Takdir Cinta Raina (S1&S2)

Takdir Cinta Raina (S1&S2)
Takdir Cinta Raina 2


__ADS_3

Evan dan Abi terkejut saat melihat Raina yang terjatuh hingga kening gadis itu berdarah akibat terbentur pinggiran meja.


"Raina, keningmu berdarah!" dengan sigap Abi membantu Raina berdiri, sedangkan Evan menatap tajam sang pelaku yang dengan sengaja mencelakai Raina.


"Marisa! Apa-apaan kamu hah?! Apa maksudnya kamu mendorong Raina? Dia ini sekretaris aku, gak pantas kamu bersikap seperti ini!" marah Evan, pria itu jelas tau siapa wanita yang sudah mendorong Raina. Dia adalah Marisa, tunangan Evan. Satu bulan lagi mereka akan menikah, namun sikap Marisa yang sangat pencemburu membuat Evan sedikit jengah.


"Tidak apa asisten Abi, ini hanya luka kecil." Raina menepis tangan Abi yang masih setia memapah tubuh nya. Dengan sedikit tertatih Raina menghampiri Evan dan Marisa, bahkan saat melihat keadaan Raina, Marisa tidak merasa bersalah sama sekali.

__ADS_1


"Pak Evan, mohon maaf saya tidak bisa menemani Bapak dalam meeting kali ini." ucap Raina, sembari menundukkan kepalanya. Gadis itu beralih menatap Marisa seraya tersenyum remeh. "Maaf, lo salah kira. Gue udah punya suami, meskipun suami gue gak pulang-pulang sih. Tapi suami gue bukan Bang Toyib juga. Lo gak perlu terprovokasi bahwa gue bakalan godain Bos Evan. Gue murni bekerja bukan buat godain laki-laki. Dan satu lagi, cemburu boleh, tapi lihat tempat, situasi dan kondisi. Gue gak berdua loh tadi sama tunangan lo, apa keberadaan asisten Abi kecil banget ya sampai lo gak lihat? Saya permisi,"


Raina berlalu dengan hati dongkol, gadis itu menghentikan taxi dan pulang ke rumah. Setibanya di rumah, Raina tidur hingga menjelang malam. Gadis itu terbangun saat perutnya mulai berbunyi pertanda cacing-cacing sudah berdemo untuk di beri asupan.


Karena belum memasak dan tak memiliki bahan, Raina pun memutuskan untuk makan di salah satu rumah makan pinggiran yang tak jauh dari rumah kecilnya.


"Eh, Siska. Ehm, duhh gue laper nih entar aja ya ceritanya takut cacing-cacing di perut gue pada mati nihh." alibi Raina, kemudian menyantap makanannya dengan lahap. Siska mendengus kesal mendengar alibi Raina, dan dengan sabar menunggu hingga sahabat gilanya itu selesai makan.

__ADS_1


Dan disinilah mereka saat ini, di sebuah taman tak jauh dari rumah Raina.


"Raina, sebenarnya ada apa sih? Kenapa lo pake acara kabur segala kek gini? Lo pulang deh mendingan, gak cocok lo jadi peran yang teraniaya kek gini. Lo itu udah terlahir sebagai putri dari keluarga kaya, konglomerat, raja bisnis, bahkan suami lo pengusaha sukses yang udah nandingin kesuksesan Om Bima. Dan lo, lo malah hidup melarat kek gini. Gak cocok tau gak," omel Siska, namun sama sekali tidak berpengaruh untuk Raina.


"Siska, tolong rahasia in kalo lo udah ketemu sama gue. Gue belum mau pulang sebelum bisa nemuin Dev, gue yakin dia ada di kota ini. Please kasih gue waktu, gue janji kalo dalam seminggu ini gak ada tanda-tanda juga gue bakal pulang ke rumah." pinta Raina, namun Siska sangat berat jika harus menuruti permintaan Raina. Apalagi dengan melihat kondisi Dewi, Mama Raina yang begitu terpukul dengan kepergian Raina.


"Raina, gue bisa aja rahasiain ini semua. Tapi, apa lo gak kasihan sama keluarga lo? Sama kembaran lo Rachel? Gara-gara lo pergi, dia sampe nunda pernikahannya.

__ADS_1


__ADS_2