
"Papa sama Mama pulang kok ndak kabarin Raina dulu?" tanya Raina, saat ini gadis itu sedang duduk di tengah-tengah kedua orang tuanya.
"Kita kan mau kasih surprise buat kamu, sayang. Mama dan Papa juga udah kangen nih sama kamu. Kamu gak buat Revan dan Devano repot kan?" jawab Dewi sambil mengelus kepala Raina dengan penuh kasih sayang.
"Ndak dong, Raina kan anak yang baik, rajin menabung dan tidak sombong." jawaban Raina membuat semuanya tertawa.
"Baik dari mana nya kamu, tuh Ziva dan keluarganya aja kamu jeblosin ke dalam penjara. Belum lagi Shakira dan tante Yuna, udah kamu usir tanpa harta benda, di jeblosin ke penjara pula." cibir Revan.
"Helleh, kak Revan sok tau sok iyee. Mereka pantas tau dapat pelajaran dari Raina, siapa suruh mancing-mancing Raina mulu, umpamanya di makan malah mereka yang lemah." sahut Raina.
"Tapi tunggu, kayaknya ada yang janggal sama kepulangan Mama dan Papa, apa di sana baik-baik aja?" lanjut gadis itu menatap Bima dan Dewi yang juga kini menatapnya.
Namun detik kemudian, pasutri itu mengalihkan tatapan mereka pada Devano yang asik memainkan gawainya.
Merasa sedang di perhatikan, Devano mengangkat kepalanya dan mendapati Bima, Dewi serta Raina yang sedang menatapnya intens.
"Kenapa? Aku ada salah?" pertanyaan Devano membuat Raina menggelengkan kepalanya.
"Raina cuma ngikutin Mama Papa," jawab Raina dengan polosnya sambil menganggukkan kepalanya.
"Kamu kan yang minta kami pulang lebih cepat Dev, memangnya ada hal penting apa yang mau kamu sampaikan?"
Devano menjadi salah tingkah saat Bima dan Dewi menatapnya dengan tatapan intens, sedangkan Revan hanya melirik sekilas lalu kembali fokus pada ponselnya.
"Ahh, iya aku jadi lupa. Ini sudah siang, bagaimana kalo kita makan dulu?" Devano mengalihkan pembicaraan mereka dengan mengingat jam makan siang.
Raina yang pada dasarnya sudah merasa laparpun mengiyakan perkataan Devano dan berjalan duluan ke arah meja makan.
Sudah tersedia hidangan lezat di meja itu, tanpa menunggu yang lainnya Raina menyantap makanan itu dengan lahap.
"Ckckck, ini nih kalo setiap di kasih tau masuk telinga kanan keluar telinga kiri." sindir Revan, namun yang disindir hanya acuh tak acuh dan melanjutkan makannya.
"Hidup itu harus di nikmatin, kalo lapar ya makan. Ngapain nunggu orang lain buat laper dulu, emang kalo mati juga mesti saling tunggu." sahut Raina sambil kembali melanjutkan makannya.
Usai makan siang, mereka kembali berkumpul ke ruang keluarga. Entah terbuat dari apa perut Raina, setelah menghabiskan banyak makanan di meja makan kini gadis itu dengan santai nya duduk sambil memakan keripik singkong dengan susu di tangannya.
"Ini, cewek yang mau lo nikahin?" Revan menatap Devano yang bersikap biasa saja melihat porsi makan Raina.
"Gak bangkrut lo kasih makan nih anak nanti?" lanjut Revan lagi, namun Devano tetap stay cool.
Devano duduk tepat di bawah sofa yang di tempati Raina, entah apa maksud pria itu. Fana yang baru saja datang hanya diam menanti apa yang akan di lakukan oleh abangnya itu.
"Ngapain Dev disitu?" Raina mengerjab-ngerjabkan kedua matanya menatap Devano yang justru tersenyum padanya.
"Apa Dev sakit? Atau mau ini? Raina ndak akan membagi nya pada siapapun." Raina memegang erat bungkus keripik singkong milik nya dengan erat.
__ADS_1
Melihat respon yang di berikan Raina, Fana pun tertawa karena menurutnya Raina sangatlah konyol.
"Baiklah, aku gak akan minta keripik singkong mu itu sayang. Tapi, aku mau bilang sesuatu, tolong dengerin yaa." Raina hanya menganggukkan kepalanya dengan mulut yang terus mengunyah.
"Raina, aku memang meminta Mama dan Papa pulang lebih cepat. Aku lakuin itu, karena aku ingin mereka mendukung kamu dalam mengambil keputusan nanti. Sekarang, dengerin aku baik-baik yaa."
Raina kembali menganggukkan kepalanya, gadis itu bahkan meletakkan camilan dan susunya demi mendengarkan perkataan Devano.
"Will you marry me? "
Semuanya yang mendengarkan apa yang di ucapkan Devano pun terkejut, Bima dan Dewi memang tau Devano akan melamar Raina, tapi bukan dengan cara yang seperti ini juga. Tidak ada kesan romantis apapun, mereka jadi khawatir dengan respon yang akan diberikan Raina.
"Apa??!" nahh, kan baru juga di bilangin. Raina menatap Devano dengan tatapan tak percaya, ada sedikit rasa haru tapi banyakan kesalnya.
"Dev lagi lamar Raina??"
Dev tersenyum dengan penuh harap, namun yang di dapat malah pukulan telak dari Raina.
Pukk
"Ndak ada romantis-romantis nya jadi cowok!!" sebuah tamparan melayang di wajah Devano, dan menampakkan wajah nelangsa pria tampan itu akibat ulah Raina.
"Ndak yaa, mending Raina cari brondong yang bisa lebih romantis dari pada Dev. Atau, Raina pilih Qinzo aja. Raina denger, dia bisa romantis waktu lamar Namira."
Raina hanya melengos lalu berjalan menuju kamarnya. "Ma, Dev cuma latihan loh tadi." adu Devano pada Dewi.
Menghela nafas pelan, Dewi pun menatap Devano yang terlihat begitu kasihan. "Apa persiapan nya udah selesai? Lain kali, latihannya jangan sama orangnya langsung. Kamu lihat sendiri kan bagaimana reaksi Raina tadi? Sudah, selesai kan persiapan nya hingga matang. Soal Raina, biar itu jadi urusan kami."
Akhirnya Devano bisa bernafas lega dan segera melaksanakan apa yang di perintahkan Dewi padanya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang, rumah terasa sepi dan hanya ada Raina serta Devano di rumah besar itu.
"Dev, dimana semua orang?" Raina menatap Devano yang juga sedang menatapnya.
"Dev, Raina tanya dimana semua orang? Kenapa rumahnya jadi sepi seperti ini?" Raina kembali mengulang pertanyaan nya karena tak kunjung mendapatkan jawaban dari Devano.
"Ahh, mereka sedang keluar sayang. Tadi Revan udah pesen untuk bawa kamu, sekarang ayo kita pergi," Devano meraih tangan Raina dan membawanya ke mobil.
Di tengah perjalanan, Devano menghentikan mobilnya dan membuat Raina bingung. Pasalnya, mobil yang mereka kendarai berhenti di jalanan yang sepi. Perasaan Raina menjadi tidak enak, gadis itu sangat takut jika Devano yang di hadapannya saat ini adalah penculik yang menyamar.
"Ke-kenapa berhenti?" tanya Raina dengan wajah sedikit tegang, namun Devano sama sekali tidak menyadari wajah tegang Raina saat ini.
"Sebentar lagi kita sampai, aku mau nutup mata kamu." Devano mengangkat sebuah kain berwarna putih di tangannya, sedangkan Raina masih saja tak berkutik di tempatnya.
"U-untuk apa?"
__ADS_1
"Ehhh, kenapa kamu jadi gugup gitu sayang? Ini surprise, jadi kamu harus tutup mata."
"Ndak, Raina ndak mau matanya di tutup! Kalo Dev nanti culik Raina gimana?" Raina terlihat sedikit takut pada Devano, membuat pria itu tertawa melihat tingkah Raina saat ini.
"Baiklah, aku gak akan tutup mata kamu. Tapi kamu sendiri harus pejamin mata sampai aku suruh buka, gimana?" dengan pasrah Raina menganggukkan kepalanya dan mulai memejamkan kedua matanya.
Melihat Raina sudah memejamkan kedua matanya, Devano pun kembali melajukan mobilnya menuju tempat tujuan mereka. Tidak membutuhkan waktu lama, mobil yang di kendarai Devano dan Raina pun sampai di sebuah tempat dengan pemandangan laut lepas yang begitu indah.
"Dev, kita akan kemana? Apa kah masih jauh?" tanya Raina, namun tidak mendapat jawaban apapun dari Devano.
"Dev, kau mau membawa Raina kemana? Kenapa ada suara desiran ombak? Dev mau dorong Raina ke laut lepas yaa?!" lagi-lagi Raina bertanya dengan pertanyaan konyolnya, Devano hanya tertawa mendengar pertanyaan dari gadisnya itu dan terus menuntunnya ke sebuah tempat.
Mereka terus berjalan, hingga Raina lelah sendiri untuk bertanya. Tapi, saat mendengar suara desiran ombak semakin dekat Raina semakin bertambah takut.
Apa Dev marah akan sikapnya tadi? Apa Dev dendam padanya dan berniat untuk balas dendam dengan menceburkan dirinya ke laut lepas? Begitulah pertanyaan-pertanyaan konyol yang ada di pikiran Raina saat ini.
"Huaaa, Raina masih mau hidup hiks hiks"
"Heii, kok malah nangis sih?? Aku kan gak jahat sayang, aku hanya mau bawa kamu ke tempat yang spesial. Aku udah nyiapin dari jauh hari, jadi kamu nurut aja okay??"
"Apa?!! Jadi, Dev ngerencanain pembunuhan terhadap Raina udah dari jauh hari?!" tuding Raina, membuat Devano harus ekstra sabar.
"Sayang, yang mau bunuh kamu siapa sih?? Udah deh, jangan rusak suasana dan ikut aku. Satu lagi, jangan coba buat ngintip atau aku dorong beneran nih ke laut biar di makan Hiu!"
Lama-lama Devano ikut geregetan juga dengan Raina, pikiran parno nya itu suka bikin serangan jantung.
Mereka sudah sampai di tempat tujuan, dan Devano menghentikan langkahnya serta membimbing langkah Raina yang matanya masih tertutup.
"Apa kita sudah sampai?"
"Iya sayang, sekarang buka mata kamu." Raina menuruti perkataan Devano, dengan perlahan gadis itu membuka kedua matanya.
Perlahan, kedua mata Raina terbuka dan menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam retina matanya. Namun, yang di dapatinya hanyalah dirinya yang berdiri di pinggiran tebing dengan pemandangan laut yang begitu indah. Raina tidak melihat keberadaan Devano, membuat gadis itu menjadi sedikit panik.
Bagaimana jika Devano memang berniat untuk meninggalkan diirnya di tempat asing seperti ini? Raina kembali di buat gundah gulana. Devano yang menyadari hadirnya pikiran-pikiran bodoh Raina lagi pun memutuskan untuk bertindak sebelum gadis itu membuat ulah.
"Lihat ke bawah Sayang," ucap Devano yang kini tengah berlutut di depan Raina.
"D-Dev?! Ini, kamu ,,,," Raina menutup mulutnya tak percaya akan apa yang dilihatnya saat ini. Devano berlutut sembari memegang sebuah kotak beludru di tangannya, pria itu kembali melamar Raina.
"Will you marry me? "
Jangan lupa like, vote, komen dan share yaa😘
See u next time🤗
__ADS_1