
"adek, dimakan makanannya jangan cuma di aduk-adu aja." tegur Revan pada Raina yang hanya mengaduk-ngaduk sarapan paginya. Gadis itu mengabaikan perkataan Revan, suasana hati Raina sedang buruk saat ini.
Ya, sejak mengetahui Devano meninggalkannya semalam Raina terus saja mendiamkan semua orang. Bahkan, gadis itu enggan berbicara apa-pun pada sekeluarga nya.
"Sayang, Nak Devano kan cuma pulang ke rumahnya bukan ninggalin kamu jauh. udah dong jangan cemberut terus gitu mukanya, lihat muka kamu tambah jelek tau." ucap Bima, memang benar apa yang di ucapkan Bima. Toh, Devano juga akan datang untuk menemani Raina memilih gaun untuk acara pertunangan mereka.
"tapi Dev jahat papa, Dev ngasih Raina obat tidur semalam. pokoknya Raina mau marah sama Dev!" Ucap Raina dengan wajah yang kesal, semuanya terkekeh melihat tingkah kekanakan Raina.
"baiklah, jadi kamu ingin marah sama Dev mu itu? bagaimana supaya kamu tidak marah lagi princess ini temenin mama di taman belakang?" Tanya Dewi, wanita itu masih belum bisa mengendalikan senyumnya karena melihat tingkah Raina.
"oke, tapi mama harus sediain keripik singkong yang banyak untuk Raina." jawab Raina, hal itu lagi-lagi membuat mereka semua tergelak. Raina ini, katanya marah tapi malah minta penawaran dengan keripik singkong kesukaannya.
"hahahah, baiklah-baiklah mama akan turutin semua permintaan anak mama yang nakal ini." tanpa mengatakan apapun, gadis itu segera berlalu menuju ke taman kecil milik Dewi yang berada di belakang rumah.
tak lama setelah kepergian Raina, seorang pria tampan datang dengan sedikit tergesa-gesa. pria itu adalah Devano,
"selamat pagi semuanya," sapa Devano.
"pagi nak Devano, mari duduk kita sarapan dulu." jawab Bima mempersilahkan Devano untuk sarapan bersama mereka.
"ahhh, tidak perlu om. saya kesini untuk menemui Raina, apa dia sudah bangun? sedari tadi saya menghubungi ponselnya tapi tidak di angkat-angkat." tanya Devano, raut wajah pria itu terlihat khawatir.
"syukurlah lo datang Van, Raina sedari tadi gak mau makan. tuhh, sarapan nya gak di makan sama sekali cuma di aduk-aduk doang. marah dia katanya karena lo tinggalin semalam." jawab Revan, hal itu membuat Devano menghela nafas lega karena gadis nya baik-baik saja.
"ini juga salah gue sih, karena pulang terlalu larut jadi kesiangan padahal niatnya bakal datang lagi sebelum dia bangun."
__ADS_1
"udah sana, kamu bujukin dia lagi di taman belakang tuhh. habis itu ajak Raina nya sarapan yaa," suruh Dewi, Devano pun mengangguk setuju lalu pamit pada semuanya dan menyusul sang gadis.
"mbak Mayang!! ihh, itu daunnya kenapa di petik-petik sihh!! Raina laporin mama loh yaa." teriak Raina, hal itu membuat Saras dan Mayang harus ekstra sabar karena telinga mereka harus menerima teriakan cempreng dari mulut seksi Raina.
"nona, daun-daun ini sudah mulai menguning saya memetiknya agar tidak mempengaruhi daun yang masih segar lainnya nona," jelas Mayang dengan sabar pada nona nya.
"mana? Raina lihat daunnya masih segar, uhhhh itu juga mbak Saras!! buang cacingnya ihhh Raina ndak suka!"
lagi-lagi, Mayang dan Saras hanya bisa menghela nafas sabar untung saja telinga mereka tahan banting.
"nona, cacing-cacing ini sangat bagus untuk pertumbuhan tanaman jadi tidak boleh di buang nona." jelas Saras.
Raina memalingkan wajahnya karena menurutnya semua orang hari ini sangat menyebalkan.
"nona, ini bukan kotoran. ini pupuk, untuk menyuburkan tanaman semua bunga-bunga ini tidak akan mati karena pupuk ini nona." Mayang kembali menjelaskan nya dengan sabar.
Heran deh sama Raina ini, sedari tadi terus mengomeli apa yang di kerjakan kedua pelayannya sementara dirinya malah sibuk makan keripik singkong.
Dari kejauhan, Devano melihat apa saja yang di lakukan Raina pada kedua pelayannya. pria itu menggeleng kecil, benar-benar gadisnya ini sangat suka memerintah pelayannya. kalau ditanya kenapa selalu memerintahkan mereka, jawaban nya simple kok. mereka di gaji, setelah mendengar perkataan Raina Devano pun diam karena yang di ucapkan gadis itu memang benar.
"Sayang, apa yang kamu lakuin humm? Kamu gak bantuin mereka hehh? malah sibuk makan keripik singkong lagi, bukannya kata tante Dewi kalo kamu mau bantuin dia kok malah kedua pelayan kamu yang kerjain." tanya Devano, tanpa melihat wajah Raina yang berubah menjadi galak.
"ngapain ke sini? Raina lagi marah sama Dev, sana pulang aja Raina lagi ndak mau ketemu Dev! huhh, janji nya ndak ninggalin Raina tapi malah kasih Raina obat tidur dikira Raina ndak tau apa!!" marah Raina, Devano memasang wajah bersalah membuat gadis polos itu luluh seketika.
Kan, sebesar apapun marahnya gadis itu akan luluh juga jika bertemu pawangnya. tidak sulitkan memadamkan amarah gadis itu.
__ADS_1
"Sayang, jangan marah dong. semalam tuh mama telepon terus, jadi aku harus pulang kan. semalam Diva kembali drop sayang, jadi aku terpaksa ninggalin kamu." jelas Devano, memang benar kondisi Diva kembali memburuk saat mendapat kiriman surat kaleng dari seseorang yang berisi ancaman.
Meskipun bukan ditujukan untuk dirinya, namun teror itu terus menghantuinya sejak gadis itu keluar dari rumah sakit. teror itu ditujukan untuk Devano, namun karena pria itu tidak ada Diva lah yang selalu menjadi sasarannya.
"apa yang terjadi sama Diva Dev? Diva ndak apa-apa kan?" Tanya Raina, meskipun baru bertemu beberapa kali Raina sangat menyukai pribadi Diva yang baik dan ramah.
"alhamdulillah, kondisinya udah baikan. kamu gak usah khawatir lagi, tapi kamu maafin aku kan?" Devano menatap Raina dengan tatapan lembut membuat gadis itu semakin luluh,
"humm, baiklah kali ini Raina maafin Dev." ucap Raina, Devano tersenyum lega karena gadis nya mau memaafkan dirinya. pria itupun memeluk Raina, karena malu dengan keberadaan kedua pelayannya Raina menundukkan kepalanya.
setelah aksi drama dari Raina dan Devano di taman belakang, kini dua sejoli itu sedang berada di sebuah butik ternama untuk memilih gaun yang akan di kenakan Raina pada acara pertunangan mereka besok.
"Sayang, kamu pilih gaun apa yang kamu suka yaa." ucap Devano, pilihan Raina pun jatuh pada dress tanpa lengan yang menutupi seluruh tubuh rampingnya sangat cocok melekat pada tubuh mungil Raina.
Saat sedang menunggu Raina yang sedang berganti pakaian, tanpa sengaja Devano bertemu dengan seseorang yang dulunya adalah sahabat terbaiknya namun sekarang justru menjadi musuh nya.
"akhirnya kita bertemu lagi Vano, tunggu permainan yang akan gue mainkan nantinya." ucap orang itu yang tak lain adalah Rafly Adyatmaja
*****
Jangan lupa like, vote dan komen serta kritik dan sarannya juga yaa😉
See u next time😘
__ADS_1