaa gara-gara gue, lo jadi seperti ini. Lo tenang aja, gue akan tanggung jawab. Gue akan datang kesini tiap hari sampai luka-luka lo sembuh." ucap wanita yang memapah Devano, namun Devano tidak memberikan reaksi apapun. Wajah pria itu tetap terlihat datar.
"Lo gak usah kesini, Devano akan baik-baik aja. Luka nya juga kecil, lo boleh pergi sekarang." sahut Revan yang sejak awal tidak menyukai keberadaan wanita itu.
"Lohh, gak bisa gitu lahh. Gue harus tanggung jawab karena udah buat kalian susah, tenang aja gue gak suka ingkar janji kok." ucap wanita itu lagi sambil tersenyum lebar.
Devano masih saja diam dan tidak mengeluarkan sepatah katapun, entahlah apa yang terjadi hingga pria itu menjadi banyak diam.
"Dev, are you okay?!" senyum Devano terbit saat melihat Raina yang datang menghampirinya dengan wajah khawatir.
"Aku baik-baik aja sayang," jawab Devano, tersenyum manis hanya untuk Raina. Sikap Devano yang berubah saat kedatangan Raina membuat wanita tadi kesal.
"Raina senang kalo Dev baik-baik aja, kata pelayan Dev ada yang luka jadi Raina cepat-cepat kesini. Padahal kan Raina lagi bereksperimen di dapur, tega banget boongin Raina pelayannya." ucap Raina dengan bibir yang mengerucut.
"Aku gak apa-apa sayang, cuma luka sedikit aja kok. Tuh, lihat cuma luka kecil kan." Devano menunjukkan beberapa goresan pada kaki dan tangannya, serta lebam di sudut bibirnya membuat Raina tak tega melihatnya.
"Kamu gak usah khawatir gitu, ini cuma luka kecil kok."
Cup
Devano mengecup kening Raina, namun sama sekali tidak berpengaruh. Gadis nakal nya itu malah terus melihat luka-luka nya dengan seksama.
"Udah kalo Dek, lagian Devano juga gak apa-apa kok. Lebay banget sih kamu, lihat nih kakak juga luka tapi gak kamu tanyain." sahut Revan yang sedari tadi di anggurin Raina.
"Kak Revan lebay, itu kan cuma luka kecil. Di cium nyamuk juga sembuh," jawab Raina dengan santai nya.
"Kamu siapa?" Raina beralih pada wanita yang sedari tadi menatapnya dengan tatapan tak suka.
"Kenalin, nama gue Ziva. Tadi, mereka nolongin gue dari jambret. Jadi sebagai balas budi, gue akan sering kesini buat lihat kondisi mereka selanjutnya. Gue cuma mau tanggung jawab aja sebagai rasa bersalah dan terima kasih gue sama mereka." jawab wanita bernama Ziva itu.
"Owh, kamu ndak perlu repot-repot. Raina bisa kok rawat mereka, tanda terima kasih dan permintaan maaf di terima." ucap Raina dengan jelas menolak kehadiran Ziva dirumah nya.
Meskipun mendapat sindiran dari Raina, Ziva masih juga enggan untuk pergi dan membuat Raina kesal. Apalagi saat wanita itu dengan terang-terangan menggoda Devano di depan matanya.
__ADS_1
"Ini, buah-buahan sangat bagus untuk kesehatan. Gue yakin, setelah beberapa hari lo pasti akan cepat sembuh." Ziva memberikan sepotong pada Devano membuat Raina menjadi semakin kesal.
"Ziva?! Lo kok bisa disini? Tau rumah gue dari mana?"