Takdir Cinta Raina (S1&S2)

Takdir Cinta Raina (S1&S2)
58


__ADS_3

"Buat apa susunya?" Devano begitu bingung melihat Raina menumpahkan susu-susu kotaknya ke dalam mangkuk.


"Untuk Alex,biar dia sehat sebelum pergi. Raina mau titipin Alex sama Oma dan Opa. Raina mau bawa Tommy dan Kitty pulang. Raina kangen mereka,"


"Humm, baiklah. Tapi, apa itu tidak terlalu banyak? Alex kan kecil, apa bisa menghabiskan 10 susu kotak sekaligus?"


Raina mendengus kesal, gadis itu tidak suka aktivitasnya di ganggu.


"Dev diam aja dan lihat." Sambil berlalu meninggalkan Devano menuju ruangan khusus Alex.


"Alex Sayang, sini num susu dulu yaa. Mas Anton, tolong yaa Alex di jagain jangan di kasih makan sembarang oh iya, vitamin nya juga jangan lupa yaa." Raina memberi wejangan pada Anton, orang kepercayaan Oma dan Opa Raina yang khusus di datangkan untuk menjemput Alex.


"Baik Nona, kalo begitu Saya permisi. Kucing anda akan tiba sebentar lagi."


Raina terus menatap Anton yang membawa Alex bersamanya, Raina sebenarnya sangat tidak tega. Namun apa boleh buat, Raina sangat merindukan kedua Kucing nya.


"Dev, Raina sedih." Devano membawa Raina kedalam pelukannya agar gadis itu tidak begitu larut dalam kesedihannya, dan membuat Raina sedikit tenang.


"Ayo kita masuk, sebentar lagi hujan akan turun."


"Raina!!" Raina dan Devano menoleh saat seseorang memanggil Raina dengan nada yang tak biasa. Raina menyunggingkan senyum sinisnya saat melihat siapa yang sudah memanggilnya.


"Ada apa Tante Yuna? Apa kita ada masalah?" Tanya Raina sedikit berbasa-basi.


"Kamu apakan anak Saya hah?!! Kenapa kedua lengan anak Saya bisa terluka seperti ini?! Apa kau berniat untuk menyingkirkan Shakira?!" Raina tidak takut sedikitpun dengan perkataan Yuna, gadis itu justru terlihat seperti menantang wanita itu.


"Tante, bagaimana mungkin Raina bisa berfikiran seperti itu? Shakira itu kan sepupu Raina, sudah seperti kakak sendiri di rumah ini. Jangan menuduh Raina seperti itu Tante," ujar Raina dengan ekspresi wajah yang sedih.


"Jangan terbuai dengan perkataan manisnya Ma, lihat lah kedua lenganku harus di perban seperti ini! Dia itu psikopat Ma, laporin aja Dia ke polisi!" Sahut Shakira, Raina hanya tersenyum menanggapinya.


"Humm, psikopat ya?? Bagaimana jika untuk membuktikan Raina ini psikopat atau bukan, Kita reka ulang adegan lebih dulu? Raina tidak masalah, bagaimana dengan Shakira?" Ucap Raina, gadis itu tersenyum sangat manis namun mengerikan.


Sedari tadi, Devano sangat setia menjadi penonton. Pria itu tidak akan melakukan apapun, selagi tidak ada menyakiti gadisnya.


"R-reka adegan?"


"Ya, reka adegan. Dalam sebuah kasus pembunuhan, tim investigasi akan melakukan reka adegan dalam penanganan kasusnya. Bagaimana, apa kau setuju?"


"K-kenapa harus reka adegan? Ini bukan pembunuhan, Gue gak mau ada reka adegan!" Tolak Shakira.


"Owh bukan pembunuhan yaa, bagaimana kalau Raina membunuhmu sekarang? Setelah itu Kita bisa melakukan reka adegan kan? Raina sama sekali tidak masalah dan keberatan, Raina akan sangat senang melakukannya." Raina tersenyum begitu mengerikan membuat Shakira dan Yuna tidak dapat berkata apa-apa.


Mereka sangat tau Raina, gadis nakal itu tidak pernah main-main dengan perkataannya. Apa yang di ucapkan gadis itu pasti akan terjadi. Bagaimana jika gadis itu benar-benar akan membunuh Shakira? Memikirkan semua itu membuat Shakira memberenggut kesal, dirinya selalu kalah jika berdebat dengan Raina.

__ADS_1


Walau terlihat polos dan mudah di perbodohi, tapi jangan sekali meragukan kemampuan Raina dalam mempelajari gerak-gerik orng di sekitarnya.


"Kau?! Beraninya berkata seperti itu pada anakku?! Lihat saja, setelah ini Saya akan melaporkan nya pada kak Bima! Kamu pasti akan di usir dari rumah ini!" Ucap Yuna yang sangat geram dengan perkataan Raina.


"Hahaha, benarkah? Silahkan nyonya Yuna yang terhormat, melaporlah. Apa anda fikir Raina takut? Humm, kau salah nyonya. Melaporlah, setelah itu kita akan lihat siapa yang akan pergi dari rumah ini." Raina menepuk pundak Yuna sambil tersenyum miring dan membisikkan sesuatu di telinga wanita itu.


Rumah dan kekayaan ini atas namaku. Jadi, bagaimana bisa aku akan mengusirku dari rumah sendiri? Pergilah, kumpul semua barang berharga kalian dan tunggu saat kalian ku sepak dri rumahku!


Wajah Yuna memucat seketika, apa yang di ucapkan Raina membuatnya sangat terkejut. Musnah sudah rencana yang wanita itu dan anaknya rencanakan.


"Kamu ini nakal banget sihh, kasian tau sudah tua gitu kamu bikin serangan jantung." Ucap Devano sembari mengelus pucuk kepala Raina dengan lembut.


"Raina kan cuma berbicara jujur, siapa suruh mancing Raina duluan." Devano membenarkan perkataan Raina, pria itu jadi teringat dengan agenda yang harus di lakukannya hari ini.


"Oh iya, aku hampir lupa. Aku harus pergi bersama Fana, kamu baik-baik aja ya di rumah."


"Iya, tapi Dev hati-hati yaa. Raina doain semoga Om Hans dan Tante Maria cepat ketemu. Kalo udah ketemu, sisain buat Raina yaa. Raina sendiri yang akan menghukum mereka nanti."


Devano sempat bingung dengan permintaan Raina, namun tak ayal menurutinya. Toh, hanya Raina yang tau apa yang akan gadis nakal itu lakukan.


Setelah kepergian Devano, Raina pun juga segera bersiap untuk menemui ketiga sahabatnya.


••••


Kini Raina sudah berada di sebuah Cafe, tempat Raina dan ketiga sahabatnya membuat janji.


"Hai, kalian udah lama ya?" Sapa Raina.


"Nggak kok, baru aja. Pesen gihh, bentar lagi juga pesanan kita-kita datang." Ucap Siska, Raina pun mengangguk kan kepalanya.


"Raina, sini dehh." Panggil Rara, entah magnet dari mana, Raina tidak bisa menolak panggilan dari Rara. Menurut Raina, Rara sangat berarti karena banyak mengajarinya tentang hal-hal baru. Meskipun Devano selalu memberikannya wejangan, Raina tidak pernah bosan untuk melanggarnya.


"Uwahhh, dia sungguh tampan! Apa ini boneka? Atau manusia? Kenapa wajahnya begitu putih dan bersih? Lihat, senyumnya begitu manis." Ucap Raina dengan hebohnya, membuat beberapa pengunjung menoleh kearah meja Mereka.


"Ganteng banget kan? Lihat, bibirnya itu sangat seksi. Lihat juga rambut mereka, warna warni tapi tetap terlihat cocok untuk Mereka!!" Ucap Rara tak kalah heboh dari Raina.


"Maaf ya maaf, kalian bisa melanjutkan aktivitas kalian." Ucap Siska meminta maaf pada seluruh pengunjung atas melakukan kedua sahabatnya.


"Raina mau punya rambut warna warni seperti Mereka." Gumam Raina, namun cukup di dengar oleh Siska dan Namira.


"Rara, mending Lo simpan deh ponsel Lo. Suka banget bikin temennya menderita, Lo mau kena semprot lagi dari Devano?!" Ucap Namira dengan ekspresi wajah yang kesal.


"Ehhh, muka ayang beb jangan kesel gitu dong. Cantiknya hilang nanti, kamu mau?" Ucap Qinzo, kembali menggoda Namira namun hanya mendapat delikan tajam dri si empu.

__ADS_1


"Apa sih Lo, gak usah rese ya!"


"Aelahh, kena marah mulu aku tuhh." Ucap Qinzo dengan raut wajah yang sedih, Namira merasa sedikit bersalah karena sudah berkata dengan suara yang keras pada Qinzo, namun lagi-lagi ego gadis itu begitu besar.


Sekilas tentang Namira dan Qinzo, Namira adalah gadis cantik yang baru berusia 20 tahun, sebulan lebih muda dari Siska, sedangkan Rara dan Raina memiliki usia yang hampir sama yaitu 19 tahun.


Namira anak kedua dari dua bersaudara, keluarganya cukup harmonis meskipun kerap kali di tinggal keluarga untuk bekerja, Namira bisa memaklumi itu demi kebaikan dirinya dan kakaknya. Kakak Namira adalah David, sahabat Revan. Raina sama sekali tidak mengetahui bahwa Namira adalah adik dari David sahabat Revan, jika tau Raina pasti akan sangat malu karena pernah menjadi tersangka hilang serta rusaknya kunci mobil pria itu.


Ok, back to topik


Namira gadis yang sedikit tomboy namun masih sedikit feminim. Sifatnya 11 12 dengan Siska, cuek namun sangat menyayangi Raina dan Rara.


Sejak pertemuan di pusat perbelanjaan waktu itu, Qinzo terus mendekati Namira namun gadis itu terus bersikap acuh dan tidak memperdulikan keberadaan Qinzo.


Bukan tanpa sebab, Namira pernah mengalami masa lalu yang buruk tentang percintaan. Kisahnya 11 12 dengan Raina, bedanya kekasih Namira yang dulu tidak menjadikannya bahan taruhan.


Dengan mata kepalanya sendiri, Namira menyaksikan kekasihnya sedang bercumbu mesra dengan salah satu teman sekelasnya. Hati Namira begitu hancur saat itu, gadis yang baru saja mengerti akan cinta namun harus di patahkan dengan pengkhianatan.


Sejak saat itu, Namira memutuskan untuk pindah sekolah dan sahabat-sahabatnya. Hati Namira pun sudah membeku, gadis itu tidak lagi ingin merasakan jatuh cinta.


Sudah cukup bagi Namira untuk mencintai seorang pria dan berakhir dengan pengkhianatan. Namira hanya ingin tenang dalam menjalani hadi-harinya. Bagi Namira, bersama ke tiga sahabatnya sudah cukup membuatnya bahagia. Apalagi yang gadis itu inginkan selain ketiga sahabatnya? Namira tidak membutuhkan sosok pria di hidupnya.


Namun pemikiran Namira berakhir sejak pertemuan nya dengan Qinzo. Pria yang memiliki sifat humoris dan selalu ada untuknya itu, merubah pandangannya tentang cinta. Qinzo yang selalu ada di saat dirinya sedih. Qinzo yang selalu menghiburnya saat mendengar kepergian Raina, pria itu tidak pernah sekalipun meninggalkan dirinya.


Sejujurnya, Namira menyukai Qinzo. Namun kembali lagi dengan masa lalu yang terus saja menghantuinya.


Sedangkan Qinzo, pria yang dulu sempat menyukai Raina dan ingin bersaing dengan Devano untuk mendapatkan gadis itu. Pesta perayaan ulang tahun Revan menyadarkan pria itu, bahwa Raina sudah bahagia dengan pilihannya.


Pertemuan yang tak di duga, memantapkan hati pria itu untuk move on dan mulai gencar mendekati Namira. Pria itu sudah bertekad untuk mendapatkan kepercayaan dan hati Namira, penolakan demi penolakan yang di berikan Namira sama sekali tidak menyurutkan semangat nya. Hingga kini, Qinzo masih tetap berjuang untuk Namira.


••••


"Huhh kenyang banget Gue," ucap Rara, mengelus perut buncitnya yang baru saja selesai menghabiskan sepiring nasi goreng dan pasta, semangkuk eskrim dan kentang goreng.


Entahlah, dimana larinya semua makanan yang di santap gadis mungil itu. Tanpa malu sedikitpun, gadis itu malah menyandarkan kepalanya pada dada bidang Rafly.


Melihat tingkah Rara, Raina menjadi mengerucutkan bibirnya kesal.


Huhh kalo mau roman-romantisan tuhh lihat tempat kali! Gak lihat apa kalo Raina lagi jomblo hari ini, awas ya kalian! batin Raina kesal.


Siska yang melihat wajah kesal Raina malah tertawa, sahabatnya itu terlihat sangat menggemaskan.


"Udah, gak usah cemberut gitu muka Lo. Ini, habisin eskrim nya." Raina dengan senang hati menerima semangkuk eskrim coklat dari Siska.

__ADS_1


"Perut Lo gak sakit makan sebanyak itu?" Tanya Namira, melihat porsi makan Raina yang lumayan banyak untuk tubuh nya yang mungil.


"ehmm, eskrim nya uenak. Hemm, ini sangat segar hihihi." Raina terus makan tanpa memperdulikan siapapun di sekitarnya.


__ADS_2