
Jangan salahkan takdir, jika semuanya tak sesuai mau mu. Pikirkanlah mengapa takdir tak berpihak padamu. Kau cantik, namun sayang. Dinding kokoh itu membuatku tak bisa menggapaimu, hingga dalam diam aku menggapaimu, memimpikanmu, berharap sekali ini takdir bisa berpihak padaku.
^^^^^^Ravic Al Vadry^^^^^^
Tak ku salahkan takdir atas perpisahan ini, karena ku yakini ... semua yang awalnya indah tentunya akan berakhir bahagia. Mungkin saja aku dan dia tak berjodoh di kehidupan ini, maka di kehidupan berikutnya akan ku jaga takdir ku agar terus tetap bersamanya. Tapi, jangan pernah ada yang menggoyahkan keyakinanku. Sebab, dia pasti akan kembali.
^^^^^^Raina Vischa Arabella^^^^^^
"Fana, dimana Raina?" tanya Sari, wanita paruh baya itu datang untung mengunjungi menantu kesayangannya. Namun saat sampai, Raina justru tak ada dimanapun.
"Loh, bukannya kakak ipar ke rumah Mama Sari hari ini? Semalam dia kirim pesan, katanya mau nengokin kalian." jawab Fana.
"Nggak Fana, udah seminggu ini Raina susah dihubungi. Mungkin dia masih kesal karena perjodohan yang kami lakukan. Tolong kamu cari dia ya Fana, Mama khawatir orang-orang itu kembali dan menemukan Raina."
"Iya Ma, biar aku yang cari dia. Mama disini aja, aku akan cari kakak ipar sekarang."
__ADS_1
Sari pun menunggu Fana kembali mencari Raina di ruang tamu. Sari sangat menyesali kecerobohan nya, bukan sekali bahkan berkali-kali. Dirinya dan Dimas serta kedua orang tua Raina selalu berusaha menjodohkan Raina dengan laki-laki lain. Namun penolakan lah yang mereka dapatkan, Raina selalu menolak setiap pria yang akan di jodohkan dengannya.
Dalam hati Raina, hanya ada Devano. Jadi mana mungkin gadis itu bisa melupakan dan memulai hidup baru bersama pria lain. Justru Raina selalu menolak dengan alasan sudah menikah, hal itu jelas-jelas membuat seluruh keluarga bertambah sedih. Belum lagi Raina selalu membantah berita kematian suaminya.
Fana sudah mencari Raina di seluruh kota, namun gadis itu bak di telan bumi.
"Jangan mencariku, Fana. Aku ingin memulai hidup baru, sampai kan salam ku pada mereka."
Kedua kaki Fana melemas membaca pesan itu, dimana Raina? Apa gadis itu sudah pergi jauh? Pikir Fana.
"Bagaimana Mbak? Apa puas dengan rumahnya? Meskipun kecil, namun lingkungan sini aman dan tentram, di jamin Mbak nya pasti betah." ucap seorang Ibu sang pemilik rumah.
"Oke, saya ambil rumah ini."
Setelah melakukan transaksi, Raina pun mulai membersihkan rumah sederha itu. Tempatnya sangat strategis, dan Raina cukup nyaman dengan rumah itu meskipun rumah tersebut kecil. Sangat berbeda jauh dengan istana yang diberikan Devano padanya.
__ADS_1
Sementara itu, di sebuah ruangan. Seorang pria sedang sibuk dengan berkas-berkas yang berada di tangannya. Pria itu tidak sedang mengerjakan apapun, namun matanya sangat fokus pada kertas-kertas di hadapannya.
"Udah lah Bro, lagian nih cewek udah nikah." ucap teman pria itu yang sedari tadi bersama nya.
"Oh ya? Apa lo itu kurang update? Suaminya menghilang dalam perjalanan bisnis, bahkan di kabarkan meninggal. Jadi, apa menurut lo gue ini punya peluang?"
"Ravic, kayaknya lo terobsesi banget sama tuh cewek. Apa sih hebatnya dia? Bahkan Sandra yang sedari dulu ngarepin lo selalu lo acuhin, tuh cewek yang hanya sekedar hadir di hadapan lo malah buat lo terobsesi kayak gini?!"
"Dia beda, Arnold. Gak mudah buat dapatin dia,"
Tok tok tok
Seorang pria berpakaian rapih masuk ke dalam ruangan Ravic, pria itu membawa sebuah berkas-berkas calon karyawan baru di perusahaan Ravic. Ravic tersenyum senang saat membaca salah satu formulir pendaftaran salah seorang pelamar,
"Well, dia datang sendiri ke pelukan gue." Ravic menaik turunkan kedua alisnya, membuat Arnold terbengong. Sahabatnya sudah mulai gila sepertinya.
__ADS_1