
"Lihat ke bawah Sayang," ucap Devano yang kini tengah berlutut di depan Raina.
"D-Dev?! Ini, kamu ,,,," Raina menutup mulutnya tak percaya akan apa yang dilihatnya saat ini. Devano berlutut sembari memegang sebuah kotak beludru di tangannya, pria itu kembali melamar Raina.
"Will you marry me?"
...----------------...
"Ayo terima kakak ipar, apa tidak kasian melihat wajah Bang Dev yang penuh pengharapan itu?!" teriak Fana membuat suasana romantis itu ambyarr seketika.
Devano menatap Fana dengan tatapan tajam, mengganggu saja adik sepupu nya itu.
"Sayang, aku tau aku bukan pria romantis. Tapi aku hanya ingin kamu tau, kalo kamu begitu berarti buat aku. Aku tidak mau menunggu lagi Raina, sudah cukup berbagai rintangan yang menghambat hubungan kita. Kali ini di depan seluruh keluarga kita, aku melamar mu Raina Vischa Arabella."
Raina masih diam, gadis itu masih terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Devano melamarnya? Devano benar-benar melamar dirinya?
"Raina Vischa Arabella, will you marry me?" Devano kembali mengulangi perkataannya, membuka kotak beludru yang berisi cincin berlian pada Raina.
"Apa ada alasan untuk Raina menolak? Bagaimana mungkin Raina menyia-nyiakan moment yang sudah lama Raina nantikan?" Raina tersenyum lebar pada Devano, begitupun dengan Devano yang tersenyum dengan wajah gugupnya, takut jika Raina kembali menolak seperti kejadian di ruang keluarga tadi.
"Jadi apa jawabannya sayang? Kasian loh nak Devano nya dari tadi udah berlutut tapi gak di kasih jawaban juga." Raina menatap Dewi sambil tersenyum malu, lalu kembali menatap Devano yang juga masih sedang menatapnya.
"Yes, i will."
"Horee, besok nikah! Besok nikah! Besok nikah!" semuanya tertawa melihat tingkah Fana, seharusnya kan Devano yang berteriak girang seperti itu, kenapa malah terbalik.
"Terima kasih sayang, aku sangat takut kalo kamu nolak aku lagi."
"Sebenarnya Raina mau nolak, karena Dev gak romantis. Raina kan mau nya yang berkesan, kalo seperti ini biasa aja. Tapi Raina senang, meskipun dengan cara yang sederhana. Terima kasih Dev,"
"Maaf ya kalo aku gak romantis, yang penting kan proses nya. Aku berhasil ngelamar kamu di depan seluruh keluarga dan sahabat. Semoga gak ada halangan kedepannya, oh iya kamu pakai dong cincinnya." Devano kembali mengeluarkan cincin dari kotak beludru yang sudah di siapkan Devano untuk Raina.
Bibir Raina mengerucut lucu saat Devano menyerahkan cincin itu padanya. Sikap Raina membuat Devano dan yang lain bingung, apa Raina tidak menyukai model dari cincin yang di berikan Devano?
"Kenapa sayang? Apa cincinnya jelek? Kita bisa menukarnya sesuai dengan pilihan kamu kalo kamu mau."
"Bukan itu, ini sudah cincin ketiga yang Dev kasih. Lihat, jari-jari tangan Raina yang menggemaskan ini sudah di penuhi kedua cincin yang lain. Sekarang Dev malah menambahnya lagi, Raina juga harus memakai nya ndak boleh di simpan. Belum lagi cincin pemberian Papa dan kak Revan, cincin pemberian oma opa, lihat jari-jari tangan Raina sudah di penuhi cincin." omel Raina, semuanya kembali tertawa mendengar omelan Raina.
Memang benar, jari-jari tangan Raina sudah di penuhi banyak cincin pemberian keluarganya dan dua dari Devano saat mengutarakan cintanya dan pertunangan mereka.
"Sayang, kau bisa memakai salah satunya. Tapi untuk hari ini, aku ingin kamu memakai ketiga cincinnya. Tenang saja sayang, tidak ada alat pelacak di cincinnya." ucap Devano, namun Raina tetap saja cemberut dan menatap Devano kesal.
Sedangkan anggota keluarga yang lain menyibukkan diri setelah puas menertawakan kepolosan Raina.
"Apa ndak ada yang mau mengucapkan selamat?! Apa kalian ikut kesini hanya untuk menikmati pemandangan?!" Raina kembali mengomel membuat semuanya kembali terbahak.
"Anak kesayangan Papa ini ternyata sangat pemarah yaa." Bima memeluk Raina, sebelum gadis itu semakin merajuk.
__ADS_1
"Calon menantuku ini begitu sangat menggemaskan. Bagaimana mungkin kami tidak memberi selamat di hari yang bahagia ini sayang? Kami hanya tidak ingin mengganggu waktu kalian berdua, Mama dan kami semua tau kalo kalian sudah kehilangan banyak waktu berdua. Apalagi saat Fana sakit, kamu yang ambil andil besar dalam merawat dia sampai sembuh." Sari mengelus rambut calon menantu nya dengan lembut.
Ketiga sahabat Raina pun mendekat dan memeluk Raina dengan erat. Mereka sangat bahagia karena akhirnya Raina akan segera menikah sebentar lagi.
"Selamat ya Raina sayang, gue seneng dehh. Oh iya, kalo udah nikah jangan lupa buatin kponakan-kponakan yang lucu buat kita yaa, yang banyak pokoknya, hihihi." ucap Rara, ingin rasanya Namira dan Siska mengubur sahabat mereka yang satu itu hidup-hidup, sedangkan Raina wajahnya sudah memerah karena malu.
"Gak usah dipikirin nih bocah, yang terpenting lo bahagia aja kita udah senang Ra. Oh iya, semoga acara pernikahan kalian nanti lancar yaa. Dan, semoga juga gak ada lagi hambatan dalam rencana pernikahan kalian seperti yang lalu-lalu."
"Iya, makasih ya Namira. Raina ndak nyangka nyempetin waktu buat datang,"
"Gue gak mau dramatisir, gue cuma mau pesan sama calon suami lo." Siska menatap Devano yang juga tengah menatapnya karena mendengar perkataan Siska. Devano tidak heran lagi, pria itu cukup hapal bagaimana sahabat-sahabat Raina, terutama Siska yang begitu sangat menyayangi Raina.
"Jangan coba-coba lo buat sahabat gue nangis lagi, dan jangan pernah lo sakitin Raina. Kalo gue tau lo berani kasar dan buat sahabat gue ini nangis, awas aja lo!!"
"Tenang aja, gue gak akan bikin Raina nangis. Gue akan selalu berusaha untuk membahagiakan Raina."
"Baguslah kalo gitu," Siska cukup puas mendengar jawaban Devano, gadis itu pun kembali bercengkrama dengan sahabat-sahabatnya saat urusannya sudah di rasa selesai.
"Raina, kak Vano, selamat yaa. Buruan gih nikah, biar aku juga cepet punya kponakan."
"Diva, lihat tuh muka Raina udah merah kamu malah godain." Diva hanya nyengir lalu pergi dan berbaur dengan saudara-saudaranya yang lain.
"Kakak ipar, selamat yaa. Aku akan membantu kalian mengurus segala persiapan pernikahan nya, tapi harus ada imbalan nya." ucap Fana, dengan wajah riang. Perkataan pria itu membuat Devano mendengus kesal.
"Kamu itu, belum apa-apa sudah minta imbalan. Raina rawat kamu beberapa hari yang lalu gak ada imbalannya, abang justru yang rugi karena di cuekin." kini berganti Devano yang mengomel.
"Abang, sama adek sendiri gak boleh pelit. Lagian kakak ipar aja fine fine aja tuh," sahut Fana.
"Acara resmi? Ini kan hanya lamaran Ma, keluarga aja cukup kok. Kenapa harus ada acara resmi?" raut wajah Raina terlihat tidak senang dengan perkataan Dewi, Raina tidak menyukai keramaian. Apalagi, dirinya dan Devano yang akan menjadi pusat perhatian nanti.
"Hehh, tentu saja harus ada acara resmi. Kamu itu putri kesayangan Papa satu-satu nya, putri dari seorang Bima Aryasetya. Sudah, jangan cemberut gitu mukanya. Itu, kasian loh Devano nya dari tadi masih berlutut dia gak kamu suruh berdiri dulu? Itu juga cincinnya, gak mau di terima?"
Raina melirik kebawah, dan benar saja Devano masih berlutut di bawahnya. Raina dengan segera menuntun Devano agar berdiri setelah pria itu memasangkan cincin itu pada jari manis Raina.
"Raina bisa jadi juragan cincin kalo begini mahh," ucap Raina sembari memandangi jari-jari tangannya yang di penuhi cincin. Devano yang mendengarnya pun tergelak, Raina begitu sangat menggemaskan.
"Apa? Apa ada yang lucu?!"
"Iya sayang, kau sangat lucu. Atau mungkin, kamu benar-benar mau menjadi juragan cincin sayang?"
"Dev, kenapa Dev jadi menyebalkan seperti ini?! Ini tidak lucu, lihat Raina terlihat seperti bapak-bapak penggemar cincin batu akik!" Raina kembali merajuk, dan Devano justru malah tertawa melihatnya.
"Maaf sayang, kamu jangan cemberut gitu dong muka nya. Anggap aja, cincin ini untuk tabungan kita. Kita kan gak pernah tau kedepannya akan seperti apa, kalo lagi krisis lumayan loh cincinnya bisa di jual dengan harga yang tinggi."
"Benarkah? Apa Raina akan kaya jika menjual cincin-cincin ini?" Raina terlihat begitu sangat antusias.
"Iya, tentu saja sayang. Semua cincin ini kan berlian, tentu saja kamu akan kaya. Bukan kah kamu sudah pernah mencoba nya sekali, humm?" Raina malah nyengir, mengingat kelakuannya dulu yang nekat menjual cincin pertama pemberian Devano saat kabur dari rumah.
__ADS_1
"Heheh, ya sudah gak ppa kalo gitu. Ayo, para tamu sudah menunggu."
"Kamu kok jadi matre sih sayang?"
"Kan kedepannya ndak ada yang tau Dev, siapa tau aja nanti Raina punya niatan buat kabur lagi, atau Dev jadi bankrut karena kebanyakan beliin Raina cincin dan keripik singkong. Lumayan kan bisa di jual cincinnya buat modal, hehehe."
Devano hanya bisa ngelus dada, Raina kalo jujur suka ngena di hati. Devano tidak boleh terkejut, kan aslinya Raina memang seperti itu.
"Wahh, ini dia tuan putri dan pangeran kita. Selamat ya buat kalian, Bunda doain semoga acara pernikahan kalian nanti bisa berjalan dengan lancar." Sinta memeluk Raina dengan penuh kasih sayang, lalu beralih pada Devano yang juga sedang tersenyum padanya.
"Bunda Sinta kapan datang? Kok gak kabarin aku?" Devano memeluk Sinta layaknya memeluk ibunya sendiri.
"Bunda baru tiba siang tadi, apa Fana merepotkan kamu nak? Maafkan Fana ya, Bunda juga bingung dia sudah dewasa tapi tetap saja manja sama kamu."
"Bukan cuma sama aku aja, dia bahkan sudah merebut hati tunangan ku Bunda. Jewer saja kupingnya Bunda, kalo perlu cepet cariin dia jodoh." adu Devano, Sinta hanya tertawa mendengar nya sedangkan Fana sudah memberenggut kesal di pojokan.
"Dev, ndak boleh gitu ihhh. Kasian tau Fana nya, tuhh dia sampai mojok sendiri."
"Hahaha, aku bercanda sayang ku."
Para tamu sudah mulai berdatangan, Raina baru sadar bahwa tak jauh dari tempat Devano melamarnya tadi, sudah di desain tempat sedemikian rupa. Terlihat elegant dengan pemandangan yang begitu memanjakan mata.
"Wahh, gak nyangka ya gue. Ternyata, princess yang di maksud Papi gue itu elo?! Kalo gitu, males banget gue dateng kesini."
Seorang perempuan datang dan mencibir Raina yang sedang duduk menikmati makanannya, sedangkan Devano sedang sibuk menyapa para tamu yang berdatangan.
"Kamu?!! Ngapain kamu disini?!" Raina menatap perempuan di depannya itu tak kalah sinis. Saat ini Raina dan perempuan itu tengah menjadi pusat perhatian. Devano pun dengan tergesa-gesa menghampiri Raina dan perempuan itu.
"Ngapain lo disini?! Atau lo tamu yang gak di undang?!"
"Vano, kenapa sih lo itu begitu naif?? Gue tau kok, lo pasti tertekan kan punya tunangan cewek gak jelas seperti dia ini?! Apa lo tau, bahkan cewek ini udah berani menggoda Papi gue sampai Papi bertekuk lutut! Gue cuma penasaran aja sama cewek yang udah berani membuat kakak gue patah hati dan hendak mengakhiri hidupnya!!"
"Tamara!!! Jaga omongan kamu! Papi mengajak mu kesini untuk menemui adikmu, kenapa kamu malah bersikap tidak sopan seperti ini?!" Johan, Papi dari Tamara begitu marah mendengar anaknya yang tengah menyudutkan Raina.
"Papi Johan?! Jadi, kamu anak nya Papi Johan? Tapi, siapa kakak yang kamu maksud?!"
"Stop Pi, aku udah capek! Selama ini, Papi selalu membangga-banggakan perempuan ini!! Apa Papi tau, perempuan ini yang udah merebut Vano dari aku dan menghancurkan hidup kak Fabian!!"
Raina menggelengkan kepalanya, gadis itu tidak mengerti dengan tuduhan yang diberikan Tamara padanya. Siapa Fabian? Selama ini, Raina tidak pernah mengenal siapa Fabian. Tapi kenapa Tamara menuduh dirinya yang telah menghancurkan kehidupan Fabian itu?
"Dev, Raina ndak seperti itu. Raina ndak mengenal pria itu, Raina hanya punya satu mantan. Namanya Gio, bukan Fabian!"
"Iya sayang, aku percaya sama kamu kok. Mungkin ini hanya kesalah pahaman saja, kamu tenang yaa." Devano menatap Tamara dengan tatapan tajam.
"Kalo lo kesini cuma buat hancurin acara ini, lebih baik lo pergi dari sini!! Dan ingat, Raina gak pernah rebut gue dari lo! Justru lo sendiri adalah cewek yang gak setia, tukang selingkuh dan sangat pandai memutar balikkan fakta! Satu lagi, lo salah orang kalo nuduh Raina yang udah buat kakak lo jadi gak waras!!" Devano membawa Raina pergi dari acara itu menuju mobilnya, Devano harus menenangkan Raina terlebih dahulu.
Akhirnya bisa up lagi, maaf ya lama baru bisa up
__ADS_1
Jangan lupa like, rate, komen, dan share yaa😊
See u next time 🤗