
"Shakira? Ini rumah lo?"
Raut wajah Raina semakin kusut saat melihat keakraban antara Shakira dan Ziva.
"Hadehhh, satu aja susah ngadepinnya dateng satu lagi." ucap Raina menghela nafas kasar, perkataan nya di dengar oleh semua orang termasuk Shakira dan Ziva.
Shakira dengan langkah berani maju ke arah Raina, gadis itu bahkan melupakan statusnya di rumah ini.
"Lo ngomong apa tadi? Lo di diemin makin ngelunjak yaa, gue bisa aja ngomong sama om Bima buat ngusir lo dari rumah ini! Karena apa? Itu karena om Bima lebih sayang sama gue dari pada lo!" Ucap Shakira dengan tidak tahu malunya.
Revan yang mendengar perkataan Shakira pun tersulut emosi. Sungguh keterlaluan Shakira sehingga berani menghina adiknya di rumahnya sendiri.
"Lo kayaknya lupa sama status lo di rumah ini ya? Atas dasar apa lo bisa ngomong gitu sama adek gue?!"
"Kak Revan, yang aku omongin ini gak salah dong. Raina itu cuma bisa bikin masalah, bahkan dia udah rusak acara pernikahan Qinzo dan Namira. Padahal kan Namira itu sahabatnya sendiri." bela Shakira tak mau kalah.
"CUKUP. Sepertinya, Raina udah terlalu baik yaa. Gini aja gimana kalo kita bermain, humm? Hahh, udah lama Raina ndak bermain. Raina sangat ingin, tapi mainan Raina sedang tidak bagus untuk di mainkan. Selagi para mainan Raina memulihkan diri, bagaimana kalo kita bermain? Dev, Raina boleh bermain kan?"
"Tentu saja sayang, apapun itu untukmu." Raina tersenyum senang karena mendapat persetujuan dari Devano.
"Apa mau lo?!" Shakira sedikit merasa takut melihat ekspresi wajah Raina yang terlihat begitu menyeramkan.
"Ayo kita bermain Shakira, tadi kamu yang udah memulai. Jadi sekarang, biarkan Raina yang mengakhirinya." Raina menatap Shakira dengan tatapan tajam, pandangan gadis itu jatuh pada Ziva yang masih terdiam menyaksikan apa yang akan terjadi. Raina tidak ingin berbuat ceroboh, nanti saja memberi sepupu tersayang nya ini pelajaran.
"Kakak ipar, Fana lapar!" teriakan Fana membuat semuanya menjadi terfokus pada pria itu.
"Heh, kamu bisa minta sama bibi kenapa malah meminta pada Raina?!" ucap Devano, namun Fana malah mengabaikan dirinya. Sepertinya Fana masih marah atas kejadian semalam, karena Devano mengabaikan dirinya hampir saja ia tidur di teras rumah yang dingin.
"Kakak ipar, Fana lapar hiks," Raina menatap pria di depannya dengan tatapan datar, ada apa dengan pria ini? Tiba-tiba saja bersikap manja padanya dan tidak memperdulikan Devano. Pikir Raina.
"Mbak Mayang! Tolong ambilin makan buat Fana yaa, jangan lama-lama ntar dia mati!!" Raina berteriak memanggil Mayang yang justru berada di sampingnya.
"Nona, saya kan disini kenapa nona masih berteriak juga?" ucap Mayang, namun tak ayal melakukan perintah dari Raina.
__ADS_1
"Hehh, siapa suruh kamu sender-sender sama Raina hah?! Minggir gak kamu!"
"Bang Dev udah jahat, pelit lagi. Kan Fana cuma pengen di sayang aja sama kakak ipar." jawab Fana dengan raut wajah kesal, pria itu tidak memperdulikan Devano dan terus menyenderkan tubuh nya pada Raina.
"Lo mending pulang, udah gak ada urusan lagi kan?!" Revan menatap Ziva dengan tatapan datar, membuat wanita itu pergi begitu saja.
"Sayang, kejutan hari ini kita tunda aja yaa. Aku janji, besok aku akan kasih tau kamu apa kejutannya." ucap Devano, yang di jawab anggukan kecil Raina.
Devano sangat merasa bersalah karena kejutan yang di rencanakan untuk Raina malah batal dan membuat gadisnya itu kecewa. Ini semua terjadi karena ajakan joging Revan, dan akibat dari menolong Ziva, di tambah lagi Shakira yang sudah merusak mood Raina.
"Ndak apa Dev, Raina juga lagi ndak mau kemana-mana." jawab Raina, gadis itu tersenyum lembut pada Devano.
"Selamat sore semuanya, haloo kok gak ada yang nyebut sih!"
"Yahhh, tukang sebar virus di otak Raina datang lagi." gumam Devano dengan wajah pasrah melihat kedatangan gadis di depannya.
"Rara kok datang ndak bilang dulu?"
"Lahh, udah makan aja dia kan. Padahal belom ada yang suguhin buat dia, tapi udah lesehan aja." ucap Devano, pria itu seperti mempunyai dendam kesumet pada Rara.
Rafly yang melihat ekspresi kesal sahabatnya saat melihat kedatangan Rara hanya bisa tertawa dalam diam. Jangankan Devano, Rafly sendiri saja sampai di buat bingung isi otak tunangannya itu terbuat dari apa. Meskipun terlihat polos dan menggemaskan, jangan salah karena gadis itu memiliki pemikiran yang absurd. Apalagi jika sudah membahas drama korea yang selalu di tontonnya, Rafly bahkan harus menyaring dan memilah drama apa saja yang di tonton Rara.
Rara berjalan mendekati Raina yang sibuk membelai kepala Fana. Gadis itu bersikap biasa saja, sehingga Devano tidak perlu merasa was-was.
"Raina, apa lo udah ganti cowok?"
"Maksud kamu?"
"Tuhh, kok lo malah ngebelai cowok lain? Devano udah gak di anggap?"
Raina melirik ke arah Devano yang bersikap biasa saja dengan apa yang dilakukan Raina pada Fana.
"Ini adik ipar Raina, kenapa Dev harus marah."
__ADS_1
"Tapi, dia lebih ganteng deh dari Devano. Gimana kalo lo ganti tunangan aja? Tukar tambah juga boleh tuhh." celetuk Rara lagi,
"Ukhukk ukhukk " kan, kesedak yang di omongin, Rara sih mulutnya asal nyerocos aja.
"Raf, lo masih ingat Vika gak? Itu loh, mantan lo yang hampir tunangan dulu. Kemarin dia datang loh ke nikahan Qinzo, dia nyariin lo mau di ajak balikan katanya." ucap Devano, perkataannya itu membuat Rara menatap Rafly dengan tatapan tajam.
Setau Rara, Rafly tidak punya mantan. Dan dirinya adalah wanita pertama di hidup Rafly setelah mamanya. Apa Rafly sudah membohongi dirinya?
"Kamu bohongin aku selama ini?!" tanya Rara sambil bertolak pinggang.
Devano yang melihat wajah kesal Rara pun tak tahan untuk menahan tawanya.
"Hahaha, emang enak di kerjain. Makanya, jangan suka racunin otak Raina." ucap Devano mengejek Rara.
Sadar dirinya di kerjai Devano, Rara pun semakin kesal. Gadis itu kembali duduk di samping Raina yang masih saja sibuk memanjakan Fana.
"Ra, lo ganti tunangan aja gihh. Fana juga bagus jadi selingan, dari pada si Devano ngeselin." ucap Rara mengompori Raina, Devano mendengus kesal mendengar perkataan Rara.
"Udah-udah, kalian ini tengkar mulu. Nih bocah kenapa jadi manja gini? Habis kejedot palanya?" Rafly menatap Devano dan tunangan nya dengan tatapan lelah. Padahal di awal Devano biasa aja sama Rara, gak suka ajak ribut. Tapi semenjak tau Rara suka racunin otak polos Raina, ya Devano pun beraksi. Tatapan Rafly pun tertuju pada Fana yang sedang di elus-elus Raina, lalu beralih pada Devano yang bersikap biasa saja.
Selisih usia Devano dan Fana hanya beberapa bulan saja, otomatis Fana masih lebih dewasa dari Raina. Melihat Fana yang bermanja-manja pada Raina, apa Devano tidak cemburu? Pikir Rafly.
"Nona, ini makanannya."
Mayang datang dengan membawa nampan berisi makanan untuk Fana. "Bangun, ini makanannya. Cepat makan," ucap Raina menyerahkan nampan itu pada Fana.
"Suapin," Raina menghela nafas pelan, nih anak satu di kasih hati minta jantung nihh.
Dahi Devano mengernyit, sikap Fana sangat tidak biasa kali ini. Pria itu pun berjalan mendekat dan memeriksa suhu tubuh Fana, dan sedikit hangat. Sepertinya Fana terkena demam, biasanya jika sakit seperti ini Fana akan mencari dirinya. Tapi sekarang, pria itu malah lebih memilih Raina.
"Kamu sakit dek? Bentar yaa, abang telponin dokter buat kamu." ucap Devano, pria itu merogoh saku nya untuk mengambil ponsel dan segera menelpon dokter.
"Dev, Fana nya di bantu bawa ke kamar aja. Kasihan dia." pinta Raina, Devano pun menganggukkan kepalanya setuju.
__ADS_1